Di balik dinding suci sebuah pondok pesantren, tersembunyi seorang buronan. Reyshaka El Zhafran atau Shaka—tak pernah membayangkan hidupnya akan berakhir di tempat yang paling ia hindari. Demi lolos dari kejaran polisi, pengedar narkoba itu nekat bersembunyi di pesantren milik Ustadz Haidar, seorang ulama yang dikenal bijak dan disegani.
Awalnya, Shaka hanya ingin selamat. Namun hari demi hari, ketenangan, nasihat, dan ketulusan Ustadz Haidar perlahan meruntuhkan tembok keras di hatinya. Untuk pertama kalinya, Shaka mulai mengenal arti penyesalan dan harapan untuk berubah. Semua menjadi semakin rumit saat ia bertemu Hanindya Daisha Ayu—putri sang ustadz yang berhati lembut dan shalihah. Tanpa disadari, perasaan itu tumbuh diam-diam, menyiksa shaka dalam keheningan.
Tapi bagaimana mungkin seorang mantan pengedar narkoba seperti dirinya pantas mencintai perempuan sebersih Hanindya?
Terlebih, Hanindya telah dijodohkan dengan Ustadz Ilyas—lelaki yang jauh lebih layak dibanding dirinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sylvia Rosyta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
Air mata perlahan jatuh di pipi Ustadz Haidar.
Ia menundukkan wajahnya perlahan sementara hatinya dipenuhi haru. Karena ia tahu, tidak semua orang diberi kesempatan untuk sadar. Dan tidak semua hati yang keras masih mau kembali. Namun malam ini, Allah sedang membuka jalan untuk pemuda itu.
Shaka masih menangis dalam sujudnya, napasnya berantakan, suaranya sesekali tercekat, namun perlahan ia mencoba menyelesaikan sholatnya. Meski dengan tubuh yang masih gemetar dan matanya yang basah. Ia terus melanjutkan hingga akhirnya sampai pada salam terakhir.
Namun setelah salam itu selesai, Shaka tidak langsung bangkit. Ia tetap duduk di atas sajadah dengan kepalanya yang tertunduk dalam, napasnya yang masih berat, hingga air matanya yang masih jatuh tanpa suara. Mushola kembali sunyi dan di tengah kesunyian itu, Shaka perlahan mengangkat kedua tangannya. Tangannya gemetar, telapak tangannya terbuka ke atas seperti seseorang yang datang dengan kehancuran lalu memohon untuk diselamatkan. Matanya terpejam rapat sementara bibirnya bergetar sebelum akhirnya mulai berdoa.
"Ya Allah ya tuhanku, hari ini hambamu yang hina dan berdosa ini kembali menghadap kepadamu. Hamba tahu bahwa sudah terlalu banyak dosa dan kejahatan yang selama ini hambamu ini lakukan ya Rabb. Hamba sudah terlalu jauh darimu ya Allah hingga hamba tidak bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Namun dengan segala kerendahan hati dan juga penyesalan, hamba memohon kepadamu ya Rabb, tolong engkau ampuni semua dosa dosaku. Tolong bimbing hambamu ini ya Rabb agar hamba tidak kembali ke jalan yang penuh dosa itu. Hamba mau berubah, hamba pengen jadi manusia yang lebih baik. Tolong tuntun langkah hambamu ini agar semakin taat kepadamu, ya Rabb, jika bukan kepadamu, lalu kepada siapa lagi hamba memohon ampunan?"
Shaka terus berdoa dengan suara bergetar.
Meminta ampun, meminta petunjuk dan memohon agar Tuhan yang selama ini ia tinggalkan, masih mau menerimanya kembali.
Mushola kecil itu masih dipenuhi keheningan setelah doa panjang yang dipanjatkan Shaka. Udara malam terasa dingin, namun entah kenapa malam itu ada sesuatu yang terasa hangat di dalam ruangan sederhana itu. Shaka masih duduk di atas sajadahnya. Kepalanya tertunduk dalam, kedua tangannya perlahan turun setelah sekian lama menengadah memohon ampun kepada Tuhan. Napasnya masih belum sepenuhnya teratur. Sesekali terdengar berat, seperti dadanya masih dipenuhi sesuatu yang belum benar-benar keluar. Air mata masih membasahi wajahnya. Matanya merah dan sembab. Namun di balik semua itu ada sesuatu yang berbeda. Beban yang selama ini menindih dadanya seperti sedikit terangkat.
Meski belum hilang sepenuhnya, meski rasa bersalah itu masih ada, namun untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun hidup dalam gelap, Shaka merasa seperti tidak sedang sendirian.
Ia memejamkan matanya pelan. Tangannya jatuh dengan lemas di atas pahanya dan di tengah sunyi itu, langkah kaki pelan terdengar mendekat. Shaka tidak perlu menoleh untuk tahu siapa itu. Ustadz Haidar, Lelaki paruh baya itu berjalan perlahan menghampiri Shaka lalu berhenti di sampingnya. Tatapannya jatuh pada pemuda yang masih terduduk lemah di atas sajadah. Wajah Ustadz Haidar terlihat teduh namun kedua matanya tampak sedikit basah. Ia kemudian berjongkok perlahan di samping Shaka. Tanpa banyak bicara, tangannya terangkat pelan lalu mengusap bahu pemuda itu dengan lembut.
Sentuhan sederhana itu langsung membuat dada Shaka kembali terasa sesak karena sudah terlalu lama tidak ada yang menyentuhnya dengan kelembutan seperti itu.
Shaka menundukkan wajahnya semakin dalam. Bibirnya bergetar kecil dan membuat
Ustadz Haidar tetap diam beberapa saat, membiarkan Shaka menenangkan dirinya sendiri hingga akhirnya suara serak Shaka terdengar pelan memecah keheningan.
“Ustadz...”
Ustadz Haidar menoleh.
“Iya, nak?”
Shaka diam beberapa detik seolah sedang mengumpulkan keberanian untuk mengatakan sesuatu. Lalu perlahan ia mengangkat wajahnya. Matanya masih dipenuhi air mata. Tatapannya terlihat rapuh.
Begitu rapuh sampai rasanya seperti sedikit saja disentuh, dirinya akan kembali hancur.
“Menurut ustadz... Apa Allah mau nerima taubat saya?”
Kalimat itu keluar begitu lirih namun terasa sangat berat. Pertanyaan itu bukan sekadar ucapan. Itu ketakutan terbesar yang sejak tadi menggerogoti diri Shaka. Bagaimana kalau Tuhan sudah terlalu murka padanya?Bagaimana kalau dosanya terlalu banyak?
Bagaimana kalau semua sudah terlambat?
Shaka menundukkan kepalanya lagi, tangannya mengepal kecil di atas pahanya.
“Saya udah ngelakuin banyak dosa, kadang saya takut...” suara Shaka mengecil. “Takut kalau Tuhan udah gak mau lihat saya lagi.”
Mushola kembali sunyi. Ustadz Haidar menatap pemuda itu cukup lama, tatapannya penuh rasa iba sekaligus kasih sayang. Lalu perlahan beliau berkata,
“Nak... Mungkin sekarang kamu belum bisa melihatnya.” Shaka perlahan mengangkat matanya. “Tapi fakta bahwa malam ini kamu menangis meminta ampun kepada Allah... itu sendiri sudah menjadi tanda bahwa Allah masih membuka jalan untukmu.”
Shaka terdiam. Dadanya terasa bergetar mendengar kalimat itu. Ustadz Haidar melanjutkan pelan,
“Orang yang benar-benar ditinggalkan hatinya biasanya bahkan tidak lagi merasa bersalah saat berbuat dosa.” Angin malam berhembus pelan dari jendela mushola dan membuat ujung sajadah sedikit bergerak. “Sedangkan kamu...” lanjut Ustadz Haidar. “Kamu menangis, kamu menyesali perbuatan kamu, dan Kamu ingin berubah.” Tatapan Ustadz Haidar begitu dalam. “Itu artinya hatimu masih hidup, nak.”
Kalimat itu menghantam dada Shaka begitu keras. Ia langsung menunduk lagi sambil menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. Air matanya kembali jatuh dan membuat Ustadz Haidar mengusap bahunya pelan sebelum kembali berkata,
“Soal apakah Allah menerima taubatmu atau tidak..." Ia berhenti sebentar. “Tugas manusia adalah kembali kepada-Nya. Berdoa, meminta ampun dan berusaha berubah.” Shaka mendengarkan dengan diam sementara Ustadz Haidar melanjutkan, “Sedangkan Allah...” ia tersenyum tipis. “Allah yang menilai kesungguhan hambanya.” Shaka menatap ustadz Haidar dengan matanya yang basah. “Jadi jangan berhenti bertaubat hanya karena takut dosamu terlalu besar. Karena rahmat Allah jauh lebih besar daripada dosa manusia.”
Kalimat itu membuat dada Shaka terasa sesak lagi namun kali ini bukan karena putus asa melainkan karena harapan. Harapan kecil yang perlahan mulai tumbuh di dalam dirinya. Shaka mengusap wajahnya dengan kasar dan
berusaha menenangkan tangisnya. Namun suaranya masih terdengar serak saat berkata,
“Kalau nanti saya jatuh lagi gimana, ustadz?”
Pertanyaan itu terdengar begitu jujur, begitu manusiawi. Karena di dalam dirinya, Shaka masih dipenuhi ketakutan. Takut gagal, Takut kembali ke masa lalunya.Takut dirinya memang terlalu rusak untuk berubah. Ustadz Haidar tersenyum kecil.
“Namanya manusia pasti bisa jatuh. Tapi yang penting adalah apakah setelah jatuh dia mau bangkit lagi atau tidak.” Shaka terdiam lalu Ustadz Haidar kembali berkata, “Berubah itu proses, nak. Tidak ada orang yang langsung jadi baik dalam satu malam. Dan kamu baru memulai langkah pertamamu malam ini.”
Dengan ikhtiar, tawakal dan kesabaran, setiap langkah menuju jodoh bisa menjadi jalan ibadah yang diridhai Allah.
Kondisi dalam hubungan percintaan barangkali tidak akan semulus kelihatannya.
Tentu saja setiap orang akan selalu berharap mendapatkan pasangan yang ia cintai dan mencintai dirinya. Akan tetapi, dalam hidup tentu harus realistis.
Tidak semua yang kita inginkan itu bisa terwujud.
Apa yang menurut kita baik, belum tentu baik menurut Allah.
"Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui".
Percayakan kepada Allah yang Maha Mengetahui, Allah Sang Pemilik Hati Manusia. Jodohmu sudah diatur oleh-Nya...🤭
Sholawat ini diciptakan oleh Imam Bushiri, penyair sekaligus ulama yang tersohor di kalangan umat Muslim.
Kata burdah secara bahasa diartikan sebagai mantel.
Dalam riwayat lain, disebutkan bahwa burdah berasal dari kata bur’ah yang berarti shifa (kesembuhan).
Sholawat Burdah sendiri merupakan sajak-sajak pujian kepada nabi Muhammad SAW, pesan moral, nilai-nilai spiritual, semangat perjuangan, dan sebagainya.