NovelToon NovelToon
"CINTA DALAM KODE KESEMPATAN : KETIKA TAKDIR MENULIS ULANG KISAH KITA"

"CINTA DALAM KODE KESEMPATAN : KETIKA TAKDIR MENULIS ULANG KISAH KITA"

Status: tamat
Genre:Penyelamat / Romansa Fantasi / Dunia Masa Depan / Tamat
Popularitas:52
Nilai: 5
Nama Author: Gretha

Di Medan tahun 2026, Rania Putri pendiri startup yang membantu UMKM dengan teknologi data terpaksa bekerja sama dengan perusahaan besar dari Jakarta yang dipimpin oleh Reza Aditya, mantan kekasihnya yang menghilang tanpa kabar sepuluh tahun lalu.

Pada awalnya, mereka hanya fokus pada pengembangan aplikasi "UMKM Connect", namun menemukan kode aneh dalam sistem yang menyimpan jejak masa lalunya. Saat menyelidiki asal usul kode tersebut, mereka mengungkap rahasia mengejutkan, perpisahan mereka dulu adalah rencana jahat dari Doni Pratama, mantan sahabat Rania yang mengambil alih bisnis keluarga dia.

Di tengah penyelidikan yang penuh kejadian lucu dan tantangan bisnis, rasa cinta lama mereka kembali muncul. Setelah berhasil membongkar kejahatan Doni dan mendapatkan dukungan pemerintah, mereka tidak hanya menyelesaikan proyek aplikasi yang bermanfaat bagi jutaan UMKM, tapi juga menemukan kesempatan kedua untuk cinta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gretha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 25 : KEDEKATAN YANG DIANGGAP ANCAMAN

Matahari pagi menyinari lobi kantor UMKM Connect, di mana Doni Pratama baru saja menyelesaikan presentasi rinci tentang cara mempercepat pengembangan proyek dengan teknologi terkini. Rania duduk di barisan depan, wajahnya bersinar dengan antusiasme saat mendengar setiap detail yang disampaikan. Di sebelahnya, Reza mengamati dengan tatapan yang semakin canggung – setiap gerakan Doni yang mendekati Rania, setiap tawa yang mereka bagikan, membuatnya merasa sesuatu yang tidak nyaman tumbuh di dalam hatinya.

“Program yang Anda usulkan benar-benar luar biasa, Pak Doni,” ucap Rania dengan senyum hangat. “Dengan menggabungkan sistem lama dari Prima Teknologi dengan inovasi baru kita, kita bisa membantu ribuan usaha kecil lebih cepat berkembang!”

Doni tersenyum lebar dan menjangkau tangan untuk menepuk bahu Rania. “Kamu memang punya bakat luar biasa, Rania. Seperti ayahmu dulu – selalu berpikir tentang bagaimana bisa membantu orang lain lebih banyak.” Kedekatan fisik mereka membuat Reza menggenggam tangan kursinya lebih erat. Ia melihat bagaimana Doni terus menemukan alasan untuk berdiri dekat Rania, bagaimana matanya selalu tertuju pada dirinya setiap kali berbicara.

Setelah presentasi selesai, Doni mengajak Rania berjalan ke taman belakang kantor untuk membahas detail lebih lanjut tentang program perlindungan hak cipta yang akan mereka luncurkan. “Saya punya beberapa ide tentang bagaimana kita bisa mengembangkan sistem ini agar lebih mudah diakses oleh usaha kecil yang tidak terlalu paham teknologi,” ucap Doni sambil mengusap daun tanaman yang tumbuh di taman.

Reza mengikuti mereka dari kejauhan, melihat bagaimana Rania tertawa riang saat mendengar cerita Doni tentang pengalaman masa lalunya. Setiap tawa yang keluar dari bibir Rania membuatnya merasa seperti ada sesuatu yang sedang terlepas dari genggamannya. Ia mencoba fokus pada laptopnya, memeriksa data sistem yang baru saja diperbarui, tapi pikirannya terus melayang ke arah keduanya.

“Saya merasa seperti sudah mengenal keluarga kamu sejak lama, Rania,” ucap Doni sambil menunjukkan sebuah foto lama di ponselnya – foto ayah Rania muda berdiri bersama pendiri Prima Teknologi. “Ayahmu adalah salah satu orang pertama yang mempercayai visi kami untuk membantu usaha kecil berkembang.”

Rania tersenyum hangat melihat foto tersebut. “Ayah selalu bercerita tentang bagaimana kerja sama dengan Prima Teknologi membuat usaha keluarga kita bisa bertahan dan berkembang. Tapi dia jarang cerita tentang masalah yang hampir terjadi.”

“Kita memang pernah menghadapi masa-masa sulit,” ucap Doni dengan nada penuh makna. “Tapi seperti yang selalu saya katakan pada ayahmu – setiap kesulitan adalah kesempatan untuk tumbuh lebih kuat. Dan kamu sekarang membuktikannya dengan proyek ini.”

Reza melihat dari kejauhan bagaimana Doni menaruh tangannya di bahu Rania saat berbicara tentang masa depan proyek. Ia merasa cemas – bukan karena tidak mempercayai Rania, tapi karena melihat bagaimana Doni bisa dengan mudah menghubungkan diri dengan sejarah keluarga Rania, sesuatu yang belum bisa ia capai meskipun telah bersama Rania selama bertahun-tahun.

Pada siang hari itu, tim berkumpul di kantin untuk makan siang. Doni duduk tepat di sebelah Rania, berbagi cerita tentang bagaimana ia pertama kali bertemu ayah Rania di pasar tradisional Medan dua dekade yang lalu. “Ayahmu datang dengan membawa beberapa wadah makanan khas keluarga kamu,” cerita Doni dengan mata yang penuh kenangan. “Dia bilang itu adalah cara terbaik untuk berbagi kebahagiaan dengan orang lain.”

Rania tertawa riang. “Ya, itu adalah tradisi keluarga kita. Setiap kali ada makanan istimewa, kita selalu berbagi dengan tetangga atau teman yang sedang kesusahan.”

Reza duduk di sisi lain meja, melihat bagaimana Doni terus menjelaskan setiap detail sejarah dengan penuh semangat, sementara Rania mendengarkan dengan penuh kagum. Ia mencoba fokus pada makanan di depannya, tapi setiap tawa Rania yang disebabkan oleh cerita Doni membuatnya merasa seperti ada sesuatu yang hilang darinya.

Setelah makan siang, Doni mengajak Rania untuk melihat beberapa usaha kecil yang pernah mendapatkan bantuan dari Prima Teknologi di sekitar Medan. “Ada beberapa usaha yang masih menjalankan sistem yang kami kembangkan dulu,” ucap Doni sambil mengemudi mobilnya menuju sebuah warung makan kecil di pinggir jalan. “Warung ini dulu hampir gulung tikar karena tidak bisa bersaing dengan usaha besar, tapi dengan sistem yang kami berikan, mereka bisa menjangkau pelanggan lebih banyak lagi.”

Rania melihat dengan kagum bagaimana warung kecil tersebut kini memiliki sistem pemesanan online dan bisa mengirimkan makanan ke luar kota. Pemilik warung, Bu Yanti, langsung mengenali Rania sebagai cucu dari keluarga Hidayat yang dulu juga pernah membantu mereka. “Keluarga kamu selalu baik hati, mbak,” ucap Bu Yanti sambil menyajikan makanan khas mereka. “Ayahmu dulu pernah membantu kami mendapatkan bahan baku yang lebih baik.”

Saat mereka kembali ke kantor, Doni mengusulkan untuk mempercepat pengembangan sistem dengan menambahkan modul baru yang berdasarkan pengalaman Prima Teknologi masa lalu. “Kita bisa mengintegrasikan sistem lama dengan yang baru agar lebih banyak usaha kecil bisa mendapatkan manfaat,” ucap Doni dengan penuh semangat.

Rania dengan senang hati menerima usulannya. “Itu ide yang bagus, Pak Doni. Kita bisa membuat program pelatihan khusus untuk usaha kecil agar mereka bisa mengelola sistem tersebut dengan mandiri.”

Reza mengikuti percakapan mereka dari kejauhan, melihat bagaimana kedekatan antara Rania dan Doni semakin erat. Ia merasa seperti orang luar yang melihat dua orang yang begitu akrab berbagi sejarah dan visi yang sama. Ia mencoba fokus pada pekerjaannya – memeriksa sistem keamanan yang baru saja mereka perbarui – tapi pikirannya terus kembali pada kedekatan antara Rania dan Doni.

Pada malam hari, tim berkumpul di ruang kerja untuk membahas perkembangan proyek. Doni sedang menjelaskan rencana untuk memperluas jangkauan proyek ke seluruh Sumatera. “Kita bisa bekerja sama dengan pemerintah daerah untuk membantu usaha kecil di wilayah mereka,” ucap Doni dengan penuh semangat. “Saya sudah memiliki beberapa kontak di berbagai daerah yang bisa membantu kita dalam pengembangan.”

Rania mengangguk dengan antusias. “Itu akan membuat proyek kita semakin kuat, Pak Doni. Dengan dukungan dari berbagai pihak, kita bisa membantu lebih banyak usaha kecil untuk berkembang dan menjadi lebih mandiri.”

Reza duduk di sudut ruangan, mencoba fokus pada catatan yang ia tulis. Ia melihat bagaimana Rania dan Doni bekerja sama menyusun rencana detail program pelatihan, bagaimana mereka saling melengkapi dalam setiap ide yang muncul. Kedekatan mereka membuatnya merasa seperti ada sesuatu yang ia lewatkan – sesuatu yang membuat hubungan mereka begitu erat.

Setelah rapat selesai, Doni mengundang semua orang untuk makan malam bersama di rumah makan khas Medan yang pernah ia kunjungi bersama ayah Rania dulu. “Rumah makan itu masih ada dan masih menjalankan sistem yang kami kembangkan dulu,” ucap Doni dengan senyum hangat. “Kita bisa makan sana dan berbagi cerita lebih banyak lagi.”

Pada hari berikutnya, mereka semua pergi ke rumah makan tua tersebut. Kedatangan mereka disambut oleh pemilik rumah makan, Pak Sutiono, yang langsung mengenali Doni dari foto lama yang ia simpan. “Pak Doni! Sudah lama tidak bertemu!” ucap Pak Sutiono dengan penuh kegembiraan. “Kamu pernah membantu saya banyak dengan sistem pemasaran dulu.”

Mereka semua duduk bersama di meja makan yang sama tempat ayah Rania dulu sering duduk dengan Doni. Pak Sutiono menyajikan hidangan spesial – makanan khas keluarga Rania yang dulu hampir hilang karena rencana perusahaan yang tidak bertanggung jawab. “Ayahmu adalah orang yang sangat pemurah hati, Pak Doni,” ucap Pak Sutiono sambil memberikan makanan khas yang baru saja ia masak. “Dia bilang bahwa setiap kesalahan bisa menjadi pelajaran jika kita mau memperbaikinya.”

Rania melihat dengan kagum bagaimana makanan khas keluarga mereka yang dulu hampir hilang kini menjadi salah satu hidangan spesial di rumah makan tersebut. Doni mengambil hidangan tersebut dengan penuh rasa hormat. “Ini adalah bukti bahwa kerja sama yang berdasarkan kepercayaan akan selalu bertahan lama,” ucap Doni dengan penuh rasa syukur.

Reza melihat dari kejauhan bagaimana Rania dan Doni berbicara dengan penuh hangat tentang masa lalu dan masa depan. Ia merasa campur aduk – bahagia melihat Rania bahagia, tapi juga merasa ada sesuatu yang membuatnya merasa tidak nyaman dengan kedekatan mereka.

Setelah makan malam selesai, Doni mengajak Rania berjalan ke taman belakang rumah makan. “Kamu tahu tidak, Rania,” ucap Doni dengan suara pelan. “Ayahmu pernah bilang bahwa resep keluarga bukan hanya milik keluarga kamu, tapi juga milik semua orang yang menikmatinya. Itulah mengapa dia tidak pernah mau menjual hak cipta resep tersebut – karena dia tahu bahwa makanan itu ada untuk menyatukan orang, bukan untuk diperjualbelikan.”

Rania mengangguk dengan mata yang berkaca-kaca. “Ayah selalu bilang bahwa makanan adalah cara untuk menyampaikan cinta dan kehangatan. Itulah mengapa saya ingin proyek ini tidak hanya tentang teknologi, tapi juga tentang menghubungkan hati dan cerita.”

Doni menepuk bahu Rania dengan lembut. “Kamu sudah membawa proyek ini lebih jauh dari yang pernah kita bayangkan, Rania. Ayahmu pasti bangga padamu.”

Saat mereka kembali ke meja di mana tim lain sedang menunggu, Reza berdiri dan menghampiri mereka. “Sudah selesai berbicara?” tanya Reza dengan suara yang sedikit kaku. “Kita harus kembali ke kantor untuk memeriksa sistem yang baru saja kita perbarui.”

Rania menyadari bahwa Reza tampak berbeda dari biasanya. “Kamu tidak baik-baik saja, kan? Ada apa, Reza?”

Reza menghela napas dalam-dalam sebelum menjawab. “Aku hanya merasa bahwa kita sedang berjalan terlalu cepat dalam mengembangkan proyek ini. Kita baru saja menemukan sejarah yang dalam tentang keluarga kamu dan perusahaan yang dulu bekerja sama denganmu, tapi kita belum benar-benar memahami semua konsekuensinya.”

Rania melihat dengan perhatian pada wajah Reza yang tampak cemas. “Aku mengerti perasaanmu, Reza. Tapi seperti yang nenek bilang – masa lalu adalah pelajaran, bukan beban. Kita bisa membawa pelajaran itu untuk membuat masa depan yang lebih baik.”

“Ya, tapi bagaimana jika ada orang lain yang memiliki niat tidak baik seperti Pak Herman dulu?” ucap Reza dengan suara yang semakin tinggi. “Bagaimana jika mereka mencoba mengambil keuntungan dari usaha kecil yang kita bantu sekarang?”

Doni mendekat dan menepuk bahu Reza. “Kita semua pernah mengalami masa-masa sulit, tapi itu membuat kita lebih kuat dan lebih siap menghadapi tantangan baru. Dan dengan kamu berdua yang bekerja sama sekarang, aku yakin kita bisa membuat sesuatu yang lebih besar dari yang pernah kita bayangkan dulu.”

Reza melihat pada mata Rania yang penuh dengan keyakinan. Ia mengangguk perlahan, menyadari bahwa meskipun ada rasa tidak nyaman dengan kedekatan Rania dan Doni, namun tujuan mereka adalah sama – membantu usaha kecil berkembang dan melestarikan budaya serta kuliner lokal.

“Kita akan membuat proyek ini menjadi yang terbaik, bukan hanya untuk usaha keluarga kita, tapi untuk semua usaha kecil yang pernah mendapatkan bantuan atau bahkan hampir dirugikan,” ucap Reza dengan suara yang kembali tenang. “Kita akan menjaga agar sejarah yang baik tetap hidup dan kesalahan masa lalu tidak terulang lagi.”

Rania meraih tangan Reza dengan erat. “Kita akan melakukannya bersama, seperti yang selalu kita lakukan dari dulu hingga sekarang.”

Doni tersenyum melihat kedua orang muda tersebut. “Seperti yang ayahmu bilang dulu – kerja sama yang berdasarkan kepercayaan dan rasa hormat akan selalu bertahan lama dan membawa manfaat bagi banyak orang.”

Pada malam hari itu, mereka semua berkumpul kembali di rumah Rania. Nenek Aminah sedang menunggu mereka dengan hidangan spesial yang ia masak – makanan khas keluarga yang sudah dilindungi hak ciptanya. “Ini adalah bukti bahwa usaha keluarga kita tidak hanya bertahan karena keberuntungan, tapi karena kita selalu menjaga apa yang menjadi milik kita dengan baik,” ucap nenek Aminah dengan bangga.

Reza melihat pada wajah Rania yang bersinar bahagia. Ia menyadari bahwa kedekatan Rania dengan Doni adalah karena hubungan sejarah yang mendalam antara keluarga Rania dan Prima Teknologi, bukan karena sesuatu yang lain. Ia merasa lega karena melihat Rania bahagia dan tahu bahwa mereka akan selalu bekerja sama untuk tujuan yang sama – membantu usaha kecil berkembang dan melestarikan budaya serta kuliner lokal.

“Kita akan membuat proyek ini menjadi yang terbaik, bukan hanya untuk keluarga kita, tapi untuk semua usaha kecil di Indonesia,” ucap Reza dengan penuh semangat. “Bersama kita akan lebih kuat dan bisa mencapai lebih banyak hal dari yang pernah kita impikan.”

Semua orang tersenyum dan berjabat tangan satu sama lain. Mereka tahu bahwa meskipun ada masa-masa sulit di masa lalu, namun hal itu telah membuat mereka lebih kuat dan siap menghadapi masa depan yang penuh dengan harapan dan kemungkinan baru. Kedekatan yang dianggap ancaman ternyata adalah pelajaran berharga yang membawa mereka pada kesatuan yang lebih erat lagi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!