Zemima dan Arsyad sudah menikah selama dua tahun. Selama itu pula pernikahan mereka baik-baik saja. Apalagi Arsyad juga selalu bersikap baik dan lembut sebagai suami.
Selama itu pula mereka belum di karuniai anak, dan Arsyad tak mempermasalahkan hal itu. Tapi berbeda dengan sang ibu yang menginginkan cucu dengan alasan Arsyad sudah mapan dan memiliki pekerjaan bagus. dia sudah harus punya keturunan.
Namun beberapa bulan terakhir, suaminya sering sekali ke rumah ibunya tanpa mengajak Zemima. Namun suatu hari, saat Arsyad tengah malam pergi diam-diam, Zemima mengikutinya. ternyata Arsyad pulang ke rumah ibunya dan di sambut wanita hamil.
Apa Zemima akan menghancurkan keluarga Arsyad yang sudah membohonginya? padahal pekerjaan bagus yang di dapat Arsyad tak lepas dari bantuan Zemima. Mereka tidak tahu kalau Zemima adalah pewaris tunggal perusahaan besar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Zemima 30
Tepat pukul 12.30 siang, sebuah mobil sedan hitam milik Arsyad berhenti canggung di pelataran parkir tamu Altamas Tower. Pria itu turun dari mobil dengan langkah kaku. Matanya tak berhenti menatap megahnya dinding kaca pencakar langit di hadapannya.
Arsyad merapikan kemeja dan jas kerjanya, menelan ludah dengan susah payah. Sebagai Manajer di kantor cabang, bertandang ke gedung induk selalu mendatangkan getaran intimidasi tersendiri. Namun kenyataan bahwa istrinya, wanita yang selama ini ia anggap staf biasa berpenghasilan kecil, bekerja di dalam gedung megah ini membuat dadanya sesak oleh rasa tidak percaya.
Saat Arsyad melangkah masuk melewati pintu kaca otomatis lobi utama, dua orang petugas security bertubuh tegap dan berseragam rapi langsung menyambutnya.
"Selamat siang, Pak. Ada yang bisa dibantu?" tegur salah satu petugas dengan sopan namun tegas.
Arsyad berdeham, berusaha membusungkan dada untuk menutupi rasa mindernya.
"Selamat siang, Mas. Saya... saya mau jemput istri saya. Namanya Zemima. Dia bilang dia kerja di sini."
Kedua petugas itu saling berpandangan sejenak. Tanpa bertanya lebih lanjut atau meminta tanda pengenal Arsyad, salah satu dari mereka langsung menunduk hormat dengan sangat penuh kesopanan.
"Oh, Pak Arsyad? Baik, Pak. Ibu Zemima sudah mengonfirmasi keberadaan Anda. Beliau sedang turun dengan lift direksi dan meminta Anda menunggu sebentar di sofa lobi."
Deg!
Jantung Arsyad serasa berhenti berdetak seketika. Muka pria itu mendadak pucat. Tunggu... lift direksi?! Dan security gedung pusat langsung kenal nama saya?!
Sebelum rasa bingung Arsyad sempat terurai, pintu lift khusus berdenting lembut. Zemima melangkah keluar dengan keanggunan mutlak. Kemeja sutra dipadu blazer merah marun membungkus tubuhnya, sepatu hak tingginya berdentang mantap di atas lantai granit. Aura dominasi memancar kuat dari sosoknya, membuat beberapa staf pusat yang melintas di lobi tampak membungkuk hormat padanya.
Arsyad terpaku. Mulutnya sedikit ternganga menatap sang istri yang tampak begitu asing, begitu berkuasa dan memesona, jauh dari bayangan istri dasteran yang selalu menunggunya di rumah.
"Mas," sapa Zemima datar, menghentikan langkah tepat di hadapan Arsyad.
"Ayo berangkat ke kafe. Mobilmu di luar, kan?"
"Dek..." Arsyad terbata-bata, matanya menyapu sekeliling lobi lalu kembali menatap Zemima dengan tatapan liar.
"Kamu... kok security di sini kenal nama Mas? Terus tadi kamu keluar dari lift... lift direksi?! Kamu sebenarnya staf posisi apa di Altamas Pusat, Dek?!"
Zemima menyunggingkan senyum tipis yang amat misterius. "Bukannya kamu mengajakku makan siang untuk menjelaskan masalah Dina dan rencana masa depan kita, Mas? Soal pekerjaanku, tak perlu dibahas sekarang. Ayo."
Zemima melangkah lebih dulu menuju pintu keluar tanpa menunggu jawaban. Arsyad yang masih didera rasa syok dan seribu pertanyaan akhirnya mengekor kaku di belakang istrinya.
Beberapa menit kemudian, mereka sudah duduk di sebuah meja sudut yang privat di Kopi Sapa Cafe. Suasana kafe yang tenang dipadu aroma biji kopi sangrai tak mampu mencairkan ketegangan yang menyelimuti meja mereka.
Arsyad menatap Zemima intens, tangannya yang terikat jam tangan mahal hasil 'potongan anggaran' tampak sedikit gemetar di atas meja kayu.
"Dek, tolong... kamu jangan dingin begini sama Mas,"
Arsyad membuka suara, berusaha memasang raut wajah paling memelas dan penuh penyesalan. Ia memajukan tubuhnya, berniat meraih tangan Zemima, namun wanita itu dengan halus menarik tangannya untuk membetulkan letak cangkir minumannya.
"Jelaskan apa yang mau kamu jelaskan, Mas," ujar Zemima tenang, menyandarkan punggungnya di sandaran kursi.
"Waktuku tidak banyak."
Arsyad menarik napas panjang, merangkai narasi kebohongan yang sudah ia susun rapi sejak di dalam mobil.
"Mas mau meluruskan masalah Dina, Dek. Demi Allah, kamu salah paham!" ujar Arsyad dengan nada sangat meyakinkan, memotong pandangan dengan tatapan mata yang dipaksa jujur.
"Dina itu beneran cuma sepupu jauh Mas! Suaminya pergi kerja ke luar pulau beberapa bulan lalu. Dia nggak punya siapa-siapa lagi di sini, kasihan! Dalam kondisi hamil tua dan telantar, Ibu yang minta Mas buat bantu dia sementara waktu di rumah Ibu. Mas cuma bantu tempat tinggalnya karena rasa kemanusiaan sebagai keluarga! Sedangkan biaya dia di kirim dari suaminya, Dek... Maaf karena Mas belum sempat cerita sama kamu... Sampai akhirnya kamu salah paham sama Mas dan juga keluarga Mas..."
Zemima mendengarkan rentetan kebohongan itu dengan wajah polos yang dibuat-buat, meski di dalam hatinya ia tertawa muak.
"Oh, begitu?" sahut Zemima lembut, memiringkan kepalanya sedikit.
"Jadi kamu cuma berhati mulia menolong sepupumu yang ditinggal berkerja suaminya? Sungguh pria dan suami yang sangat dermawan, ya. Tapi nanti suaminya nggak akan tiba-tiba mati dan Mas akan menjadi suami untuk Dina dan ayah untuk anak dalam kandungannya, kan?."
"Dek! Kok kamu ngomong begitu sih? Mas nggak ada hubungan gelap apa-apa sama Dina! Mana mungkin Mas bisa melakukan hal seperti itu sedangkan Mas memiliki istri yang luar biasa... Kamu adalah segalanya untuk Mas, sayang... Kamu tahu sendiri kalau Mas sangat mencintai kamu..."
Arsyad tersenyum manis, mencoba memainkan peran sebagai suami idaman.
"Soal anak... Mas beneran janji, Dek. Setelah proyek besar Surabaya ini diresmikan bulan depan dan Mas resmi diangkat jadi Pimpinan Cabang Altamas... kita langsung program hamil. Mas akan bawa kamu jalan-jalan ke luar negeri. Kita buka lembaran baru, ya? Tapi..." Arsyad menatap Zemima penuh selidik,
"Kamu harus jujur sama Mas. Kenapa kamu bisa ada di Altamas Pusat tadi? Siapa kamu sebenarnya di sana?"
Zemima menatap Arsyad tepat di manik matanya. Pendar matanya kian gelap, dingin, dan menusuk, namun senyum manis tetap terpatri di bibirnya. Kartu as-nya masih tertutup rapat, menunggu waktu yang paling hancur untuk dibongkar.
"Pria sebaik, sejujur, dan semulia kamu, Mas Arsyad... sangat pantas mendapatkan kejutan paling indah di hari pelantikan Pimpinan Cabang nanti," bisik Zemima sehalus sutra, nada suaranya mengayun santai seraya meraih tas mewahnya dan berdiri.
Arsyad mengernyit bingung.
"Maksud kamu apa, Dek?"
"Simpan rasa penasaranmu sampai hari pelantikan itu tiba, Mas. Nanti hari senin adalah pengumumannya kan, Mas?," tutur Zemima seraya menyunggingkan senyum paling anggun namun mematikan.
"Soal anak, sepertinya aku saat ini belum menginginkannya... Kamu bisa santai dan fokus dengan pekerjaan kamu. Oh iya, aku malam ini setelah ada makan malam dengan salah satu klien perusahaan akan pergi ke luar kota. Dan akan pulang senin pagi saat pengumuman nama-nama yang naik jabatan di Perusahaan Altamas..."