Elara terjebak dalam novel–bukan sebagai pahlawan, bukan juga sebagai penjahat, melainkan selir yang bahkan namanya kerap terlupa.
Lebih dari itu, ia adalah orang yang hanya ingin hidup tenang, bermalas-malasan, bahkan terlalu malas untuk melafalkan dialog yang ditetapkan untuknya.
Oleh sebab itu, sebagai tokoh pendukung yang bangkit dari kematian, ia tak berniat menuntut balas? Ia memilih tak ikut campur sedikit pun.
Namun, bagaimana jika alur malah berbalik dan membuatnya menjadi tokoh utama?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Daging rusa dari Duke Adrian ternyata sangat berkualitas.
Elara sedang duduk di depan panci tembaga berisi kuah kaldu yang mendidih, dengan santai mencelupkan irisan tipis daging rusa ke dalamnya. Uap panas mengepul, membawa aroma jahe, bawang putih, dan rempah-rempah yang menghangatkan perut.
"Kau benar-benar memakannya," gumam Kaisar Lucian, menatap panci itu dengan tatapan yang sedikit tidak percaya. Ia duduk di seberang Elara, memegang sumpitnya dengan anggun, namun tidak menyentuh makanannya.
"Daging rusa utara kaya akan protein dan zat besi," jawab Elara sambil mengunyah, pipinya mengembung seperti tupai. "Duke Adrian tahu cara memilih oleh-oleh. Ini jauh lebih baik daripada bunga yang layu dalam dua hari atau perhiasan yang beratnya bikin leher kram."
Lucian tersenyum tipis, akhirnya mencelupkan sepotong tahu ke dalam kuah. "Aku tidak menyangka Duke Adrian akan mengirim bahan makanan mentah padamu. Biasanya para jenderal mengirim laporan perang, bukan resep hotpot."
"Di desa kuno saya, mengirim makanan adalah bahasa cinta yang paling praktis," Elara meneguk kuahnya, merasakan hangatnya merambat ke seluruh tubuh. "Artinya: Aku ingin kau kenyang dan tidak rewel. Sangat efisien."
Lucian menatapnya, matanya menyipit sedikit. "Bahasa cinta? Jadi kau menganggap Duke Adrian sedang... menyatakan perasaan?"
"Bukan perasaan romantis, Yang Mulia. Perasaan hormat," koreksi Elara cepat, menyadari bahwa nada Lucian tiba-tiba turun dua derajat. "Dia menghargai otak logistik saya. Dan orang yang menghargai otak saya biasanya saya anggap sebagai rekan bisnis yang baik. Tidak lebih."
Lucian tampak sedikit lebih rileks, meski ia tetap menatap Elara dengan intensitas yang membuat wanita itu ingin menarik selimut dan bersembunyi.
Sebelum Lucian bisa merespons, suara kepakan sayap yang berat terdengar dari luar jendela.
Seekor elang militer hitam, hewan kurir khusus milik komandan perbatasan yang mendarat di pagar balkon. Kakinya mengikat sebuah tabung logam kecil berlapis es.
Wajah Lucian langsung berubah serius. Ia berdiri, berjalan ke balkon, dan mengambil tabung itu. Ketika ia membukanya, segel lilinnya retak karena suhu dingin yang tidak wajar dari logam tersebut.
Lucian membaca surat itu. Wajahnya yang biasanya tenang perlahan mengeras.
"Elara," panggil Lucian, suaranya terdengar berat. "Tinggalkan hotpotmu. Kita ada masalah."
Elara menelan daging rusanya. "Apakah Duke Adrian mengirim tagihan? Katakan padanya saya sedang mode hemat."
"Bukan," Lucian melemparkan surat itu ke meja. "Perbatasan Utara sedang dilanda badai salju."
Elara berkedip. "Badai salju? Tapi ini baru pertengahan musim gugur. Salju di perbatasan biasanya turun awal musim dingin."
"Tepat," Lucian menatapnya, matanya gelap. "Badai ini muncul dalam semalam. Suhu turun drastis hingga membekukan sungai. Duke Adrian melaporkan bahwa tenda-tenda pasukan robek, dan puluhan prajurit sudah mulai mengalami hipotermia. Dia meminta bantuan darurat. Pakaian musim dingin belum dikirim karena kita tidak memprediksi cuaca seburuk ini."
Tiba-tiba, Elara merasakan sebuah sensasi yang sangat familiar.
Dingin.
Bukan dingin karena angin dari balkon. Ini adalah dingin yang menusuk langsung ke dalam dadanya, seolah-olah sebuah balok es baru saja ditanamkan di paru-parunya.
Di penglihatannya, teks bercahaya merah darah muncul, berkedip dengan cepat dan menyakitkan mata.
[EVENT TRIGGER: The Crimson Blizzard (Badai Merah).]
[Required Plot Point: Duke Adrian suffers severe frostbite to save a subordinate.]
[Consequence: Princess Aurelia travels to the border to nurse him. Romance Route B re-initiated.]
[System Override: Weather manipulation active.]
Elara mencengkeram tepi meja. Kukunya memutih.
Astaga, batinnya, marah dan kesakitan. Sistem sialan ini sedang memanipulasi cuaca?! Dia membekukan ribuan prajurit hanya supaya Duke Adrian bisa pingsan kedinginan dan Putri Mahkota bisa bermain dokter-dokteran?!
"Elara?" Lucian segera berada di sampingnya, tangannya menyentuh bahu Elara. Ia terkejut melihat wajah Elara yang pucat dan bibirnya yang sedikit membiru. "Kau menggigil. Apakah racun Inkuisitor itu.."
"Bukan racun," Elara memaksakan diri untuk bernapas, suaranya terdengar parau. "Ini... ini koreksi. Dunia ini sedang mencoba memaksakan skenario. Badai itu tidak alami, Yang Mulia. Itu dibuat oleh... oleh sesuatu yang ingin Duke Adrian terluka."
Lucian menatapnya. Ia tidak bertanya bagaimana Elara tahu. Setelah Ujian Kesucian dan semua kejadian aneh belakangan ini, Lucian telah menerima bahwa Elara mengetahui rahasia yang tidak bisa ia jelaskan dengan kata-kata biasa.
"Jika Adrian terluka," Elara melanjutkan, memijat dadanya yang terasa beku, "Putri Mahkota akan pergi ke perbatasan untuk menyelamatkannya. Dan jika dia pergi, faksi Gereja akan bergerak. Dan jika faksi Gereja bergerak, saya tidak akan bisa tidur siang selama sebulan."
Elara menatap Lucian, matanya yang tadinya sayu kini menyala dengan api kemarahan yang sangat tidak biasa.
"Saya tidak akan membiarkan sistem... eh, takdir, merusak jadwal musim dingin saya. Kita akan melawan badai ini."