Di balik ruang pemulasaraan yang dingin dan sunyi, Arya menyimpan kemampuan magis sekaligus mengerikan. Ia bisa melihat detik-detik terakhir kehidupan dari setiap jenazah yang disentuhnya. Tugasnya bukan sekadar menyucikan jasad, melainkan menjadi saksi bisu bagi suara-suara yang dibungkam kematian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33: Bayangan di Makam Tua
Lanjut...
Sebelum Arya sempat menjawab, dari balik jendela kamar yang lapuk, terdengar suara langkah kaki yang menginjak dedaunan kering di samping rumah.
Farhan seketika memasang mode waspada. Tangannya refleks berpindah ke gagang pistol di pinggangnya. "Siapa di luar?!" teriak Farhan tegas.
Langkah kaki itu mendadak berhenti. Farhan melangkah cepat ke jendela, dan menyingkap tirai debu. Di balik rerimbunan pohon nangka, terlihat sesosok pria tua berkerudung sarung hitam sedang melangkah tergesa-gesa menuju arah pemakaman tua desa di balik rumah!
"Arya, amankan buku itu! Ada yang mengawasi kita!" perintah Farhan.
Arya dengan cepat memasukkan buku harian Mbah Broto ke dalam tasnya. Mereka berdua keluar dari rumah tua itu dan mengejar sosok misterius tersebut menembus jalan setapak menuju area pemakaman desa yang sepi.
Pemakaman tua itu dikelilingi oleh pohon-pohon kamboja raksasa berakar gantung. Di tengah kompleks pemakaman, berdiri sebuah kijing batu tua dengan ukiran simpul rantai yang sangat familiar, ukiran yang persis sama dengan yang terdapat di buku harian Mbah Broto!
Pria tua berkerudung sarung itu berdiri di samping kijing batu tersebut, seraya membelakangi mereka.
"Siapa kamu?! Kenapa kamu mengintai rumah almarhum Mbah Broto?!" gertak Farhan seraya mengacungkan pistolnya.
Pria tua itu perlahan memutar tubuhnya. Wajahnya penuh kerutan dengan satu mata yang memutih akibat katarak tua. Ia memegang sebuah tongkat kayu ukir.
"Jangan acungkan senjatamu di tempat para leluhur berteduh, Petugas," suara pria tua itu dalam dan tenang, bergema lembut di antara nisan batu.
Arya membelalakkan matanya saat mengenali wajah itu. "Mbah Karto...? Mbah Karto kawan kakek?"
Pria tua bernama Mbah Karto itu tersenyum tipis, dan menatap Arya dengan mata tuanya yang tersisa satu. "Kamu sudah tumbuh besar, Arya. Dan aku melihat... 'Tingal Warana' dalam darahmu sudah bangun sepenuhnya."
Mbah Karto melangkah mendekati Arya tanpa rasa takut pada pistol Farhan. Ia lalu menyentuh dada Arya dengan ujung tongkat kayunya.
"Aku adalah penjaga makam ini, kawan lama kakekmu," kata Mbah Karto pelan. "Sejak kamu kembali ke kota dan bekerja di rumah sakit itu, aku tahu hari ini akan tiba. Kakekmu Mbah Broto menyegel kemampuanmu dulu bukan karena ia benci, tapi karena ia ingin kamu merasakan hidup sebagai manusia biasa sebelum kamu menerima beban 'Tingal Warana'."
"Mbah..." ujar Arya seraya memegang tasnya. "Catatan kakek bilang... kemampuan ini adalah beban sumpah. Apakah saya harus membuangnya?"
Mbah Karto tertawa kekeh, sebuah suara renyah yang meruntuhkan ketegangan di area pemakaman itu.
"Membuangnya?" Mbah Karto menggelengkan kepala. "Kemampuan ini adalah bagian dari jiwamu, Arya. Dulu, leluhurmu menggunakannya untuk membantu para raja menegakkan keadilan dari balik bayangan. Kakekmu menggunakannya untuk memberi ketenangan bagi jiwa-jiwa terbuang di desa ini. Dan kamu... kamu menggunakannya di dunia modern bersama perwira polisi ini."
Mbah Karto menoleh dan menatap Farhan yang perlahan menurunkan pistolnya.
"Silsilah darah memberi kemampuan, tapi pengalaman hidupmu yang memberinya arah," lanjut Mbah Karto tegas. "Traumamu di dasar jurang adalah pintu masuknya, tapi kebaikan hatimu saat memandikan jenazah adalah penguatnya. Jangan lagi menganggap kemampuan ini sebagai kutukan masa lalu, Arya. Anggap ini sebagai amanah untuk menyambung suara mereka yang ditindas."
Arya menatap kijing batu kakeknya di bawah rindangnya pohon kamboja. Rasa cemas, bingung, dan ketakutan akan asal-usul kemampuannya yang selama ini menggerogoti hatinya kini sirna sepenuhnya, berganti menjadi pemahaman yang utuh dan kedamaian yang dalam.
Ia tidak lagi mempertanyakan mengapa ia berbeda. Ia adalah trah Penjalin Wesi, seorang pemulasara yang berdiri di perbatasan dua dunia untuk menjaga kebenaran.
Sore harinya, saat matahari mulai tenggelam memancarkan warna jingga di ufuk barat, mobil dinas Farhan melaju tenang menyusuri jalan raya kembali menuju pusat kota.
Buku harian Mbah Broto tergeletak rapi di pangkuan Arya. Pemuda itu menatap ke luar jendela, dan memperhatikan bayangan pohon-pohon yang melintas cepat.
Farhan melirik Arya dari balik lingkar kemudi, lalu menyunggingkan senyum tipis.
"Bagaimana perasaanmu sekarang, Pemulasara?" tanya Farhan hangat.
Arya menoleh, dan menatap sahabat sekaligus mitranya itu dengan mata yang kini mantap tanpa keraguan.
"Saya sudah siap, Pak Farhan," jawab Arya tenang. "Saya tahu dari mana saya berasal, dan saya tahu ke mana saya harus melangkah."
"Bagus," balas Farhan seraya menginjak pedal gas sedikit lebih dalam. "Karena begitu kita sampai di rumah sakit nanti malam... ada tugas baru yang sudah menunggu kita."
Arya tersenyum mantap, dan merapatkan pegangannya pada buku harian kakeknya.
Bersambung...