NovelToon NovelToon
My Cold Guardian Husband

My Cold Guardian Husband

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Dosen / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: EsKobok

Liana hamil anak pria lain, tapi Morgan—suami kontrak yang selalu ia maki—justru yang menggagalkan aborsinya dan mengaku sebagai ayahnya. 'Hiduplah untuk anak itu,' ucap Morgan dingin, meski hatinya hancur melihat istrinya merindukan pria yang telah membuangnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Titik Nadir

Udara malam di sekitar area parkir belakang apartemen terasa lembap dan menyesakkan. Morgan masih berada di lobi, tampak serius berbicara dengan kepala keamanan melalui telepon, memastikan bahwa setiap sudut gedung dipantau ketat. Namun, Liana, yang hatinya masih dirundung kegelisahan dan rasa tidak percaya pada kenyataan tentang Derby, justru melangkah keluar melalui pintu servis yang tersembunyi.

Ia melihat siluet pria itu di bawah bayang-bayang pohon palm besar. Derby berdiri di sana, menyeka noda jus jeruk yang mengering di dagunya dengan lengan jaketnya.

"Liana, akhirnya kau keluar juga," Derby melangkah maju, suaranya parau dan terdengar memelas. Ia mencoba memasang wajah yang paling menyedihkan yang ia miliki. "Dengar, soal uang itu ... aku hanya butuh modal sedikit lagi. Malam ini ada race besar di klub biasa. Ikutlah denganku, temani aku. Jika aku menang, aku akan kembalikan semuanya dan kita bisa lari dari profesor tua itu."

Liana menatap Derby, namun kali ini ia tidak melihat pahlawan jalanan atau kekasih yang penuh gairah. Ia hanya melihat seorang pecundang yang manipulatif. Liana menyilangkan tangannya di dada, matanya berkilat di bawah lampu jalan yang remang.

"Tidak akan ada lagi malam di klub, Derby. Tidak akan ada lagi uang dari rekeningku," ucap Liana, suaranya sangat tenang namun tajam. "Aku sudah melihat semuanya. Kebohonganmu tentang ibumu, judi-judimu ... semuanya. Kita berakhir, Derby. Jangan pernah temui aku lagi."

"Liana, kau tidak bisa melakukan ini!" Derby mencoba meraih pergelangan tangan Liana, namun gadis itu menghindar dengan cepat. "Kau mencintaiku! Kita sudah melakukan segalanya bersama! Kau tidak mungkin betah tinggal dengan robot kaku seperti dia!"

"Aku lebih baik tinggal dengan robot daripada dengan seekor benalu sepertimu!" bentak Liana.

Tiba-tiba, sebuah tangan kokoh merengkuh bahu Liana dari belakang dan menariknya mundur. Morgan berdiri di sana, matanya memancarkan amarah yang dingin karena Liana telah melanggar perintahnya untuk tetap di dalam. Morgan menempatkan tubuhnya di depan Liana, wajahnya mengeras seperti pahatan batu.

"Sudah saya katakan, Saudara Derby, kehadiran Anda tidak diinginkan di sini," ucap Morgan, suaranya rendah namun mengandung ancaman yang nyata. "Liana, masuk ke dalam sekarang."

Liana sempat ragu, namun ia melihat Morgan tidak lagi memberikan pilihan. Saat Morgan mulai menggiring Liana menuju pintu masuk, Derby yang merasa kehilangan segalanya—sumber uangnya dan harga dirinya—meledak dalam kegilaan.

"Oh, jadi sekarang kau sudah benar-benar menjadi anjing penurutnya, hah?!" Derby berteriak, suaranya melengking di tengah kesunyian malam. Ia tertawa dengan nada yang sangat menghina, menunjuk Liana dengan telunjuknya yang kotor.

"Dasar pelacur sampah!" umpat Derby. "Kau sudah tidak memiliki kesucian lagi, masih sok jual mahal padaku? Kau lupa siapa yang pertama kali menyentuhmu? Dan sekarang apa? Kau malah memberikan dirimu sendiri untuk pria tua itu? Apa kau dibayar untuk satu malam melayaninya dengan alasan tugas tambahan?!"

Langkah Morgan seketika terhenti.

Waktu seolah melambat. Liana membeku, wajahnya memucat mendengar penghinaan vulgar itu keluar dari mulut pria yang pernah ia bela mati-matian. Ia bisa merasakan bahu Morgan yang bersentuhan dengannya mendadak bergetar hebat.

Morgan perlahan memutar tubuhnya. Ia melepaskan kacamata bacanya dengan tangan yang sangat stabil, melipatnya, dan memasukkannya ke dalam saku kemeja. Gerakannya sangat presisi, namun aura yang terpancar dari tubuhnya kini bukan lagi aura seorang akademisi, melainkan seorang predator yang telah disinggung kehormatan tertingginya.

"Apa kau bilang?" tanya Morgan, suaranya sangat lirih, hampir berupa bisikan yang mengerikan.

"Kenapa? Tersinggung?!" Derby justru semakin menantang, merasa telah menemukan titik lemah Morgan. "Dia sudah bukan barang baru lagi, Profesor! Aku sudah mencicipi segalanya dari dia. Berapa kau membayarnya agar dia mau tidur di kamarmu? Apa nilainya diganti dengan nilai A mutlak?"

BUUKK!

Sebelum Derby bisa menyelesaikan kalimat penghinaannya, kepalan tangan kanan Morgan menghantam rahang Derby dengan kekuatan yang luar biasa. Derby tersungkur ke belakang, menabrak bak sampah logam yang berdentang keras.

Liana menjerit, menutupi mulutnya dengan kedua tangan. "Morgan! Hentikan!"

Namun Morgan tidak mendengarkan. Seluruh pengekangan diri yang ia bangun selama bertahun-tahun, seluruh logika ekonominya, dan janji-janji kesabarannya runtuh seketika saat harga diri istrinya dilecehkan. Morgan menerjang maju, ia menarik kerah jaket Derby dan memberikan satu lagi pukulan telak ke arah perut pria itu.

Derby, yang memang terbiasa dengan perkelahian jalanan, mulai membalas. Ia melayangkan pukulan liar yang mengenai pelipis Morgan hingga kacamata di saku kemeja Morgan terlempar jatuh. Mereka berguling di aspal yang kasar, saling melancarkan pukulan tanpa mempedulikan rasa sakit.

Morgan, yang selama ini dikenal sangat menjaga kerapian, kini tidak peduli lagi. Kemeja putihnya robek di bagian bahu, dan noda darah mulai menghiasi kerahnya. Ia berhasil mengunci posisi di atas Derby, mendaratkan pukulan bertubi-tubi ke arah wajah pria yang telah menghina Liana.

"Ucapkan itu sekali lagi ..." geram Morgan di sela napasnya yang memburu. "Ucapkan sekali lagi penghinaan itu pada istriku, maka aku pastikan kau tidak akan pernah bisa bicara lagi selamanya!"

Derby terkejut mendengar Morgan menyebut Liana sebagai istrinya. Ia mencoba menendang kaki Morgan, napasnya tersengal karena rasa sakit. "Dia ... dia memang pelacur ...."

Morgan kembali mengangkat tangannya, matanya gelap oleh amarah murni yang membutakan. Ia seolah ingin menghancurkan setiap jengkal wajah Derby.

"Kau dengar baik-baik, sialan! Kekasihmu itu adalah istriku! Aku tidak terima kau berkata seperti itu pada istriku!" teriak Morgan yang masih tetap melanjutkan untuk memukuli Derby.

Liana berlari menghampiri, mencoba menarik lengan Morgan. "Morgan! Cukup! Kau bisa membunuhnya! Morgan, tolong lihat aku!" teriak Liana sambil menangis.

Suara Liana seolah menembus kabut amarah di kepala Morgan. Pria itu terhenti dengan tangan yang masih mengepal tinggi di udara. Darah menetes dari buku jari Morgan yang terluka, jatuh ke atas wajah Derby yang sudah babak belur.

Pada saat yang sama, tiga orang petugas keamanan apartemen berlari menghampiri mereka. Dua orang menarik Morgan menjauh, sementara satu orang lagi menahan Derby yang sudah hampir tidak berdaya di lantai.

"Pak Morgan! Tenang, Pak! Kami sudah memanggil polisi!" teriak kepala keamanan.

Morgan berdiri dengan napas yang terengah-engah. Ia menyisir rambutnya yang berantakan dengan jari-jarinya yang berdarah, mencoba mengatur detak jantungnya yang seolah ingin melompat keluar dari dada. Ia menatap Derby dengan tatapan yang sangat dingin dan penuh kebencian.

"Bawa dia pergi," ucap Morgan, suaranya kini kembali datar namun bergetar. "Jangan biarkan dia bicara satu kata pun lagi, atau aku sendiri yang akan menjahit mulutnya."

Petugas keamanan menyeret Derby yang masih mencoba mengumpat dengan suara lemah. Suasana kembali hening, hanya menyisakan suara isak tangis Liana.

Liana mendekati Morgan dengan ragu. Ia melihat pria yang biasanya begitu sempurna kini tampak kacau—luka di pelipis, kemeja yang kotor, dan tangan yang berlumuran darah. Liana merasa hatinya hancur melihat Morgan hancur demi membelanya.

"Morgan ... maafkan aku ... ini semua salahku ...." Liana meraih tangan Morgan yang terluka.

Morgan menatap Liana. Ia tidak menarik tangannya; ia justru menggunakan tangannya yang satu lagi untuk mengusap air mata di pipi Liana, meskipun jemarinya meninggalkan noda darah di sana.

"Jangan pernah mendengarkan kata-katanya, Liana," bisik Morgan, suaranya kini melunak, penuh dengan perlindungan yang jujur. "Bagiku, kau adalah segalanya yang berharga di rumah ini. Dan tidak akan ada orang rendahan yang boleh menyebut namamu dengan cara seperti itu."

Liana memeluk Morgan dengan erat, membenamkan wajahnya di dada pria itu. Untuk pertama kalinya, ia tidak peduli pada kontrak, tidak peduli pada Liam, dan tidak peduli pada aturan. Ia menyadari bahwa di balik baku hantam yang brutal tadi, ada seorang pria yang benar-benar mencintainya lebih dari martabatnya sendiri.

Morgan membalas pelukan Liana, mengabaikan rasa sakit di sekujur tubuhnya. Ia mencium puncak kepala Liana, sebuah tindakan impulsif yang melanggar kontrak 'larangan aktivitas intim', namun ia tidak peduli. Malam ini, Dewa Ekonomi itu baru saja menyadari bahwa ada hal-hal di dunia ini yang tidak bisa dihitung dengan angka, dan salah satunya adalah rasa ingin melindungi wanita di pelukannya ini.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!