Reynand, CEO dingin yang anti-cinta, terpaksa menikahi asisten pribadinya, Aira, demi meredam skandal kantor.
Bagi Reynand, pernikahan ini hanyalah kontrak sementara. Namun, keteguhan hati Aira perlahan meruntuhkan pertahanan sang CEO.
Saat intrik dan masa lalu mengancam, sanggupkah Reynand mengakui perasaannya sebelum kehilangan wanita yang telah menjerat hatinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rey Nanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 3 :Tawaran Tanpa Pilihan
Mata Devan membelalak tak percaya. "Tunangan? Jangan bercanda, Reynand! Kamu baru saja mempekerjakan wanita ini kemarin. Mana mungkin—"
"Siapa bilang kami baru kenal kemarin?" potong Reynand dingin dengan nada penuh intimidasi. Pria itu merangkul pinggang Aira secara alami, menarik tubuh wanita itu mendekat ke sisinya. "Aira melamar ke perusahaan ini agar kami tidak perlu lagi menyembunyikan hubungan kami dari publik. Foto itu diambil saat saya menemuinya di hotel untuk membicarakan rencana pernikahan kami."
Aira membeku. Sentuhan telapak tangan Reynand di pinggangnya terasa hangat merayapi kulit, membuat jantungnya berdegup kencang secara tidak teratur. Namun, melihat sorot mata Reynand yang tajam dan tegas, Aira mengerti ini adalah gertakan matang untuk menyelamatkan reputasi perusahaan. Aira memilih diam dan menegakkan kepalanya, berpura-pura tenang di samping sang CEO.
Devan mengepalkan tangannya rapat-rapat. Skenario yang sudah ia susun rapi untuk menjatuhkan Reynand di depan dewan komisaris hancur berantakan dalam hitungan detik.
"Kita lihat saja nanti di rapat komisaris," desis Devan penuh dendam sebelum berbalik dan pergi meninggalkan ruangan dengan langkah gusar.
Begitu pintu ruangan tertutup rapat, Reynand langsung melepaskan rangkulannya dari pinggang Aira. Ia berjalan menuju jendela kaca besar, membelakangi Aira dan Pak Broto.
"Pak Broto, siapkan siaran pers resmi. Umumkan bahwa pertunangan saya dan Aira Anindita akan diresmikan minggu ini. Pastikan berita itu sampai ke telinga seluruh investor sebelum bursa saham dibuka," perintah Reynand tanpa keraguan.
"Baik, Pak Reynand. Saya laksanakan sekarang," jawab Pak Broto sigap lalu bergegas keluar dari ruangan.
Kini hanya tersisa Reynand dan Aira di dalam ruangan kerja yang megah itu. Suasana mendadak menjadi sangat sunyi dan tegang.
"Pak Reynand," panggil Aira dengan suara tertahan, menahan kekesalannya. "Apa maksud dari semua ini? Anda tidak bisa memutuskan hal sepihak seperti ini! Pernikahan bukan permainan yang bisa Anda jadikan perisai bisnis."
Reynand berbalik lambat, memandang Aira dengan tatapan dinginnya yang datar. "Kamu pikir saya ingin menikah denganmu? Ini adalah langkah darurat untuk menyelamatkan Aristha Corp dari sabotase Devan."
"Tapi kenapa harus mengorbankan saya?" tentang Aira berani. "Nama baik saya juga dipertaruhkan di sini!"
Reynand melangkah mendekati Aira. Pria itu mengambil sebuah map tebal dari dalam laci mejanya dan meletakkannya tepat di hadapan Aira.
"Ibumu, Maya Anindita. Dirawat di ruang ICU Rumah Sakit Medika Utama karena gagal jantung stadium lanjut," ujar Reynand datar, menyebutkan fakta yang membuat Aira seketika terperanjat. "Biaya operasinya mencapai lima ratus juta rupiah, dan tenggat waktunya adalah akhir minggu ini. Jika tidak, nama ibumu akan digantikan oleh pasien lain."
Aira mengepalkan jemarinya hingga memutih. Mata indahnya menatap Reynand dengan campuran rasa terkejut dan marah. Pria ini telah menyelidiki seluruh latar belakang pribadinya secara mendalam.
"Kamu butuh uang, dan saya butuh status," sambung Reynand tanpa belas kasihan. "Menikahlah dengan saya selama satu tahun. Saya akan menanggung seluruh biaya pengobatan ibumu hingga sembuh total, membiayai kebutuhan hidupmu, dan memberimu imbalan dua miliar rupiah setelah masa kontrak berakhir."
Aira menelan ludahnya yang terasa pahit. Angka itu adalah jumlah yang tak akan pernah bisa ia kumpulkan dalam waktu singkat, bahkan jika ia bekerja seumur hidupnya.
"Apa syaratnya?" tanya Aira dengan suara yang mulai bergetar.
"Sederhana," sahut Reynand dingin. "Di depan publik dan media, kamu harus berpura-pura menjadi istri yang mencintai saya. Namun di balik pintu rumah, kita adalah dua orang asing. Tidak ada keterikatan emosional, tidak ada campur tangan urusan pribadi, dan yang paling penting... jangan pernah jatuh cinta pada saya."
Aira menatap mata kelam Reynand. Pria di depannya benar-benar tidak memiliki perasaan—sebuah patung es tanpa hati. Namun, bayangan wajah ibunya yang terbaring lemah di ruang ICU terlintas jelas di benaknya.
Aira tidak punya pilihan lain.
"Baik," ucap Aira mantap, menghapus keraguan di matanya. "Saya terima tawaran Anda, Pak Reynand."