NovelToon NovelToon
DILUAR DIPUJA DIDALAM DIHINA Istri Pengganti Ceo Brayen

DILUAR DIPUJA DIDALAM DIHINA Istri Pengganti Ceo Brayen

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Mengubah Takdir / CEO
Popularitas:940
Nilai: 5
Nama Author: Aurelia Sadewa

Mengisahkan seorang gadis cantik yang berprofesi menjadi model, namun memiliki kita kelam semenjak ibunya meninggal dan ayahnya menikah lagi dengan seorang wanita licik dan memiliki seorang anak yang bernama Lalita. Isyana selalu di bully di hina dan di perlakuan seperti anak pelayan. Hingga pada suatu hari Isyana di jodohkan oleh ibu tirinya dengan seorang CEO dingin dan kejam bernama Brayen Lucian Alkantara...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurelia Sadewa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Apartemen Atas Namamu

Tangan Brayen masih menggenggam ujung jasnya yang menyelimuti tubuhku.

"Ikut aku."

Satu kalimat. Tidak ada pertanyaan. Itu adalah perintah.

Sebelum Rina dan Lalita sempat membuka mulut, Brayen sudah menarik pergelangan tanganku dengan lembut tapi tegas. Ia membawaku keluar dari backstage yang pengap itu, meninggalkan gaun sobekku, map pernikahan yang berserakan, dan dua wanita yang wajahnya pucat pasi.

Di luar, sebuah mobil hitam Maybach sudah menunggu. Sopirnya membukakan pintu dengan cepat.

"Masuk."

Aku ragu. Seluruh tubuhku masih gemetar karena malu dan dingin. Jas miliknya yang membungkusku terasa terlalu besar, tapi sangat hangat.

"Isyana, masuk. Jangan membuatku mengulanginya dua kali."

Akhirnya aku masuk. Brayen ikut masuk di sebelahku. Mobil melaju kencang membelah malam Jakarta.

Sepanjang perjalanan, tidak ada yang bicara. Aku hanya menunduk, memeluk erat jasnya. Aroma kayu dan hujan darinya membuat jantungku berdegup tidak karuan.

"Aku... aku mau pulang," bisikku pelan setelah beberapa menit.

Brayen menoleh. Tatapannya tajam di dalam mobil yang remang.

"Pulang? Ke rumah di mana gaunmu disobek? Ke rumah di mana ibu tirimu menjualmu untuk melunasi hutang?" suaranya dingin, menusuk. "Kau sebut itu rumah?"

Aku terdiam. Air mataku kembali menggenang.

Mobil berhenti di sebuah gerbang raksasa. Di depanku, berdiri sebuah mansion putih menjulang tinggi seperti istana. Lampu-lampunya menyala terang. Air mancur besar di tengah taman. Inilah Mansion Alkantara. Rumah CEO paling kejam di Jakarta.

"Turun. Mulai malam ini, kau tinggal di sini."

Aku menggeleng cepat. Ketakutan.

"Tidak... tidak, Tuan Brayen. Aku tidak bisa. Aku tidak mau tinggal di sini. Terlalu besar... terlalu mewah... aku... aku hanya..."

"Menolak?" Brayen mengerutkan kening. Ia keluar dari mobil dan membukakan pintu untukku. "Isyana, kau pikir kau punya pilihan? Besok kau akan menjadi istriku. Tentu saja kau harus tinggal di rumahku."

"Tapi... aku bukan Lalita! Aku tidak pantas tinggal di istana seperti ini! Aku hanya..."

Aku tidak bisa melanjutkan kata-kataku. Brayen menatapku lama. Tatapan es nya perlahan melunak saat melihat air mataku yang kembali jatuh dan kedua tanganku yang memegangi jasnya erat-erat karena takut.

Ia menghela napas pelan.

"Baik."

Ia mengeluarkan ponselnya dan menelpon seseorang.

"Siapkan apartemen di The Langham. Yang di lantai 45. Sekarang."

The Langham? Apartemen paling mahal di pusat Jakarta?

Mobil kembali melaju. 20 menit kemudian, kami sampai di sebuah gedung tinggi menjulang. Private lift membawa kami langsung ke lantai 45.

Pintu lift terbuka.

Aku membeku.

Apartemen itu... sangat indah. Bukan indah biasa. Dinding kaca besar menghadap langsung ke pemandangan lampu Jakarta. Sofa putih bersih. Dapur mewah. Kamar dengan ranjang king size yang empuk. Harum. Bersih. Hangat. Jauh... jauh berbeda dengan gudang kecil tempatku tidur di rumah ibu tiriku.

"Ini..." suaraku tercekat.

Brayen berjalan ke meja tengah dan meletakkan sebuah kunci emas dan sebuah map hitam di atasnya. Ia mendorong map itu ke arahku.

"Buka."

Dengan tangan gemetar, aku membuka map itu. Di dalamnya ada sertifikat. Dan di sana tertulis dengan jelas:

*PEMILIK: ISYANA - APARTEMEN 45A THE LANGHAM RESIDENCE*

Darahku berhenti.

"Apa... apa ini?" Aku menatapnya dengan mata terbelalak.

"Apartemen ini. Mulai malam ini, atas namamu."

"Tidak! Tidak bisa! Tuan Brayen, ini terlalu mahal! Aku tidak bisa menerima ini! Aku tidak punya uang untuk membayar ini!"

Brayen mendekat. Ia berdiri tepat di depanku. Ia menatapku dari atas, tapi kali ini tidak menakutkan. Ada keteduhan yang aneh.

"Isyana, dengarkan aku," suaranya rendah, tapi setiap katanya menghujam ke hatiku. "Sampai kapan kau mau diperlakukan seperti sampah oleh wanita tua itu? Sampai kapan kau mau membiarkan gaunmu disobek, wajahmu ditampar, dan harga dirimu diinjak?"

Aku terisak. Karena semua yang ia katakan adalah benar.

"Hari ini gaunmu yang disobek. Besok apa? Rambutmu? Wajahmu? Mimpimu?" Ia mengangkat daguku lagi dengan jarinya, sama seperti di backstage tadi. "Kau bukan sampah, Isyana. Kau adalah model yang dipuja di luar sana. Dan kau akan menjadi istriku. Kau pantas mendapatkan tempat yang aman. Tempat di mana tidak ada yang bisa menyakitimu lagi."

Air mataku jatuh deras. Kata-kata itu... tidak ada yang pernah mengatakan itu padaku sejak Ibu meninggal.

"Tapi kenapa... kenapa harus atas namaku?"

"Karena aku tidak ingin kau pulang lagi ke rumah ibu tirimu yang jahat itu. Aku tidak ingin jas yang kupakaikan padamu tadi harus kembali kotor karena air mata yang sama." Ia melepaskan daguku dan meletakkan kunci emas itu di telapak tanganku. Kunci itu masih hangat. "Anggap ini hadiah pertunangan. Agar kau tahu, menjadi milikku tidak seburuk yang kau bayangkan."

Aku menggenggam kunci itu erat. Bahuku bergetar.

Setelah beberapa menit hening, Brayen berbalik dan berjalan menuju pintu. Ia akan pergi.

Tiba-tiba, tanpa kusadari, kata-kata itu keluar dari mulutku.

"Terima kasih... terima kasih kau telah menyelamatkanku tadi... terima kasih untuk apartemen ini juga... nanti... nanti aku cicil ya? Aku janji akan aku cicil pelan-pelan..."

Langkah Brayen terhenti di depan pintu.

Ia berbalik perlahan. Dan untuk pertama kalinya sejak aku mengenal namanya, sejak aku melihat fotonya di majalah bisnis...

Brayen Lucian Alkantara tersenyum.

Senyum tipis. Sangat tipis. Tapi senyum itu membuat wajah sedingin es nya mencair. Membuat matanya yang hitam pekat terlihat hangat. Membuat jantungku berhenti berdetak sesaat.

"Tidak," katanya pelan, suaranya lembut dan dalam. "Ini untukmu. Gratis. Tidak perlu dicicil."

Ia menatapku yang masih memeluk jas kebesarannya.

"Sebentar lagi kau akan menjadi Nyonya Alkantara, Isyana."

DEG!

Nyonya Alkantara.

Aku terdiam. Wajahku memerah panas. Jantungku berdegup kencang hingga terasa sakit.

Ia membuka pintu dan pergi, meninggalkan aku sendirian di apartemen mewah yang kini menjadi milikku, masih dengan jas hangatnya yang menyelimuti tubuhku.

Dan untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku merasa aman.

---Bersambung---

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!