Di mata dunia, Michael Brown atau Kay adalah pewaris tunggal Brown Group yang angkuh dan bad boy penggila balap liar. Namun, di balik gelar playboy palsunya, Kay menyimpan rahasia: ia telah lama memperhatikan Paris Desmon, gadis pendiam yang menjadi satu-satunya ketenangan di tengah kepalsuan sekolah elit mereka.
Dunia Kay terguncang saat ia mengetahui bahwa sahabatnya, Luciano Russo, menjadikan Paris sebagai objek eksperimen emosional demi memuaskan rasa penasaran liar Max. Kay terpaksa menyaksikan dari bayang-bayang saat Luciano berbohong telah meniduri Paris hanya demi gengsi, sementara Paris sendiri tetap tulus mencintai Luciano tanpa tahu dirinya sedang dipermainkan.
Terjebak dalam kode etik persahabatan dan rasa sesak melihat gadis yang ia kagumi dirusak secara mental, Kay menghadapi pilihan sulit: Tetap diam sebagai penonton yang dingin, atau menghancurkan reputasi "Tiga Pilar" demi menyelamatkan Paris dari kehancuran yang direncanakan sahabatnya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Pagi di St. Jude’s Academy terasa sedikit berbeda. Tidak ada lagi aksi jalan bergandengan tangan yang provokatif di koridor utama seperti kemarin. Suasananya kembali tenang, namun ketenangan itu terasa semu, seolah ada badai yang sedang bersembunyi di balik dinding-dinding batu tua sekolah elit itu.
Paris terbangun dengan sebuah pesan yang sudah menunggunya sejak pukul enam pagi.
Luciano: Maafkan aku, babe. Sepertinya hari ini dan seterusnya kita tidak boleh terlalu menonjol di sekolah. Daddy sedang mengawasiku dengan sangat ketat. Aku tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi padamu. Mengertilah.
Paris menghela napas panjang saat membaca pesan itu. Ia menyentuh layar ponselnya, membayangkan lebam di sudut bibir Luciano yang ia lihat semalam melalui panggilan video. Ia mengerti sepenuhnya. Ia tahu bahwa cinta mereka kini bukan lagi sekadar urusan dua remaja, melainkan pertarungan melawan sebuah dinasti besar.
Saat tiba di sekolah, mereka menjaga jarak. Luciano berjalan lebih dulu dengan langkah tegap dan wajah dingin yang kembali ia pasang sebagai topeng. Paris menyusul beberapa menit kemudian, tetap berada di barisannya sendiri. Namun, meskipun tangan mereka tidak bertautan, dunia seolah tidak bisa memisahkan mereka.
Di dalam kelas sejarah, saat Mr. Henderson sedang menjelaskan tentang Revolusi Industri, mata mereka sering kali bertemu tanpa sengaja. Hanya sedetik, namun tatapan itu sarat akan kerinduan, perlindungan, dan janji yang tak terucap. Setiap kali Luciano menoleh sedikit ke arah belakang hanya untuk memastikan Paris baik-baik saja, Paris membalasnya dengan senyum tipis yang tulus.
Pandangan cinta itu adalah bukti yang lebih kuat daripada sekadar pamer kemesraan di depan publik.
Jam makan siang hampir berakhir saat Kay melangkah masuk ke kantin. Wajahnya tampak lebih kusam dari biasanya, efek dari seharian menemani Rebecca Smith yang cerewet dan penuh tuntutan. Ia melihat Luciano dan Max sudah duduk di meja "Tiga Pilar" yang biasanya.
Kay duduk dengan kasar, meletakkan nampannya tanpa selera makan. Max, yang tampaknya sudah menghabiskan setengah dari porsinya, menoleh dengan seringai yang membuat Kay ingin melayangkan tinju.
"Lihat siapa yang datang," sindir Max. "Bagaimana harimu dengan Si Perenang Olimpiade itu, Kay? Apa kau sudah menjadi pelayan setianya?"
Kay tidak menyahut. Matanya justru tertuju pada Luciano yang sedang menyesap air mineralnya dengan tenang. Ada keheningan yang janggal di antara mereka.
Max, yang merasa suasana terlalu membosankan, tiba-tiba mencondongkan tubuh ke arah Luciano. "Hey, Lucian. Aku serius bertanya... apa kau tidak ada niat untuk membuang Paris? Permainan ini sudah terlalu lama. Kita sudah 'go public', kau sudah mendapatkan apa yang kau mau... untuk apa dilanjutkan?"
Luciano meletakkan botol minumnya. Matanya yang kelabu menatap Max dengan tajam. "Tidak," jawabnya singkat dan tegas.
Max tertawa hambar, menggelengkan kepalanya. "Ayolah, Luciano! Harusnya kau tidak memakai 'barang' yang sama berulang kali. Begitu juga dengan urusan ranjang. Kau sudah tidur dengan Paris, bukan? Tidakkah kau merasa bosan dengan menu yang sama setiap malam?"
Deg.
Kay merasakan tangannya mengepal di bawah meja hingga buku-bukunya memutih. Setiap kali Max menyebutkan tentang Luciano dan Paris yang tidur bersama, ada rasa panas yang merambat di dadanya. Ia teringat pengakuan Paris di mobil kemarin—pengakuan yang ia kira jujur, padahal itu hanyalah benteng perlindungan yang dibangun Paris untuk Luciano.
"Tutup mulutmu itu, Max," desis Kay, suaranya rendah dan penuh ancaman.
Max justru tertawa semakin keras. "Kenapa kau yang sewot, Kay? Apa kau juga ingin mencicipi bekas Luciano? Aku hanya memberi saran pada sang jenius kita agar tidak terjebak dalam hal yang tidak berguna."
"Jangan dengarkan omongan Max yang gila, Luciano," sambung Kay lagi, kali ini ia menatap Luciano secara langsung, mencari sisa-sisa nurani di mata sahabatnya itu. "Kau tahu Max hanya ingin merusak segalanya."
Luciano terdiam sejenak. Ia melirik ke arah meja Paris yang berada beberapa meter dari mereka. Di sana, Paris sedang tertawa kecil bersama Delaney, tampak begitu murni dan berharga. Luciano teringat betapa ia memohon pada ayahnya semalam, dan betapa ia merasa nyaman hanya dengan melihat wajah Paris di layar ponselnya.
"Aku sudah mencintainya, Max," ucap Luciano, suaranya tenang namun memiliki bobot yang sangat berat. "Mana mungkin aku membuangnya? Dia bukan barang, dan dia bukan eksperimen lagi."
Kata-kata itu membuat kantin seolah menjadi sunyi sesaat di telinga Kay. Cinta. Luciano Russo, sang manusia mesin yang dingin, baru saja mengakui cinta di depan orang-orang yang menganggap wanita sebagai objek taruhan.
Max hanya bisa mendengus, memutar bola matanya. "Cinta? Kau benar-benar sudah kehilangan otak jeniusmu, Lucian. Kita lihat saja berapa lama 'cinta' ini bertahan saat ayahmu mulai bertindak lebih jauh."
Kay hanya bisa terdiam. Ia merasa terjebak dalam dilema yang menyiksa. Di satu sisi, ia membenci Luciano karena mengira sahabatnya itu telah merusak Paris.
Di sisi lain, ia melihat Luciano mulai menunjukkan sisi manusiawinya demi Paris. Namun, satu hal yang paling menyakitkan bagi Kay adalah kenyataan bahwa Paris memilih untuk terjebak dalam lingkaran kebohongan Luciano dan menikmatinya.
"Nikmati saja waktumu, Luciano," gumam Kay pelan sebelum berdiri dari kursinya. "Karena di dunia kita, hal-hal indah biasanya dihancurkan oleh tangan kita sendiri."
Kay berjalan pergi meninggalkan kantin, mengabaikan teriakan Max. Ia butuh udara segar. Ia butuh pelarian. Dan di sudut hatinya, ia berharap ia tidak pernah tahu apa-apa tentang apa yang terjadi di dalam kamar tamu apartemennya malam itu.
Sementara itu, dari mejanya, Paris melihat punggung Kay yang menjauh. Ia merasakan kesedihan yang mendalam terpancar dari bahu pria itu. Ia tidak tahu bahwa Kay sedang membawa beban kebenaran yang salah, dan ia tidak tahu bahwa setiap senyum yang ia berikan pada Luciano adalah duri yang menusuk hati pria yang diam-diam ingin melindunginya itu.
🌷🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰
lnjut Thor yg bnyk yh 🥰😍