NovelToon NovelToon
Suara Untuk Dia

Suara Untuk Dia

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Balas Dendam / Idola sekolah
Popularitas:153
Nilai: 5
Nama Author: Ananda Putra Satria Hsb

【Perjuang keras meraih cinta+Cerita di waktu SMA+Romantis nonfiksi】Seseorang yang jatuh cinta kepda perempuan terpintar di sekolah... Meskipun dia bukan pria yang pandai dalam akademi tapi dia ingin membuktikan jika dia layak mendapatkan perempuan tersebut.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ananda Putra Satria Hsb, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20- Jawaban Pertama Dan Rasa Penasaran

Keheningan di kelas X IPA 2 terasa makin menghimpit. Tatapan mata Nara yang hening dan dalam seolah menelanjangi seluruh keberanian yang sudah kukumpulkan berhari-hari.

Jemarinya yang memegang ujung blazer seragam pelan-pelan mengendur. Dia menghembuskan napas panjang, menatapku dengan binar mata yang penuh rasa bersalah sekaligus kecanggungan yang amat sangat.

"Satria..." panggil Nara pelan. Nada bicaranya benar-benar berubah, tidak ada lagi ketegasan galak khas Maknar yang biasa kudengar. "Jujur, aku kaget banget kamu ngomong gini sekarang."

"Aku serius, Ra. Gak ada becandanya sama sekali," tegasku, berusaha menjaga agar suaraku tidak bergetar.

Nara menunduk sejenak, memandangi jemarinya sendiri di atas meja sebelum kembali menatap mataku secara langsung.

"Makasih ya, Sat, buat perasaanmu," kata Nara perlahan, tiap katanya diucapkan dengan sangat hati-hati. "Tapi... aku belum bisa nerima kamu. Aku gak bisa pacaran dulu sekarang."

Meskipun aku sudah menyiapkan mental untuk segala kemungkinan, rasanya tetap ada yang berdenyut nyeri di dalam dada saat mendengar kata penolakan itu diucapkan langsung olehnya.

"Kenapa, Ra? Karena aku kurang pintar? Atau karena duniaku beda sama kamu?" tanyaku spontan, mencoba mencari kejelasan.

Nara dengan cepat menggelengkan kepala, tatapannya menyiratkan bantahan tegas. "Bukan! Bukan karena itu, Satria! Kamu jangan pernah mikir begitu!"

Nara mengusap pelipisnya, raut wajahnya kelihatan sangat terbebani. "Aku baru aja lolos Juara 1 tingkat kabupaten, Sat. Beban buat tingkat provinsi nanti jauh lebih berat. Orang tuaku dan Pak Ridwan naruh harapan gede banget di pundakku. Aku gak mau pikiranku terpecah sama urusan pacaran."

Dia berhenti sejenak, menatapku dengan sorot mata yang tulus. "Aku pengen fokus belajar dulu. Dan kamu juga kan baru aja lolos tim utama silat? Kamu juga harus fokus tanding, Sat. Kita sama-sama punya tanggung jawab gede sekarang."

Aku menatap cewek di depanku ini. Alasan yang dikeluarkannya sangat masuk akal dan sangat khas seorang Nara—selalu rasional, penuh pertimbangan, dan mengutamakan prioritas. Tapi di balik alasan logisnya itu, aku bisa merasakan ada benteng pertahanan yang sengaja dia pasang.

Aku menyunggingkan senyum tipis, mencoba mencairkan ketegangan di antara kami.

"Yaudah kalau gitu, Ra. Tak kira kamu nolak gara-gara aku sering dapat nilai lima di pelajaran Fisika," kataku berusaha bercanda, walau ada rasa getir yang tersisa.

Nara menghembuskan napas lega melihat reaksimu, senyum tipis akhirnya kembali terukir di bibirnya. "Dasar... malah ngomong gitu. Tapi serius, Sat, jangan berubah ya? Kita tetap kayak biasa kan?"

Aku menatap matanya dalam-dalam, lalu menggelengkan kepala pelan sambil tersenyum menantang.

"Gak bisa janji kalau soal menyerah, Ra. Penolakan pertama ini gak bakal bikin aku mundur kok," ucapku tegas dan jujur.

Mata Nara membelalak kaget mendengar perkataanku. Pipinya yang sempat memudar merahnya kini kembali memerah padam.

"Satria! Kamu nih dibilangin juga!" omel Nara, sifat galak khas Maknar-nya mendadak muncul lagi untuk menutupi rasa salah tingkahnya.

"Lho, kan aku cuma ngomong jujur. Kamu boleh nolak sekarang, tapi aku bakal buktiin kalau aku bisa jadi orang yang pantas buat kamu," balasku santai, berdiri dari kursi depan mejanya tepat saat suara langkah kaki anak-anak lain mulai terdengar kembali dari arah koridor luar.

Nara cuma bisa melipat kedua tangannya di dada, membuang muka ke arah jendela untuk menyembunyikan raut wajahnya yang memerah, tapi aku tahu persis pertahanannya mulai goyah.

Langkah penolakan pertama dari Nara ternyata tidak membuat hubungan kami jadi canggung atau merenggang. Malah sebaliknya, keberanianku mengutarakan perasaan kemarin seolah membuka tabir baru di antara kami. Ada ritme unik yang tercipta: aku yang terus menunjukkan perhatian dengan gaya pantang menyerah, dan Nara yang berusaha keras mempertahankan benteng pertahanannya walau makin hari makin kelihatan mengendur.

Hari-hari berikutnya, latihan silat soreku dari jam tiga sampai jam six sore berjalan makin ganas. Rasa kecewa dan dorongan pembuktian atas penolakan Nara tak luapkan seluruhnya ke matras tanding. Mas Teguh sampai berkali-kali menggelengkan kepala melihat peningatan agresivitas dan fokusku saat sparing.

"Mentalmu lagi bagus banget, Satria! Pertahankan terus daya juang kayak gini sampai hari H kejuaraan!" puji Mas Teguh usai latihan sore di aula bawah.

"Siap, Mas!" sahutku sambil mengusap keringat di leher.

Setiap kali selesai latihan pukul enam sore, aku selalu menyempatkan diri mengecek HP jadoelku. Dan hampir tidak pernah absen, selalu ada satu pesan masuk dari Nara:

"Latihan sorenya udah selesai kan? Langsung pulang, jangan keluyuran. Awas kalau lukanya gak diolesin salep!"

Membaca SMS singkat bernada galak tapi perhatian itu selalu cukup untuk mengikis seluruh rasa lelah di badanku. Penolakan kemarin sama sekali tidak mengurangi porsi perhatiannya padaku. Cewek ini cuma butuh pembuktian dan ketulusan ekstra dari perjuanganku.

Seminggu kemudian, saat pelajaran Seni Budaya di kelas X IPA 2, Pak Heru memberikan tugas kelompok untuk membuat kliping kebudayaan daerah. Seperti biasa, formasi kelompok kami tidak bergeser: aku, Diko, Nara, dan Lina.

Saat Diko dan Lina sibuk menggunting gambar-gambar dari koran bekas, aku duduk berhadapan dengan Nara yang sedang menulis narasi kliping dengan tulisan tangannya yang rapi.

Aku memandangi garis wajahnya yang serius dari jarak dekat.

"Ra," panggilku pelan.

Nara tidak mendongak, jemarinya tetap lincah menari di atas kertas. "Apa? Jangan ganggu, aku lagi nulis."

"Gimana persiapan olimpiade tingkat provinsinya? Masih pusing?" tanyaku.

"Lumayan. Soal-soal tingkat provinsi jauh lebih rumit, banyak logika kalkulusnya," jawab Nara pendek, lalu menghentikan tulisannya dan menatapku. "Kenapa emangnya?"

"Gak apa-apa. Cuma mau ngingetin, kalau pusing jangan dipendam sendiri. Kan ada murid kesayanganmu ini yang siap mendengarkan," kataku sambil tersenyum lebar.

Nara menatapku agak lama, memutar-mutar pulpen gel di jemarinya. Ada hembusan napas halus yang lolos dari bibirnya.

"Kamu ini beneran gak ada kapoknya ya, Sat?" tanya Nara pelan, suaranya dipelankan agar tidak terdengar Diko dan Lina. "Padahal kan udah tak tolak kemarin."

"Pantang menyerah itu prinsip dasar atlet silat, Maknar. Apalagi kalau yang diperjuangkan itu cewek pinter kayak kamu," balasku santai, menatap matanya tanpa ada ragu sedikit pun.

Nara terdiam. Pandangan matanya goyah sejenak, tidak sanggup menahan tatapan mataku yang terlalu jujur. Pipi cantiknya kembali merona tipis. Dia buru-buru menundukkan kepala, pura-pura sibuk melanjutkan tulisannya di lembar kertas kliping.

"Terserah kamu deh... dasar kepala batu," gumam Nara pelan, tapi senyum tipis di bibirnya tidak bisa disembunyikan lagi.

Diko yang duduk di sebelahku menyikut lenganku pelan sambil berbisik licik, "Gokil lu, Sat... Maknar sampai mati kutu gitu."

Aku cuma terkekeh pelan melihat reaksi Nara. Penolakan pertama ini baru garis start dari perjuangan panjangku. Aku belum tahu syarat berat apa yang bakal diberikannya nanti, atau badai kekecewaan apa yang bakal menghantamku di tengah jalan. Tapi satu hal yang pasti: selama Nara masih memberikan ruang di hatinya, aku bakal terus melangkah maju tanpa ragu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!