Dulu ia Kaisar Pil Jiwa Bintang. Penguasa Sembilan Benua.
Tetapi, satu tusukan dari murid kesayangannya, membuat ia mati. Sekarang, Murid itu naik tahta menjadi Dewa Alkemis yang disembah seluruh benua.
500 tahun kemudian, Lin Xuan terbangun.
Bukan di singgasana. Tapi di tubuh seorang sampah. Tubuh dari Tuan Muda Keluarga Lin yang meridiannya hancur, menjadi bahan tertawaan se-Kota Awan Merah. Tunangannya menghina, pamannya meracuni dan semua orang menunggu ia mati.
Mereka salah besar.
Karena di dalam jiwanya, Kuali Naga Hitam yang berkarat ikut bangkit. Di kepalanya, ingatan 500 tahun teknik alkimia bertarung yang bisa membakar langit tidak hilang.
Lin Xuan tidak mau sekadar bangkit. Ia mau berburu 18 Api Surgawi. Mengubah tubuh cacatnya menjadi kuali hidup.
Mengubah bahan sampah menjadi pil dewa. Dan naik lagi ke Benua Ke-9 untuk satu hal:
Menagih darah dengan darah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6: Membekukan Api, Darah di Pegunungan Abu
Malam itu, Lin Xuan menyelinap kembali ke Halaman Bambu Hijau. Xiao Ya sudah terlelap di gubuk pelayan.
Ia langsung menuju kamarnya dan mengunci pintu rapat-rapat. Malam ini, tak boleh ada seorang pun yang tahu apa yang hendak dilakukannya.
Ia duduk bersila, lalu membuka cincin penyimpanan pemberian Gu Yuan. Teras Ular Es seukuran kepalan bayi dan Teratai Salju yang memancarkan cahaya keperakan melayang di udara.
“Bahan dari kota kecil memang kelas rendah, tapi energi Yin-nya masih murni.”
Malam ini Lin Xuan akan meracik Pil Pelindung Jantung Kutub Es. Fungsinya satu: membentuk lapisan es abadi di jantung dan meridian, guna menahan gempuran panas Api Surgawi yang akan ia murnikan nanti.
Masalahnya, kultivasinya baru mencapai Tingkat 2. Meracik pil setingkat Bumi dengan kekuatan sekecil itu sama saja dengan menyuruh anak kecil mengangkat kuali seberat seribu kilo.
“Kekuatan jiwa dan Qi yang kupunya sekarang jelas tak akan cukup…”
Ia memejamkan mata. Di Lautan Jiwa, Kuali Naga Hitam bergetar. Naga pertama membuka mulutnya, menyemburkan Api Napas Naga merah kehitaman yang melesat langsung ke telapak tangannya.
“Lebur!”
Api itu menelan kedua bahan es dalam sekejap.
Api dan es bertabrakan secara brutal. Asap putih tebal meledak keluar. Dari dalam Teras Ular Es muncul ilusi ular raksasa yang meraung dan menerjang jiwa Lin Xuan—sisa insting binatang Tingkat 3 yang enggan tunduk pada manusia Tingkat 2.
“Seekor cacing es berani sombong di hadapan kaisar,” mata Lin Xuan menyipit. “Tunduklah.”
Kekuatan jiwanya menghantam ilusi ular itu hingga pecah berkeping-keping. Dengan kendali presisi, ia memaksa sari es dan sari bunga menyatu, memanfaatkan Api Napas Naga sebagai penghubung.
Darah menetes dari sudut bibirnya. Kepalanya serasa ditusuk ribuan jarum. Meracik pil tingkat tinggi dengan periuk tanah liat dan Qi seadanya memang menguras mental. Namun wajahnya tetap dingin.
Satu jam berlalu. Energi dingin yang mengamuk di ruangan itu akhirnya terpusat pada satu titik di telapak tangannya.
Cahaya biru es berkilat sesaat.
Sebutir pil biru kristal muncul, diselimuti kabut dingin, dengan enam garis melingkar terukir di permukaannya.
“Pil Pelindung Jantung Kutub Es, Enam Cincin.” Ia menyeka darah di bibirnya dan tersenyum puas. “Hanya enam cincin. Andai Qi-ku cukup, pasti bisa mencapai delapan atau sembilan. Tapi tak masalah. Untuk menahan panas Api Teratai Bumi Terdalam, ini sudah lebih dari cukup.”
Pil itu ia simpan dalam botol giok.
Keesokan paginya, sebelum matahari terbit, ia memanggil Xiao Ya.
Gadis itu menghampiri dengan wajah masih mengantuk dan mata sembab. Lin Xuan menyerahkan kantong kulit yang berat ke tangannya.
“Ini seratus Batu Roh.”
Mata Xiao Ya membelalak. Seumur hidup, ia belum pernah melihat Batu Roh sebanyak itu sekaligus.
“T-Tuan Muda! Ini dari mana? Jangan-jangan… Tuan Muda merampok bendahara keluarga Lin?!”
“Jangan berspekulasi macam-macam, Xiao Ya.” Lin Xuan menepuk bahunya. “Aku akan pergi beberapa hari. Kalau Paman Ketiga bertanya, katakan saja aku sedang menutup diri. Pintu kunci dari dalam, jangan biarkan siapa pun masuk. Gunakan uang ini untuk membeli makanan dan formasi pelindung murah bagi gerbang halaman kita.”
Xiao Ya menelan ludah, lalu mengangguk mantap. “Baik, Tuan Muda! Xiao Ya akan menjaga tempat ini sampai mati!”
“Simpan saja nyawamu. Nanti siapa yang menyeduhkan teh untukku kalau aku pulang?”
Ia mengenakan jubah abu-abu, mengambil sebilah pedang besi biasa dari gudang, lalu melompat keluar jendela dan lenyap ditelan kabut pagi.
***
Tiga hari kemudian. Pegunungan Abu Kematian.
Sesuai namanya, tak ada sedikit pun rona hijau di sana. Langit abu-abu kusam membentang tanpa jeda. Tanah retak dan membara, sesekali menyemburkan uap sulfur beracun, sementara debu abu turun perlahan bagai salju neraka.
Lin Xuan berjalan ringan menyusuri ngarai berbatu. Di Lautan Jiwanya, Kuali Naga Hitam berdenyut semakin kencang, resonansinya mengarah lurus ke pusat pegunungan.
Namun penciumannya yang terasah selama ratusan tahun menangkap sesuatu di balik bau belerang: karat besi, dan darah segar.
Langkahnya seketika terhenti.
Matanya melirik ke tebing kiri, lalu ke batu besar di kanan.
“Tiga orang,” gumamnya pelan, suaranya bergema di ngarai sunyi itu. “Formasi Segitiga Serigala. Keluarlah. Bersembunyi di balik batu panas begini hanya mempercepat kematian kalian.”
Sunyi sejenak.
Kemudian tawa kasar pecah dari balik batu di depan.
Tiga sosok berpakaian hitam ketat, wajah tertutup kain, melompat keluar dan mengepung Lin Xuan. Golok melengkung tergenggam di tangan mereka, dan Qi mereka terbuka penuh.
Dua di antaranya Tingkat 4, satu yang paling besar Tingkat 5.
“Telingamu tajam juga, Tuan Muda sampah,” dengus yang paling besar. “Sayangnya telinga tajam tak bisa menahan golok. Tak kusangka si cacat berani berjalan sejauh ini ke tanah buangan iblis.”
Lin Xuan menyilangkan tangannya, menatap mereka seolah menatap mayat berjalan.
“Paman Ketiga memang pelit,” ucapnya datar. “Mau membunuh keponakan sendiri, tapi cuma menyewa anjing liar kelas teri. Setidaknya Zhao Tian adalah Tuan Muda sungguhan. Kalian? Cuma pembunuh murahan.”
Mata si pemimpin menyipit tajam. “Banyak bacot. Bunuh! Bawa kepalanya untuk sisa bayaran dari Lin Hai!”
Dua orang Tingkat 4 di kiri dan kanan melesat serentak, cepat dan disertai hembusan Qi angin. Golok mereka mengincar leher dan kaki.
Di mata Lin Xuan, gerakan mereka lamban bagai siput.
Ia justru melangkah maju, memiringkan badan sedikit hingga golok pertama melesat hanya beberapa milimeter dari wajahnya.
Tangan kirinya bergerak. Dua jari yang mengeras bagai tembaga menyentil tepat di belakang leher penyerangnya.
Krak!
Mata orang itu memutih, tubuhnya kaku, lalu jatuh menabrak batu. Lehernya seketika patah.
Yang kedua panik, ayunan goloknya berantakan. Lin Xuan menghentak tanah dan melempar segenggam abu vulkanik panas ke wajahnya.
“Arggh! Mataku!”
Tanpa ampun, Lin Xuan mencabut pedang besinya dan menebas tenggorokan lawan dalam satu gerakan mulus.
Tiga tarikan napas. Dua orang Tingkat 4 tewas di tangan seorang Tingkat 2.
Pemimpin Tingkat 5 itu memucat dan mundur selangkah.
“Ilmu iblis apa ini? Kau bukan Lin Xuan. Sampah itu tak mungkin sekejam ini!”
“Kau terlalu banyak bertanya untuk orang yang sebentar lagi mati.” Lin Xuan melangkah pelan mendekat.
Diliputi ketakutan, pemimpin itu mengamuk. Ia mengerahkan seluruh Qi Tingkat 5-nya ke dalam golok hingga muncul cahaya, lalu melompat ke udara hendak membelah Lin Xuan menjadi dua.
“Mati kau!”
Lin Xuan mendengus. Ia melepaskan pedang besinya, kemudian mengangkat tangan kanannya.
Wush!
Api Napas Naga merah kehitaman meledak dari telapaknya. Suhu di sekitar mereka melonjak drastis. Bukan ditembakkan, api itu justru membungkus tinjunya, berubah menjadi sarung tangan api.
Ia menghantamkan tinjunya ke atas, menyambut golok yang melesat turun.
Baja golok yang diperkuat Qi Tingkat 5 meleleh. Tinju Lin Xuan terus melaju dan menghantam telak dada sang pemimpin.
Duar!
Tubuh itu terlempar belasan meter. Dadanya hangus kehitaman dan tulang rusuknya remuk. Ia memuntahkan darah bercampur organ dalam.
Lin Xuan berjalan santai mendekatinya.
“Lin Hai hanya mengirim kalian bertiga?”
“Uhh… Tuan Lin Hai… dia tidak tahu kau… sekuat ini…” pria itu terbatuk darah hitam. “Dia… mau memberontak…”
Lin Xuan mengangguk. “Informasi yang bagus. Sebagai hadiah, kubuat kematianmu lebih cepat.”
Ia menginjak leher pria itu, kemudian menggeledah ketiga mayat dan mendapatkan beberapa puluh Batu Roh serta sejumlah pil murahan.
Semua selesai. Ia menatap ke utara, ke arah gunung berapi mati yang menjulang tinggi. Resonansi Kuali Naga Hitam di jiwanya kini berteriak-teriak tanpa henti.
“Aku datang, Teratai Bumi Terdalam,” gumamnya dingin, lalu melesat menembus badai abu menuju puncak gunung itu.