Bima Sakti hanyalah seorang sopir di Garuda Group yang dikenal malas, sering terlambat, dan suka menggoda perempuan cantik. Namun, di balik sikapnya yang sembrono, Bima menyimpan identitas dan kemampuan luar biasa yang tidak diketahui siapa pun.
Kehidupan santainya berubah ketika ia harus berurusan langsung dengan Sari Lingga, Presiden Direktur Garuda Group yang dijuluki "Si Cantik Gunung Es". Di tengah persaingan bisnis yang kejam dan kejaran pria-pria berkuasa, Bima hadir bukan hanya sebagai sopir, melainkan sebagai pelindung rahasia bagi Sari.
Dari ruang kantor yang kaku hingga konflik dunia bawah Jakarta, Bima menunjukkan bahwa ia jauh lebih berbahaya daripada sekadar sopir armada biasa. Akankah si "Gunung Es" Sari Lingga akhirnya luluh oleh pesona sang sopir misterius ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sastra Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
“Makan sudah, minum sudah. Tidak ada yang menarik lagi. Sari, bagaimana kalau kita pulang dan tidur?” kata Bima sambil menguap.
“Siapa yang mau pulang tidur denganmu!” Sari memelototinya.
“Eh, salah ucap! Maksudku kita pulang ke rumah masing-masing mencari ibu masing-masing,” kata Bima sambil tertawa. “Setidaknya sebelum aku mendapatkan hatimu, kita tidak akan tidur bersama.”
Sari pura-pura tidak mendengarnya. Namun ia merasa tujuan kedatangannya sudah tercapai; semua orang sudah tahu bahwa ia memiliki pacar. Mereka pun berpamitan kepada Rendy. Pria itu berpura-pura menahan mereka sebentar sebelum akhirnya mengantar sampai ke pintu.
Dalam perjalanan pulang.
Sari akhirnya berbicara. “Aku selalu merasa ada yang tidak beres malam ini. Kamu memukul Dodi, bukan?”
Bima tertawa. “Karena kamu sudah menebaknya, aku tidak akan menyangkal. Benar, aku yang memukulnya.”
Sari terkejut. “Kamu benar-benar berani memukulnya di sana? Dan semua orang hanya menonton?”
“Sejujurnya aku juga takut,” kata Bima serius. “Mereka begitu banyak! Awalnya aku berniat kabur setelah memukulnya. Tapi setelah kukasih beberapa kata ancaman, entah kenapa mereka malah ketakutan. Jadi aku tidak perlu lari lagi.”
“Mereka hanya berani menindas yang lemah dan takut pada yang kuat,” gumam Sari. Alasan itu terasa masuk akal baginya. Namun ia langsung menatap tajam. “Jadi kamu memang berencana kabur setelah memukulnya? Meninggalkanku sendirian di sana?”
Bima tertawa keras. “Tentu tidak! Aku pasti akan berlari ke kamar mandi dulu untuk menyeretmu keluar sebelum kabur!”
Ia lalu melirik ke kaca spion dan mengerutkan kening. “Dodi benar-benar tipe orang yang dendaman.”
“Hmm?” Sari tidak mengerti.
Bima menunjuk kaca spion. “Lihat itu. Sejak kita keluar dari vila, mobil di belakang terus mengikuti kita. Kalau aku tidak salah, itu pasti bantuan dari Dodi.”
Sari menoleh ke belakang. Sekitar sepuluh meter di belakang mereka, sebuah mobil Jeep hitam mengikuti dengan ketat. Ia langsung menjadi serius. “Aku pernah dengar Dodi punya saudara di Geng Barong. Mereka terkenal kejam. Kalau mereka berani mengejar kita, berarti mereka sudah siap. Kita harus tancap gas!”
“Tidak bisa,” kata Bima sambil menggeleng. “Mungkin mereka juga sudah menyiapkan penyergapan di depan. Kalau kita melaju terlalu cepat, justru seperti masuk ke perangkap.”
“Lalu apa yang harus kita lakukan?”
“Melawan mereka,” kata Bima sambil mengatupkan gigi.
“Kita hanya berdua! Bagaimana bisa melawan mereka? Bima, mereka pasti bawa banyak orang!” Sari cemas.
Bima memasang wajah sedih. “Lalu bagaimana? Semua ini gara-gara aku menjadi pacar palsumu. Tidak mendapat keuntungan apa-apa, malah menyinggung orang. Malam ini mereka pasti akan melumpuhkanku!”
Sari merasa sedikit bersalah. Ia merasa Bima terseret ke masalah ini karenanya.
“Sudahlah!” kata Bima tiba-tiba dengan nada tragis. “Paling-paling tubuhku penuh luka. Dua puluh tahun lagi aku tetap akan menjadi pria hebat! Aku akan turun dan menahan mereka. Kamu bawa mobil dan pergi dulu!”
Sari menggertakkan gigi dan langsung meraih lengan Bima. “Tidak! Mereka pasti tidak akan membiarkanmu pergi! Aku yang turun. Kamu cepat kabur. Mereka tidak akan memperlakukanku terlalu buruk.”
“Kamu menghina aku!” kata Bima dengan marah. “Bagaimana mungkin aku meninggalkan wanitaku dan melarikan diri sendiri? Kamu yang pergi dulu!”
“Bajingan! Siapa wanitamu!”
Di dalam mobil Jeep di belakang mereka.
Dodi duduk di kursi penumpang depan dengan wajah penuh kebencian. “Lihat! Mobil Sari mulai bergoyang. Sepertinya mereka sadar kita mengikuti mereka dan panik!”
Di kursi belakang, dua pria berpakaian hitam dari Geng Barong tampak meremehkan. Salah satu dari mereka mendengus dingin. “Bang Dodi, itu hanya seorang sopir. Bos Geng Barong benar-benar mengirim kami berdua untuk ini? Aku bisa meremukkan bajingan itu dengan satu tangan.”
Dodi tertawa. “Nanti kamu bisa meremukkannya sesukamu! Mobilnya mulai melambat. Cepat susul! Di depan ada tempat sepi dengan parit besar di pinggir jalan. Paksa dia berhenti!”
Pengemudi langsung menekan pedal gas. Jeep hitam itu mengaum keras dan melesat ke depan, menyalip Porsche Cayenne milik Sari dan memotong jalannya. Namun tepat ketika mereka mulai memperlambat mobil untuk memaksa Cayenne berhenti—
Sesuatu yang tak terduga terjadi.
Cayenne di belakang tiba-tiba melaju kencang seperti peluru. Dalam sekejap mobil itu menabrak bagian belakang kiri Jeep mereka.
Brak!
Jeep tersebut kehilangan keseimbangan dan berputar. Di tengah jeritan panik Dodi dan yang lain, mobil besar itu langsung terguling dan jatuh ke parit sedalam lima meter di pinggir jalan.
Sementara itu, Cayenne milik Sari hanya sedikit lecet di bagian depan. Mobil itu bahkan tidak berhenti; ia melaju menjauh dengan cepat, menghilang dalam kegelapan malam.
Di dalam parit, Dodi yang berlumuran darah merangkak keluar dari jendela Jeep yang rusak. Dengan suara serak ia berteriak marah,
“Sialan! Dunia macam apa ini?! Sejak kapan sopir bisa sekejam ini?! Porsche Cayenne saja bisa menjatuhkan Jeep!”
Sari yang duduk di dalam mobil benar-benar tercengang. Semuanya terjadi terlalu tiba-tiba sampai-sampai ia bahkan belum sempat bereaksi.
Jeep itu… benar-benar jatuh ke parit?
Cayenne yang mereka kendarai menabraknya dengan kecepatan tinggi, tetapi mobil itu sama sekali tidak terguling. Hanya bergoyang dua kali sebelum kembali stabil.
“Bos, mobil Anda ini dimodifikasi, ya? Saya tadi panik, langsung injak gas, eh malah menabrak Jeep itu sampai terbalik.” Bima berpura-pura mengusap keringat di dahinya.
“Tidak dimodifikasi,” jawab Sari sambil menatapnya bingung.
“Haha! Itu karena kemampuan mengemudi saya memang luar biasa!” seru Bima penuh semangat.
“Huh! Paling cuma keberuntungan saja.” Hanya itu penjelasan yang bisa diberikan Sari. Menabrak Jeep dengan kecepatan seperti itu tanpa mengalami kerusakan serius—selain faktor hoki, tidak ada penjelasan lain di benaknya.
“Inilah yang namanya orang baik dilindungi langit! Sekarang kita sudah masuk kawasan ramai. Seberani apa pun Geng Barong itu, pasti tidak akan berani mengejar ke sini. Kita aman!” kata Bima sambil tertawa.
Padahal sebenarnya, jangankan sekadar membuat mobil masuk parit, membalikkan tank sekalipun bukanlah perkara sulit baginya.
“Bos, menurut saya penampilan saya hari ini sangat luar biasa. Masa Anda tidak ingin memberi hadiah? Misalnya… malam ini panjang sekali, bagaimana kalau kita ngobrol berdua tentang cita-cita dan kehidupan?”
“Ngobrol kepala bapak kau!” Sari menggertakkan giginya. “Jangan kira karena kejadian tadi aku akan memaafkanmu. Mustahil! Aku bahkan tidak sabar untuk memecatmu sekarang juga!”
Memikirkan bagaimana pria ini "mengambil" dirinya saat ia sedang tidak sadar malam itu, Sari benar-benar ingin langsung mencekiknya.
“Suatu hari nanti, pandanganmu tentang aku pasti akan berubah!” Bima mengepalkan tinjunya. “Mendapatkan hatimu dan mencoba berbagai 'gaya' baru bersamamu adalah tujuan hidupku di saat ini!”