NovelToon NovelToon
KAU KHIANATI AKU, KUNIKAHI AYAHMU

KAU KHIANATI AKU, KUNIKAHI AYAHMU

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / CEO / Tamat
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Nuna_Pena

Dicampakkan Aris karena dianggap tidak selevel, Aura memilih balas dendam paling elegan: Menikahi Hendra (38th), ayah Aris yang tampan dan kaya raya.
​Kini, sang mantan harus tunduk di bawah kekuasaan ibu tiri barunya.
​"Dulu kamu menginjakku, Aris. Sekarang, panggil aku Ibu!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

pernyataan cinta

“Bagaimana kondisi Aris sekarang, Mas?”

—

Suara lembut Aura menyambut kedatangan Hendra begitu pria matang itu melangkah masuk kembali ke dalam kamar utama. Aura yang masih duduk tersandar di ranjang king-size menatap suaminya dengan pandangan jernih dan sangat tenang, mengusap pelan perutnya yang membuncit di balik gaun tidur sutra merah anggur.

—

Hendra menutup pintu ganda kayu jati tersebut, menguncinya rapat dari dalam. Pria berusia tiga puluh delapan tahun itu melepas jubah mandinya, lalu melangkah menuju tepi ranjang. Wajah tegasnya yang tadi dipenuhi aura pembunuh seketika melunak begitu matanya menatap raut cantik sang istri.

—

Hendra mengambil posisi duduk di samping Aura, merangkul tubuh jenjang istrinya ke dalam dekapannya yang hangat dan sangat protektif. Pria itu menempelkan telapak tangannya di atas perut Aura, mengusap calon buah hati mereka dengan rasa sayang yang mendalam.

—

“Aris sudah ditangkap kembali sama tim kepolisian yang bersiap di depan gerbang,” sahut Hendra dengan suara beratnya yang menenangkan. “Dia bakal dibawa ke sel tahanan khusus dengan pengamanan maksimum. Dia nggak bakal bisa keluar atau mengganggu kamu lagi, Sayang.”

—

Aura menghembuskan napas pelan, merasa relief dan lega menyelimuti dadanya. Ia menyandarkan kepalanya pada dada bidang Hendra, mendengarkan detak jantung suaminya yang teratur dan hangat.

—

“Makasih ya, Mas... Kamu selalu ada buat ngelindungin aku sama anak kita,” bisik Aura tulus sambil memegang jemari kokoh Hendra.

—

Hendra mengecup pelipis Aura dengan mesra, menghirup aroma wangi mawar dan kayu manis dari leher istrinya.

—

“Nggak perlu terima kasih, Ratu saya,” kata Hendra pelan, memutar tubuh Aura agar menghadap sepenuhnya ke arahnya. Pria matang itu menatap lurus ke dalam manik mata Aura dengan binar kehangatan, ketertarikan, dan cinta yang begitu pekat.

—

“Kamu adalah wanita terbaik yang pernah hadir di hidup saya, Aura,” lanjut Hendra jujur, menyunggingkan senyuman paling menawan di wajah tegasnya. “Saya nggak pernah nyesel sedikit pun udah nandatanganin draf perjanjian pra-nikah kita waktu itu.”

—

Aura tersenyum sangat manis, membalas tatapan mata cokelat gelap milik suaminya. “Sama, Mas... Aku juga bersyukur banget udah milih kamu.”

—

Hendra menundukkan kepalanya, menyatukan bibir mereka dalam ciuman yang dalam, intim, dan penuh gairah kepemilikan abadi. Aura memejamkan matanya, merangkulkan kedua tangannya di leher tegap suaminya, membalas ciuman Hendra dengan seluruh rasa cinta yang kini bersemi sempurna di hatinya.

—

—

Keesokan harinya di kediaman utama Fahreza.

—

Pagi yang cerah disambut oleh pendar sinar matahari keemasan yang menembus celah-celah jendela kaca besar. Suasana rumah megah itu terasa sangat tenang dan damai setelah badai pelarian Aris berhasil dituntaskan malam tadi.

—

Aura duduk di meja makan utama, menikmati sarapan buah-buahan segar dan segelas susu khusus kehamilan. Ia mengenakan gaun terusan teras kasual berwarna biru pastel yang sangat nyaman, memancarkan kecantikan alami seorang wanita yang sedang mengandung empat bulan.

—

Hendra yang baru saja selesai merapikan jas mewahnya melangkah masuk ke ruang makan. Pria itu membungkuk sedikit, mengecup kening istrinya dengan hangat sebelum mengambil posisi duduk di samping Aura.

—

“Hari ini kamu istirahat di rumah saja ya, Sayang,” bujuk Hendra lembut seraya mengusap pelan bahu Aura. “Saya sudah minta tim sekertaris buat ngirim seluruh dokumen yang butuh persetujuan kamu ke rumah.”

—

Aura tertawa pelan, memegang cangkir susunya. “Mas... aku kan cuma hamil, bukan sakit. Lagi pula, hari ini ada rapat penting bareng jajaran direksi dari Singapura di kantor.”

—

Hendra menyunggingkan senyuman dominan yang menawan. “Jajaran direksi Singapura bisa menunggu atau rapat via online. Kesehatan kamu sama pangeran kecil kita jauh lebih penting dari investasi puluhan triliun mana pun.”

—

Aura menggelengkan kepalanya sambil tersenyum manis, mengalah pada sifat protektif suaminya yang sangat memanjakan.

—

Namun, ketika mereka berdua sedang menikmati momen sarapan yang hangat itu, Pak Biantoro—kepala pengawal—melangkah masuk ke dalam ruang makan dengan raut wajah yang cukup ragu-ragu.

—

“Permisi, Pak Hendra... Nyonya Aura,” sapa Pak Biantoro sambil membungkuk sopan.

—

Hendra menoleh datar. “Ada apa, Pak Biantoro?”

—

Pak Biantoro menyerahkan sebuah amplop cokelat tebal yang tersegel rapi tanpa nama pengirim di atas meja makan.

—

“Amplop ini baru saja diantarkan oleh kurir khusus dari Pengadilan Negeri pagi ini, Pak,” terang Pak Biantoro. “Katanya ini adalah berkas surat pesan pribadi dari Aris sebelum dia dipindahkan ke sel tahanan maksimum.”

—

Dahi Hendra berkerut dalam. Ia meraih amplop cokelat tersebut dengan pandangan dingin.

—

Aura menatap amplop itu dengan penasaran. “Surat dari Aris?”

—

Hendra membuka segel amplop tersebut, menarik keluar selembar kertas putih dengan tulisan tangan yang agak gemetar namun sangat jelas milik putra tunggalnya. Hendra membaca tulisan itu dalam hati sejenak, sebelum matanya seketika membelalak tipis dan raut wajahnya berubah menegang.

—

Aura yang menyadari perubahan raut wajah suaminya langsung memegang lengan Hendra. “Mas... Ada apa? Aris nulis apa di surat itu?”

—

Hendra menatap Aura dengan pandangan yang sulit diartikan—campuran antara kebingungan, kejutan, dan raut serius yang mendalam.

—

Pria matang itu menyerahkan lembaran kertas tulisan tangan Aris ke hadapan istrinya.

—

Aura menerima kertas tersebut, lalu membaca kalimat terakhir yang dituliskan Aris di bagian bawah surat:

—

‘Papa... Papa pikir Aura menikah sama Papa cuma karena kagum? Coba Papa tanya sama Aura sekarang... Siapa orang yang ngasih dia akses dokumen rahasia Paman Danu buat pertama kali sebelum dia ketemu Papa di balkon malam itu?’

1
Ds Phone
dia lagi cekap
Ds Phone
siapa pulak tu tak habis lagi ke
Ds Phone
akhir nya derama dah berhair
Ds Phone
meraka lagi cekap
Ds Phone
dah culik anak orang tu pulak
Ds Phone
apa kagi dia nak buat
Ds Phone
semua nya dah kenatankap
Ds Phone
ada yang tak betul ni
Ds Phone
ada yang tak kena lah ni
Ds Phone
ada apa masalah lagi tu
Ds Phone
semua bolih di patah kan nya
Ds Phone
ada masalah lagi
Ds Phone
apa masut dia ya
Ds Phone
kena tankap juga sudah nya
Ds Phone
macam mana kau bolih dapat fi al rasia tu
Ds Phone
dapat lari apa dia akan buat hal
Ds Phone
kalau kita apa
Ds Phone
kena penjara juga sudah nya
Ds Phone
banyak sangat duit yang dia pakai
Ds Phone
kenapa nak kena tankap pulak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!