Jingga membuka mata, kembali ke masa sebelum tragedi besar menimpa keluarga Amazon.
Kali ini, tidak ada lagi gadis lugu yang mudah dimanfaatkan, matanya penuh dendam dan kebencian.
Hanya ada satu hal, Balas Dendam!
Mari kila mulai permainannya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon To Raja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29. Jingga tak di rumah
"Arga!" Bryan berlari menghampiri Arga yang saat itu sedang sarapan bersama Tasya di meja makan.
"Ada apa pagi-pagi kamu buat keributan?" Tanya harga sambil menikmati sarapannya.
"Apa Kak Jingga buat masalah lagi?" Tanya Tasya.
"Bukan," Bryan mendekat lalu memperlihatkan layar tabletnya pada Arga, "lihat ini! Grup Pratama sudah mengirim email, menjadwalkan ulang pertemuan kita dengan mereka, nanti sore," ucap Bryan penuh semangat.
Arga mengangguk lalu menatap pelayan yang berdiri di samping, "beritahu Jingga untuk bersiap ke pertemuan nanti sore," ucap Arga.
"Maaf Tuan Muda, tapi selama beberapa hari terakhir ini Nona Jingga tidak berada di rumah," kata sang pelayan.
"Apa?!"
"Bagaimana bisa?!"
"Kenapa tidak memberitahuku?" Tanya Bryan.
"Itu..." sang pelayan gugup, ia melirik asisten Rama yang baru saja tiba, memohon bantuan pada pria itu.
Asisten Rama mengangguk pelan, 'sebelumnya aku memberitahu seluruh pelayan di rumah agar tidak membocorkan tentang Jingga yang tidak pulang selama beberapa hari, untungnya selain pelayan pribadi Tasya, seluruh pelayan di kediaman sangat patuh padanya jadi tidak ada masalah.'
Lagi pula semua urusan pelayan diatur Asisten Rama, kalau ada saja yang tidak patuh, dia bisa dengan mudah memijat dan menggantinya, tiga orang yang hanya setiap hari mengurusi hal-hal mesum di berbagai tempat di rumah ini tidak akan menyadari sesuatu.
"Ada apa ini asisten Rama?" Tanya Bryan.
"Saya minta maaf tuan muda, tapi ini pesan dari nona Jingga. Katanya dia sudah minta izin pada kalian jadi tidak perlu melaporkannya," kata asisten Rama.
"Apa?! Beraninya dia!" Bryan menggebrak meja dengan marah.
Tasya melihat Arga yang diam tetapi urat-urat leher di wajahnya tampak menonjol menandakan pria itu sedang menahan emosinya, jadi dia berdiri dan berjalan ke samping Arga, memegang lengan pria itu dengan lembut, "jangan marah terlalu awal, mungkin Kak Jingga punya alasan tersendiri. Nanti kita bicarakan baik-baik dengannya, sekarang bagaimana kalau kita telepon dia dan menyuruhnya pulang," ucap Tasya.
"Ponselnya ada padaku," kata Bryan menggertakkan giginya, tak menyangka mereka akan ditipu Jingga seperti ini.
"Bukankah terakhir kali aku menyuruhmu untuk mengawasinya?" Tanya Arga pada Bryan.
"Dia hanya pergi ke taman dan berbaring di sana selama 30 menit, tidak ada hal lain yang ia lakukan, jadi aku pikir dia akan kembali setelah bosan di taman, siapa yang tahu kalau ternyata dia punya rencana lain," gerutu Bryan menahan amarahnya.
"Lalu bagaimana sekarang?" Kata Tasya sangat cemas.
"Tuan muda," tiba-tiba sebuah suara yang panik muncul dari arah depan membuat semua orang menatap ke arah suara itu.
Pria yang merupakan asisten Arga di kantor baru saja tiba.
"Ada apa lagi?" Tanya Bryan.
"Pria yang ada di hutan itu, saya sudah mengikutinya selama beberapa hari ini dan menemukan beberapa hal," sang pria meletakkan beberapa foto yang telah dicetak di atas meja.
Foto-foto itu langsung membuat 3 orang di sana sangat terkejut sampai Tasya menutup mulutnya dengan kedua tangan.
Foto-foto yang diambil itu ialah foto-foto Jingga bersama Farhan.
"Kenapa Jingga bisa bersamanya?" Bryan mengambil salah satu foto dan meremasnya dengan emosi.
"Apa jangan-jangan mereka sudah memulai hubungan sewaktu di gunung dulu? Kalau begitu waktu kita kedinginan di gunung dan mencari pertolongan... Apa saat itu sebenarnya Kak Jingga mengetahuinya tapi malah membiarkan kita..." Tasya menggelengkan kepalanya air mata yang menetes di pipinya segera diusapnya dan lanjut berkata, "itu tidak mungkin kan? Kak Jingga tidak mungkin setega itu pada kita," ucap Tasya.
"Dasar wanita murahan!" Arga memukul meja dengan sangat keras, berdiri menatap asistennya, "antar aku menemui mereka!" Perintah harga.
"Aku ikut!" Ucap Bryan.
"Aku juga ikut!" Kata Tasya.