"
Lima tahun Naira menyusun kerajaan bisnis suaminya dari balik bayang, tapi lelaki itu malah memberikan undangan kongres penting kepada cinta lamanya. Lalu Dimas membatalkan janji menjemput ayahnya sendiri demi perempuan itu. Naira tidak berteriak. Ia hanya melepas cincinnya, mengajukan cerai, dan mengambil kembali seluruh aset yang ia bangun.
Keluarga Mahendra panik. Mereka tidak tahu bahwa Naira adalah putri tunggal Atmadja yang kekayaannya bisa membeli seluruh perusahaan mereka. Tepat saat segalanya kacau, Raka Wiratama muncul. Penguasa bisnis paling ditakuti itu bersumpah melindungi Naira dengan satu alasan: lima tahun lalu, perempuan itu menyelamatkan nyawanya. Dan Raka tidak pernah main-main soal utang nyawa."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 24
Bab 24
Pagi kongres dimulai dengan kamera dan senyum.
Lobi hotel dipenuhi dokter, peneliti, mahasiswa kedokteran, sponsor, dan media kesehatan. Spanduk besar berdiri di dekat meja registrasi. Di layar LED, nama-nama pembicara utama berputar satu per satu, tetapi nama Naira belum muncul.
Itu disengaja.
Naira tiba lewat pintu samping bersama Prof. Hadi, Maya, dan Bagas. Ia memakai setelan putih sederhana, rambut diikat rapi, wajah tanpa riasan berlebihan. Di tasnya ada flash drive berisi presentasi yang sudah dienkripsi tiga lapis.
Di lobi utama, Clara tiba lewat karpet sponsor.
Ia tampak sempurna. Dress batik modern warna gading, jas pendek, ID card sementara tergantung di leher. Dua fotografer yang bukan bagian dari media resmi berdiri tidak jauh dan langsung mengambil gambar ketika ia turun dari mobil.
Bu Ratna melihat foto pertama dari grup WhatsApp arisan.
Lihat calon dokter hebat kita, tulis salah satu temannya.
Bu Ratna langsung meneruskan foto itu ke Dimas.
Dimas sedang dalam perjalanan ke hotel sebagai tamu sponsor Mahendra Health Group. Ia menatap foto Clara dan ID card di lehernya.
Clinical Presenter.
Ia langsung menelepon Rendi. "Kamu sudah cek ke panitia?"
"Sudah, Pak. Nama Dokter Clara tidak ada di rundown pembicara resmi."
Dimas menutup mata. "Sial."
Di meja sponsor, Clara menyerahkan QR code kepada staf registrasi.
Staf itu memindai.
Bunyi pendek terdengar.
Layar berubah merah.
AKSES TIDAK SAH.
Senyum Clara membeku.
"Mungkin sinyalnya," kata Clara cepat.
Staf registrasi mencoba lagi.
Merah.
AKSES SPONSOR DIMODIFIKASI TANPA OTORISASI.
Beberapa orang di sekitar mulai menoleh.
Fotografer yang dibawa Clara menurunkan kamera, bingung apakah harus terus mengambil gambar.
Clara merasakan telapak tangannya dingin. "Tolong panggil koordinator. Saya diundang sebagai presenter."
Staf itu tampak gugup. "Mohon tunggu sebentar, Dok."
Dalam tiga menit, Dr. Lestari datang bersama dua panitia keamanan dan seorang staf IT.
"Dr. Clara Larasati?" tanya Lestari.
Clara tersenyum, berusaha tenang. "Iya, Dok. Sepertinya ada masalah sistem."
Lestari menatap layar tablet. "Betul. Ada masalah. Akses Anda masuk melalui jalur sponsor Cakradinata, tetapi dimodifikasi menjadi presenter klinis tanpa otorisasi panitia."
Suara di sekitar mereka turun.
Clara merasa semua mata menempel di wajahnya.
"Saya tidak tahu soal modifikasi. Saya hanya menerima undangan."
"Dari siapa?"
"Sekretariat sponsor."
"Bukan sekretariat kongres?"
Clara terdiam sepersekian detik.
Lestari menatapnya lebih tajam. "Dr. Clara, Anda tidak terdaftar sebagai pembicara. Anda boleh masuk sebagai peserta umum jika mendaftar resmi, tetapi tidak bisa memakai ID presenter."
Wajah Clara memerah. "Ini pasti salah paham. Saya tidak mungkin datang tanpa dasar. Mungkin ada orang yang sengaja..."
Ia berhenti.
Matanya bergerak ke arah pintu samping.
Naira baru memasuki lobi.
Tidak lewat karpet sponsor. Tidak lewat kamera. Ia berjalan bersama Prof. Hadi dan beberapa dokter senior. Tidak ada ID sementara di lehernya. Panitia justru menjemputnya dengan kartu akses khusus berwarna hitam.
Clara langsung berkata, "Mbak Naira."
Naira menoleh.
Cukup satu panggilan itu membuat kamera ponsel beberapa orang terangkat.
Clara menggigit bibir, air mata muncul cepat. "Aku tidak tahu kenapa aksesku bermasalah. Kalau ada kesalahpahaman di antara kita, jangan sampai dibawa ke acara profesional seperti ini."
Lobi mendadak hening.
Kalimat itu halus, tetapi arahnya jelas.
Naira menjebaknya.
Dimas tiba tepat saat kalimat itu selesai. Ia melihat Clara di meja registrasi, wajah basah, ID card bermasalah, dan Naira berdiri beberapa meter dari sana.
Dulu, ia pasti langsung berjalan ke sisi Clara.
Hari itu, ia berhenti.
Naira menatap Clara. "Aku tidak bekerja di bagian registrasi."
"Tapi Mbak punya hubungan dengan panitia. Setelah semua yang terjadi, wajar kalau aku..."
"Wajar kalau kamu memakai akses ilegal?"
Clara pucat.
Dr. Lestari berkata tegas, "Dr. Naira tidak terlibat dalam sistem registrasi. Anomali ini tercatat dari akun sponsor Cakradinata."
Nama Cakradinata membuat beberapa dokter senior saling pandang.
Clara langsung menoleh kepada Lestari. "Saya juga korban kalau sponsor melakukan kesalahan."
"Maka kami akan mencatat keterangan Anda."
"Tapi saya harus masuk. Saya punya materi."
"Tidak ada sesi untuk Anda."
Pukulan itu lebih memalukan daripada bentakan.
Clara menatap orang-orang di sekitar. Beberapa mulai berbisik. Fotografer yang tadinya ia bawa kini justru merekam kegagalannya.
Dimas akhirnya mendekat.
"Clara, cukup. Ikut saya."
Clara menoleh, berharap.
"Mas, kamu percaya aku, kan?"
Dimas menatap ID card di lehernya.
"Aku percaya sistemnya merah."
Clara seperti ditampar.
Naira tidak menunggu lebih lama. Ia hendak pergi bersama Prof. Hadi ketika seorang staf panitia berlari kecil dari arah ballroom.
"Dr. Naira, ruang utama sudah siap. Kami menunggu konfirmasi untuk pengumuman."
Clara menegang.
Beberapa orang di lobi ikut mendengar.
Dr. Lestari mengangguk kepada staf. "Umumkan sekarang."
Layar LED utama yang sejak pagi hanya menampilkan nama-nama umum tiba-tiba berubah.
Sesi Khusus:
Koreksi Genetik, Etika Uji Klinis, dan Pembukaan Arsip Dr. Sari Anggraini
Pembicara Utama:
Dr. Naira Salsabila Atmadja
Lobi seperti berhenti bernapas.
Tania, yang berdiri di dekat meja kopi, menutup mulut.
Rendi yang baru datang bersama tim Mahendra menatap layar dengan wajah kosong.
Dimas tidak bergerak.
Clara membaca nama itu berkali-kali, seolah hurufnya akan berubah kalau ia cukup lama menatap.
Pembicara utama.
Bukan peserta.
Bukan pendamping.
Bukan istri Dimas.
Pembicara utama.
Seorang wartawan medis bertanya spontan, "Dr. Naira, apakah benar Anda akan membuka kembali arsip Dr. Sari hari ini?"
Naira berhenti sebentar.
"Sebagian yang sudah layak dibuka."
"Apakah terkait Cakradinata Farma?"
Maya langsung bergerak, tetapi Naira mengangkat tangan kecil.
"Saya akan bicara di forum, bukan di lobi."
Ia berjalan menuju ballroom.
Kali ini, orang-orang memberi jalan bukan karena pengawalnya, bukan karena Raka, bukan karena Surya Atmadja.
Mereka memberi jalan karena nama yang baru muncul di layar.
Dimas berdiri di tempatnya, melihat punggung Naira menjauh.
Lima tahun ia mengira perempuan itu tidak punya dunia.
Ternyata ia yang tidak pernah diundang masuk.
Clara meremas ID card palsunya sampai talinya putus.
Di layar tablet Dr. Lestari, laporan anomali akses terkirim otomatis ke tim hukum kongres.
Dan di kantor Cakradinata Farma, seorang pria berjas abu-abu mematikan televisi dengan wajah dingin.
"Clara gagal membuat keributan," katanya.
Pria lain menjawab, "Kalau begitu kita pakai cara berikutnya. Biarkan dia bicara tentang ibunya."
Di lorong menuju ballroom, Dimas akhirnya berhasil menyusul Naira.
"Aku tidak tahu Clara akan sejauh itu," katanya.
Naira tidak berhenti. "Kamu sering tidak tahu."
"Aku memang pantas mendengar itu."
Kalimat itu membuat langkah Naira melambat sedikit, tetapi ia tetap berjalan.
Dimas melanjutkan, "Aku sudah memperingatkannya semalam. Dia tidak dengar."
"Clara selalu mendengar hal yang menguntungkan dirinya."
"Dulu aku juga begitu."
Kali ini Naira berhenti.
Ia menoleh.
Dimas tampak lelah, tetapi tidak sedang meminta belas kasihan. Mungkin untuk pertama kali, ia hanya menyampaikan fakta yang pahit untuk dirinya sendiri.
"Rapatmu akan mulai," katanya.
"Aku tahu."
"Aku tidak akan mengganggu."
Naira menatapnya beberapa detik. "Jangan membelaku kalau kamu masih ragu pada kebenarannya."
"Aku tidak ragu soal akses Clara."
"Aku tidak bicara soal Clara."
Dimas mengerti.
Ibunya. Sari. Semua hinaan yang dulu ia biarkan.
Sebelum ia bisa menjawab, Prof. Hadi memanggil dari pintu ballroom.
Naira pergi.
Dimas berdiri di lorong, memegang kalimat yang belum sempat ia ucapkan. Kali ini bukan karena Naira menutup pintu terlalu cepat.
Karena ia sendiri terlambat menyiapkan keberanian.
Di dalam ballroom, Naira naik ke panggung tanpa menoleh lagi.
Dimas duduk di kursi sponsor yang terasa terlalu depan. Ia bisa melihat layar, meja pembicara, dan wajah Clara yang masih berdiri kaku di belakang.
Rendi berbisik, "Pak, kita pindah?"
"Tidak."
"Media mungkin menyorot."
"Biar."
Untuk pertama kali, Dimas tidak ingin bersembunyi dari akibat pilihannya sendiri.
Ia hanya berharap keberanian itu tidak datang terlalu terlambat lagi.
Di belakang, Clara melihat Dimas tidak mengikutinya.
Rasa malu di meja registrasi belum selesai, tetapi rasa takut baru muncul. Kalau Dimas berhenti membelanya di depan umum, maka ia harus mencari panggung lain.
Cakradinata sudah menyiapkannya.