Karina, gadis yatim piatu berusia tujuh belas tahun, kehilangan nyawanya setelah menyelamatkan seluruh penumpang bus yang terjun ke jurang. Namun, kematiannya bukan akhir. Sebuah sistem misterius memberinya kesempatan hidup kembali dengan satu syarat: mengumpulkan 100.000 Poin Kehidupan dengan menyelamatkan para antagonis pria dari takdir tragis mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kirana_euforia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dunia Pertama — 06
Tiga hari setelah percakapan berat ditaman belakang gedung olahraga, suasana antara Karina dan Bram belum sepenuhnya kembali seperti semula.
Mereka masih duduk sebangku, masih pulang searah, tapi aada jarak tipis yang tidak terlihat, semacam kehati hatian baru yang muncul setelah kejujuran yang menyakitkan itu.
Karina berusaha keras untuk teteap bersikap wajar meskipun dalam hatinya sendiri masih bergelut dengan perasaan yang semakin sulit ia sangkal.
Setiap kali Bram tersenyum kecil kearahnya, setiap kali ia diam diam menyisihkan sebagian bekalnya untuk dibagi dengannya.
Dada Karina terasa hangat sekaligus berat, hangat karna perasaan itu nyata, dan berat karna ia tau perasaan itu punya batas waktu yang tidak bisa ia tentukan sendiri.
Pagi itu saat bel masuk beru berbunyi, keributan kecil terjadi didepan gerbang sekolah dengan suara yang cukup keras hingga terdengar sampai kekelas kelas dilantai satu.
"Itu bukannya didepan gerbang?" Gumam Tika sambil menoleh kearah jendela.
Karina yang duduk didekat jendela ikut melongok. Dibawah sana, seorang pria paruh baya berdiri berhadapan dengan satpam sekolah, suaranya cukup keras hingga beberapa kata bisa tertangkap dilantai dua.
".....Cuma mau ketemu anak daya sebentar, apa susahnya....."
Karina merasakan firasat yang tidak enak, daj ketika ia menoleh kearah Bram, ia melihat wajahnya itu memucat seketika, seolah mengenali suara utu meski hanya sayup sayup yang terdengar dari kejauhan.
"Bram?" Panggilnya pelan.
Bram tidak menjawab, ia berdiri mendadak dari kursinya lalu berjalan cepat keluar kelas tanpa permisi kepada Bu Retno yang sedang menulis dipapan tulis.
"Bram, mau kemana kamu?" Tegur Bu Retno, tapi Bram sudah menghilang dibalik pintu.
Karina tanpa berpikir panjang, ikut menyusulnya dan mengabaikan tatapan heran teman teman sekelasnya.
Ia menemukan Bram berdiri kaku didekat pos satpam, berhadapan langsung dengan pria yang tadi berteriak teriak.
Seorang pria berusia sekitar empat puluhan dengan pakaian lusuh dan bau alkohol yang bahkan bisa tercium dari jarak beberapa meter.
"Bram" Kata pria itu, suaranya berubah lebih lembut begitu melihat anaknya, meskipun masih ada nada yang tidak sepenuhnya tulis dibaliknya. "Udah gede ya kamu sekarang."
"Ngapain kesini." Suara Bram terdengar dingin, jauh lebih dingin daripada yang pernah Karina dengar sebelumnya, bahkan lebih dingin dari saat pertama kali mereka bertemu.
"Ya ketemu anak sendiri boleh kan?" Pria itu tersenyum, tapi senyum itu terlihat licik, bukan seperti senyum seorang ayah yang rindu anaknya.
"Lagian bapak butuh bantuan sedikit. Cuma pinjem duit buat modal usaha, nanti pasti bapak balikin."
"Usaha apa? Atau modal buat minum lagi kayak biasanya?" Ucap Bram mendesis.
"Bram!" Bentak pria itu, tapi cepat menahan diri begitu melihat satpam sekolah mulai memperhatikan mereka lebih serius.
Ia menurunkan suaranya, mencoba terdengar lebih memelas. "Bapak lagi susah banget, nak. Kamu kan udah kerja part time kan katanya, ada tabungan nggak? Seratus lima puluh aja dulu."
"Saya nggak punya uang buat dikasih ke bapak. Uang yang saya kumpulin susah payah itu buat obat nenek, bukan buat modal usaha abal abal bapak." Jawab Bram tegas.
Wajah pria itu berubah, dari yang tadinya memelas menjadi kesal dalam sekejap "Nenek kamu masih hidup? ck harusnya dari dulu masuk panti jompo aja biar nggak ngerepotin."
Kalimat itu membuat sesuatu dalam diri Bram pecah. "Jangan ngomongin nenek kayak gitu." Suaranya meninggi dengan tangannya yang terkepal erat.
"Bapak nggak punya hak buat ngomong apa apa soal nenek, orang selama belasan tahun juga bapak nggak pernah nengokin kami sekalipun."
"Ini gara gara siapa juga hah?" Pria itu membalas, suaranya kembali meninggi keski beberapa siswa yang lewat mulai memperlambat langkah mereka untuk melihat keributan itu.
"Kalo bukan gara gara ibumu yang nggak becus ngurus rumah tangga—"
"Cukup!" Suara Karina memotong dengan tegas, membuat pria itu dan Bram sama sama menoleh terkejut.
"Maaf pak." Ucap Karina mencoba mengatur nafasnya yang mendadak memburu karna emosi.
" Tapi uni area sekolah, dan kalau memang ada urusan keluarga, mungkin bukan disini tempatnya, apalagi dengan cara seperti ini."
Pria itu menatap Karina dari atas sampai kebawah, lalu mendengus sinis. "Siapa lo? Pacarnya?"
"Bukan urusan bapak siapa saya, yang jelas kalau bapak terus maksa dengan cara seperti ini, saya tidak akan segan untuk lapor kepihak sekolah, dan meminta bantuan pihak keamanan untuk mengamankan situasi ini." Jawab Karina tanpa gentar.
Satpam sekolah yang sejak tadi berjaga jaga akhirnya melangkah lebih dekat. "Pak, saya rada lebih baik bapak pulang dulu. Jika ada urusan dengan anak bapak, bisa dibicarakan dilain waktu, bukan dilingkungan sekolah."
Pria itu tampak ingin membantah, tapi melihat semakin banyak orang yang memperhatikan, akhirnya ia hanya mendecak kesal. "Awas aja Bram, lo bakal nyesel." ancamnya sebelum akhirnya berbalik dan pergi dengan langkah sempoyongan, jelas menandakan ia belum sepenuhnya sadar dari pengaruh alkohol.
Bram berdiri diam untuk beberapa saat, tubuhnya masih gemetar menahan emosi yang campur aduk, antara marah, sedih dan mungkin sedikit rasa malu karna kejadian itu disaksikan oleh banyak orang.
...----------------...
Karina membawanya ketaman belakang gedung olahraga, tempat yang sudah menjadi ruang aman mereka berdua, membiarkan Bram duduk diam sejenak sebelum akhirnya berbicara.
"Kamu nggak papa?" Tanya Karina dengan lembut.
"Nggak, gue gapapa." Jawab Bram jujur dengan suara bergetar.
Karina tidak memaksa, hanya duduk disampingnya dalam diam, membiarkan Bram mengatur napasnya sendiri.
"Dia dateng lagi karna butuh uang." Ucap Bram memecahkan keheningan.
"Selalu gitu, setiap beberapa tahun sekali, pas dia lagi kepepet tiba tiba nongol, ngaku kangen. Padahal unjung ujungnya cuma mau minta uang."
Udah berapa kali kejadian kayak gini?"
"Gue udah lupa berapa kali." Ucapnya sambil tertawa getir.
"Yang gue inget tiap kali dia dateng, hidup gue jadi lebih berantakan dari biasanya. Nenek jadi stres, nyokap jadi nelpon nangis nangis dari jakarta, dan gue.... Gue cuma bisa diem, nggak bisa ngapa ngapain."
"Kamu nggak diem kok tadi, kamu berani ngelawan dia." Ucap Karina.
Bram menoleh, menatap Karina dengan mata yang masih berkaca kaca. " Karna lo ada disitu, kalo lo nggak nyusul mungkin gue masih diem aja kayak biasanya, biarin dia ngomong apa aja."
"Bram...." Karina menghela nafas, memilih kata katanya dengan hati hati.
"Kamu nggak boleh terus terusan gantungin keberanian kamu keorang lain. Suatu saat kamu harus bisa berdiri sendiri, ngelawan sendirian apapun yang terjadi, entah aku afa disana atau nggak."
"Gue tau." Bram mengagukkan kepalanya pelan. "Tapi susah kalo selama ini nggak pernah ada yang nunjukin caranya."
"Mangkannya sekarang aku tunjukin." Jawab Karina.
"Tapi bukan berarti kamu harus terus butuh aku buat berani, kamu udah punya keberanian itu dari dulu Bram. Cuma nggak ada yang pernah kasih kesempatan buat kamu nunjukin."
Kalimat itu membuat Bram terdiam lama, mencerna setiap ucapannya. "Li selalu tau kata kata yang tepat buat bikin gye ngerasa nggak sendirian."
"Aku juga pernah ngerasa sendirian banget, jadi aku tau, kadang yang kita butuhin bukan solusi instan, tapi cuma ada yang nemenin sampe mereka nemuin kekuatan mereka sendiri."
...----------------...
Malam itu sesampainya dirumah kecilnya, Bram duduk disamping neneknya yang terbaring lemah, menceritakan kejadian siang tadi dengan suara pelan.
"Bapak kamu dateng lagi?" Tanaya neneknya dengan suara prihatin.
"Iya nek, tapi udah Bram usir." Jawabnya mencoba tersenyum meski harinya masih berat. "nggak akan Bram kasih uang buat dia, sekecil apapun itu."
Neneknya menatapnya lama, lalu mengelus kepala cucunya dengan tangan yang sudah keriput. "Nenek tau ini berat buat kamu nak, tapi jangan sampai kebencian kebapakmu bikin hatimu jadi sekeras baru."
"Kamu masih punya banyak waktu buat jadi otang yang jauh lebih baik dari dia."
"Bram nggak mau jadi kayak dia nek, nggak akan pernah." Kata Bram tegas.
"Nenek percaya." Jawab neneknya sambil tersenyum lemah. "Apalagi sejak ada Alya, nenek lihat kamu jadi lebih terbuka. Anak itu baik ya."
Wajah Bram sedikit memerah mendengar nama itu disebut. "Iya nek, dia.... beda dari yang lain."
...----------------...
Sementara itu, dikamar kosnya, Karina duduk termenung memikirkan kejadian siang tadi. Layar tembus pandang muncil disudut pengelihataannya.
[Pembaruan status.]
[Poin Kehidupan: 1.480 / 100.000.]
[Poin diberikan atas keberanian mendukung subjek menghadapi trauma keluarga yang mengakar sejak masa kanak kanak.]
[Catatan: kemunculan tokoh ayah biologis subjek berpotensi menjadi elemen kunci dalam menentukan bentuk akhir bahagia subjek.]
[Disarankan mengamati perkembangan ini dengan seksama.]
Karina membaca catatan itu dengan alis berkerut. Sistem seolah memberi petunjuk bahwa sosok ayah Bram, meski sekarang tampak seperti sumber masalah, mungkin memiliki peran penting dalam menentukan seperti apa akhir cerita ini nantinya.
Mungkin sebagai konflik yang harus diselesaikan atau justru sebagai bagian dari penebusan yang harus terjadi sebelum Bram benar benar bisa disebut bahagia sepenuhnya.
"Apa mungkin..... akhir bahagia buat Bram bukan cuma soal ninggalin masa lalunya? Tapi juga soal nyelesain masa lalu itu sendiri?" Pikirnya dalam hati.
Pertanyaan itu terus mengusiknya hingga larut malam, menjadi benih dari rencana yang tampa ia sadari akan membawa dirinya dan Bram pada babak paking menegangkan dalam perjalanan mereka didunia inj.
(haduhh encok banget pinggang aing nulis beginian ಥ‿ಥ)
buang aja,karina mati lagi aja