Di tengah masa kelaparan parah yang melanda desa, seorang bayi perempuan dibuang begitu saja ke dalam hutan terlarang oleh orang tua kandungnya.
Takdir membawanya ke pelukan keluarga pemburu sederhana bernama Arga dan Mira yang kemudian menamainya Natasya.
Tujuh tahun berlalu, Natasya tumbuh menjadi anak ceria yang menyimpan rahasia ajaib karena ia mampu memahami dan berbicara dengan hewan.
Ketika Mira jatuh sakit parah dan membutuhkan tanaman obat langka, Natasya menggunakan kemampuannya untuk menjelajahi hutan terlarang demi menyelamatkan ibunya dan membawa kemakmuran bagi desa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Tiga hari telah berlalu sejak insiden penyusupan diam-diam Natasya ke Desa Karang.
Kondisi desa Natasya semakin hari semakin makmur dan damai.
Ibu-ibu sibuk menjemur irisan ubi jalar di halaman rumah, sementara bapak-bapak bersantai di pos ronda.
Natasya duduk di teras depan rumahnya sambil menganyam daun pandan menjadi keranjang kecil.
Gadis cilik itu bersenandung pelan dengan hati yang terasa sangat tenang.
"Semoga Gaga tidak lupa menagih janjiku soal sekantung rayap gemuk itu," batin Natasya sambil tersenyum geli.
Namun ketenangan pagi itu harus pecah oleh suara derap langkah banyak orang dari arah gerbang depan desa.
"Lihat itu, ada rombongan besar datang dari arah barat."
Mang Udin yang sedang berjaga di pos ronda berteriak sambil menunjuk ke ujung jalan.
Beberapa warga desa langsung keluar dari rumah mereka karena merasa penasaran dengan keributan itu.
Arga dan Mira yang sedang membereskan halaman juga ikut menghentikan pekerjaan mereka.
"Siapa yang datang beramai-ramai membawa gerobak kayu sebanyak itu, Mas Arga?"
Mira menatap tajam ke arah rombongan yang semakin mendekat tersebut.
"Itu Karto dan Maman dari Desa Karang."
Arga memicingkan matanya dan langsung mengenali dua sosok pria yang berjalan paling depan.
"Kenapa mereka datang lagi ke sini membawa puluhan warga desa mereka?"
Wajah Arga seketika berubah tegang dan ia langsung memerintahkan Natasya untuk masuk ke dalam rumah.
"Natasya, cepat masuk dan kunci pintunya dari dalam."
Arga menatap putrinya dengan sorot mata peringatan yang tidak bisa dibantah.
"Ayah akan menghadapi orang-orang nekat ini di depan."
Natasya yang sudah melihat kedatangan rombongan itu justru tidak beranjak dari tempat duduknya sama sekali.
Gadis kecil itu tahu betul bahwa bersembunyi tidak akan menyelesaikan masalah yang sudah ia buat sendiri.
"Jejak kaki itu pasti sudah membawanya ke sini," keluh Natasya dalam hatinya.
"Permisi, warga desa yang baik hati."
Karto berteriak lantang saat rombongannya akhirnya tiba tepat di depan halaman rumah Arga.
Puluhan warga Desa Karang itu tidak lagi terlihat kurus kering dan putus asa seperti tiga hari yang lalu.
Wajah mereka terlihat lebih segar dan pakaian mereka terlihat rapi.
"Mau apa kalian datang lagi ke desaku, Karto?"
Arga melangkah maju menghalangi pintu pagar rumahnya dengan tangan bertolak pinggang.
"Sudah kubilang putriku tidak punya sihir air untuk menolong desa kalian yang kekeringan itu."
Alih-alih marah, Karto dan Maman justru tersenyum sangat lebar dan langsung bersimpuh di depan kaki Arga.
Tindakan tiba-tiba itu membuat Arga dan seluruh warga desa yang menonton menjadi sangat kebingungan.
"Apa-apaan kalian ini, cepat bangun dari tanah."
Arga mencoba menarik lengan Karto namun pria tua itu bersikeras untuk tetap berlutut.
"Kami datang ke sini bukan untuk meminta bantuan lagi, Arga."
Karto mendongakkan kepalanya dengan mata yang dipenuhi air mata haru.
"Kami datang membawa tiga gerobak penuh kayu bakar, kain tenun, dan perhiasan sederhana sisa harta desa kami."
Karto menunjuk ke arah gerobak-gerobak kayu yang ditarik oleh warga Desa Karang di belakangnya.
"Untuk apa kalian membawa harta benda sebanyak itu ke mari?"
Kepala Desa yang baru saja tiba di lokasi kejadian ikut bertanya mewakili rasa penasaran warganya.
"Apa kalian ingin membeli hasil panen ubi jalar dari lembah kami?"
"Kami datang ke sini murni untuk menyerahkan seserahan rasa syukur yang tak terhingga."
Maman ikut bersuara dengan nada yang sangat bersemangat.
"Kami ingin berterima kasih kepada malaikat kecil penyelamat Desa Karang, Natasya."
Mendengar nama Natasya disebut, seluruh mata warga langsung tertuju pada gadis kecil yang masih duduk di teras itu.
Arga seketika menegang dan menatap tajam ke arah kedua pria utusan tersebut.
"Sudah kubilang anakku tidak tahu apa-apa soal air, dia tidak pernah keluar dari desa ini."
"Jangan mencoba menutupi kebaikan putrimu lagi, Arga."
Karto berdiri perlahan dan memberikan sebuah senyuman penuh rasa hormat.
"Tiga hari yang lalu, tepat di hari kalian menolak permintaan kami, sebuah keajaiban terjadi di desa kami."
Karto lalu mulai menceritakan secara detail kejadian menyemburnya air bawah tanah dari dasar sungai kering di desanya.
Ia menceritakan bagaimana air itu menyelamatkan nyawa puluhan anak dan bayi yang hampir mati kehausan.
Warga desa yang mendengarkan cerita haru itu ikut menitikkan air mata karena mereka tahu persis rasanya kelaparan dan kehausan.
"Itu memang mukjizat dari Tuhan, tapi apa buktinya anakku yang melakukannya?"
Arga masih berusaha keras melindungi rahasia putrinya dengan memberikan bantahan logis.
"Bisa saja ada gempa bumi kecil yang menggeser batu sumbatan air itu tanpa sengaja."
"Itulah yang awalnya kami pikirkan, Arga."
Maman tersenyum penuh arti sambil merogoh saku celana kainnya.
"Tapi saat kami membersihkan area sekitar sumber air itu, kami menemukan hal ini tertinggal di atas lumpur basah."
Maman mengeluarkan sebuah benda kecil yang terbuat dari rajutan benang wol usang.
Itu adalah jepit rambut berbentuk bunga mawar merah yang selalu dipakai oleh Natasya.
"Jepit rambut ini terjatuh tepat di sebelah cetakan jejak kaki berukuran sangat kecil milik anak perempuan."