NovelToon NovelToon
My Shit Boss

My Shit Boss

Status: tamat
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Tamat
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: ikesweetdevil

Menurut Tina, memiliki bos seperti Alfan itu menyebalkan. Sifat dan kepribadiannya yang aneh, sering kali membuat Tina ingin menyerah meski pada akhirnya ia tetap tidak bisa. Banyak hal yang mengharuskannya tetap bertahan, termasuk keinginannya untuk membahagiakan papanya.

Lalu apa jadinya bila Alfan menyuruh Tina untuk datang ke rumahnya di hari pertunangan adiknya, dan dengan entengnya mengatakan bila Tina adalah calon istrinya di depan seluruh undangan dan keluarganya.

Tentu saja, Tina merasa kesal dan marah, ia ingin bosnya menjelaskan kejadian yang sebenarnya. Namun bosnya itu justru mengajukan perjanjian, menyatukan mereka ke dalam kesepakatan.

Mulai hari itu, mereka semakin dekat, hingga hari itu tiba, di mana Satria datang menghancurkan segalanya. Satria adalah cinta pertama Tina, namun juga luka untuk Alfan yang belum melupakan semuanya.

Ketiganya terjalin di sebuah takdir masa lalu, sanggupkah mereka bertahan dan bahagia atau justru berakhir sebaliknya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ikesweetdevil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 15

Part 15

Tina tersenyum ke arah papanya yang baru datang ke kamarnya bersama dengan tantenya. Saat ini Tina sedang menyiapkan pakaian dan barang-barang keperluannya untuk keberangkatannya besok, kebetulan papanya belum tidur, ia berniat berpamitan dengannya.

"Kamu lagi apa, Na? Kok kamu mengisi tas dengan baju dan barang-barang kamu? Memangnya kamu mau ke mana?" Laily mendudukkan tubuhnya di tepi ranjang setelah menghentikan kursi roda kakaknya di tempatnya sekarang.

"Besok aku mau ke Surabaya bersama Pak Alfan untuk kepentingan bisnis, Tante. Sebagai asisten pribadinya, aku harus selalu ada di sisi Pak Alfan." Tina menyunggingkan senyumnya ke arah Tante dan juga papanya.

"Memangnya berapa hari kamu di sana?" tanya sang Papa kali ini.

"Mungkin tiga hari, Pa."

"Oh iya mengenai Pak Alfan, apa benar kamu akan menikah dengannya? Dia itu orang kaya loh, Na. Bos kamu juga. Tante cuma enggak mau kamu malah enggak dihargai karena status keluarga kita yang berbeda dengan keluarganya." Laily bertanya hati-hati sedangkan Tina hanya terdiam, ia bahkan sudah merasa tidak dihargai oleh bosnya.

"Aku enggak tahu, Tante." Tina menjawab lirih yang membuat Tante dan papanya tak mengerti.

"Maksud kamu apa, Na? Apa kamu sedang bertengkar dengan bos kamu?" tanya papanya terdengar khawatir, namun Tina justru tersenyum lalu menggeleng pelan.

"Enggak kok, Pa. Aku sendiri juga enggak yakin dengan hubungan kami, aku sadar diri siapa aku bila dibandingkan dengan Pak Alfan. Status kita jauh berbeda, seperti bumi dan langit, kita seperti mustahil untuk bersama." Tina menghentikan ucapannya, ia hanya ingin membuat keluarganya tak mengharapkan hubungannya dengan bosnya, karena semua itu hanya kepalsuan yang tidak mungkin menjadi kenyataan.

"Kalau kamu merasa hubungan kalian mustahil, lalu kenapa kamu masih mau memiliki hubungan dengan bos kamu, Na?" tanya Laily hati-hati, membuat Tina tersenyum miris, itu karena bosnya hanya ingin menjadikannya kekasih bohongan, yang hanya memiliki status palsu tanpa ada orang lain yang tahu.

"Aku enggak tahu, Tante. Semua terjadi begitu aja. Yang penting sekarang aku bersama Pak Alfan, entah nanti aku berjodoh dengan dia atau enggak, itu bukan masalah." Tina menyunggingkan senyumnya, berharap keluarganya itu mengerti agar tidak ada harapan yang mereka panjatkan untuk hubungannya.

"Lebih baik segera diakhiri, bila kamu sendiri enggak serius apalagi kalau kamu cuma mau main-main." Sang papa menyahut serius, membuat Tina terdiam saat menatapnya.

"Kamu yang paling tahu, bagaimana Papa dan Mama dulu berpisah kan? Sebuah hubungan enggak akan bisa bertahan lama hanya dengan dilandasi cinta, karena harus ada komitmen untuk menjaga hubungan itu sendiri. Kalau sejak awal kamu sudah seperti ini, Papa enggak yakin hubungan kalian bisa bertahan lama." Sang papa melanjutkan ucapannya, membuat Tina terdiam dan mengangguk setuju, karena ia tahu bagaimana rasanya hubungan itu dipisahkan hanya karena ambisi salah satu dari pasangan.

"Aku mengerti, Pa. Aku cuma enggak mau berharap terlalu jauh untuk hubunganku yang sekarang, aku juga takut kecewa. Tapi Papa tenang aja, aku pasti akan mengakhiri hubungan ini kalau memang aku enggak bisa bertahan." Tina merengkuh tangan papanya, yang diangguki mengerti olehnya.

"Iya. Papa harap juga seperti itu, karena bagi Papa enggak ada yang lebih penting di dunia ini kecuali kebahagiaan kamu."

"Terima kasih, Pa." Tina menyunggingkan senyumnya, ia merasa lega papanya tidak terlalu mengharapkan pernikahannya dengan bosnya terjadi.

***

Tina menghela nafas panjangnya setelah mendapati mobil bosnya yang baru saja datang, padahal sudah setengah jam Tina berada di depan kantor, namun bosnya itu justru telat lebih dari diperkirakannya.

"Maaf, Bu Tina saya telat." Sang sopir segera datang menghampirinya lalu mengambil alih tasnya.

"Iya, Pak. Enggak apa-apa."

"Saya bawakan tasnya ya, Bu Tina masuk saja ke mobil, tapi bagian belakang ya."

"Saya kan cuma asisten Pak Alfan, kenapa saya harus duduk di belakang?" Tina menggeleng pelan, merasa lucu saja dengan sopir dari bosnya itu yang biasanya tidak pernah mengaturnya harus duduk di mana.

"Ini permintaan Pak Alfan," jawab sang sopir yang sempat Tina diami.

"Ya sudah, Pak. Saya akan duduk di belakang." Tina menjawab setuju yang diangguki mengerti oleh sang sopir.

"Silakan masuk!"

"Terima kasih." Tina menyunggingkan senyumnya lalu masuk ke dalam mobil, sedangkan sang sopir hanya mengangguk lalu memasukkan tasnya di bagian bagasi.

Saat masuk ke dalam mobil, Tina sempat dibuat bingung dengan posisi bosnya yang sedang duduk dengan mata tertutup. Meski pada akhirnya Tina hanya menghela nafas lalu duduk di samping bosnya.

"Pak Alfan lagi tidur, Bu. Makanya tadi telat jemput," ujar sang sopir setelah masuk ke dalam mobil, seolah ingin menjawab keheranan Tina.

"Iya, Pak. Saya mengerti." Tina menjawab seadanya, sampai saat mobil yang Tina tumpangi mulai bergerak maju, Tina hanya terdiam dengan sesekali memerhatikan bosnya yang terlelap di sampingnya.

Alfan tampak tak nyaman dengan posisinya tidur dengan tubuh duduk dan hal itu juga disadari oleh Tina, membuat wanita itu merasa tak nyaman melihatnya, ia berniat duduk di depan untuk memberi bosnya tempat untuk terlelap.

"Pak," panggil Tina hati-hati dengan menepuk pelan lengan bosnya.

"Hm," jawab bosnya yang memang kurang bisa tidur dengan nyenyak, mendengar panggilan asistennya tentu saja sangat mudah membuatnya tersadar.

"Lebih baik Bapak membaringkan tubuh di sini, biar saya duduk di samping Pak sopir." Tina memberi alternatif untuk bosnya beristirahat, namun sepertinya itu tak membuat bosnya senang dengan idenya, bisa dilihat dari caranya membuka mata dengan sorot mata dinginnya.

1
Renjana
aku pun ikut kaget,🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!