Novel ini mengisahkan Ahmad Zaki, seorang pemuda berusia 20 tahun yang merupakan anak dari pedagang kain. Ia berniat untuk belajar dan memperdalam ilmu di pondok pesantren yang berada di pedesaan.
Baru beberapa hari di pondok pesantren, ia telah menanam benih-benih cinta. Cinta yang tulus kepada seorang santriwati berusia 18 tahun, Nafisah Zahra.
Namun, cinta keduanya terhalang oleh perjodohan dan agresi militer.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MF015, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2: Kitab yang Tertukar
Malam pertama Zaki di pondok berakhir dengan kesimpulan yang menyedihkan: Kang Ridwan tidak sekadar mendengkur, ia mendengkur dengan irama. Tiga kali panjang, satu kali pendek, lalu diam sebentar seperti sedang berpikir, dan setelah itu mulai lagi.
"Lama-lama kamu hafal," bisik Darto dari kasur sebelah, tanpa membuka mata. "Malah nanti kangen kalau dia pulang kampung."
"Itu doa atau ancaman?"
"Dua-duanya."
Zaki menatap langit-langit bambu yang gelap. Ia tidak tidur, dan bukan sepenuhnya karena dengkuran itu. Kalimat yang ia dengar dari balik tembok tadi sore masih berputar di kepalanya. Rindu adalah tamu yang tak pernah mengetuk pintu. Siapa yang menulis itu? Dan kenapa kalimat sependek itu bisa sebegini rewel?
Ia baru terlelap ketika kentongan subuh berbunyi.
Pagi di pondok berjalan seperti mesin yang dirawat dengan baik. Shalat subuh berjamaah, mengaji sampai matahari naik, lalu antri sarapan dengan nasi jagung, sambal, dan tempe goreng. Zaki menghabiskan semuanya dan masih merasa kurang, tapi ia tahu diri. Ia santri baru, dan santri baru tidak boleh terlihat rakus di hari kedua.
Setelah sarapan, ia dipanggil Ustaz Malik, guru nahwu yang bertubuh kurus dan bersuara dalam. Kacamatanya tebal dan selalu melorot ke ujung hidung, dan Zaki curiga beliau tidak pernah benar-benar melihat ke arah santri. Beliau hanya mendengar.
"Kamu yang baru dari kota?"
"Inggih, Ustaz."
"Kitab apa yang kamu bawa?"
Zaki menyodorkan kitab tipis lusuhnya. Ustaz Malik membolak-baliknya, berhenti di beberapa halaman, mengangguk-angguk, lalu berkata, "Tulisan tanganmu bagus. Tapi catatan pinggirmu banyak yang salah."
Zaki menelan ludah. "Salah di bagian mana, Ustaz?"
"Nanti kamu cari sendiri. Kalau sudah ketemu, berarti kamu mulai belajar." Beliau mengembalikan kitab itu. "Hari ini kamu piket dapur. Ambil beras di gudang, antar ke dapur umum. Jangan sampai tumpah."
"Siap, Ustaz."
"Dan jangan lama-lama di sana."
Zaki mengangguk. Ia tidak paham kenapa pesan terakhir itu terdengar seperti peringatan. Tapi ia belum tahu apa-apa soal dapur umum, jadi ia memutuskan untuk tidak terlalu memikirkannya.
Gudang beras berbau kayu tua dan sedikit tikus. Darto sudah menunggu di sana sambil menyandarkan bahunya di tumpukan karung.
"Kamu piket bareng saya. Dua karung sekali angkat, jangan pamer kuat, nanti punggungmu yang menderita." Ia mengangkat satu karung ke bahu dengan gaya orang yang sudah melakukannya ratusan kali. "Ayo."
Mereka berjalan menyusuri halaman menuju dapur umum. Di dekat tembok tinggi itu, langkah Zaki melambat tanpa ia sadari. Darto melirik dan tersenyum jahil.
"Kepikiran tembok, ya?"
"Enggak."
"Enggak, tapi lehermu menoleh sendiri."
Zaki buru-buru menunduk. "Angkat saja karungmu."
Dapur umum ternyata jauh lebih hidup dari yang ia bayangkan. Tungku besar menyala di sudut, asapnya naik ke cerobong. Beberapa santri putra mengaduk panci raksasa berisi bubur, dan suara sendok kayu beradu dengan dinding panci. Di tengah dinding yang memisahkan dapur menjadi dua sisi, terdapat sebuah lubang persegi sebesar nampan, ditutup separuh dengan anyaman bambu. Dari sanalah makanan dan barang berpindah dari satu sisi ke sisi lain.
Di seberang lubang itu, samar-samar terdengar suara perempuan yang berbicara, tertawa, dan berkelakar. Zaki mencoba tidak mendengarkan dan gagal total.
"Kang Zaki," panggil seorang santri yang mengaduk bubur, "berasnya taruh di pojok, ya. Kitabnya jangan ditaruh sembarangan, nanti kena kuah."
"Iya." Zaki meletakkan karung, lalu, karena tangannya penuh, menaruh kitab tipisnya di atas meja kayu dekat lubang pemberian. Darto ikut menaruh kitabnya di sebelahnya. Kedua kitab itu sama-sama tipis, sama-sama bersampul cokelat kusam, dan sama-sama bau debu.
Itu kesalahan pertama.
Kesalahan kedua terjadi lima menit kemudian, ketika seorang santri putra meletakkan nampan berisi tempe di lubang pemberian, menggesernya ke seberang, dan tanpa sengaja ikut menyenggol salah satu kitab di meja. Kitab itu meluncur mulus ke lubang, ke sisi perempuan, dan menghilang.
Tidak ada yang melihat. Semua sedang sibuk dengan bubur.
Zaki baru menyadarinya ketika hendak pergi. Ia meraih kitab di meja, membukanya, dan langsung mengenali bahwa itu bukan kitabnya. Itu kitab Darto, penuh coretan gambar ayam di halaman-halaman pinggir.
"Darto." Suaranya menurun sampai hampir berbisik. "Kitabku ke mana?"
Darto mengerjap. "Lho, tadi di sebelahku."
"Sekarang tidak."
Mereka berdua saling pandang, lalu sama-sama menoleh ke lubang pemberian. Anyaman bambunya bergoyang pelan.
"Jangan bilang..." bisik Darto.
"Kitab saya ada catatan pinggir yang..." Zaki berhenti. Kepalanya seperti diguyur air dingin. Ia teringat isi catatan pinggir di halaman terakhir kitab itu. Catatan pribadi yang tidak ia niat tunjukkan ke siapa pun, berisi kalimat-kalimat yang ia tulis pada malam-malam sepi di kota, ketika ayahnya sakit dan ia tidak tahu harus menceritakan takutnya kepada siapa.
"Kita minta kembali saja," kata Darto sambil menggaruk kepala. "Lewat lubang. Titip salam, titip kitab."
"Titip kepada siapa? Aku bahkan tidak tahu siapa di seberang."
"Ya siapa saja. Yang penting sopan."
Zaki menghela napas panjang. Setelah beberapa detik yang terasa seperti setahun, ia mendekat ke lubang pemberian dan berbicara, sepelan yang ia bisa.
"Assalamualaikum. Mohon maaf, tadi ada kitab tidak sengaja masuk ke sisi sana. Sampulnya cokelat, agak lusuh. Kalau ada yang menemukan, mohon dikembalikan."
Hening. Lalu terdengar suara cekikikan tertahan, disusul suara lain yang menyuruh diam.
"Waalaikumsalam," jawab sebuah suara perempuan, ringan dan geli, bukan yang tadi. "Kitabnya nanti dicari. Sabar, ya, Kang."
Bukan suara puisi itu. Zaki tidak tahu kenapa ia menyadarinya, tapi ia yakin.
"Terima kasih."
"Sama-sama. Jangan lama-lama berdiri di situ, nanti Ustaz lewat."
Zaki mundur cepat. Darto sudah menutup mulutnya dengan kedua tangan supaya tawanya tidak pecah.
"Kamu ini," kata Darto akhirnya, "baru dua hari sudah minta kitab dikembalikan dari asrama putri. Rekor, Kang. Rekor!"
"Itu bukan salahku."
"Salahmu itu menaruh kitab di dekat lubang." Darto menepuk bahunya. "Sudah, tenang. Paling besok kitabnya sudah kembali."
Dan memang, keesokan harinya kitab itu kembali.
Kitab itu dikembalikan pagi-pagi, terselip di antara nampan sarapan yang dikirim lewat lubang pemberian. Bungkusnya selembar daun pisang yang diikat rapi dengan benang. Zaki membukanya di pojok halaman, jauh dari Darto dan siapa pun yang berpotensi bertanya.
Kitabnya utuh, sampulnya masih lusuh, halamannya masih penuh coretan tangannya sendiri. Ia mulai menghela napas lega, sampai matanya menangkap sesuatu di halaman ketiga.
Ada goresan pensil tipis di pinggir halaman, di samping salah satu catatan yang ia tulis sendiri. Tulisannya kecil, rapi, dan miring ke kanan. Isinya hanya satu baris:
"Bukan begini i'rab-nya, Kang. Coba baca ulang bab sebelumnya. 🙂"
Zaki membaca kalimat itu tiga kali. Lalu ia membaca ulang catatannya sendiri. Lalu ia membuka bab sebelumnya. Lalu ia mendesah pelan, karena si penulis pensil itu benar.
Ia menutup kitab itu. Menatap langit pagi. Dan untuk pertama kalinya sejak tiba di Sumberwungu, tersenyum tanpa alasan yang bisa dijelaskan.
Bukan cuma karena ada yang mengoreksi kesalahannya, tapi karena tulisan tangan itu, rapi dan miring ke kanan, terasa seperti pernah ia lihat. Bukan di kitab, melainkan di tempat lain. Di pikirannya. Di balik tembok. Di dalam bait yang terbawa angin kemarin sore.
Ia belum tahu siapa dia. Tapi ia tahu satu hal: ia akan menyimpan kitab ini baik-baik.