Crystal Kusuma sih bungsu dari keluarga Kusuma yang terobsesi pada sang daddy sejak bayi.
Sedari dalam kandungan bayi mungil berusia dua tahun tersebut selalu ingin berada dekat dengan Jimmy Kusuma sang daddy.
Mereka pikir itu hanya ketertarikan biasa putri kecil pada daddynya. Siapa sangka obsesi tersebut malah berubah menjadi dosa terlarang selama belasan tahun?
Dosa terlarang dimana sang daddy Jimmy Kusuma pun tidak menyadarinya.
Selama ini kematian-kematian pegawai di kantor hukumnya, jimmy kira semata hanya kecelakaan biasa.
Tapi mereka salah, semua itu adalah dosa yang dilakukan Crystal kecil.....
Lalu dosa apa itu? Apa yang bisa dilakukan oleh bayi berusia dua tahun?
Saksikan eklusif disini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cloud_berry, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 07 : Fangirl Garis Keras
Akan tetapi, Findlay malah mengusir Crystal seperti hari-hari sebelumnya. Membuat Crystal kesal setengah mati. Padahal Crystal cuma ingin dekat dengan kakak-kakaknya untuk menghilangkan rasa rindunya pada sang daddy.
Karena keenam saudaranya memiliki bau yang sama persis dengan Jimmy, terkecuali Gavin. Gavin memiliki bau yang berbeda. Bau Gavin lebih mirip dengan bau ibunya, Alice, tapi tidak terlalu dominan.
Gavin memiliki aroma rempah dan herbal yang lebih dominan di tubuhnya. Sebab Gavin sangat suka mempelajari tumbuhan obat dan herbal. Bahkan di usianya yang baru menginjak dua tahun, Gavin memiliki kebun tanaman herbalnya sendiri yang ia tanam dan rawat bersama salah satu pelayan mansion Kusuma.
"CRYSTAL......." Teriak Findlay sekencang mungkin. Saat tiba-tiba Crystal menarik palet warnanya, menempelkan kedua tangannya pada palet, lalu menyapukan kedua telapak tangannya yang penuh dengan cat air ke atas lukisan milik Findlay.
"Ha...ha..ha...haa..haa...." Crystal tertawa bahagia, berhasil merusak lukisan kakaknya yang suka mengusir dirinya. Ia berlari kecil meninggalkan Findlay dengan senyuman kebahagiaan yang tergantung di sudut bibirnya.
Melirik area sekitar mencari korban selanjutnya. Sudah Crystal putuskan hari ini ia tidak akan mengemis-ngemis meminta pelukan para kakaknya. Crystal akan mengacaukan mereka semua hari ini. Begitu pula di hari-hari berikutnya saat sang daddy meninggalkannya di rumah, Crystal akan mengacaukan ketujuh kakaknya.
"Sudah tiga berarti empat lagi," gumam Crystal menghitung berapa banyak saudara kembarnya yang sudah ia buat tak berdaya.
"CRYSTAL.....KUSUMA......" Findlay berteriak berusaha mengejar adik bungsunya, berniat membalas dendam karena lukisannya dirusak.
Sayangnya, dewi fortuna sedang tak berpihak padanya hari ini. Akibat terlalu terburu-buru, kakinya tak sengaja menendang kaleng cat. Menyebabkan keseimbangan Findlay limbung, tubuhnya jatuh terjerembap. Cairan cat tumpah menggenangi lantai marmer bernilai jutaan dolar.
"Wu Ge...." Panggil Crystal dengan suara lembutnya. Mendekati kakak kelimanya, Darragh, yang sedang bermain piano di sudut ruangan.
Mengamati satu persatu jari-jari Darragh yang bergerak lincah di atas keyboard piano. Namun, setelah beberapa kali Crystal memanggil namanya atau sekadar memberi pujian, Darragh tak kunjung merespons adiknya. Membuat bocah perempuan itu berang dan merasa bosan.
Tanpa berpikir panjang Crystal mengambil cat air yang berceceran di lantai, mendorong Darragh menjauh dari pianonya, dan menekan setiap tuts acak menggunakan tangannya yang penuh cat air berwarna biru langit.
Ia berlari secepat kilat menghindari amukan Darragh dan Findlay, menuju ke arah Kynan yang sedang memperbaiki senar pada biolanya di dekat jendela. Berbeda dari sebelumnya, Crystal langsung merebut biola dari tangan Kynan. Memukulkan biola tua seharga mobil itu ke lantai, membuat biola tersebut terbelah menjadi dua.
"CRYSTAL.....KUSUMA.....BERHENTI DISANA!" Teriak Findlay, Darragh, dan Kynan bersamaan. Sementara Grady dan Grant memilih diam tak berkutik, daripada takdir mereka malah berubah lebih tragis lagi.
Dua orang pelayan yang tak sengaja mendengar teriakan ketiganya segera berlari secepat mungkin menuju ke arah ruang bermain. Mereka hampir saja lupa jika Crystal berada di rumah hari ini.
Seringkali saat jam makan siang tiba, Alice akan pergi ke dapur memasak sendiri makan siang untuk ketujuh putranya. Biasanya ketujuh Tuan muda mereka akan baik-baik saja walau dibiarkan tanpa pengawasan orang dewasa. Tapi hari ini sedikit berbeda karena sih bungsu berada di rumah.
Alangkah terkejutnya keduanya saat tiba di ruang bermain anak. Grady dan Grant terduduk tak berdaya di atas sofa, wajah keduanya penuh dengan warna merah matoa. Benjolan besar juga bersarang di jidat mulus milik Grant.
Findlay terbaring lemah di atas lantai, cat air berwarna biru menggenang di atas marmer jutaan dolar tersebut. Darragh terlihat sedang menangisi pianonya yang penuh warna biru. Kynan meratapi biolanya yang terbelah dua. Conor meratapi laptopnya yang patah dan penuh warna.
Sedangkan Gavin, ia sedang mengumpulkan bunga safronnya yang tercecer di lantai satu persatu. Memisahkan setiap helainya dari serpihan kaca dengan hati-hati. Tak terbayangkan oleh Gavin bunga safron yang ia besarkan seperti anak sendiri akan dihancurkan oleh adik bungsunya.
"Cepat panggil nyonya di dapur!" Perintah pelayan tersebut pada juniornya.
"Baiklah." Berlari secepat kilat mencari Alice di dapur.
"Nyonya.....nyonya....gawatt...." Teriak pelayan tersebut ngos-ngosan.
"Gawat apa Lis?" Tanya Alice sedikit kesal karena aktivitas memasaknya terganggu.
"Anak-anak nyonya." Lylis menyeret Alice paksa menuju ruang bermain.
"Astagaa....." Alice lunglai mengusap dadanya. Sungguh keterlaluan, baru ditinggal sebentar saja ruang bermain anak telah berubah menjadi kandang babi.
Alice segera memberikan arahan pada para pelayannya untuk membersihkan anak-anak dan membawa mereka ke ruang makan. Alice menghela nafas panjang, ia mendapati jejak kaki biru di lantai menuju ke ruang kerja suaminya.
"Ternyata di sini...." Gumamnya menatap lembut ke arah Crystal yang tertidur di bawah meja kerja Jimmy sambil memegang kuas di tangan kirinya.
"Daddyyy....." Gumam Crystal dalam tidurnya. Alice mengusap pelan pipinya.
"Dasar Fangirl," cibir Alice sambil tersenyum halus.
Enam jam telah berlalu. Jimmy tiba di rumah lebih awal karena mendapatkan berita putrinya menghancurkan seluruh mansion. Benar saja, jejak kaki kecil dan sapuan cat biru menempel di mana-mana.
Saat Jimmy sampai di ruang bermain, ia melihat para pelayannya berusaha membersihkan noda piano Darragh.
"Jika tidak bisa dibersihkan, tidak usah dibersihkan. Aku akan meminta Clyde membeli yang baru saja," perintah Jimmy dengan nada datar.
Jimmy kemudian melangkah menuju ruang makan. Tepat seperti dugaan, istri dan putri kecilnya sedang beradu mulut. Jimmy menghampiri putri kecilnya dan mengangkat Crystal ke dalam dekapannya.
"Daddyyy....." Teriaknya sumringah.
"Crystal..... bagaimana hari ini? Apa menyenangkan?" Tanyanya lembut.
"Tidak," Crystal menggeleng bersedih. "Ingin daddy."
"Bagaimana hari kalian boys?" Jimmy sengaja menanyakan kabar ketujuhnya agar mereka berani mengadu dan tidak merasa dianaktirikan.
"Huuuhhhh....tidak baik," ketujuhnya kompak membuang muka.
Satu persatu mereka mulai mengadu. Darragh meminta piano baru, Kynan meminta biola baru, dan Conor meminta laptop baru. Jimmy menyanggupi semuanya, membuat asistennya, Clyde, mengeluh dalam hati karena tugas tambahannya.
"Aku ingin ruang lukis sendiri," ketus Findlay.
"Kami sama, kami ingin ruang baca sendiri dan kamar masing-masing," selah Grady dan Grant.
"Baik, besok minta mommy mengaturnya," jawab Jimmy.
"Gavin.....?" Panggilnya.
".........." Gavin diam tak bergeming.
"Baiklah, daddy akan membelikanmu satu kilo bunga safron terbaik."
"Tidak mau! Kualitasnya sangat buruk. Satu kilo safron milikmu tak sebanding dengan satu gram safron milikku," jawab Gavin pedas.
"Lalu Gavin mau apa?"
"Mau toples kaca dan botol kaca anti pecah," pintanya tanpa berpikir.
"Kamu gila yah?" Celetuk Jimmy tak sengaja. Ia pasrah, entah di mana harus mencari pengrajin kaca ajaib yang bisa memenuhi permintaan putra sulungnya yang berhati dingin itu.
Flashback Off