Tujuh belas tahun Yao Conti hidup dalam penyamaran, bernapas hanya untuk satu tujuan: menuntut balas atas pembantaian keluarganya di Milan. Langkahnya membawanya menembus jantung kekuasaan keluarga Moretti, tempat ia bertemu Gerald Moretti—Don muda yang dingin, tajam, dan tidak pernah membiarkan siapa pun mendekatinya.
Bagi Yao, Gerald adalah kunci menuju pembunuh ayahnya. Bagi Gerald, Yao adalah teka-teki berbahaya yang memikat sekaligus mengancam wilayahnya. Di tengah benturan intrik politik lima keluarga mafia Italia hingga ancaman persekutuan gelap yang membentang ke Hong Kong, batas antara taktik dan perasaan perlahan mengabur.
Saat rahasia paling kelam tentang malam pembantaian itu akhirnya terkuak, mereka dipaksa memilih: menuntaskan dendam yang diwariskan oleh orang tua mereka, atau menyelamatkan cinta yang terlahir di atas tanah bersimbah darah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yao na, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3 — Permainan Dimulai
Enzo menarik Gerald ke ruangan pribadi di belakang klub, sebuah kantor kecil yang biasa digunakan untuk pertemuan-pertemuan bisnis yang lebih rahasia, jauh dari telinga siapa pun. Dinding ruangan itu dilapisi bahan kedap suara, dan satu-satunya cahaya berasal dari lampu meja kecil yang menciptakan bayangan panjang di wajah kedua pria itu.
"Siapa gadis itu?" tanyanya tanpa basa-basi, suaranya tajam, jauh berbeda dari nada tenang yang biasa ia gunakan di depan tamu-tamu klub.
"Seseorang yang menarik," jawab Gerald, menuangkan dirinya segelas whiskey lagi dari bar mini di ruangan itu, tidak menoleh. "Kenapa tiba-tiba khawatir, Enzo? Kau tidak pernah peduli dengan siapa aku bergaul sebelumnya."
"Karena wajahnya," kata Enzo, memilih kata-katanya dengan hati-hati, "mengingatkanku pada seseorang yang seharusnya sudah lama mati."
Gerald mengangkat alis, tertarik meski tidak sepenuhnya percaya. "Hantu, Enzo? Itu tidak seperti dirimu."
"Aku serius, Gerald." Enzo melangkah mendekat, matanya menatap tajam ke mata Don muda itu. "Cari tahu siapa dia sebenarnya sebelum kau membiarkannya lebih dekat. Dunia kita tidak punya ruang untuk kebetulan."
Kata-kata itu, alih-alih membuat Gerald curiga pada Yao, justru membuat rasa penasarannya semakin membara. Gerald Moretti dibesarkan untuk tidak pernah mempercayai siapa pun sepenuhnya — tapi ia juga dibesarkan untuk selalu mengejar apa pun yang menarik perhatiannya, terlepas dari risikonya.
"Akan kucari tahu tentang dia," katanya akhirnya, meski dalam hati ia sudah memutuskan bahwa apa pun yang ia temukan tidak akan mengubah keputusannya untuk mengenal Yao lebih jauh. "Tapi jika ini hanya kau yang paranoid lagi—"
"Aku tidak pernah paranoid tanpa alasan," potong Enzo tegas. "Kau tahu itu."
Gerald menatap penasihat lamanya itu lebih lama dari biasanya, mencoba membaca sesuatu di balik ketenangan yang dipaksakan Enzo. Ia telah mengenal pria itu sepanjang hidupnya — Enzo yang mengajarinya menembak pertama kali di usia dua belas tahun, Enzo yang menghadiri setiap pemakaman penting dalam keluarga dengan wajah setia yang tidak pernah goyah. Tidak pernah sekali pun Gerald melihat pria itu terlihat gelisah seperti sekarang.
"Kau terlihat seperti baru saja melihat hantu, Enzo," katanya akhirnya, mencoba melunakkan suasana dengan nada bercanda meski rasa ingin tahunya semakin membara. "Siapa sebenarnya yang kau maksud dengan 'seseorang yang seharusnya sudah lama mati'?"
Enzo terdiam sejenak, matanya menerawang jauh seolah sedang menimbang seberapa banyak kebenaran yang aman untuk diungkapkan. "Bukan siapa-siapa," jawabnya akhirnya, terlalu cepat untuk terdengar meyakinkan. "Hanya kemiripan yang mengganggu ketenanganku sesaat. Lupakan saja, Gerald. Fokus saja pada bisnis kita."
Tapi jauh di dalam hatinya, Enzo tahu bahwa ia tidak akan bisa melupakannya semudah itu. Ia telah menghabiskan tujuh belas tahun membangun tembok pertahanan di sekeliling masa lalunya, dan sepasang mata hijau tajam yang begitu mirip dengan mata Ferdinand Conti baru saja meruntuhkan sebagian dari tembok itu hanya dengan satu tatapan.
Sementara itu, di ruang VIP, Yao memanfaatkan kesempatan untuk mengirim pesan singkat pada Marco melalui jam tangan pintarnya yang disamarkan.
Target ditemukan. Enzo Bastiani ada di sini. Dia tangan kanan Gerald Moretti sekarang. Perlu informasi lengkap tentang perannya dalam keluarga.
Balasan Marco datang cepat: Berbahaya, Yao. Jangan gegabah. Gerald Moretti bukan orang bodoh — jika dia mencurigaimu sedikit saja, kau tidak akan pernah keluar dari Milan hidup-hidup.
Aku tahu risikonya,* balas Yao. *Tapi aku sudah menunggu tujuh belas tahun untuk ini.
Setidaknya biarkan aku mengatur pengamanan tambahan,* balas Marco setelah jeda singkat. *Aku akan menempatkan seseorang di dekat klub setiap kali kau bertemu dengannya. Jika terjadi sesuatu, aku ingin bisa bertindak dalam hitungan menit, bukan jam.
Baiklah, balas Yao, merasa sedikit lega mengetahui bahwa setidaknya ada satu orang di dunia ini yang masih mengawasi punggungnya, meski dari kejauhan.
Dan Yao, tambah Marco sebelum mengakhiri percakapan, jika ini berhasil — jika kau benar-benar bisa masuk ke lingkaran dalam Moretti — aku ingin bagianku sesuai yang kita sepakati. Aku sudah cukup lama bersembunyi karena orang-orang lama ayahmu masih mengenali wajahku. Aku butuh uang itu untuk pergi ke tempat yang benar-benar aman, bukan cuma menyamar seperti kita berdua selama ini. Sebuah pengingat kecil bahwa kesetiaan Marco, meski tulus, bukan tanpa harga — ia juga punya masa lalu yang mengejarnya, punya alasan sendiri untuk ingin bab ini segera berakhir.
Ia menyembunyikan jam tangannya tepat saat Gerald kembali, wajahnya kembali tenang seperti topeng yang sempurna.
"Maaf soal itu," kata Gerald, duduk kembali di sebelahnya, lebih dekat dari sebelumnya. "Bisnis tidak pernah tidur di dunia saya."
"Saya mengerti," jawab Yao. "Dunia jurnalisme juga tidak jauh berbeda."
Gerald tersenyum, senyum yang kali ini terlihat lebih tulus, lebih berbahaya karena ketulusannya. "Kau pembohong yang buruk," katanya, "tapi pembohong yang memikat." Ia berhenti sejenak, membiarkan jeda itu berbicara sebelum melanjutkan. "Makan malam. Besok malam. Tanpa kepura-puraan, tanpa kebohongan — hanya dua orang yang mencoba mencari tahu kenapa mereka tidak bisa berhenti saling memandang."
Yao tahu ia seharusnya menolak. Ia tahu setiap detik yang ia habiskan dekat dengan Gerald Moretti adalah detik yang membawanya lebih dekat pada bahaya yang tidak bisa ia kendalikan sepenuhnya. Tapi ia juga tahu bahwa untuk menghancurkan keluarga ini dari dalam, ia butuh akses — dan Gerald baru saja menawarkan kunci menuju pintu yang selama ini terkunci rapat.
Sebelum menjawab, Yao menimbang segala risiko yang menyertai keputusan itu — setiap jam tambahan yang ia habiskan dekat dengan Gerald Moretti adalah jam yang membawanya lebih dalam ke dunia yang bisa menghancurkannya kapan saja, jika penyamarannya terbongkar. Tapi ia juga tahu bahwa kesempatan seperti ini — akses langsung menuju lingkaran dalam keluarga Moretti, menuju Enzo Bastiani — tidak akan datang dua kali.
"Baiklah," jawabnya, tersenyum dengan senyum yang sama sekali tidak ia rencanakan untuk terlihat setulus itu. "Makan malam. Tapi saya yang memilih tempatnya."
"Sepakat," kata Gerald, mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan — sebuah gestur formal yang aneh setelah percakapan seintim itu, tapi entah kenapa terasa seperti sebuah perjanjian yang lebih besar dari sekadar kencan makan malam.
Saat tangan mereka bersentuhan, keduanya merasakan sengatan yang sama — sesuatu yang tidak bisa dijelaskan oleh logika, sesuatu yang akan membawa mereka berdua menuju jalan yang jauh lebih gelap dari yang bisa mereka bayangkan malam itu.