Alessandro Magnus, Grand Duke penguasa Wilayah Magnus, dia terkenal kejam, dingin, dan punya insting membunuh yang tajam. Segala macam jebakan politik, racun, atau mata-mata yang dikirim musuh-musuhnya hanyalah kotoran yang bisa dia selesaikan dalam satu tebasan pedang.
Anastasia Starling adalah gadis yang selama ini terkenal pendiam, tertutup, dan lemah di seluruh kekaisaran. Namun, tidak ada yang tahu bahwa jiwa di dalam tubuh itu telah digantikan oleh seorang pembunuh berdarah dingin yang mati akibat dikhianati.
Bagi Anastasia yang baru, air mata adalah tanda kelemahan yang menjijikkan, berbekal insting bertahan hidup yang kuat, mulut yang tajam, kemampuan bertarung, serta rahasia ruang dimensi di dalam jiwanya, dia menolak menjadi boneka politik
"Hugo, mundur tiga langkah, matamu terlalu lancang menatap istriku. Jaga batasanmu sendiri sebelum aku menganggap kesetiaanmu itu sebagai ancaman yang harus ku potong kepalanya." _Grand Duke Alessandro Magnus.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hofi03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KAISAR FELIX
Sementara itu, di waktu yang sama di tempat yang berbeda, di dalam ruang kerja pribadinya yang sangat luas, Kaisar Felix sedang duduk di kursi kebesarannya.
Pria paruh baya dengan rambut yang mulai memutih itu tampak fokus memeriksa tumpukan berkas laporan.
Ketukan pelan di pintu memecah keheningan ruangan.
Tok
Tok
Tok
"Masuk," perintah Kaisar Felix, suaranya berat dan berwibawa tanpa mengalihkan pandangan dari kertas di tangannya.
Ceklekk
Pintu terbuka, dan seorang pria paruh baya berpakaian jubah menteri melangkah masuk dengan kepala menunduk hormat.
Pria itu adalah Perdana Menteri Tom, salah satu orang kepercayaan Kaisar.
"Salam, Yang Mulia Kaisar. Maaf mengganggu waktu istirahat Anda," ucap Tom sembari membungkuk dalam.
Kaisar Felix meletakkan pena bulunya, lalu bersandar pada kursi empuknya, sambil memijat pangkal hidungnya yang terasa agak pegal.
"Ada apa, Tom? Jika ini bukan masalah mendesak tentang perbatasan, lebih baik sampaikan besok pagi," ucap Kaisar Felix, terlihat sangat lelah.
Tom menegakkan tubuhnya, namun wajahnya tampak sedikit ragu.
"Ini mengenai Pangeran Mahkota Arkan, Yang Mulia. Berdasarkan laporan dari penjagaan perbatasan, rombongan kereta kuda Pangeran Arkan sudah sampai di wilayah Magnus," lapor Tom, dengan sopan.
Mendengar nama putra mahkotanya disebut, wajah Kaisar Felix tidak menunjukkan senyuman sama sekali, sebaliknya, dahi pria tua itu justru berkerut dalam.
"Bocah bodoh itu benar-benar pergi ke Magnus?" tanya Kaisar Felix, nadanya terdengar sangat tidak senang.
"Benar, Yang Mulia. Pangeran Arkan bersikeras pergi dengan alasan untuk mengunjungi Lady Anastasia, maksud saya, Grand Duchess Magnus, guna memastikan kesejahteraannya setelah pernikahan politik itu," jawab Tom, berhati-hati dalam memilih kata agar tidak memicu kemarahan sang Kaisar.
BRAKKK
Kaisar Felix mendengus kasar, lalu memukul meja kerjanya dengan pelan namun cukup untuk membuat Tom tersentak.
"Mengunjungi Anastasia? Omong kosong macam apa itu!" ucap Kaisar Felix dengan nada sinis.
"Aku yang membesarkannya, Tom, aku tahu persis isi kepala anak itu, dia tidak akan sudi mendatangi gadis yang dulu bahkan selalu dia campakkan demi putri haram Count Starling," lanjut Kaisar Felix, matanya menyipit penuh selidik.
Glek
Tom menelan ludahnya, dia tahu betul kalau Kaisar tidak bisa dibohongi.
"Lalu, menurut Anda apa tujuan asli Pangeran Mahkota, Yang Mulia?" tanya Tom, hati-hati.
Kaisar Felix bangkit dari kursinya, berjalan mendekati jendela besar.
"Dia mengincar sesuatu dari Alessandro Magnus, kemungkinan besar adalah peta pertahanan atau dokumen militer wilayah nya," ucap Kaisar Felix, seolah tahu isi pikiran Putra Mahkota nya.
"Arkan merasa posisi politiknya di ibu kota sedang tidak aman, terutama setelah aku menegurnya karena masalah dana militer bulan lalu, dia pikir, jika dia bisa memegang kelemahan Magnus, dia bisa mengendalikan wilayah Magnus dan mengamankan takhtanya," lanjut Kaisar Felix, menghela napas panjang.
Tom tampak terkejut mendengar analisis tajam dari sang Kaisar.
"Jika memang begitu, bukankah itu sangat berbahaya, Yang Mulia? Grand Duke Alessandro bukanlah pria yang bisa diajak bermain-main. Dia dijuluki Malaikat maut berdarah dingin bukan tanpa alasan," ucap Tom, menyampaikan ke khawatiran nya.
"Itulah yang membuatku cemas, Tom," jawab Kaisar Felix, membalikkan tubuhnya dan menatap Perdana Menterinya dengan pandangan serius.
"Arkan itu terlalu sombong dan meremehkan orang lain, dia pikir semua orang di dunia ini bisa dimanipulasi dengan gelar Pangeran Mahkota miliknya, dia tidak sadar bahwa bagi Alessandro Magnus, gelar kekaisaran kita tidak lebih dari sekadar pajangan di atas kertas," ucap sang Kaisar, menggelengkan kepalanya pasrah.
"Kalau Alessandro mau, kekaisaran ini bisa di rebut dengan mudah," lanjut Kaisar Felix, menghela nafas nya kasar.
Kaisar Felix benar-benar belum tahu bahwa pada detik ini juga, putra kesayangannya itu sudah berlutut ketakutan di kamar tahanan kastil utara akibat jebakan luar biasa dari Anastasia.
"Apakah kita perlu mengirim pasukan tambahan untuk memantau situasi di sana, Yang Mulia? Hanya untuk memastikan tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan," ucap Tom memberi saran.
Kaisar Felix diam berpikir sejenak, lalu melambaikan tangannya tanda menolak.
"Tidak perlu, jangan memancing kemarahan Alessandro dengan mengirim pasukan ke wilayahnya tanpa izin. Lagi pula, ada Anastasia di sana," ucap Kaisar Felix, kembali berjalan menuju meja kerjanya.
"Grand Duchess Anastasia?" ulang Tom, tampak bingung dengan jalan pikiran rajanya.
"Ya. Gadis bodoh dari keluarga Starling itu sangat mencintai Arkan sejak kecil, aku sengaja menikahkannya dengan Alessandro agar dia bisa menjadi penengah jika hubungan kekaisaran dan Magnus memanas," bual Kaisar Felix, tersenyum tipis karena mengira rencananya berjalan lancar.
"Aku yakin, jika Arkan berbuat bodoh di sana, Anastasia pasti akan memohon pada Alessandro untuk mengampuninya. Cinta bodoh wanita selalu bisa dimanfaatkan dalam politik," lanjut Kaisar Felix penuh percaya diri.
Pria tua itu sama sekali tidak menyadari bahwa Anastasia yang dia anggap sebagai penengah yang bodoh, justru adalah dalang utama dari kehancuran Putra sombong nya dan mungkin untuk kekaisaran nya nanti.
"Semoga saja apa yang Anda harapkan benar-benar terjadi, Yang Mulia," ucap Tom, membungkuk pelan meskipun di dalam hatinya dia merasakan firasat yang sangat buruk tentang perjalanan Pangeran Mahkota kali ini.
"Sekarang pergilah, Tom, kabari aku lagi begitu ada surat resmi atau laporan perkembangan dari Arkan besok pagi," perintah Kaisar Felix, kembali mengambil pena bulunya untuk melanjutkan pekerjaan.
"Baik, Yang Mulia. Saya permisi undur diri," jawab Tom, lalu melangkah mundur dengan sopan dan keluar dari ruangan, meninggalkan Kaisar Felix yang melanjutkan kegiatannya dalam ketenangan palsu malam itu.
Tanpa mereka sadari, sedari tadi obrolan mereka di dengar oleh salah satu pelayan yang tidak sengaja melewati ruang kerja Kaisar Felix yang pintunya sedikit terbuka.
Pelayan buru-buru pergi dari sana, saat melihat Tom akan keluar ruangan.
Jantungnya berdegup kencang, tangannya yang memegang nampan kosong sedikit gemetar karena rasa tegang yang luar biasa.
Pelayan itu bahkan melangkah mundur dengan sangat perlahan, memastikan sandal kainnya tidak menimbulkan suara sedikit pun di atas lantai koridor istana yang sunyi.
Setelah merasa jaraknya sudah cukup jauh dari ruang kerja Kaisar, pelayan bernama Maya itu langsung mempercepat langkah nya, menuju istana bagian barat, tempat di mana Selir Elena tinggal.
"Ini informasi berharga. Selir Elena pasti akan memberiku hadiah besar," bisik Maya pelan pada dirinya sendiri, senyum penuh harap terukir di wajahnya.
Sementara itu, di sebuah paviliun mewah yang dipenuhi aroma wewangian bunga mawar, Elena sedang duduk di depan meja riasnya.
Putri haram Count Starling yang kini telah berhasil naik takhta menjadi Selir Pangeran Mahkota itu sedang menyisir rambut panjangnya yang bergelombang.
Meskipun penampilannya terlihat anggun dengan gaun tidur sutra berwarna merah muda, wajah Elena tampak sangat gusar.
"Kenapa Arkan tidak memberi tahu ku kalau dia mau pergi? Dia pikir aku ini apa?" gumam Elena dengan nada kesal, meletakkan sisir peraknya ke meja dengan hentakan kasar.