NovelToon NovelToon
Salah Loker, Malah Jadi Nyonya Muda

Salah Loker, Malah Jadi Nyonya Muda

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Duda
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Rosella Nona

Melisa Monaco memalsukan tahun lahirnya demi mendaftar pekerjaan dengan gaji lebih tinggi, tapi tidak sepenuhnya membaca kontrak. Ternyata isi kontrak adalah persetujuan pernikahan. Ia terpaksa tetap menjalaninya sebab jika mundur sepihak maka harus membayar denda yang jumlahnya sangat besar.

Sejak pernikahan digelar, hidupnya berubah tiga ratus enam puluh derajat. Ia yang muak direndahkan, nekat berusaha merebut hati Dharma Panjalu dan membuktikan pada seluruh keluarga bahwa ia bukan perempuan yang layak direndahkan.

Dalam perjalanan membuktikan diri, ia mengalami banyak kejadian buruk. Tanpa disangka kejadian buruk yang dialaminya justru membantu keluarga itu menguak penyebab kematian istri Dharma.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosella Nona, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gangguan Kecil

Melisa terpaksa mundur mengikuti tangan yang menarik rambutnya karena kalau melawan arah itu jelas akan terasa semakin menyakitkan.

“Lepas, woi!” Melisa memberontak. Ia menendang keras tulang kering di kaki siapapun yang berhasil ia capai di sana.

Kena.

Pelayan itu berteriak kesakitan. Rambut Melisa pun dilepaskan. Ia langsung menghindar.

“Main tarik-tarik aja. Dikira ga sakit apa,” ocehnya.

“Eh, Melisa. Jangan harap kamu betah tinggal di sini ya. Kami sudah bertahun-tahun kerja di sini dan jadi kepercayaan Pak Dharma. Kalau kamu mengadu, kami pastikan kamu yang keluar dari rumah ini.”

“Coba aja. Kayaknya kalian deh yang bakalan keluar duluan dari rumah ini,” tantang Melisa. Ia tidak mau membiarkan dirinya dianggap lemah.

Ia langsung pergi meninggalkan sekelompok orang itu.

“Banyak yang perlu dibereskan di rumah ini,” pikirnya.

...

Melisa melewatkan makan siang karena terlalu lama merenung di kamar mandi. Jadi, ia makan sendirian di meja besar itu.

Baru saja mulai makan, ia didatangi oleh Rosa. Salah satu pelayan yang mengganggunya tadi.

“Melisa, berani juga ya kamu. Ini meja khusus majikan.” Rosa menyita piring Melisa dan menuang isinya ke wastafel.

Melisa yang sudah kelaparan, malas berdebat. Ia memilih untuk mengambil lagi satu piring, lalu mengisinya dengan makanan baru. Sepertinya ia akan membawa makanan ini ke kamar agar bisa makan dengan damai.

Ia tidak memperhitungkan perilaku buruk yang akan nekat dilakukan Rosa padanya. Saat ia hampir mencapai pintu dapur, bahunya didorong dari belakang sampai jatuh. Piring yang ia pegang pecah berantakan, otomatis makanannya juga berceceran di mana-mana.

Wah, ini sudah sangat keterlaluan.

Melisa belum berhasil bangkit dari jatuhnya, Rosa sudah berlalu pergi begitu saja. Lalu siapa yang akan membersihkan ini semua? Melisa belum berani menyuruh siapapun di sini.

“Aku bersihkan sendiri saja. Daripada kekacauan ini nanti dilihat Pak Dharma,” ucap Melisa dengan pasrah.

Ia mengikat rambut seadanya tadi. Ditambah lagi tangannya memegang sapu dan serokan sampah, lengkap sudah. Ia semakin mirip dengan pembantu rumah tangga.

“Nah, begitu bagus. Sadar posisi. Bukannya malah bermimpi jadi nyonya besar.” Salah satu pelayan yang lewat mengingatkannya.

“Abaikan saja, Melisa. Abaikan!” ia coba menyemangati dirinya sendiri.

Selesai membersihkan kekacauan itu, ia menelepon Maya untuk bertanya apakah ia boleh makan di luar rumah. Awalnya ia pikir akan bersama Maya di sini, ternyata Maya dan Bu Inggit tinggal di rumah yang berbeda.

“Memangnya kenapa makanan di sana?” tanya Maya heran.

“Aku kurang terbiasa makan sendirian. Biasanya di kos selalu rame-rame.” Ia membuat alasan yang terdengar masuk akal.

“Apa tadi tidak ikut makan siang bersama Pak Dharma dan Dayu?”

Nah, jawaban untuk pertanyaan ini juga sudah ia siapkan tadi. “Kayaknya aku tadi capek baca buku informasi tamu sampai ketiduran. Ini baru bangun, rumah sudah sepi.”

“Oh, oke. Boleh saja. Tapi diantar pak supir, ya? Biar tidak nyasar dan pulang tepat waktu. Biasanya Pak Dharma sudah di rumah lagi jam lima sore.”

“Siap, bos.” Melisa lega, ia pikir akan sulit meminta izin keluar rumah setelah tinggal di sini.

“Kamu yang bos, Mel. aku mah cuma asisten.”

Ah, bisa saja. Sejujurnya, kalimat maya itu membuat Melisa sedikit tersanjung.

“Kan masih calon. Bisa saja batal sebelum hari H.” Melisa coba merendah.

“Tidak akan. Bu Inggit menyukaimu, Mel. Beliau tidak akan membiarkanmu lolos.”

Telepon diputus. Yah, begitulah Maya. Berbicara seperlunya, lalu menutup telepon semaunya. Padahal kalau dipikir-pikir sesuai posisi, harusnya Melisa yang boleh memutuskan telepon sepihak seperti itu. Dia kan bosnya.

Sementara ini, itu bukan hal yang perlu diributkan. Selama tidak merugikan, Melisa baik-baik saja.

Ia pergi ke luar rumah diantar sopir. Bukan ke resto mewah, ia mampir membeli soto ayam langganannya di pinggir jalan. Kuah segarnya biasanya bisa membantu menyegarkan suasana hati Melisa yang sudah keruh sejak kemarin.

...

“Melisa, bantu bersihkan kolam. Akan ada tamu Pak Dharma yang datang satu jam lagi. Kalau ada yang tidak sesuai keinginan, biasanya seisi rumah akan kena marah.” Rosa mengatakan itu dengan serius.

Melisa yang awalnya skeptis jadi ikut terbawa arus, juga bertanya-tanya dalam hatinya apa iya Dharma pemarah? Jadi, ia coba ikut mereka ke arah kolam. Begitu sampai di sana, ia sungguhan melihat semua pelayan bekerja sama membersihkan kolam.

Melisa coba mendekat untuk memperhatikan cara mereka membersihkan. Ia tetap menjaga jarak aman. Orang-orang ini belum bisa sepenuhnya dipercaya.

“Ini bisa selesai dalam satu jam memangnya?” tanya Melisa.

“Kalau kamu mau membantu sih mungkin malah bisa selesai kurang dari satu jam,” jawab salah satu dari mereka ketus.

Tiba-tiba Rosa menarik Melisa mendekati kolam dan menceburkannya ke sana.

Itu menjadi hiburan bagi para pelayan. Melisa yang basah kuyup dalam air kotor malah membuat wajah-wajah lelah itu jadi sumringah. Melisa jengkel sekali, beraninya mereka. Setelah sah jadi istri Dharma nanti, ia berjanji hal pertama yang akan ia lakukan adalah memberhentikan mereka semua.

Tidak ada yang menolongnya. Semua melanjutkan pekerjaan seolah tidak pernah terjadi apa-apa dalam kolam kotor itu. Melisa memperhatikan area sekitar kolam renang, tidak ada cctv di sekitar sana. Makanya para pelayan itu berani melakukan ini padanya.

Ia keluar sendiri dari kolam dan berjalan menuju kamarnya meninggalkan jejak-jejak basah di sepanjang lantai yang dilaluinya. Ia bergegas membersihkan diri dan segera membereskan jejak basah yang ditinggalkannya tadi, pasti tidak akan ada yang membersihkannya. Kalau tamu Pak Dharma datang nanti, ia khawatir kekacauan ini akan dipermasalahkan.

Melisa membereskan semuanya susah payah, tapi sampai malam hari tidak ada siapapun yang datang. Sepertinya orang-orang itu mengerjainya lagi.

...

Setelah melewati banyak hal tidak terduga di dalam rumah mewah itu, akhirnya tiba juga hari pernikahan yang sudah dipersiapkan oleh tim Maya dan rekan-rekan Bu Inggit.

“Jangan sampai salah menyapa tamu.” Bu Inggit memperingatkan. Singkat, tapi penuh penekanan.

Melisa mencari-cari Maya, berharap mendapat sedikit bantuan. Ia juga belum bertemu Dharma, padahal acara sudah hampir dilangsungkan.

1
yuqana
karyanya bagus rekomend buat dibaca karya pertama semoga sukses yaa kak ditunggu up yaa🥰🥰😍😍😘😘
Anonim: Makasih banyak untuk dukungannya kak.
iya nih, baru karya pertama. semoga kakak juga sukses yaa 🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!