Rachel hanya ingin menyelamatkan nyawa adiknya.
Namun bantuan dari ayah tirinya itu justru berubah menjadi mimpi buruk ketika ia dijual pada Tom—seorang pria kaya, kejam, dan terobsesi memilikinya. Terperangkap dalam sangkar emas yang menyesakkan, Rachel akhirnya memilih kabur dan mempertaruhkan segalanya demi kebebasan.
Di saat itulah ia bertemu Liam Smith. Pria misterius yang tampak dingin dan tak tersentuh. Bagi Rachel, Liam hanyalah seorang penyelamat. Tapi ia tidak tahu satu hal, bahwa Liam adalah bos mafia dan dirinya adalah seseorang yang pernah menyelamatkan hidupnya yang tak pernah bisa Liam lupakan.
Namun, ketika Rachel akhirnya mengetahui siapa Liam sebenarnya, ia dihadapkan pada dua pilihan. Akankah ia mampu bertahan dengan pria yang bisa melindunginya dari seluruh dunia? Atau akankah ia justru memilih meninggalkannya sebelum dunia Liam menghancurkan hidupnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yellow Sunshine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tentang Pilihan
Siang itu, demam Anna naik dengan cepat, seperti sesuatu yang sudah lama tertahan dan akhirnya muncul juga. Tubuh kecilnya yang kurus menggigil meskipun sudah ditutupi dua lapis selimut yang cukup hangat. Ia kehilangan kesadaran dan hanya mampu menyebut lirih nama Rachel.
"Anna, aku di sini.", balas Rachel pelan, sembari menyentuh dahi Anna untuk memeriksa suhu tubuhnya.
"Ya Tuhan! Demamnya tinggi sekali." , Rachel sontak menarik tangannya, disusul jantungnya yang berdebar keras, saat mengetahui betapa tinggi suhu tubuh Anna saat ini.
"Anna! Bertahanlah, Sayang!", pekiknya, berharap Anna akan mendapatkan kembali kesadarannya. Namun, nyatanya tidak ada jawaban. Hanya suara napas berat Anna yang terdengar memenuhi ruangan itu.
Rachel tidak ingin menunggu lebih lama. Ia langsung menggendong tubuh kecil itu, lalu setengah berlari keluar rumah tanpa sempat mengunci pintu dengan benar. Ia langsung memberhentikan taksi dan membawa Anna menuju klinik terdekat, tanpa memikirkan tentang biaya sedikitpun. Pikirnya, Anna harus segera ditangani sekarang—dan soal biaya, ia akan mengusahakannya dengan cara apapun nantinya.
Sesampainya di klinik, bau antiseptik yang menusuk hidung menyambut kedatangan mereka. Lampu-lampu putih yang menghiasi atap tampak terlalu terang, mengiringi langkahnya menuju meja resepsionis. Setelah menyelesaikan proses administrasi, Rachel membawa Anna menuju ruang tunggu. Anna meringkuk di kursi panjang tepat di sebelah Rachel, kepalanya bersandar di bahu Rachel dengan kondisi yang begitu lemah. Tidak lama setelah itu, seorang perawat memanggil nama Anna, dan Rachel pun langsung bangkit dan membawa Anna masuk ke dalam ruang pemeriksaan di depannya.
Di dalam sana, seorang dokter memeriksa Anna dengan wajah serius yang tidak berusaha disamarkan. Termometer, senter kecil, dan stetoskop. Semua peralatan dikeluarkan satu demi satu untuk memastikan kondisi Anna. Sementara itu, Rachel berdiri di samping ranjang pemeriksaan dengan ekspresi tegang dan tangan mengepal.
“Suhu tubuhnya sangat tinggi,” kata dokter itu akhirnya. “Sudah berapa lama demamnya?”
“Sejak semalam, dok.” jawab Rachel cepat. “Tadi pagi demamnya sempat turun, lalu naik lagi.”
Dokter mengangguk pelan. “Hmm, kondisinya tidak bisa dianggap ringan, Miss Lane. Ada indikasi infeksi yang harus segera ditangani. Jadi saya sarankan untuk melakukan pemeriksaan lanjutan.”
Rachel menelan ludah. “Berapa… biayanya, dok?”
Dokter itu tidak menyebutkan kisaran angka dengan pasti. Sebab, kondisi Anna memerlukan pemeriksaan lebih lanjut—dan tindakan medis yang akan ia dapatkan nantinya tergantung hasil pemeriksaan medis tersebut. Namun, dokter menjelaskan bahwa kemungkinan terburuknya, Anna harus menjalani transplantasi sel punca. Dan Rachel jelas tahu bahwa angka itu bukan sesuatu yang bisa Rachel raih hanya dengan lembur atau menambah shift kerja.
“Kami hanya bisa bantu untuk memberi rujukan,” lanjut dokter itu. “Tapi tindakannya tidak bisa ditunda terlalu lama. Adik Anda harus segera ditangani di rumah sakit yang memiliki fasilitas yang lebih memadai.”
Rachel mengangguk, meski kepalanya terasa kosong. Ia menandatangani beberapa berkas administrasi, menerima resep dan obat untuk tindakan sementara, dan membayar tagihan berobat yang untungnya masih mampu ia penuhi dengan sisa uang yang ia miliki.
Saat mereka keluar dari klinik, langit siang sudah berganti senja dengan warna jingga kebiruannya yang menawan. Rachel berdiri sejenak di trotoar, dengan Anna yang tertidur di pelukannya—tubuhnya tampak begitu lemas. Ia memandangi lalu lintas yang berjalan seperti biasa, juga orang-orang yang berlalu lalang di sekitarnya. Rachel sadar bahwa dunia tidak akan berhenti hanya karena hidupnya sedang runtuh.
Sesampainya di rumah, Rachel memastikan Anna makan dan meminum obatnya. Setelah itu, ia membaringkan Anna di atas tempat tidurnya yang hangat, menyelimuti tubuh kurusnya, lalu menghubungi tempat kerjanya untuk meminta ijin tidak masuk kerja hari ini. Dengan kondisi Anna yang seperti ini, Rachel jelas tidak mungkin meninggalkannya sendirian di rumah.
Lalu malam itu, setelah Rachel memastikan Anna tertidur, ia langsung bergegas menuju kamarnya dan membuka lemari pakaiannya yang nyaris usang. Ia mengeluarkan sebuah amplop yang tersembunyi di balik tumpukan pakaian berisi uang yang selama ini berhasil ia sisihkan dan sembunyikam dari Sam—ia duduk di lantai dengan punggunh bersandar ke dinding dan mulai menghitung.
Gaji dari rumah makan, upah dari minimarket, dan sisa uang lembur yang sudah menipis. Lembar demi lembar uang itu ia hitung dan susun dengan rapi, seolah keteraturan bisa mengubah hasil akhirnya. Namun, nyatanya tetap saja, angka itu masih sangat jauh dari yang ia butuhkan untuk pengobatan Anna—bahkan tidak mencapai setengahnya.
Bahkan jika Rachel harus bekerja dua kali lebih keras, hasilnya akan tetap sama—angka itu masih terlampau jauh untuk dikejar. Sementara Anna tidak punya waktu lagi untuk menunggu lebih lama. Jadi, Rachel harus secepatnya mencari jalan keluar untuk mendapatkan uang dengan nominal yang besar.
Rachel menunduk, menutup wajah dengan kedua tangan. “Aku tidak punya banyak waktu,” gumamnya pelan. “Kemana aku harus mencari uang sebanyak itu?”
Lalu pintu rumah berderit pelan, membuat Rachel mengangkat kepala. Dengan gerakan cepat, ia mengembalikan amplop itu ke tempat semula, sebelum akhirnya Sam berdiri di ambang pintu kamarnya yang terbuka, dengan bau rokok dan alkohol tipis yang mengikutinya. Ia menatap Rachel, lalu melirik ke arah kamar Anna.
“Anak itu kenapa?” tanyanya, nadanya datar.
“Anna sakit. Badannya demam sejak semalam,” jawab Rachel singkat.
Sam pun lalu mendekat beberapa langkah. Dan untuk pertama kalinya, ia menunjukkan sedikit kepedulian—entah memang tulus atau hanya berpura-pura. "Seberapa parah?”
“Dokter bilang perlu pemeriksaan lanjutan. Dan Anna harus segera mendapatkan tindakan medis,” kata Rachel, tanpa menatap Sam. “Tapi, biayanya pasti besar.”
Sam mendengus pelan, lalu duduk di kursi kayu di dekat jendela kamar Rachel. Dahinya mengernyit dan alisnya bertaut, seolah sedang menggambar sesuatu di pikirannya. “Tentu saja, Rachel. Tidak ada yang murah di dunia ini,” balasnya.
“Tapi, aku mungkin bisa membantu,” lanjut Sam, membuat Rachel terdiam sejenak. “Kebetulan aku punya kenalan.”, lanjutnya.
Rachel menoleh tajam. “Kenalan?”
Sam mengangkat bahu. “Ya, namanya Tuan Tom Nicholson. Dia pria kaya raya dan sering membantu orang yang membutuhkan uang cepat, sepertimu.”, jelasnya dengan nada suara santai, bahkan nyaris ramah—terlalu mencurigakan mendengar perkataan sebaik itu dari mulut orang seperti Sam.
“Aku tahu apa maksudmu dengan bantuan itu, Sam. Aku tidak mau mengambil jalan kotor seperti itu. Jadi kurasa, aku tidak butuh bantuanmu,” kata Rachel dingin. Ia jelas paham rencana licik apa yang sedang bersembunyi di balik pikiran Sam.
Sam tertawa kecil. “Jangan keras kepala, Rachel. Bukankah untuk saat ini, yang paling penting adalah pengobatan adikmu?”
Rachel berdiri. “Itu memang benar, Sam. Tapi aku lebih baik mencari jalan keluar lain.”
Sam pun menatapnya beberapa detik, lalu tersenyum tipis. “Pikirkan saja dulu tawaranku.”, katanya, lalu beranjak pergi begitu saja—seolah tahu bahwa Rachel pada akhirnya akan mencarinya dan menerima tawaran itu.
Lalu, malam itu Anna kembali demam tinggi. Tubuhnya panas, napasnya terdengar pendek-pendek. Rachel duduk di samping kasurnya, mengompres kening Anna berulang kali—sembari mendengar jam dinding yang berdetak terlalu keras di telinganya.
Rumah malam itu terasa begitu sunyi, tapi bukan sunyi yang menenangkan. Setiap suara kecil terasa mengancam, membuat Rachel tidak bisa tidur. Ia hanya duduk tepat di samping Anna—menatap wajahnya, mendengarkan napasnya, dan mencoba menahan ketakutan yang perlahan berubah menjadi keputusasaan.
Hingga akhirnya, air mata pun jatuh begitu saja tanpa suara. Rachel menghapusnya dengan gerakan cepat, seolah menangis adalah sesuatu yang memalukan. Saat itu ia merasa gagal menjadi seorang kakak untuk Anna, karena ketidakmampuannya mengusahakan pengobatan untuknya. Lalu, tiba-tiba saja ia teringat akan tawaran Sam tadi. Tentang kenalannya yang bernama Tom Nicholson yang bisa membantunya untuk mendapatkan uang dengan cepat.
Rachel jelas tahu, bantuan yang akan ia terima nantinya bukanlah tanpa harga. Namun, ia tidak punya pilihan lain, selain mengorbankan harga dirinya. Apapun akan ia lakukan demi kesembuhan Anna, meskipun ia belum tahu seberapa mahal harga yang harus ia bayar.
Malam itu, waktu bukan lagi terasa seperti musuh bagi Rachel, ia terasa seperti sesuatu yang terus memaksanya untuk memilih dan mengambil keputusan. Hingga akhirnya, tanpa sadar pagi pun datang tanpa sempat memberi waktu baginya untuk beristirahat. Ia masih terjaga sejak semalam, bahkan saat cahaya pagi yang pucat menyelinap lewat celah jendela.
Rachel bangkit dari posisi duduknya, meninggalkan Anna yang masih terlelap dengan suhu tubuh yang sudah lebih rendah dari semalam. Ia melangkahkan kaki menuju dapur untuk mengambil segelas air, untuk mendinginkan kepalanya, sebelum akhirnya pintu depan rumah terbuka dengan suara yang terlalu jelas. Langkah kaki Sam masuk ke dalam rumah—terdengar tidak terburu-buru namun terasa mantap. Dan suara itu sontak membuat perutnya mengeras.
Sam berdiri tidak jauh dari dapur. Wajahnya datar, namun tampak sebuah kilatan yang penuh makna dari caranya menatap Rachel. Ia melirik ke arah kamar Anna, lalu kembali menghujani Rachel dengan tatapan yang sama.
“Kita perlu bicara,” katanya pelan, membuat Rachel tidak punya pilihan lain selain mengikutinya ke arah ruang tamu.
Udara pagi itu terasa dingin dan menusuk. Sam menyandarkan punggung ke sofa tua sembari menyilangkan tangan. Tidak ada basa-basi yang membuka obrolan pagi itu. Semua yang keluar dari mulutnya adalah fakta yang menampar Rachel begitu keras.
“Jadi bagaimana, Rachel? Sudah membuat keputusan?” tanyanya, langsung ke inti. “Biaya pemeriksaan lanjutan, obat, tindakan operasi dan lain-lain. Itu jelas bukan angka yang kecil.” Ia menyebutkan satu per satu kebutuhan medis itu dengan tenang, seolah sedang membaca daftar belanja.
Rachel terdiam. Ia sadar bahwa angka itu berdiri di antara mereka seperti dinding, yang mustahil untuk digapai. Bahkan jika ia menjual semua yang ia punya—waktu, tenaga atau barang-barang yang terisisa di rumah—tetap saja tidak akan cukup.
“Aku tidak punya uang sebanyak itu,” katanya akhirnya, suaranya nyaris tak terdengar.
Sam mengangguk, seolah sudah tahu jawabannya. “Makanya aku bilang, aku punya jalan keluar, Rachel.”
Nada Sam berubah lebih dingin dan lebih tegas. “Dengarkan aku! Kau temui saja Tuan Tom Nicholson! Dia pria yang baik, juga dermawan. Kupastikan dia mau membantu, asal kau juga kooperatif.”
“Koperatif?” Rachel mengulang, lambat.
Sam mendekat satu langkah. “Kau bukan anak kecil, Rachel. Kau pasti mengerti maksudku.”
Rachel pun mundur setengah langkah hingga punggungnya menyentuh lemari dapur. “Tidak, Sam. Aku bisa bekerja. Aku bisa cari pinjaman. Aku—”
“Waktu adikmu tidak banyak,” potong Sam, dengan suara yang rendah dan tajam. “Kalau kau mau adikmu tetap hidup, kau tahu harus bagaimana.”
Kata-kata itu jatuh begitu berat—tidak diucapkan dengan marah dan tidak juga seperti sebuah ancaman disampaikan secara terang-terangan. Rachel tahu, apa yang Sam katakan tentang Anna adalah sebuah fakta. Anna tidak punya banyak waktu, dan Rachel tidak punya banyak pilihan. Rachel tidak sanggup membalas ucapan Sam, sebab tidak ada yang bisa ia katakan lagi untuk saat ini.
Sam merogoh saku jaketnya, lalu meletakkan sebuah kartu di atas meja ruang tamu. Kartu itu tampak berwarna putih, bersih, dan terlalu rapi untuk sesuatu yang terasa kotor.
“Pikirkan cepat. Jangan buang-buang waktu lagi.” katanya, lalu pergi tanpa menoleh ke arah Rachel lagi.
Rachel masih terdiam, berdiri di dekat sofa sambil menatap kartu yang Sam tinggalkan di atas meja. Tangannya gemetar saat ia mengambil kartu itu. Perlahan ia membaca nama, nomor dan alamat yang tercetak rapi di sana—membuat rahangnya tiba-tiba mengeras karena memikirkan tawaran Sam sebagai sebuah jalan keluar untuk masalah ini.
Beberapa saat kemudian, Rachel kembali ke kamar Anna. Ia duduk di samping Anna yang masih tertidur lemah, dengan wajah pucat dan bulu mata yang bergetar halus.
Rachel menggenggam ponsel miliknya dengan satu tangan, sementara kartu itu berada di tangan yang lainnya. Dadanya terasa sempit, seperti tidak ada ruang untuk bernapas ketika memikirkan tentang tawaran Sam lagi. Ia memang belum menjawab tawaran itu. Namun jawaban itu kini sudah berdiri di hadapannya dengan begitu jelas dan tegas.
"Apa aku benar-benar tidak punya pilihan lain?", tanyanya lirih pada diri sendiri.