NovelToon NovelToon
System Penyesalan Seorang Ibu.

System Penyesalan Seorang Ibu.

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Single Mom / Reinkarnasi
Popularitas:363
Nilai: 5
Nama Author: james 9870

Dendam membuat Clara menukar bayinya dengan bayi sahabat yang mengkhianatinya. Ia membesarkan anak musuhnya dalam penderitaan, sementara sang musuh membesarkan darah daging Clara dalam kebohongan.
Belasan tahun kemudian, ego dan intrik kotor mereka memicu kutukan berdarah. Tanpa sadar, kedua ibu ini justru merancang neraka yang menghancurkan nyawa anak Dan diri mereka sendiri

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon james 9870, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14 — Serpihan Pita Merah

Sejak insiden buku yang disobek di gudang, Maya mengubah dirinya menjadi bayangan yang sesungguhnya.

​Setiap kali jam istirahat berbunyi dan murid-murid berhamburan ke luar kelas, Maya akan bergegas masuk ke dalam toilet yang paling ujung, mengunci pintunya dari dalam, dan duduk di atas lantai yang basah sambil menutup telinganya. Ia tidak mau mendengar suara tawa anak-anak. Dan yang paling penting, ia tidak mau mendengar suara Elena memanggil namanya.

​Sudah empat hari berlalu. Hati Maya menjerit rindu setiap kali ia mengintip dari celah ventilasi toilet, melihat sosok Elena yang berjalan mondar-mandir di bawah pohon mangga, raut wajahnya terlihat kebingungan dan sedih karena mencari sahabatnya yang menghilang tiba-tiba. Maya ingin sekali berlari keluar, memeluk Elena, dan meminta maaf. Namun ketakutannya pada amarah Clara jauh lebih besar daripada kerinduannya. Ia tidak ingin membuat ibunya marah lagi. Ia tidak ingin menjadi anak durhaka yang menambah penderitaan ibunya.

​Namun, Elena mewarisi kekeraskepalaan ibunya yang pantang menyerah, dikombinasikan dengan kebaikan hati anak-anak yang belum tercemar.

​Pada hari Jumat sore, hujan turun rintik-rintik, membasahi lapangan upacara. Sebagian besar murid sudah dijemput oleh orang tua mereka. Maya sedang merapikan tempat sampah di area belakang sekolah. Tubuhnya menggigil karena jaket tipisnya tidak mampu menahan angin yang lembap.

​Tiba-tiba, sebuah payung kecil bergambar kelinci berwarna merah muda terentang di atas kepalanya, menghalangi rintik hujan.

​Maya tersentak dan mendongak. Elena berdiri di sana, memegang payung itu dengan kedua tangan. Wajah Elena terlihat sedikit cemberut, namun matanya memancarkan kelegaan yang luar biasa.

​"Kamu jahat," prout Elena dengan nada merajuk khas anak-anak. "Kenapa kamu main petak umpet tapi tidak memberitahuku? Aku mencarimu ke mana-mana setiap hari. Aku kira kamu sakit."

​Maya terbelalak panik. Ia langsung melepaskan kantong sampah di tangannya dan mundur beberapa langkah hingga punggungnya menabrak dinding basah. "E-Elena... kenapa kamu belum pulang? Supirmu di mana? Pergilah, jangan dekat-dekat aku!"

​"Sopirku menungguku di mobil. Aku bilang aku mau ke toilet sebentar," jawab Elena santai, melangkah maju untuk memayungi Maya lagi. "Kenapa kamu takut sekali padaku, Maya? Apa aku punya salah? Apa rotiku kemarin tidak enak?"

​"Bukan! Bukan begitu!" Maya menggeleng cepat, air mata kepanikan mulai berkumpul di matanya. Ia melirik liar ke arah lorong utama, berdoa agar Clara tidak muncul. "Kumohon, Elena... Ibuku akan sangat marah. Ibuku bilang aku anak miskin yang tidak boleh berteman dengan anak orang kaya sepertimu. Kemarin... kemarin ibuku merobek buku ceritamu. Aku minta maaf, Elena... aku tidak bisa menjaganya..."

​Mendengar pengakuan itu, alis Elena mengerut, tetapi tidak ada kemarahan di wajahnya, melainkan sebuah simpati yang dalam. Elena, yang tumbuh dalam keluarga di mana ibunya selalu membelikannya segalanya, tidak bisa memahami mengapa ada seorang ibu yang merobek buku anaknya.

​"Ibumu jahat sekali," gumam Elena polos, jujur dari sudut pandang anak-anak.

​"JANGAN BILANG BEGITU!" bentak Maya tiba-tiba, matanya melotot, suaranya sedikit lebih keras dari biasanya. Tubuhnya bergetar melindungi kehormatan wanita yang menyiksanya. "Ibuku tidak jahat! Ibuku orang baik! Ibuku lelah bekerja untuk memberiku makan! Aku yang nakal karena tidak patuh! Tarik kata-katamu, Elena!"

​Elena terkejut melihat reaksi keras Maya, namun ia segera mengangguk patuh. "Iya, iya, maafkan aku. Ibumu tidak jahat. Aku minta maaf."

​Melihat Elena menunduk sedih, rasa bersalah langsung menghantam Maya. Ia menggigit bibirnya, merasa dirinya adalah makhluk paling kejam karena sudah membentak satu-satunya orang yang peduli padanya.

​"Maafkan aku, Elena..." cicit Maya, menundukkan kepalanya dalam-dalam. "Aku tidak bermaksud membentakmu. Aku hanya... aku hanya takut."

​Elena tersenyum lagi, senyum yang selalu berhasil menerangi hari-hari gelap Maya. Gadis kecil kaya raya itu lalu merogoh saku roknya. "Aku tahu ibumu membuang buku ceritanya. Tapi hari ini aku bawa sesuatu yang tidak berbentuk buku. Sesuatu yang bisa kamu sembunyikan."

​Elena menarik tangannya, memperlihatkan sebuah pita rambut berukuran sedang. Pita itu terbuat dari bahan satin sutra berwarna merah menyala, dihiasi dengan payet-payet kecil yang berkilauan meskipun di bawah cuaca yang mendung. Pita itu sangat mewah, barang impor yang dibelikan Vera khusus untuk Elena saat mereka liburan ke luar negeri.

​"Ini pita keberuntunganku," kata Elena dengan bangga, menyodorkannya kepada Maya. "Kalau kamu pakai pita ini, kamu tidak akan pernah merasa sedih lagi. Pita ini ajaib. Aku mau memberikannya untukmu, supaya kamu tahu kalau aku tetap sahabatmu walaupun kita tidak bisa sering main."

​Maya menatap pita merah yang indah itu. Kilau satinnya terasa begitu magis, seolah itu adalah benda dari alam semesta lain yang jatuh ke bumi. Tangan Maya sangat gatal ingin menyentuhnya, ingin merasakan kelembutan kain mewah itu. Sepanjang hidupnya, ia hanya memakai karet gelang sayur untuk mengikat rambutnya. Memiliki pita secantik ini adalah mimpi yang bahkan tidak berani ia impikan.

​"I-ini terlalu bagus, Elena... harganya pasti mahal," bisik Maya, tidak berani menerimanya.

​"Ambil saja! Simpan di dalam saku celanamu. Pakai kalau kamu sedang sendirian sebelum tidur. Ibumu tidak akan tahu," bujuk Elena setengah memaksa, menarik tangan Maya dan meletakkan pita merah itu di telapak tangannya. Kain sutra itu terasa sangat dingin dan lembut, mengalir seperti air di tangan kasar Maya.

​Sebuah senyum kecil, senyum kebahagiaan sejati, akhirnya terbit di bibir Maya. Ia meremas pita itu di depan dadanya. "Terima kasih, Elena... aku akan menjaganya dengan nyawaku. Aku janji."

​"Bagus! Sampai jumpa hari Senin, Maya!" Elena melambaikan tangannya, lalu berlari membelah hujan kembali menuju lobi depan tempat supirnya menunggu.

​Maya berdiri di bawah rintik hujan, memandangi pita merah di tangannya dengan perasaan campur aduk. Ia sangat bahagia, tapi juga sangat takut. Ia cepat-cepat melipat pita itu menjadi bagian terkecil, lalu memasukkannya ke dalam saku celananya yang paling dalam, memastikannya aman.

​Namun, dunia tidak pernah berbaik hati pada Maya.

​Malam itu, di dalam kontrakan mereka yang sempit dan pengap, Maya sedang berlutut di sudut ruangan, menyusun botol-botol plastik bekas untuk dijual besok. Clara sedang duduk di atas tikar, merendam kakinya yang bengkak dengan air hangat sambil menghitung uang receh yang ia kumpulkan hari itu.

​Saat Maya membungkuk untuk mengambil botol yang menggelinding, saku celananya yang longgar merosot terbuka. Dan sebuah benda berwarna merah mengilap meluncur jatuh dari sakunya ke atas tikar, tepat di bawah jangkauan cahaya lampu minyak yang berkedip.

​Pita sutra merah itu jatuh tergeletak di antara mereka.

​Waktu seolah membeku seketika.

​Maya menahan napas. Matanya melebar penuh horor. Tangannya melesat maju untuk menyembunyikan pita itu kembali, namun terlambat. Gerakan tangan Clara jauh lebih cepat bagaikan patukan ular berbisa.

​Clara meraih pita merah itu. Jari-jarinya yang kasar menyentuh permukaan satin sutra yang mewah. Matanya yang kelelahan menyipit, meneliti jahitan dan kilau payet pada pita itu. Clara tahu persis benda apa ini. Ia pernah bekerja di butik pakaian, dan ia tahu pita ini harganya bisa setara dengan gaji bulanannya menyapu jalan. Ia juga tahu, hanya ada satu anak di sekolah itu yang memakai barang-barang semahal ini.

​Wajah Clara perlahan terangkat, menatap Maya. Bukan sekadar kemarahan yang terpancar dari sana, melainkan sebuah kegilaan yang absolut. Kegilaan seorang ibu yang melihat anak haram musuhnya berani-beraninya menikmati kemewahan yang seharusnya tidak pernah ia miliki, kemewahan yang dikirimkan langsung oleh anak kandungnya sendiri yang tidak tahu apa-apa. Ironi ini merobek-robek akal sehat Clara.

​"Apa ini?" suara Clara terdengar sangat rendah, membuat bulu kuduk Maya berdiri.

​"I-itu... itu hanya pita bekas yang Maya temukan di tong sampah, Bu..." bohong Maya dengan suara bergetar, mundur merangkak ke sudut ruangan.

​"KAU PIKIR IBU BODOH?!" jerit Clara histeris. Ia bangkit berdiri, menendang baskom air hangatnya hingga tumpah membasahi tikar. Tangannya terangkat tinggi di udara, siap mendaratkan tamparan keras ke pipi tirus yang bergetar ketakutan itu.

​Maya memejamkan mata erat-erat, memeluk kepalanya sendiri dan meringkuk pasrah menunggu rasa sakit. "Ampun, Bu! Ampun! Maya tidak mengemis! Elena yang memberikannya... Elena bilang itu pita keberuntungan..."

​Nama Elena mengudara, membawa serta beban masa lalu yang mencekik. Dada Clara naik-turun dengan napas memburu bak kesetanan. Namun, saat menatap tubuh mungil yang meringkuk gemetar di bawah bayang-bayangnya, tangan Clara tertahan di udara. Jari-jarinya yang kasar bergetar hebat.

​Apa yang sedang kulakukan? batin Clara, kewarasannya tiba-tiba menyela amarahnya. Ia melihat pantulan monster dalam dirinya sendiri, sebuah monster yang tercipta dari trauma masa lalu. Ia sangat membenci darah musuhnya yang mengalir di tubuh anak ini. Aku tidak mampu mencintai anak ini... tetapi setidaknya aku tidak boleh menyakitinya secara fisik. Aku bukan binatang.

​Perlahan, tangan Clara turun. Ia menarik napas panjang, menelan ludah yang terasa sepahit empedu, lalu dengan gerakan dingin dan cepat merampas pita merah itu dari lantai.

​"Ibu sita pita ini," desis Clara, suaranya kini terdengar lebih lelah, berat oleh beban nurani dan kebencian yang saling bertabrakan. Ia menatap Maya dengan tatapan kosong. "Berhenti mencari kebahagiaan dari orang-orang yang telah menghancurkan hidup Ibu. Kau tidak pantas memakai barang seperti ini."

​Clara berbalik, berjalan menuju lemarinya yang reyot, dan mengunci pita sutra mewah itu di dalam laci. Ia lalu mengambil bantalnya, merebahkan diri di atas tikar, dan memunggungi Maya. Di dalam kegelapan, Clara menangis dalam diam, tersiksa oleh rasa bersalah yang menggerogoti jiwanya karena tidak bisa menjadi seorang ibu yang semestinya.

​Di sudut ruangan yang gelap dan dingin, di atas lantai yang basah oleh air baskom yang tumpah, Maya perlahan membuka matanya. Tidak ada pukulan. Tidak ada rasa asin darah di bibirnya. Hanya ada keheningan malam dan hilangnya pita magis miliknya.

​Maya menatap punggung ibunya yang bergetar pelan. Perlahan, air matanya menetes, sementara otak kecilnya kembali merajut kebohongan psikologis yang menyayat hati untuk melindungi cinta yang tidak pernah ia terima.

​"Ibu menahan tangannya... Ibu tidak memukul Maya..." bisik gadis kecil itu sambil tersenyum pedih menembus keheningan malam. "Ibu menyita pita merah itu bukan karena benci. Pita itu terlalu mewah... Ibu pasti mau menjualnya besok supaya kami bisa makan enak. Ibu sedang berusaha menghidupi Maya... Ibu sayang sama Maya. Maya saja yang bodoh, tidak tahu diri..."

​Maya memeluk lututnya sendiri, membiarkan dirinya ditelan oleh kegelapan malam, bermimpi tentang sebuah dunia di mana ibunya tidak perlu menangis. Di kejauhan malam yang sama, putri kandung dari wanita yang baru saja mengunci pita itu sedang bermimpi indah di atas ranjang bertabur bunga, tidak menyadari ironi nasib yang mengikat mereka bertiga.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!