"Menikahlah denganku dan jadilah istri juga ibu untuk kedua anakku!"
Apa jadinya jika pertemuan mu dengan seorang duda beranak dua bisa mengubah hidupmu dalam waktu singkat?
Itu yang dirasakan oleh Azkia Anandita Ayunindya. Gadis berusia dua puluh satu tahun. Seorang mahasiswa dari Universitas New Student Spirit, dari jurusan PG/SD.
Pertemuannya yang tidak disengaja dengan dua gadis kecil berhasil merubah hidupnya dalam waktu singkat. Sebab, ayah dari kedua gadis kecil itu memintanya untuk menikah dengannya.
Arkanza Abbiyya Bassam.
Seorang pengacara muda yang berusia dua puluh delapan tahun. Arkanza terkenal sebagai pengacara yang selalu berhasil menyelesaikan setiap permasalahan kliennya berkat ketelitiannya.
Karena desakan dari ibu nya, yang selalu memintanya untuk menikah dalam waktu cepat, membuat Arkanza pusing. Padahal banyak wanita yang selalu mengantri untuk menjadi istrinya, meskipun mereka tau bahwa Arkanza adalah seorang duda beranak dua.
Namun sayangnya Arkanza tidak bisa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ulfa Zahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
merampas kebahagiaan paman mu
Heppy reading
❄️❄️❄️
"Kenapa kamu terkejut? Ucap pria itu sambil tersenyum miring menatap remeh kearah Azkia.
"Brengsek! Apa yang sudah dia lakukan?" Batin Azkia menatap geram kearah Arkanza yang sedang melangkah kearah mereka, dengan gaya angkuhnya. Sedangkan dibelakangnya terdapat tiga pria. Dua memiliki penampilan yang sama dengan penampilan ketiga pria tadi. Sedangkan satunya mengenakan baju yang rapi seperti Arkanza.
"Anda siapa?"
"Perkenalkan saya Arkanza Abbiyya Bassam. Seorang pengacara yang sukses dan terkenal di kota ini.... OF course you know who I am, Mr Fardy Zayn?" Ucap Arkanza tersenyum miring.
"Tidak, saya tidak mengenal anda tuan." Jawab Zayn dengan santai, yang membuat Arkanza langsung dibuat diam. Senyuman angkuh tadi seakan hilang saat mendengar jawaban berani dari pria tua didepannya.
"Berani sekali dia mengatakannya dengan terang-terangan, dihadapan ku...." Batin Arkanza geram, karena merasa direndahkan secara langsung. Padahal banyak orang yang mengenalnya sebagai pengacara terkenal, tapi tidak dengan Zayn, yang tidak perduli sama sekali.
"You heard that sir, my papa doesn't know you!" Tekan Azkia tersenyum mengejek.
Arkanza yang melihat senyuman Azkia semakin mengepalkan tangannya, karena kesal, apalagi saat melihat senyuman gadis itu. Walaupun Arkanza marah, tapi Arkanza masih bisa menyembunyikan wajahnya itu dengan terlihat biasa-biasa saja."Bukannya anda tadi meminta bukti tuan, untuk membuktikan kalau rumah ini adalah milik saya?" Ucap Arkanza mengingatkan Zayn soal persoalan mereka tadi.
"Iya... Apakah anda bisa memberikan saya bukti kalau rumah ini adalah memilik anda, Sedangkan saya tidak pernah menjual rumah ini "
"I have proof Mr. Fardy.” Ucap Arkanza sambil menatap kearah Azkia, yang dari tadi menatapnya dengan tidak suka."Agus, keluarkan sertifikat tanahnya dan juga beberapa berkas yang menandakan kalau rumah ini adalah milik saya." Perintah Arkanza pada asisten pribadi nya itu.
"Baik tuan."
Marto Agus Salim. Pria berusia dua puluh tujuh tahun. Berkerja sebagai Asisten pribadi Arkanza dan juga orang kepercayaannya yang selama ini membantu Arkanza menyelesaikan kasusnya.
"Ini pak Fardy, surat tanah dan juga berkes pembelian rumah ini, yang menyatakan kalau anda sudah menjual rumah ini." Ucap Agus sambil menyerahkan surat tanah dan juga beberapa bukti surat pembelian lainnya.
"Ini tidak benar?! Saya tidak pernah menjual rumah ini!" Tolak Zayn tidak percaya kalau ia pernah menjual rumahnya. Ia benar-benar ingat kalau ia tidak pernah menjual rumah itu, tapi melihat surat tanah didepannya membuat Zayn kebingungan.
"Jika anda tidak percaya, anda bisa melihat tanda tangan ini pak.... Bukannya anda sendiri yang menandatangani surat ini, pak Fardy?" Ucap Agus sambil memperlihatkan tanda tangan Zayn yang berada di atas materai.
"In... ini tidak benar... Saya belum pernah menjual rumah ini!" Tolak Zayn tegas, karena ia merasa tidak pernah menjual rumah itu.
Zayn terus berpikir, kapan ia menandatangani surat itu. Sampai ingatan kembali tertuju pada kejadian kemarin, sebelum ia di keluarkan dari kantor. Ia disuruh menandatangani sebuah kertas putih tanpa tulisan. Kata pemilik kertas itu, mereka membutuhkan tanda tangan Zayn untuk surat pengunduran diri.
"This isn't right!... I knew that you guys must have framed me by signing the papers yesterday!" Marah Zayn saat menyadari akan kesalahannya dan ia tau kalau kemarin dirinya telah ditipu.
"Hahaha, apa buktinya pak Fardy. Bukannya anda sendiri yang menandatangani semua surat pembelian tanah ini." Jawab Arkanza sambil tertawa jahat menatap Azkia."Saya ingin kalian angkat kaki dari rumah ini. Sekarang!" Ucap Arkanza dengan menekan kalimat terakhirnya.
"Tidak... Saya tidak akan meninggalkan rumah ini!"
"Baiklah.... If that's what you guys want, then I'm going to take all of this to justice." Jawab Arkanza sambil tersenyum miring menatap kearah Azkia. Bahkan gerakan bibir pria itu seperti mengatakan sesuatu dan Azkia mengerti apa yang pria itu ucapakan.
Take away your uncle's happiness.
Ucapnya sambil tersenyum miring. Azkia yang mengerti bisa mengartikan nya dan Azkia mengerti sekarang kalau ancaman pria itu ternyata ini.
"Brengsek!" Geram Azkia ingin melangkah mendekati Arkanza, tapi tangannya langsung ditahan oleh papa nya Zayn."Kenapa papa mengehentikan ku, biarkan Azkia memberikan pelajaran pada pria itu, agar dia tau kalau rumah ini milik kita, papa. Bukan miliknya." Ucap Azkia tidak terima menatap papa dengan mata yang memerah, bukan saja matanya tapi wajah cantiknya kini ikut memerah.
"Berikan kami waktu satu hari untuk membereskan barang-barang kami. Setelah semuanya selesai kami akan pergi meninggalkan rumah ini." Ucap Zayn, yang langsung mendapatkan tatapan tidak percaya dari Azkia, karena papanya itu akan memberikan rumah mereka begitu saja, padahal papa nya belum pernah menjual rumah ini.
"Papa..."
"Baiklah, jika itu yang anda inginkan tuan Ferdy. Saya akan memberikan anda waktu satu hari dan besok kalian sudah tidak ada lagi di rumah ini." Ucap Arkanza tersenyum penuh kemenangan sambil menatap kearah Azkia, karena ia berhasil membuat gadis itu kalah setelah berani bermain-main dengan dirinya.
"Baik tuan.... Terimakasih." Jawab Zayn dengan terpaksa, yang membuat Azkia menatap nya dengan tatapan kecewa.
Universitas New Student Spirit.
Azkia melangkah memasuki kawasan kampus yang terlihat sangat ramai, sebab banyak mahasiswa yang baru saja datang seperti dirinya.
Kawasan kampus yang terlihat sangat luas dan memiliki gedung berlantai tiga membuat kampus itu terlihat sangat megah. Tidak heran kampus Universitas New Student Spirit menjadi kampus terfavorit setelah kampus lainnya, karena banyak mahasiswa mudah yang ingin melanjutkan kuliah mereka ke jenjang yang lebih tinggi lagi, apalagi kampus itu terkenal sebagai kampus terbaik di kota Jakarta selatan.
Huwuu
Helaan nafas keluar dari bibir Azkia, saat ia menatap bangunan didepannya, rasanya ia ingin berhenti karena gadis itu akan kembali menghadapi masalah nya yang lain setelah masalah tadi pagi.
"Apakah aku harus berhenti... Tapi aku tidak ingin mengecewakan papa." Gumam Azkia menatap bangunan didepannya."Apapun yang terjadi, kamu bisa menyelesaikan nya, Azkia." Setelah menyemangati dirinya, ia langsung melangkahkan kakinya masuk kedalam kawasan kampus tanpa keraguan, seperti tadi.
"Azkia!!" Panggil seorang gadis seusianya yang sedang melangkah kearahnya dengan sedikit berlari. Gadis cantik dengan dress coklat selutut model simpel itu terlihat tersenyum saat berada didekatnya.
"Kenapa kamu teriak-teriak, Ailsie?" Tanya Azkia menatap gadis itu yang kini sudah berada didepannya.
"Az, kamu disuruh pak dekan pergi ke ruangannya." Jawab gadis itu.
Ailsie Joanna. Gadis cantik berusia dua puluh satu tahun, teman dekat Azkia. Anak tunggal dari dosen yang mengajar kampus itu.
"Di panggil pak dekan?" Tanya Azkia mengulang ucapan Ailsie barusan.
"Iya, Az. Tapi aku nggak tau kenapa pak dekan panggil kamu." Jawab Ailsie.
"Kalau gitu aku ke ruangan pak dekan, dulu. Kamu mau ikut nggak?"
"Aku mau ikut, soalnya aku juga kepo sama tuh pak dekan karena tiba-tiba manggil kamu."
"Boleh, asal kamu jangan membuat keributan." Jawab Azkia.
"Kalau itu aman, soalnya aku tuh orangnya kalem." Ucap Ailsie memuji dirinya sendiri.
"Kalem... Tapi suka bertengkar sama geng centil sebelah." Sindir Azkia sambil melanjutkan langkahnya kembali.
"Tapi mereka suka ngebully kamu Az..." Jawab Ailsie tidak terima dan terus mengikuti langkah sahabatnya itu.
Azkia tidak menjawab ucapan Ailsie, karena gadis itu lebih fokus pada jalan didepannya daripada ucapan Ailsie disampingnya. Sampai tidak terasa mereka telah sampai didepan ruangan pak dekan.
"Aku masuk duluan kedalam, kamu tunggu di luar."
"Kamu ninggalin aku, Az." Ucap Ailsie memasang wajah sedihnya.
Azkia yang melihat kelakuan Ailsie hanya memutar matanya malas. "Nggak usah drama, Ailsie. Aku masuknya bentar saja." Jawab Azkia."Kalau kamu mau tunggu silahkan, tapi kalau kamu mau tinggal juga nggak apa-apa." Ucap Azkia kembali sambil melangkah masuk kedalam ruangan dekan itu.
"Gini amat punya sahabat cuek kayak kamu...." Gerutu Ailsie kesal menatap pintu yang sudah tertutup itu.
.
.
"Selamat pagi, pak." Sapa Azkia dengan sopan saat ia sudah berada didalam ruangan dekan. Ia bisa melihat pria paruh baya yang sedang duduk di kursinya sambil membaca sebuah dokumen ditangannya.
Pria paruh itu menyimpan berkas yang tadi dia baca di atas meja, lalu pandangannya tertuju kearah Azkia dengan tatapan datar."Duduklah." Azkia hanya menganggukkan kepalanya kecil lalu ia menuruti perintah dekan nya itu dengan duduk di kursi depan meja pak dekan.
"Maaf pak, kenapa bapak memanggil saya keruangan bapak? Apakah ada masalah?" Tanya Azkia sopan menatap dekan kampus nya itu.
"Saya hanya ingin menyampaikan, kalau, beasiswa yang kamu dapatkan sudah di cabut dari kampus ini tiga bulan yang lalu." Jelas dekan itu sambil menyerahkan kertas putih kearah Azkia.
Azkia terdiam. Ia juga tidak terkejut saat mendengar ucapan dekan nya itu, karena Azkia sudah menebaknya kalau beasiswa ini pasti akan di cabut, apalagi selama empat bulan ini nilai turun drastis dari sebelumnya.
"Dan bulan ini kamu harus membayar uang sekolah dan beberapa uang khas lainnya." Jelas pria paruh baya itu kembali.
"Baik pak, saya akan membayarnya secepatnya."
"Belajarlah yang rajin, Azkia. Saya tau kalau kamu adalah gadis yang pintar dan juga berprestasi, hanya saja kamu sedang tidak baik-baik saja sekarang sehingga nilai mu harus turun dan membuat beasiswa yang kamu dapatkan tercabut." Ucap pak dekan itu menatap iba kearah Azkia. Pak dekan itu sangat tau kalau gadis didepannya sangat pintar dan berprestasi. Tapi, entah kenapa selama empat bulan ini nilai nya seakan turun menjadi lima puluh persen, bahkan sekarang Azkia tidak terlalu fokus pada kuliahnya.
"Baik pak, terimakasih." Jawab Azkia tersenyum kecil."Kalau tidak ada lagi yang di bicarakan, saya ijin permisi." Ijin Azkia.
"Silahkan." Jawab pak dekan itu. Azkia berdiri dari duduknya, melangkah kearah pintu sambil membawa kertas itu.
"Az, apa yang pak dekan bahas denganmu didalam?" Tanya Ailsie saat melihat Azkia keluar dari ruangan dekan. Ya, gadis itu tidak pergi, bahkan dengan setia ia menunggu sahabatnya sampai keluar dari ruangan dekan.
"Tidak ada Ailsie."
"Benarkah? Tapi aku tidak percaya Az, aku tau kalau kamu lagi ada masalah...." Ucap Ailsie yang tidak percaya dengan jawaban yang Azkia berikan."Kalau kamu lagi ada masalah, kamu bisa ceritain sama aku atau Naila." Ucap Ailsie dengan serius menatap Azkia.
"Aku sedang tidak ada masalah Ailsie. Kamu tenang aja." Jawab Azkia bohong mencoba untuk tersenyum.
"Baiklah aku percaya. Tapi kalau sampai aku tau kamu lagi ada masalah tapi nggak mau cerita, nanti aku bakalan marah sama kamu."
"Hmm...." Jawab Azkia dengan bergumam dan kembali melanjutkan langkahnya beriringan dengan Ailsie.
Disisi lain.
Seorang pria sedang duduk di kursi kebesarannya sambil membaca beberapa kasus dengan teliti. Karena hari ini dia akan melakukan sidang kedua tentang kasus pemerkosaan seorang gadis kecil yang duduk di bangku SD. Apalagi kasus ini terbilang sulit karena sang pelaku telah menghilangkan beberapa bukti, sehingga membuat pria itu sedikit kesulitan untuk menemukan titik kesalahan sang pelaku.
"Uang selalu bisa menutup kasus, sehingga berubah menjadi kasus kecelakaan..." Ucap pria itu sambil menggelengkan kepalanya heran dengan pelaku. Karena berani menyuap kepolisian bahkan menyuap dokter untuk membuat kasus pemerkosaan itu sebagai luka biasa.
Setelah membaca kertas itu dengan teliti, pria yang tidak lain adalah Arkanza berdiri dari duduknya. Ia melangkah mendekati sofa yang berada didalam ruangannya untuk beristirahat sambil merokok. Karena menurutnya merokok bisa membuat kepalanya tenang. Tapi tidak dengan organ dalamnya yang akan hancur.
Sambil merokok, ingatannya tertuju pada kejadian tadi pagi, dimana sang ibu memintanya untuk menikah, karena kedua putrinya membutuhkan seorang ibu yang bisa menyayangi anak-anaknya itu.
Arkanza, cepatlah kamu menikah. Karena kedua putrimu membutuhkan seorang ibu yang bisa menyayangi anak-anak mu dengan tulus. Apakah kamu tidak kasian melihat kedua putrimu memanggil orang lain bunda, padahal wanita itu bukan bunda mereka.
Permintaan ibunya itu membuat Arkanza selalu dibuat pusing, karena ibu nya itu selalu menuntutny
a untuk menikah. Padahal ibunya tau kalau ia tidak ingin menikah lagi.
"Ck, Ibu selalu membuat ku pusing dengan permintaannya." Decak Arkanza kesal.
******