Zaira Montes tumbuh di lingkungan kumuh dengan satu tekad: keluar dari kemiskinan lewat kuliah dan pekerjaan yang menguras habis tenaganya. Tapi malam ketika sahabatnya sendiri "menjualnya" ke sebuah klub eksklusif, hidup gadis itu berubah selamanya—karena di balik pintu ruang VIP, seorang lelaki menunggunya.
Leonardo Santos. Taipan berusia lima puluh tahun, dingin, berkuasa, dan menyimpan luka yang tak pernah sembuh. Dunia mengenalnya sebagai hartawan tak tersentuh; hanya sedikit yang tahu kerajaannya berdiri di atas bisnis-bisnis kelam dan rahasia berdarah. Ia tak mencari cinta. Ia hanya ingin memiliki Zaira—dan lelaki seperti dia selalu mendapatkan apa yang ia inginkan.
Zaira bersumpah dirinya bukan barang yang bisa dibeli. Namun antara penolakan dan gairah yang tak sanggup ia bendung, garis itu perlahan kabur. Dari kesepakatan penuh nafsu, tumbuh sesuatu yang jauh lebih berbahaya: perasaan yang bisa menghancurkan mereka berdua.
Sebab di dunia Leonardo, mencintai berarti menjadi kelemahan. Dan seseorang dari masa lalunya telah lama menunggu—menanti Sang Mafia jatuh cinta, agar akhirnya ia punya sesuatu untuk direnggut.
Ketika peluru mulai berbicara dan pengkhianatan menampakkan wajahnya, Zaira harus memilih: lari dari pria paling berbahaya yang pernah ia kenal, atau mempertaruhkan segalanya demi cinta yang lahir dari kegelapan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Celina González ♥️, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Jam menunjukkan pukul 21.34 ketika Zaira menutup pintu rumah. Sebuah embusan napas lepas begitu ia menyandarkan punggung ke daun pintu kayu. Ia melepas sepatu dengan kaki, satu per satu, lalu berjalan tanpa alas di atas lantai keramik yang dingin. Rumah dalam keremangan, hanya cahaya lemah lampu jalan yang menyaring lewat celah tirai.
Kesunyian terasa pekat, seolah bisa dipotong dengan pisau. Ia menengok ke kamar ibunya, dan sang ibu sudah tertidur.
Ia meletakkan tas di atas sofa dengan gerak lelah, lalu langsung menuju dapur. Ia menuang sedikit air ke dalam gelas ketika ponselnya bergetar di saku belakang jinsnya. Ia mengeluarkannya, menatapnya.
"Suggar-ku"
Ia menggigit bagian dalam pipinya dan sempat ragu beberapa detik sebelum menjawab.
"Halo?"
Suara lelaki itu langsung terdengar, berat dan sarat urgensi.
"Zaira, aku ingin bertemu denganmu."
Perempuan itu memejamkan mata sesaat. Ia meletakkan gelas di atas marmer, dan menopangkan diri di tepi meja dapur dengan tangan yang satunya. Jantungnya tersentak, gelisah, jengkel, frustrasi.
"Tidak, Leonardo. Tidak hari ini," jawabnya dengan suara lembut, tapi tegas. "Ini bukan akhir pekan. Dan itu kesepakatan kita."
Kesunyian yang tegang melintasi saluran telepon.
"Ada apa denganmu?" tanya lelaki itu, sedikit menurunkan nada, seolah tiba-tiba ia melangkah hati-hati di antara pecahan kaca.
Perempuan itu menelan ludah, berbalik ke arah lorong, berjalan lambat sampai ke kamarnya, membiarkan ponsel yang menempel erat di telinganya menggesek pipinya yang panas.
"Tidak ada," ucapnya akhirnya, saat sampai di ranjang dan menjatuhkan tubuh ke atasnya. "Aku cuma bersikap sesuai apa aku ini."
Ada jeda. Dengung tipis di saluran telepon. Lalu, suara Leonardo yang berat dan sarat ketegangan:
"Memangnya kamu ini apa?"
Zaira melepaskan tawa hambar. Tawa yang tak mengandung suka, melainkan ironi.
"Selingan waktumu, akhir pekanmu, Leonardo. Dan kamu... kamu ini sugar daddy-ku. Itu kan hubungan kita?"
Dari seberang jatuh sunyi total. Begitu tajam, sampai Zaira bisa mendengar retak jantungnya sendiri. Lalu, lelaki itu melepaskan tawa rendah, tak percaya.
"Kamu marah," ujarnya, geli, meski juga dengan sedikit rasa bersalah.
"Tidak, aku tidak marah. Aku cuma bilang apa adanya," balasnya, mencoba terdengar acuh tak acuh, meski suaranya bergetar. "Lelaki tidur dengan perempuan, meninggalkan uang di meja, lalu menghilang saat fajar tanpa berkata apa-apa. Namanya apa itu? Karena 'pasangan' jelas bukan."
Leonardo terdiam beberapa detik lagi. Ketika bicara lagi, nadanya sudah berubah. Tak ada lagi olokan. Hanya bayangan penyesalan yang merembes lewat kata-katanya bagai arus dingin.
"Zaira... aku tak seharusnya menghilang. Aku tahu. Ada urusan pekerjaan yang mendadak, semuanya jadi rumit. Tapi itu bukan alasan, aku tahu. Aku minta maaf."
Perempuan itu memejamkan mata. Gemuruh kipas langit-langit berbaur dengan napasnya. Amarah yang ia tahan seharian kini membara di dadanya bagai luka yang tak kunjung menutup.
"Kamu tak perlu minta maaf, Leonardo," ucapnya dengan suara lirih, menggenggam ponsel makin erat. "Sungguh, tidak apa-apa."
"Zaira..."
"Aku lelah. Kita bicara lagi nanti, ya?"
"Tunggu, jangan ditutup dulu. Aku ingin..."
Tapi sudah terlambat. Perempuan itu memutus panggilan dengan gerakan tipis ibu jarinya. Layar seketika menggelap. Ia terpaku menatap langit-langit beberapa detik, merasakan air mata menusuk-nusuk matanya, meski tak jatuh.
Ia berguling di ranjang, mencari sisi bantal yang paling dingin. Ia ingin tidur, ingin berhenti berpikir. Tapi bayangan lelaki itu di sana, menantinya di luar tempat kerjanya seperti anak kecil yang merajuk, dengan rahang tegang dan mata berkobar, terus membuntutinya tak henti.
Ia tahu ini bukan perkara sepele. Bahwa yang ia rasakan tak sesederhana itu. Tapi ia juga tahu bahwa selama ia mengharapkan lebih dari yang bersedia lelaki itu berikan, hatinya akan terus terluka.
Di luar, kota masih hidup. Mobil-mobil lewat, lampu-lampu berkelip di jendela tetangga. Dan di dada Zaira, sebuah retakan tak kasatmata terus melebar, senyap dan dalam.
Leonardo terpaku menatap layar ponselnya seolah tak mengerti apa yang baru saja terjadi. Pantulan dirinya di kaca gelap perangkat itu memantulkan wajah yang tegang, tak percaya.
Panggilan sudah berakhir. Perempuan itu memutus teleponnya. Zaira. Seorang perempuan yang 25 tahun lebih muda darinya, berani menutup telepon di hadapannya, di hadapan dirinya, Leonardo Santos.
Ia melempar ponsel ke atas sofa kulit hitam sambil mendengus. Ia mengusap wajah dengan kedua tangan lalu bangkit dari sofa bagai per yang melenting, melangkah ke jendela besar yang menghadap kota. Lampu-lampu gedung berkelip di kejauhan, kecil, asing, tak acuh.
Ia bersandar ke bingkai kaca, menyilangkan lengan kuat-kuat. Ia merasakan tusukan di perutnya, campuran kejengkelan dan sesuatu yang lain yang tak ingin ia akui.
"'Selingan waktumu, akhir pekanmu'..." ulangnya dengan suara rendah, dengan seringai pahit di bibir. "'Sugar daddy'... Keparat."
Apartemen itu sunyi, terlalu sunyi. Hanya dengung lemah lemari es dan detak jam di dinding ruang makan yang mengisi ruangan. Semuanya terlalu sempurna. Terlalu dingin.
Leonardo berputar di atas tumitnya, kembali ke tengah ruang tamu bagai binatang buas yang terkurung. Ia kembali menjatuhkan tubuh ke sofa, membenamkan diri ke dalam kulit dengan embusan napas geram. Ia meraih ponsel lagi, ragu. Ia bisa meneleponnya. Ia bisa mengiriminya pesan. Ia bisa mengambil mobil dan muncul di rumahnya, menampar pantatnya beberapa kali sampai perempuan itu paham siapa dirinya. Tapi tak satu pun dari itu terasa benar. Tak satu pun akan menjamin sebuah jawaban yang tulus.
Sebab Zaira sudah menjawab. Ia menutup telepon.
Ia menggertakkan gigi kuat-kuat.
Ia bukan tipe orang yang meminta izin. Ia tak terbiasa ditolak. Apalagi merasa seperti orang tolol setelah tidur dengan seseorang. Tapi dengan Zaira... semuanya berbeda. Ada sesuatu dalam diri perempuan itu yang mengaduk hal-hal yang ia kira sudah terlupakan. Membuatnya kehilangan kendali, menyalakan tubuhnya, tapi juga menggetarkan jiwanya. Dan itulah... itulah yang tak ia tahu cara menanganinya.
Ia teringat pertemuan terakhir mereka. Tubuh hangat perempuan itu di bawahnya, aroma rambutnya yang meresap ke sprei.
"Sialan," gumamnya, menyandarkan kepala ke belakang, memejamkan mata.
Perempuan itu benar. Ia memperlakukannya seperti simpanan mewah, dan itu bukan yang ia inginkan. Tidak sepenuhnya. Tapi hanya itu yang ia tahu caranya.
Ia bangkit lagi, melangkah ke meja bar, dan menuang segelas wiski tanpa es. Cairan kuning kecokelatan itu turun di kerongkongannya bagai kobaran api. Lalu satu gelas lagi. Dan satu lagi. Tapi tak sepanas apa yang ia rasakan di dalam.
Ia mengeluarkan ponselnya, menyapukan jemari di layar. Ia membaca ulang pesan-pesan terakhir yang mereka kirimkan. Nada-nada lembut. Tawa. Janji-janji samar. Kata-kata yang, kini, terasa hampa.
Ia menekan nomornya.
Satu. Dua. Tiga nada.
Kotak suara.
"Zaira. Aku tak suka bagaimana panggilan tadi berakhir. Aku tak suka tak bisa bicara denganmu. Aku tahu aku berengsek. Tapi aku tak mau kamu memandangku seperti itu. Tidak denganmu... denganmu tidak. Telepon aku kalau sempat, ya?"
Ia menutup panggilan.
Ia menaruh ponsel di meja bar, menatap dasar gelas yang telah kosong.
Bayangan Zaira kembali ke benaknya bagai gelombang yang tak terelakkan: tawanya yang spontan, matanya yang dalam, caranya menatap seakan melihat menembus fasadnya sebagai lelaki sukses. Perempuan itu tak mengejarnya demi uang. Dan itu melucuti pertahanannya.
"Aku tak akan membiarkan ini berakhir begini," gumamnya.
Ia menyalakan sebatang rokok, meski sudah berbulan-bulan ia tak merokok. Rasa pahit tembakau memenuhi mulutnya saat ia kembali menatap kota. Bara api sesaat menerangi wajahnya yang mengeras.
Ia tak tahu bagaimana memperbaikinya. Ia tak pandai meminta maaf. Ia tak pandai soal perasaan. Tapi demi Zaira... demi perempuan itu ia akan mencoba apa pun yang diperlukan.
Meski harus belajar dari nol.