NovelToon NovelToon
Pendekar Racun Nirwana

Pendekar Racun Nirwana

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Mengubah Takdir / Reinkarnasi
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Sastra Aksara

Arka Wijaya pernah diburu seluruh pendekar di Benua Arcapura demi Permata Racun Nirwana. Terpojok di Tebing Langit Senja, ia menelan artefak itu dan melompat ke jurang kematian.

Semua orang mengira ia telah mati.

Namun Arka bangkit kembali—di tubuh seorang pemuda lumpuh dari Klan Wijaya, yang bahkan tak mampu mengolah tenaga batin.

Dihina, diremehkan, dan dianggap sampah oleh dunia pendekar, tak seorang pun menyadari bahwa jiwa di dalam tubuh rapuh itu adalah legenda yang pernah mengguncang Arcapura.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sastra Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33

Penampilan Arka yang setengah tertidur dan sangat letih itu bukanlah sandiwara. Namun jelas bukan pula akibat kelelahan yang tidak senonoh. Bagaimana mungkin ia masih bertenaga jika setiap hari terbangun pukul tiga dini hari untuk melakukan pengobatan jarum perak rutin, bekerja hingga setengah mati, lalu kembali dipaksa bangun sepagi ini? Adapun soal tangan mereka yang saling menggenggam, jelas itu bukan kehendak Ratna. Saat mereka berjalan, Arka tiba-tiba meraih tangannya di hadapan banyak pasang mata. Karena tak mungkin melepaskan diri dengan tidak sopan—dan juga karena beberapa hari terakhir ia sudah terbiasa digandeng—Ratna hanya bisa membiarkannya.

“Segala sesuatu di Keluarga Wijaya ini sempurna, kecuali keberadaan satu sampah yang tak perlu dan merusak pemandangan!”

Saat Arka melewati seorang pemuda, terdengar suara ejekan yang cukup keras untuk didengarnya. Arka sedikit mengangkat alis dan melihat cucu Tetua Kedua, Raka Wijaya, menyipitkan mata ke depan dengan tatapan dingin. Senyum mengejek tak tersamar terukir di sudut bibirnya, dan di wajahnya tampak iri hati yang berusaha keras ia sembunyikan.

Ucapan itu ditujukan pada orang di depannya, tetapi bahkan orang bodoh pun tahu bahwa ejekan itu diarahkan pada Arka. Seketika, tawa kecil bermunculan di sekeliling. Setiap murid muda memandang Arka dengan sorot mata penuh cemooh.

“Saudara Raka, apakah barusan kau berbicara denganku?” langkah Arka terhenti. Ia bertanya dengan senyum polos.

“Oh, Saudara Arka, kau salah paham. Aku jelas sedang berbicara dengan sampah barusan. Jika Saudara Arka bertanya demikian, apakah itu berarti kau menganggap dirimu sampah?” Raka Wijaya berbalik sambil tersenyum. Ketika pandangannya menyentuh wajah putih nan cantik Ratna Pradana, kilatan hasrat yang sulit disembunyikan melintas di matanya.

“Oh! Jadi begitu!” Arka mengangguk seolah baru memahami. Ia kemudian menarik tangan Ratna dan berkata, “Berarti bukan aku yang dia maksud. Ratna, istriku, ayo kita segera kembali ke posisi kita…. Hm hm, melihat seekor katak malang bermimpi memakan daging angsa, aku lebih memilih menjadi sampah yang setiap malam tidur sambil memeluk angsa. Bagaimana menurutmu, Ratna istriku?”

“Apa… yang kau katakan!!” Raka berbalik mendadak, wajahnya menghitam.

“Hah?” Arka berhenti dan menatapnya dengan heran. “Saudara Raka, ada apa? Aku hanya berbicara tentang katak, mengapa reaksimu aneh sekali? Jangan bilang kau punya hubungan khusus dengan katak yang kumaksud?”

“Kau…!!” bibir Raka bergetar hebat karena amarah, tetapi ia tak mampu menemukan kata-kata balasan.

“Ratna istriku, sebaiknya kita pergi cepat-cepat. Katak bisa menggigit saat terdesak. Kalau sampai kita digigit makhluk itu, bukankah akan menjijikkan setengah mati?” kata Arka sambil menarik Ratna menjauh.

Otot wajah Raka berkejang hebat, hampir saja ia memuntahkan darah.

“Arka, Ratna, kemarilah.”

Di tengah kerumunan, Arka segera melihat Nata Wijaya melambaikan tangan, dengan Lili berdiri di sampingnya. Ia dan Ratna pun segera mendekat.

Setelah Ratna menjalani perawatan jarum perak oleh Arka, bukan hanya fisiknya yang berubah, bahkan parasnya pun tampak berbeda. Kulitnya menjadi lebih halus, merona, dan bercahaya. Namun perubahan ini memiliki makna tersendiri di mata Nata Wijaya. Melihat Arka tampak benar-benar lesu, Nata menurunkan suaranya sambil terkekeh, “Arka, kau masih terlalu muda. Tubuhmu masih dalam masa pertumbuhan. Dalam urusan antara pria dan wanita, sebaiknya kau menahan diri semampumu. Jika berlebihan, itu bisa merugikan tubuhmu.”

“Ah?” Arka tertegun. Setelah sadar, ia hanya bisa mengangguk kikuk. “Ini… aku mengerti. Ke depan, aku pasti akan mengendalikan… mengendalikan… AH!”

Ia mengerang kesakitan. Tangan kecil yang ia genggam tiba-tiba mencubitnya dengan kejam menggunakan kuku. Ratna memalingkan wajahnya, tetapi samar-samar tampak rona merah perlahan menyebar di pipinya.

Dia… benar-benar tersipu?

Arka hendak menjelaskan dengan lirih, namun kembali meringis kesakitan—kali ini akibat cubitan keras dari tangan kecil Lili di lengan kirinya.

“Bibi kecil, mengapa kau mencubitku?” tanya Arka dengan wajah penuh keluhan.

“Hmph!” Lili mendengus, memalingkan wajahnya dan mengabaikannya dengan kesal.

“Tuan Muda dari Perguruan Wijaya pusat telah tiba!!”

Pada saat itu, sebuah teriakan lantang dan jelas menggema dari bagian depan. Kerumunan seketika hening, semua mata tertuju ke arah suara, ingin menyaksikan langsung keanggunan anggota Perguruan Wijaya pusat. Tak lama kemudian, seorang pemuda berpakaian mewah dengan sikap angkuh melangkah maju. Itulah Darma Wijaya. Tetua Mahesa berada tak lebih dari setengah langkah di belakangnya, sementara Jati Wijaya memimpin di depan secara pribadi. Ekspresi dan sikapnya penuh hormat, tanpa sedikit pun kelalaian.

Di bawah arahan Jati, Darma naik ke panggung dan duduk di kursi kehormatan di tengah. Ia menyapu pandangan ke seluruh anggota Keluarga Wijaya di bawahnya dengan tatapan congkak, layaknya seorang kaisar memandang rakyatnya. Sesaat kemudian, ia mengangguk pada Jati sebagai tanda untuk memulai.

“Jadi inikah tokoh besar dari perguruan pusat? Kalau tak membicarakan hal lain, penampilannya agak… tak sedap dipandang. Bukankah garis keturunan pusat seharusnya luar biasa… Eh? Jangan-jangan dia anak angkat?” gumam Arka pelan.

“Seratus orang seperti dia pun tak sebanding dengan Arka sayang!” sahut Lili. Begitu selesai berbicara, ia teringat bahwa seharusnya masih marah. Ia pun segera mendengus lagi dan memalingkan wajahnya.

“Arka, Lili, jangan asal bicara,” tegur Nata Wijaya dengan suara rendah.

“Oh,” jawab Arka, lalu terdiam.

“Apakah semua anggota Keluarga Wijaya sudah hadir?” tanya Darma dengan mata setengah terpejam dan nada bosan. Namun, kedua matanya bergerak cepat, menyisir kerumunan untuk mencari sosok bidadari yang ia lihat kemarin, serta gadis yang dikatakan Sandi sebanding dengannya.

“Sudah dipastikan. Semua hadir lengkap, tidak ada satu pun yang absen,” jawab Jati Wijaya dengan wajah serius.

“Sangat baik!” Darma mengangguk. Pandangannya lalu melirik ke arah gerbang utama. “Siapa orang-orang yang berdiri di luar pintu itu?”

“Melapor kepada Tuan Muda Darma, mereka adalah keluarga-keluarga berpengaruh di Kota Tirta Awan. Sejak pagi buta mereka telah berkumpul di sini, berharap dapat menyaksikan langsung keanggunan Tuan Muda,” jawab Jati Wijaya sambil sedikit berdiri.

“Ah, begitu.” Darma mengangguk, lalu melambaikan tangan. “Karena mereka tamu, tak pantas membiarkan mereka menunggu di luar. Biarkan mereka masuk. Disaksikan orang luar pun tak masalah; setidaknya kelak tak ada yang mengatakan aku bertindak tidak adil.”

Jati Wijaya segera menyanjung, “Tuan Muda Darma benar-benar pantas menjadi putra pemimpin Perguruan Wijaya pusat. Usia Anda masih muda, tetapi sudah begitu lapang dada. Sungguh membuat saya malu… Pengawal, cepat, undang para tamu masuk.”

Pintu gerbang utama pun terbuka. Para tokoh berpengaruh Kota Tirta Awan masuk dengan tertib, masing-masing membawa hadiah besar, sikap mereka tertahan dan penuh hormat. Di antara kerumunan itu, Arka juga melihat ayah Ratna, Heru Pradana.

1
Uswatun Hasanah
lanjutkan
Uswatun Hasanah
lanjut
Uswatun Hasanah
bagus... up
Jojo Shua
gasss
Sastra Aksara: Gasss terus 😄😄
total 1 replies
Oktafianto Gendut
alurnya kerennn
Sastra Aksara: Terimakasih kak. Terus Support yaa 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!