Aturan Nomor 1: Jangan pernah jatuh cinta dengan dosen sendiri.
Aturan yang dibuat Kila sendiri, dan kemudian dia langgar di detik berikutnya.
Kehidupan kampus Kila yang tadinya membosankan, berubah total setelah dosen baru itu masuk.
Tiba-tiba penuh dengan hal-hal mendebarkan. Bimbingan yang bikin jantung mau copot, jemputan mobil hitam di gerbang kampus, sampai makan malam canggung di mana dia dipanggil "calon mantu".
Dosen baru itu adalah Pak Rhaegar. Dosen dingin kayak kulkas, dan... orang yang paling Kila hindari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ziziyuuu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Sore itu jam 4, matahari sudah tidak terlalu terik.
Kila dan Elvano bawa motor matic putih Kila ke bengkel yang dibilang Pak Rhaegar. Bengkelnya tidak besar, tapi bersih dan rapi. Tidak ada oli berceceran. Di depan ada tulisan "Bengkel Jaya Motor - Spesialis Matic".
Seorang om-om montir dengan baju bengkel biru langsung menyambut mereka.
"Permisi, mau servis apa?" tanya om montir itu.
Kila agak gugup. "Permisi, Om... disuruh Pak Rhaegar... katanya bilang teman Pak Rhaegar....."
Belum selesai Kila ngomong, om montir itu langsung senyum lebar.
"Oh! Yang rem motornya bunyi? Pak Rhaegar sudah telepon saya tadi siang!. Sudah saya siapin sparepartnya!"
Kila dan Elvano saling tatap. Tadi siang Pak Rhaegar sudah telepon?
Elvano mendengus pelan di belakang Kila. "Bocil, lihat kan? Sampai diteleponin dulu."
Kila mencubit lengan Elvano. "Van, diem!"
Motor Kila langsung dinaikkan ke lift kecil. Om montir itu kerjanya cepat dan detail sekali. Persis seperti Pak Rhaegar. Semua baut dicek, kampas rem diganti, bahkan rantai juga dikasih oli baru.
"Rem belakangnya memang sudah tipis sekali, bahaya ini kalau buat ngerem mendadak. Untung Pak Rhaegar peka," kata om montir itu sambil kerja.
Kila hanya bisa mengangguk. Pipinya merah lagi.
Elvano duduk di kursi tunggu bengkel, dengan helm Kila di pangkuannya. Dia diam saja dari tadi, tapi matanya tidak lepas dari motor Kila yang sedang dibetulin.
15 menit kemudian, sebuah mobil SUV hitam yang sangat familiar masuk pelan-pelan ke area bengkel dan parkir di depan.
Elvano langsung berdiri. Kila langsung membeku.
Pak Rhaegar.
Turun dari mobil dengan kemeja putih yang sekarang lengannya sudah digulung, tidak pakai tas kerja. Dia hanya pakai celana bahan hitam dan sepatu loafers.
"Pak... Pak Rhaegar?" Kila kaget.
Pak Rhaegar mengangguk ke arah om montir, lalu menatap Kila dan Elvano.
"Saya kebetulan lewat. Mau cek motornya sudah selesai atau belum," katanya datar.
Alasan yang... sangat tidak masuk akal. Bengkel ini jauh dari rute pulang Pak Rhaegar.
Om montir itu langsung laporan. "Sudah hampir selesai, Pak Rhaegar. Kampas rem belakang ganti baru, rem depan saya stel lagi. Aman."
Pak Rhaegar mengangguk. Lalu dia berjalan mendekati motor Kila, jongkok, dan ikut mengecek remnya dengan tangannya sendiri. Tangannya yang biasa pegang pulpen mahal dan laptop, sekarang pegang velg motor yang agak kotor.
Elvano tidak tahan lagi.
"Pak, biar saya saja yang cek, Pak. Tangan Bapak kotor nanti," kata Elvano, ikut jongkok di sebelah Pak Rhaegar.
Untuk pertama kalinya, dua cowok itu jongkok bersebelahan, di depan motor Kila.
Satu pakai hoodie hitam, satu pakai kemeja putih mahal.
Kila yang berdiri di belakang mereka, memegang dua helm, merasa seperti sedang menonton drama.
Pak Rhaegar melirik Elvano sekilas. "Tidak apa-apa, Elvano. Saya hanya memastikan. Kila ini tidak mengerti motor. Kalau remnya masih bunyi, bahaya."
Elvano tersenyum tipis, senyum yang agak dipaksakan. "Iya, Pak. Makanya tadi saya temenin dia ke sini, Pak. Takut dia dibohongin bengkel."
Dua cowok itu saling tatap 1 detik. Tidak ada yang ngomong, tapi udaranya... tegang.
Om montir yang tidak peka dengan ketegangan itu malah nyeletuk, "Wah, Mbak Kila dijagain dua jagoan nih!!"
Kila langsung panik. "Om! Jangan..."
Pak Rhaegar berdiri, membersihkan tangannya dengan tisu yang sudah disiapkan om montir.
"Sudah selesai. Kamu coba dulu," kata Pak Rhaegar ke Kila.
Kila naik ke motornya, mencoba rem belakang. Tidak bunyi lagi. Pakem.
"Sudah tidak bunyi, Pak! Terima kasih banyak!" kata Kila dengan mata berbinar.
Pak Rhaegar mengangguk. "Jangan ngebut. Dan jangan lupa kunci stang."
Kalimat yang sama persis dengan yang diucapkan Elvano pagi tadi di parkiran.
Elvano yang mendengar itu langsung menatap Pak Rhaegar. Pak Rhaegar menatap balik.
Kila yang polos tidak menyadari perang dingin itu.
"Berapa, Om?" tanya Kila ke om montir.
"Gratis! Sudah dibayar Pak Rhaegar tadi siang lewat transfer!" jawab om montir dengan ceria.
Kila melongo. "Pak? Dibayar? Katanya gratis dari teman?"
Pak Rhaegar tidak menjawab, dia hanya berjalan kembali ke mobil SUV hitamnya.
"Anggap saja... hadiah karena kuesionernya sudah selesai kamu rekap. Kamu kerja bagus," katanya sebelum masuk mobil, tanpa menatap Kila.
Mobil SUV hitam itu pergi.
Tinggal Kila dan Elvano di bengkel.
Elvano mengambil helm Kila dari tangannya, memakaikan pelan-pelan ke kepala Kila.
"Bocil," bisik Elvano sambil mengancingkan helm Kila. Jarak mereka dekat sekali. "Next time kalau rem kamu bunyi, bilang aku duluan ya. Jangan bilang ke pak Rhaegar dulu."
Kila menatap Elvano. Mata Elvano serius sekali, tidak usil seperti biasanya.
"Van..."
"Aku juga bisa betulin motor, bocil. Tidak perlu sampai telepon bengkel orang," lanjut Elvano pelan.
Kila diam. Menatap Elvano bingung
"Kenapa sih, dari tadi kok Elvano jadi aneh" gumam Kila yang tak peka dengan sikap Elvano
Elvano naik ke motor besarnya. "Ayo, aku kawal kamu pulang. Rem baru jangan langsung ngebut."
Dua motor itu jalan beriringan di jalan sore. Motor matic putih di depan, motor besar hitam di belakang yang ngawal.
Dari spion mobil SUV hitam yang parkir di minimarket 100 meter dari bengkel, Pak Rhaegar melihat mereka berdua pergi.
Dia menghela napas, membuka HP-nya, dan mengirim chat lagi ke kontak yang sama.
Rhaegar : Motornya sudah selesai, Var. Aman. Elvano yang kawal pulang.
Dan di kantornya, Elvar yang menerima chat itu hanya bisa senyum-senyum sambil geleng-geleng kepala.
───
ayok ada dibaca🤭