NovelToon NovelToon
Tahta Darah Sembilan Cakrawala

Tahta Darah Sembilan Cakrawala

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Balas Dendam / Mengubah Takdir / Kebangkitan pecundang
Popularitas:5.8k
Nilai: 5
Nama Author: Baldy

Di Benua Awan Gelap, yang kuat dihormati bagai dewa, dan yang lemah diinjak bagai semut. Shen Yuan, seorang pemuda dengan pembuluh nadi bawaan yang cacat, hidup dalam kehinaan di sudut kota terpencil. Namun, takdirnya berubah ketika kepingan darah dari masa purbakala menyatu dengan jantungnya, memberikannya warisan "Jalan Iblis Penelan Surga".

Dari seorang buangan, ia melangkah di atas lautan darah dan gunung tulang. Ia akan menantang keangkuhan para putra langit, menghancurkan sekte-sekte berusia ribuan tahun, dan menguak tabir kebohongan para dewa yang bertahta di Sembilan Cakrawala. Ini adalah kisah tentang fana yang menggugat takdir, selangkah demi selangkah menuju keabadian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baldy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kemegahan Bintang Jatuh

Tujuh hari tujuh malam telah berlalu sejak Shen Yuan meninggalkan reruntuhan Kota Debu Merah.

Perjalanan melintasi hutan belantara dan ngarai berbatu tidaklah mudah. Rajah kutukan berbentuk bintang bersudut enam di punggungnya sesekali berdenyut, mengirimkan hawa dingin yang menusuk tulang setiap kali ia menggunakan hawa murninya secara berlebihan. Batasan enam bulan yang dikatakan oleh Leluhur Darah bukanlah sebuah ancaman kosong; itu adalah pedang algojo yang digantung tepat di atas lehernya.

Di tengah sebuah hutan pinus merah yang lebat, suara auman binatang buas tiba-tiba terputus oleh suara retakan tulang.

Sesosok Macan Tutul Tanduk Besi—binatang buas setara dengan Ranah Penempaan Raga Lapisan Keenam—jatuh terkapar di atas tumpukan daun kering. Kepalanya telah hancur oleh satu pukulan dari kepalan tangan yang memancarkan kilau emas gelap.

Shen Yuan berdiri di samping bangkai macan tutul tersebut, wajahnya tersembunyi di balik tudung jubah abu-abu kusamnya. Napasnya stabil. Pertarungan melawan binatang buas tingkat menengah kini tidak lebih dari sekadar pemanasan baginya.

Alih-alih menyerap esensi darah binatang buas itu ke dalam tubuhnya, Shen Yuan mengulurkan tangan kanannya dan memutar Sutra Penelan Surga dengan kaidah yang berbeda.

Sebuah pusaran kecil seukuran cangkir teh terbentuk di telapak tangannya. Esensi darah dari macan tutul itu ditarik keluar, namun Shen Yuan tidak membiarkannya masuk ke dalam Nadi Iblisnya. Sebaliknya, ia menggunakan tekanan hawa murni iblis yang luar biasa brutal untuk menekan, memadatkan, dan memurnikan esensi darah tersebut di udara terbuka.

Asap kemerahan yang berbau amis perlahan menguap—itu adalah kotoran dan hawa liar dari binatang buas. Apa yang tersisa di telapak tangan Shen Yuan beberapa saat kemudian adalah tiga butir pil berwarna merah delima yang membulat sempurna, sebesar mata naga, dan memancarkan aroma obat yang sangat harum.

"Sangat cerdik," puji Leluhur Darah dari dalam jantungnya, nadanya dipenuhi dengan ketertarikan. "Meskipun esensi binatang buas tingkat rendah ini sudah tidak berguna untuk meningkatkan kultivasi di Lapisan Ketujuhmu, kau memadatkannya menjadi wujud fisik murni. Di zaman kuno, benda ini disebut 'Mutiara Darah'. Tanpa kotoran fana dan racun liar, benda ini jauh lebih berharga daripada pil penempa tulang buatan ahli peramu pil tingkat rendah mana pun."

Shen Yuan tersenyum tipis, menyimpan ketiga Mutiara Darah itu ke dalam botol giok kosong peninggalan Tetua Zheng. Selama tujuh hari perjalanannya, ia telah memburu puluhan binatang buas dan memadatkan sekitar dua puluh butir Mutiara Darah.

"Di kota sebesar Bintang Jatuh, emas fana mungkin tidak akan cukup untuk menembus pintu Balai Lelang atau membeli keterangan tentang ayahku," gumam Shen Yuan. "Mutiara Darah ini akan menjadi batu loncatanku."

Ia kembali melangkah, menembus rimbunnya hutan, hingga akhirnya pepohonan mulai menipis dan pemandangan di depannya terbuka lebar.

Langkah Shen Yuan terhenti. Di ujung cakrawala, di bawah langit yang cerah, berdiri sebuah kota raksasa yang ukurannya sepuluh kali lipat lebih besar dari Kota Debu Merah. Tembok kotanya menjulang setinggi dua puluh tombak, terbuat dari balok-balok batu hitam kelam yang memantulkan cahaya matahari dengan kemegahan yang menindas.

Di angkasa, samar-samar terlihat beberapa kereta mewah yang ditarik oleh Burung Bangau Berparuh Api, melesat membelah awan menuju pusat kota. Pemandangan pendekar sakti yang menunggangi siluman terbang adalah sesuatu yang hanya ada di dalam dongeng di kota kelahiran Shen Yuan.

"Inikah Kota Bintang Jatuh?" Shen Yuan menarik napas panjang. Udara di tempat ini jauh lebih kaya akan hawa murni alam dibandingkan dengan alam liar.

Ia berjalan membaur dengan lautan manusia yang mengantre di Gerbang Selatan kota. Terdapat karavan-karavan pedagang besar yang dijaga oleh para pendekar berwajah beringas, serta para pendekar muda berpakaian sutra mewah yang memancarkan aura arogansi.

Saat tiba gilirannya di gerbang, Shen Yuan menyadari sebuah fakta yang membuatnya tersenyum getir. Dua penjaga gerbang yang bertugas memeriksa identitas... memancarkan riak hawa murni di Ranah Penempaan Raga Lapisan Kedelapan!

Di Kota Debu Merah, Lapisan Kedelapan adalah kedudukan seorang Tetua Luar yang dihormati. Di sini, mereka hanyalah prajurit penjaga gerbang! Jurang perbedaan kekuatan antar wilayah di Benua Awan Gelap benar-benar mengerikan.

"Tujuan kedatangan?" tanya penjaga bertubuh besar itu dengan nada bosan, melirik sekilas ke arah jubah abu-abu kusam Shen Yuan.

"Menjual ramuan obat, Tuan," jawab Shen Yuan tenang, menyodorkan sepuluh keping emas sebagai pajak masuk kota, jumlah yang sangat mencekik bagi rakyat jelata.

Penjaga itu mengambil emas tersebut tanpa banyak bertanya, lalu melempar sebuah plakat kayu sederhana kepadanya. "Pergilah. Jangan membuat keributan di jalan utama, atau Pasukan Penjaga Kota akan mematahkan kakimu."

Shen Yuan melangkah masuk. Begitu melewati lorong gerbang setebal tembok raksasa, telinganya langsung disambut oleh hiruk-pikuk suara ribuan manusia, wangi dupa cendana dari berbagai paviliun mewah, dan aroma daging siluman panggang dari kedai-kedai di pinggir jalan.

Jalanan utama dilapisi oleh batu giok putih. Di sisi kiri dan kanan, bangunan-bangunan bertingkat tiga hingga lima berdiri megah. Namun, tatapan Shen Yuan langsung tertuju pada sebuah menara tinggi menjulang di tengah-tengah kota yang ujungnya berbentuk seperti bintang yang jatuh. Itulah Balai Lelang Bintang Jatuh, kubu terkuat di kota ini sekaligus tempat di mana rahasia kematian ayahnya mungkin terkubur.

Namun, Shen Yuan tahu ia tidak bisa langsung menerobos masuk ke sana. Balai lelang raksasa seperti itu pasti dilindungi oleh para monster yang kekuatannya jauh di atas Leluhur Tua Shen Wuji. Ia membutuhkan kedudukan atau kekayaan yang cukup besar untuk menjadi tamu yang disegani.

Shen Yuan menyusuri jalanan kawasan perdagangan hingga ia berhenti di depan sebuah bangunan megah bergaya pagoda dengan papan nama bertuliskan kaligrafi emas: Paviliun Seribu Ramuan.

Ini adalah salah satu tempat penukaran dan penjualan obat roh terkemuka yang sering digunakan oleh para pendekar pengelana.

Shen Yuan melangkah masuk. Bagian dalam paviliun dipenuhi oleh aroma ratusan jenis tanaman roh. Beberapa pelayan wanita berpakaian sutra hijau sibuk melayani para pelanggan. Seorang pelayan wanita mendekati Shen Yuan. Meskipun jubah Shen Yuan terlihat seperti pengemis, pelayan itu tetap mempertahankan senyum ramahnya.

"Selamat datang di Paviliun Seribu Ramuan. Apakah Tuan Muda mencari pil untuk pemulihan, penempaan tulang, atau terobosan ranah?" sapa pelayan itu dengan lembut.

"Aku datang bukan untuk membeli, melainkan untuk menjual sesuatu," Shen Yuan merendahkan suaranya, berusaha terdengar lebih dewasa dan misterius. "Aku ingin bertemu dengan penilai utama kalian."

Pelayan itu sedikit ragu. "Maaf, Tuan. Penilai utama kami, Master Yao, hanya menerima barang langka tingkat menengah ke atas. Jika Tuan hanya ingin menjual tanaman roh biasa, saya bisa mengarahkannya ke meja penerimaan di sisi kanan."

Shen Yuan tidak banyak berdebat. Ia mengeluarkan botol giok kecil dari balik jubahnya, mencabut penyumbat kayunya, dan membiarkan satu butir Mutiara Darah menggelinding ke telapak tangannya.

Seketika itu juga, aroma obat yang luar biasa kental dan murni meledak di udara, menutupi seluruh wangi dupa di dalam ruangan tersebut. Pancaran esensi darah yang sangat murni membuat beberapa pendekar di sekitar mereka menoleh dengan mata terbelalak.

"T-Tolong tunggu sebentar, Tuan! Saya akan segera memanggil Master Yao!" pelayan wanita itu menjadi pucat karena terkejut, langsung menyadari bahwa benda merah delima di tangan pemuda kusam ini bukanlah barang sembarangan.

Tidak sampai sepuluh tarikan napas kemudian, seorang pria tua kurus dengan jubah bersulam bangau putih turun dari lantai dua dengan langkah tergesa-gesa. Matanya yang tajam di balik lensa kristalnya langsung tertuju pada telapak tangan Shen Yuan.

"Anak muda, mari kita bicara di ruang tamu kehormatan," ucap Master Yao sambil memberikan isyarat hormat yang tidak biasa ia berikan kepada pelanggan berpakaian kumal.

Shen Yuan mengikuti pria tua itu ke sebuah ruangan tertutup di lantai dua. Master Yao duduk di seberang meja kayu cendana, menatap Mutiara Darah itu dengan lensa kristal khusus berlapis hawa murni.

Napas Master Yao mulai tersengal-sengal. Tangannya gemetar pelan.

"Kemurnian sempurna... tidak ada setitik pun racun pil atau kotoran liar di dalamnya!" seru Master Yao, suaranya dipenuhi oleh kekaguman dan ketidakpercayaan. "Bahkan Ahli Peramu Pil Tingkat Tiga di ibukota pun tidak mungkin memurnikan esensi darah Macan Tutul Tanduk Besi hingga sebersih ini! Anak muda, dari mana kau mendapatkan 'Pil Darah Murni' ini? Siapa guru peramu pilmu?"

"Dari mana aku mendapatkannya bukan urusan Paviliun ini," potong Shen Yuan dengan nada dingin, memainkan perannya sebagai murid dari ahli tersembunyi yang berwatak keras. "Pertanyaannya adalah, berapa banyak kalian berani membayarnya? Aku memiliki dua puluh butir."

Mendengar jumlah "dua puluh butir", Master Yao menarik napas tajam. Pil dengan kemurnian tanpa cacat ini adalah harta karun mutlak bagi para generasi muda kubu besar yang sedang menembus lapisan Penempaan Raga, karena pil ini menjamin fondasi tanpa cacat.

"Tiga ribu keping emas per butirnya! Atau jika kau lebih suka, sepuluh Batu Roh Tingkat Rendah untuk satu butir!" tawar Master Yao dengan cepat, takut kehilangan kesepakatan itu.

Namun, sebelum Shen Yuan sempat menjawab atau mengambil Mutiara Darahnya, pintu ruang tamu kehormatan itu tiba-tiba ditendang terbuka dari luar dengan paksa.

Brak!

Suara kayu jati yang retak mengagetkan seisi ruangan.

Seorang pemuda berpakaian sutra putih bersih dengan kipas lipat di tangannya melangkah masuk dengan angkuh. Di belakangnya, dua pengawal bertubuh kekar memancarkan aura mematikan yang sangat menekan.

"Dua puluh butir Pil Darah Murni tanpa cacat? Kebetulan sekali, Tuan Muda ini sedang membutuhkannya untuk Ujian Sekte bulan depan," pemuda itu tersenyum congkak, mengibas-ngibaskan kipasnya dan melirik Shen Yuan dengan jijik. "Hei, pengemis. Aku akan memberimu seribu keping emas untuk semuanya. Tinggalkan pil itu di meja, lalu merangkaklah keluar dari pandanganku."

1
Bucek John
kiankun kepala keluarga Lin disio siokan, gak ditoleh, padahal harta sdh jelas byk sekali n harta klan lin gak diambil, sia sia harta menang prang..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!