Setelah kejadian Raka menyelamatkan warga desa Ciherang dari para korporat di kota, Raka Ardian mencoba peruntungan ke kota mencari kerjaan sambil menyelidiki perusahaan yang mengambil tanah warga Ciherang.
Berbagai kejadian suka dan duka dia hadapi.
Mampukan Raka bertahan di kota yang sering kali mengabaikan rasa kemanusiaan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Djafar S, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9 TABIB DI BALIK
Sebuah mobil sedan hitam legam bermesin prima berpenyejuk udara sejuk melaju membelah kemacetan sore Kota Bandung yang padat merayap. Di dalam kabin yang senyap dan beraroma wewangian kulit mewah itu, Raka Ardian duduk tegak di kursi belakang, berdampingan langsung dengan Ibu Sinta. Setelah insiden penodongan pisau di terminal Cicaheum yang berhasil ia selesaikan dengan cepat siang tadi, takdir rupanya kembali menarik garis lurus, mempertemukan kembali sang pemuda desa dengan gerbang kehidupan kaum elit kota metropolitan—sebuah dunia yang sangat kontras dengan kamar gudang sempit berbau debu di belakang warung nasi liwet Bu Darmi.
Mobil sedan mewah itu akhirnya melambat, membelok mulus memasuki gerbang sebuah kompleks perumahan eksklusif berpagar tinggi dan dijaga ketat di kawasan Dago Atas. Deretan pohon pinus tua yang rindang serta embusan udara pegunungan yang sejuk langsung menyambut kedatangan mereka, menciptakan suasana sunyi yang terisolasi dari hiruk-pikuk bisingnya kota di bawah sana.
Kendaraan berhenti tepat di pelataran rumah peristirahatan modern berukuran besar yang dirancang dengan gaya minimalis kontemporer. Begitu pintu mobil terbuka, seorang kepala pengawal pribadi berbadan tegap berjas hitam langsung membukakan pintu utama, sementara beberapa orang asisten rumah tangga berbaris rapi menyambut kepulangan Ibu Sinta dengan raut wajah yang masih menyiratkan kecemasan mendalam.
"Bagaimana perkembangan kondisi Bapak hari ini, Marni?" tanya Ibu Sinta dengan nada suara cemas yang kentara kepada kepala pelayan wanita yang segera melangkah maju menghampiri mereka.
Kepala pelayan paruh baya itu menunduk hormat, melirik sekilas dengan rasa penasaran ke arah Raka yang berdiri tenang di belakang majikannya.
"Belum ada perubahan yang berarti, Bu ". Pernapasan Bapak masih terdengar sangat berat sejak siang tadi, dan beliau kembali menolak untuk menyentuh makan siang maupun obat cair yang disiapkan."
Ibu Sinta menghela napas panjang, tarikan napas yang sarat akan kelelahan psikis berbulan-bulan. Ia kemudian menoleh, menatap Raka dengan sorot mata penuh permohonan. "Mari masuk, Raka. Suami saya beristirahat di kamar tidur utamanya di lantai dua."
Raka mengikuti langkah kaki Ibu Sinta menaiki tangga utama yang terbuat dari kayu jati kokoh berbalut karpet wol tebal berwarna abu-abu gelap. Setibanya di lantai dua, mereka berhenti tepat di depan sebuah pintu kamar ganda berukuran besar yang terbuat dari kayu mahoni padat. Begitu pintu itu dibuka oleh asisten rumah tangga, bau khas kamar orang sakit langsung menerpa indra penciuman Raka—campuran antara cairan disinfektan modern, aroma obat-obatan kimia farmasi, dan bau lembap khas tubuh yang lama tidak tersentuh sinar matahari segar.
Begitu melangkah masuk ke dalam kamar VVIP tersebut, Raka melihat seorang pria paruh baya bertubuh kurus kering, dengan kulit yang pucat pasi dan tulang pipi menonjol, terbaring lemah di atas sebuah ranjang medis canggih yang dipenuhi tombol pengatur elektrik.
Wajah pria itu terpejam rapat, dikelilingi oleh jalinan selang infus transparan dan monitor detak jantung digital yang mendengung mengeluarkan suara irama lambat. Pria itu adalah Tuan Wiratman, seorang pengusaha senior terkemuka di Kota Bandung yang kesehatannya merosot tajam secara misterius dalam beberapa bulan terakhir tanpa pernah berhasil didiagnosis secara tepat oleh dunia medis modern.
Di sisi ranjang yang lain, seorang dokter pria paruh baya mengenakan jas putih bersih rapi—yang belakangan diketahui bernama Dokter Hendri, dokter pribadi kepercayaan keluarga—sedang sibuk membereskan alat-alat stetoskop dan tensimeter ke dalam tas kerjanya. Dokter Hendri mendongak, dan begitu matanya menangkap sosok pemuda berjaket usang berdiri di samping Nyonya rumah, keningnya langsung mengerut jijik.
"Sinta! Apa-apaan sebenarnya yang sedang kau lakukan ini?" protes Dokter Hendri dengan nada suara ketus, tinggi, dan bernada merendahkan. "Siapa anak muda berpenampilan acak-acakan ini kau bawa masuk ke ruang perawatan khusus? Pasien sedang dalam kondisi klinis yang sangat rentan. Kita tidak boleh sembarangan memasukkan orang asing ke ruangannya, apalagi orang udik yang sama sekali tidak memiliki latar belakang pendidikan kedokteran resmi!"
Ibu Sinta memandang Dokter Hendri dengan sorot mata yang tidak kalah tegas. "Dokter Hendri, selama tiga bulan penuh Anda merawat suami saya di sini, tidak ada satu pun kemajuan atau tanda-tanda kesembuhan yang berarti. Kondisi fisiknya justru semakin merosot jatuh dari minggu ke minggu hingga menyerupai kerangka hidup. Raka adalah orang luar biasa yang menyelamatkan saya dari perampokan hari ini, dan entah mengapa, insting saya sebagai istrinya mengatakan bahwa pemuda inilah yang bisa menolong suami saya."
Dokter Hendri mendengus keras penuh cibiran, melipat kedua tangannya di depan dada sambil menggeleng-gelengkan kepala dengan ekspresi sinis. "Terserah anda saja, Sinta! Anda sudah dibutakan oleh rasa panik. Tapi perlu diingat, kalau sampai terjadi sesuatu yang fatal atau memperburuk nyawa Tuan Wiratman akibat campur tangan pengobatan amatir dari anak kemarin sore ini, saya dan pihak rumah sakit lepas tangan sepenuhnya dari segala bentuk tanggung jawab hukum maupun medis!"
Raka sama sekali tidak terusik, terpancing, atau tersinggung oleh rentetan kata-kata meremehkan dari sang dokter. Dengan langkah kaki yang sangat tenang, terkontrol, dan penuh wibawa, Raka melangkah mendekati sisi ranjang tempat Tuan Wiratman terbaring tak berdaya. Ia tidak langsung menyentuh tubuh pasien secara gegabah; melainkan berdiri diam sejenak, memejamkan kedua matanya untuk memusatkan konsentrasi batin, serta mengalirkan kepekaan energi Welingan Sejati ke ujung-ujung jemari tangannya.
Melalui kepekaan indra dan aliran tenaga dalam yang murni, Raka mulai memindai gelombang elektromagnetik serta getaran biologis tubuh sang pasien. Dalam sekejap, apa yang terjadi di dalam tubuh Tuan Wiratman terbentang jelas di dalam benaknya. Ini bukan sekadar komplikasi penyakit organ dalam biasa akibat faktor usia; melainkan ada akumulasi endapan racun sintetis dosis rendah—sebuah jenis toksin kimiawi perlahan yang sengaja dan secara rutin disusupkan ke dalam tubuh pasien dalam jangka waktu yang sangat panjang, dirancang khusus untuk melumpuhkan fungsi hati, ginjal, dan sistem saraf secara sistematis tanpa meninggalkan jejak di laboratorium rumah sakit umum.
Racun pelemah syaraf dan organ vital yang bekerja lambat... modus operandi yang sama persis dengan cara-cara kotor untuk menyingkirkan para pemilik lahan yang menolak menyerahkan tanah leluhur mereka kepada korporasi, batin Raka menganalisis dengan kepala dingin dan tatapan mata yang menajam.
"Bagaimana keadaannya, Raka? Apakah... apakah masih ada harapan untuk menyelamatkannya?" bisik Ibu Sinta penuh harap, suaranya bergetar hebat menahan tangis tertahan di samping ranjang.
Raka membuka perlahan kelopak matanya, menatap lurus penuh ketenangan ke arah Ibu Sinta.
"Suami Anda tidak sedang menderita sakit secara alami, Bu Sinta. Beliau sengaja diracuni secara perlahan-lahan dari hari ke hari oleh seseorang yang memiliki akses langsung dan sangat dekat dengan pola konsumsi hariannya di rumah ini."
Pernyataan telak yang meluncur begitu tenang dari bibir Raka itu seketika menghantam ruangan mewah tersebut layaknya sambaran petir di siang bolong.
Dokter Hendri terperanjat kaget luar biasa; warna muka pria paruh baya berjas putih itu mendadak berubah pucat pasi, kehilangan seluruh darah di wajahnya dalam hitungan detik.
"Jaga mulut lancangmu, anak muda! Jangan asal menebar fitnah keji di dalam rumah orang terpandang!" bentak Dokter Hendri dengan suara tinggi yang terdengar sumbang dan bergetar hebat, berusaha menutupi kepanikan luar biasa yang terpancar jelas dari tetesan keringat dingin di pelipisnya.
Raka perlahan menoleh, melayangkan tatapan mata yang tajam bagai elang ke arah sang dokter, sementara sebuah senyuman tipis penuh arti tersungging di sudut bibirnya. "Kenapa Anda begitu reaktif, gugup, dan ketakutan setengah mati, Dokter Hendri? Padahal, dari tadi saya sama sekali belum menyebutkan siapa nama pelaku yang meracuninya."
Suasana di dalam kamar tidur VVIP yang mewah itu mendadak berubah menjadi sunyi senyap dan mencekam. Ibu Sinta langsung membelalakkan matanya, menatap tajam ke arah Dokter Hendri dengan sorot mata penuh kecurigaan baru yang mematikan, sementara Raka perlahan merogoh saku tasnya, mengeluarkan sekotak kecil jarum akupunktur perak warisan leluhur untuk memulai tindakan penyelamatan yang sesungguhnya.