Desa Langgur gempar. Tanah yang sudah basah, sumur berubah air merah, dan galian di bawah pohon mangga menemukan sesuatu yang seharusnya tidak ditemukan.
Ara tidak tahu, di bawah rumahnya ada tambang, di bawah pohon keramat Revan ada peti emas berdarah yang dijaga arwah leluhur.
Sejak peti itu dibuka, teror datang. Rumah Ara dibakar, sidang adat di kota, dan Langgur harus merdeka dari kutukan.
Pohon Revan yang tidak mau mati itu menuntut tumbal.
Apa isi peti emas di bawah akar itu? Dan kenapa bayi Revani bisa melihat Revan?
Kisah horor thriller tanah Maluku yang bikin merinding dari Bab 1 sampai Bab 35 Tamat!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Una Lam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35 Langgur Selamanya
Sepuluh tahun kemudian, Langgur 2043.
Ara sekarang sudah 38 tahun, Firman 39 tahun, mereka sudah 11 tahun menikah.
Langgur sekarang sudah tidak bisa dibilang desa lagi, sudah jadi kota kecil. 100 rumah batu bata putih berjejer rapi dari pantai sampai gunung, ada jalan semen lebar, ada listrik 24 jam dari PLTS besar, ada tower sinyal HP, ada 2 homestay untuk turis, ada warung-warung, ada pasar kecil setiap Minggu.
SD Langgur sekarang sudah 6 kelas full, SMP sudah 6 kelas full, bahkan sudah ada SMA kecil 3 kelas yang baru dibangun tahun lalu, namanya SMA Revan Langgur, diambil dari nama pahlawan Langgur.
Pohon Revan Baru yang ditanam Dion 19 tahun lalu dari biji terakhir Pohon Revan, sekarang tingginya sudah 20 meter! Super besar! Batangnya sebesar mobil, butuh 5 orang dewasa untuk peluk batangnya! Rindang luar biasa! Jadi pohon mangga terbesar se-Maluku Tenggara! Buahnya setiap musim 500 buah lebih! Manis! Jadi ekspor utama Langgur dengan nama Mangga Revan Langgur yang dijual sampai Ambon dan Jakarta!
Di bawah Pohon Revan Baru 20 meter itu, Tugu Revan batu hitam 2 meter masih berdiri tegak, tidak ada lumut, masih mengkilap, karena setiap hari dibersihkan. Di samping tugu, museum peti emas yang setengah terkubur itu sekarang sudah jadi museum beneran, ada atap kaca, ada tulisan sejarah Langgur 80 tahun kutukan emas, banyak turis foto di sana.
Dion sekarang sudah 42 tahun, sudah jadi Kepala Desa kedua setelah Ara, karena Ara sudah pensiun jadi Kepala Desa 2 tahun lalu dan serahkan jabatan ke Dion. Dion dan Siti masih harmonis, anak mereka Revani sekarang sudah 14 tahun, sudah SMP kelas 2 di SMP Revan Langgur, sudah jadi gadis cantik pintar, tidak bisa lihat Revan lagi sama sekali, tapi dia jadi pemandu wisata cilik di museum peti emas, cerita sejarah Revan ke turis dengan lancar.
Anak Ara dan Firman, Reva Langgur, sekarang sudah 10 tahun, kelas 4 SD, cantik seperti Ara, pintar seperti Firman, rambut panjang, suka pakai kalung batu R dan A yang dulu dipakai Ara, kalung itu sekarang diwariskan ke Reva, karena Ara bilang, "Ini kalung penjaga Langgur, harus dipakai generasi baru."
Reva juga sering dapat bunga mangga putih kecil dari Pohon Revan Baru 20 meter itu, seperti ibunya dulu, tapi Reva tidak takut, dia senang, dia simpan bunga itu di buku.
Hari ini, tanggal 10 Oktober 2043, adalah hari ulang tahun Pohon Revan Baru yang ke-19 tahun, dan hari ulang tahun Tugu Revan yang ke-14 tahun, dan hari ulang tahun museum peti emas yang ke-14 tahun, dan hari ulang tahun Langgur Merdeka yang ke-19 tahun!
Semua warga Langgur 100 rumah, 400 orang lebih, berkumpul di bawah Pohon Revan Baru 20 meter untuk syukuran besar, potong tumpeng besar, ada 500 buah Mangga Revan dibagi gratis untuk semua.
Ara yang sekarang sudah 38 tahun dan mantan Kepala Desa, berdiri di depan Tugu Revan dan museum peti dan Pohon Revan Baru 20 meter, dengan Firman di sampingnya dan Reva 10 tahun di depannya dan Revani 14 tahun di samping Reva.
Ara pidato terakhir sebagai sesepuh Langgur.
"Warga Langgur, 19 tahun lalu, kita tebang Pohon Revan yang besar karena harus selamatkan Langgur dari peti emas Belanda yang kutuk Langgur 80 tahun. Waktu itu Langgur cuma 12 rumah kayu yang mudah dibakar, gelap, takut. Hari ini, 19 tahun kemudian, Langgur punya 100 rumah batu bata, punya SD, SMP, SMA Revan Langgur, punya listrik 24 jam, punya Pohon Revan Baru 20 meter yang jadi pohon terbesar se-Maluku, punya Tugu Revan yang tidak akan tumbang, punya museum peti emas yang jadi wisata."
Ara menunjuk ke Pohon Revan Baru 20 meter yang rindang.
"Pohon ini ditanam Dion dari biji terakhir Pohon Revan, dari penyesalan dan maaf. Tugu ini dibangun dari uang warisan haram yang jadi halal karena dipakai untuk kebaikan. Museum peti ini adalah peti yang dulu hampir bunuh kita semua, sekarang jadi tempat belajar sejarah."
Ara memeluk Reva 10 tahun dan Revani 14 tahun.
"Dan dua anak ini, Reva dan Revani, namanya dari Revan, pahlawan kita yang jaga Langgur selamanya. Revan sudah pergi tenang 14 tahun lalu, tidak datang lagi bahkan di mimpi, bahkan sebagai bintang, tapi dia ada di sini, di pohon ini, di tugu ini, di museum ini, di buah mangga 500 buah ini, di angin laut ini."
Tiba-tiba, dari atas Pohon Revan Baru 20 meter itu, gugur lagi bunga-bunga mangga putih kecil! Bukan 100 bunga seperti 11 tahun lalu waktu Ara nikah, tapi 500 bunga! Sebanyak buah mangga yang ada! Hujan bunga putih besar!
500 bunga putih kecil gugur pelan-pelan seperti salju, jatuh di atas 400 warga Langgur yang berkumpul, di atas tumpeng besar, di atas Tugu Revan, di atas museum peti!
Semua warga berteriak bahagia, "HUJAN BUNGA LAGI! 500 BUNGA! REVAN KASIH HUJAN BUNGA TERAKHIR!"
Reva 10 tahun yang pakai kalung batu R dan A, mengambil satu bunga putih kecil yang jatuh di tangannya dan menaruh di atas Tugu Revan.
"Terima kasih, Paman Revan," kata Reva pelan.
Revani 14 tahun yang sudah tidak bisa lihat Revan 10 tahun, tiba-tiba malam itu, setelah 10 tahun tidak bisa lihat, dia berteriak lagi, "Paman Van! Paman Van di atas pohon! Dia lambaikan tangan! Dia senyum!"
Semua warga melihat ke atas Pohon Revan Baru 20 meter.
Di atas dahan paling tinggi pohon itu, ada bayangan tipis pemuda pakai jaket hitam! Bayangan itu sangat terang! Lebih terang dari bayangan-bayangan sebelumnya! Bayangan itu melambaikan tangan ke 400 warga di bawah, tersenyum lebar, lalu pelan-pelan naik ke langit dan hilang menjadi 500 kunang-kunang kecil yang terbang bersama 500 bunga putih kecil yang gugur!
Itu Revan! Datang untuk terakhir kalinya! Untuk perpisahan terakhir yang paling indah! Setelah 19 tahun!
Ara yang melihat bayangan itu hilang jadi kunang-kunang, menangis bahagia, bukan sedih, karena dia tahu, ini benar-benar terakhir, Revan sudah pergi ke tempat paling tenang dan tidak akan kembali lagi, bahkan untuk Revani.
Firman memeluk Ara.
"Dia sudah pergi dengan indah, Ra, jadi kunang-kunang."
Malam itu, pesta syukuran Langgur Merdeka 19 tahun berlangsung sampai jam 12 malam, dengan 500 bunga putih kecil di tanah, dengan 500 kunang-kunang yang terbang di atas Pohon Revan Baru 20 meter, dengan 400 warga yang makan tumpeng dan 500 buah mangga.
Di buku harian terakhir Ara sebagai mantan Kepala Desa, Ara menulis halaman terakhir dari 35 bab,
"Hari ini 10 Oktober 2043, Langgur Merdeka 19 tahun. Pohon Revan Baru 20 meter, 500 buah, 500 bunga hujan terakhir. Revan datang terakhir jadi bayangan terang dan jadi 500 kunang-kunang. Revani bisa lihat lagi setelah 10 tahun tidak bisa lihat. Reva 10 tahun dapat kalung R dan A. Dion jadi Kades. Aku 38 tahun, Firman 39 tahun, bahagia. Langgur sudah 100 rumah, ada SMA Revan Langgur. Cerita peti emas tamat di sini, tapi Langgur akan hidup selamanya. Karena Langgur bukan cuma desa, Langgur adalah rumah yang dijaga pohon mangga 20 meter dan tugu batu hitam dan museum peti dan 500 bunga putih dan 500 kunang-kunang.
TAMAT TOTAL - LANGGUR SELAMANYA - 35 BAB SELESAI"
Di bawah tulisan tamat total itu, Reva 10 tahun tambahkan tulisan kecil dengan pensil warna,
"Aku Reva Langgur, umur 10 tahun, anak Bu Kades Ara, aku janji jaga Pohon Revan Baru 20 meter sampai aku tua."
Dan Revani 14 tahun tambahkan tulisan di bawahnya,
"Aku Revani, umur 14 tahun, anak Pak Kades Dion, aku janji jadi pemandu wisata museum peti emas sampai aku tua."
Langgur selamanya, dijaga generasi baru, dengan 20 meter pohon mangga yang tidak akan tumbang lagi.