NovelToon NovelToon
Secret Marriage

Secret Marriage

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak / CEO
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Ifra Sulistya

Bagi dunia luar, Reihan Arta Wiguna adalah sosok "Ice King" di lantai bursa—dingin, tak tersentuh, dan selalu kalkulatif. Namun, di balik kemewahan hidupnya, ia terikat oleh janji konyol kakeknya puluhan tahun silam. Ia dipaksa menikahi Laluna Wijaya, seorang gadis yang ia anggap hanya sebagai "beban" tambahan dalam hidupnya yang sudah sibuk.
Laluna sendiri tidak punya pilihan. Menikah dengan Reihan adalah satu-satunya cara untuk melindungi apa yang tersisa dari nama baik keluarganya. Mereka sepakat pada satu aturan main: Pernikahan ini harus menjadi rahasia. Tidak ada cinta, tidak ada kemesraan di depan publik, dan tidak ada campur tangan dalam urusan pribadi masing-masing.
Namun, tinggal di bawah satu atap perlahan meruntuhkan tembok yang dibangun Reihan. Laluna bukan sekadar gadis penurut yang ia bayangkan; ia adalah api yang hangat di tengah musim dingin Reihan. Saat satu per satu rahasia keluarga dan pengkhianatan bisnis mulai terkuak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ifra Sulistya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 6: RAHASIA DI BALIK ADONAN

Pagi setelah jamuan makan malam di kediaman besar Arta Wiguna, apartemen terasa lebih sunyi namun dengan ketegangan yang berbeda.

Laluna terbangun dengan perasaan seolah ia baru saja menyelesaikan misi spionase tingkat tinggi. Tubuhnya pegal, bukan karena aktivitas fisik, melainkan karena kelelahan mental setelah berhadapan dengan "para serigala" di keluarga Reihan.

Ia melangkah ke dapur dan menemukan Reihan sudah berada di sana, namun tidak di meja makan. Pria itu berdiri di depan konter dapur, menatap botol air mineral di tangannya dengan pandangan kosong.

"Kau tidak ke kantor?" tanya Laluna sambil mengikat rambutnya asal-asalan.

Reihan sedikit terperanjat, namun dengan cepat ia kembali ke ekspresi datarnya.

"Aku punya beberapa pertemuan virtual pagi ini. Aku akan berangkat siang nanti."

Ia menjeda, matanya beralih ke tangan Laluna yang kini bersih dari perhiasan.

"Kenapa kau melepas cincinnya?"

"Aku mau membuat donat," jawab Laluna santai sambil membuka lemari bahan.

"Aku tidak mau berlian warisan keluargamu tenggelam dalam adonan ragi dan tepung. Itu akan merusak 'investasimu', bukan?"

Reihan mendengus pelan, sebuah suara yang hampir menyerupai tawa kecil yang sinis namun tidak menyakitkan.

"Setidaknya kau tahu cara menjaga aset."

Laluna mulai mengeluarkan timbangan digital, tepung protein tinggi, ragi, dan susu cair. Gerakannya lincah dan terampil.

Reihan, yang biasanya segera pergi setelah sarapan, kali ini justru menarik kursi bar di area dapur dan duduk di sana. Ia memperhatikan bagaimana jemari lentik Laluna mencampur bahan dengan presisi.

"Kakek menyukaimu," ucap Reihan tiba-tiba.

Laluna menghentikan gerakan tangannya sejenak.

"Benarkah? Dia tampak seperti ingin menelanku hidup-hidup tadi malam."

"Itu adalah cara dia memuji.

Jika dia tidak menyukaimu, dia tidak akan membuang waktu untuk bicara berdua denganmu,"

Reihan menatap adonan yang mulai kalis di tangan Laluna.

"Apa yang kau katakan padanya?"

Laluna tersenyum misterius, ia mulai menguleni adonan dengan teknik yang mantap.

"Aku hanya bilang bahwa aku adalah sekutu yang setia. Bahwa di rumah ini, aku akan menjaga punggungmu."

Reihan terdiam. Kata "setia" adalah kata yang sangat mahal di dunianya. Ia melihat Laluna yang kini dahinya sedikit berkeringat, fokus sepenuhnya pada adonan donatnya. Ada sesuatu yang menenangkan dari pemandangan itu, sesuatu yang sangat kontras dengan dunia bisnisnya yang penuh pengkhianatan.

"Kenapa donat?" tanya Reihan, mencoba mengalihkan rasa canggung yang mendadak muncul.

"Donat itu simbol harapan bagiku," jawab Laluna tanpa menoleh.

"Ada lubang di tengahnya, seperti ada sesuatu yang hilang, tapi bagian rotinya tetap manis dan mengenyangkan.

Lagipula, aku sedang berpikir untuk mulai menjualnya kembali secara online. Aku tidak bisa hanya berdiam diri dan menjadi pajangan di apartemen ini, Reihan."

Mata Reihan menyipit.

"Kau ingin bekerja? Kau tahu risikonya. Jika namamu muncul di publik sebagai penjual kue dan orang-orang mulai melacak siapa suamimu".

"Aku tidak akan memakai nama Wijaya atau namamu," potong Laluna tegas.

"Aku akan memakai nama brand lamaku, 'Khay'. Dan aku hanya akan memasarkan lewat akun anonim. Aku butuh uangku sendiri, Reihan. Aku tidak ingin terus-menerus merasa seperti benalu yang kau beri makan."

Reihan menatap Laluna cukup lama. Ada harga diri yang besar di mata gadis itu, sesuatu yang diam-diam ia kagumi.

"Lakukan sesukamu, asal jangan membuat masalah yang harus kuselesaikan."

Pria itu berdiri dan berjalan menuju ruang kerjanya, namun langkahnya terhenti saat ia mencium aroma mentega yang mulai dipanaskan. Tanpa sadar, ia menoleh kembali ke dapur.

Laluna sedang tertawa kecil sambil mengusap hidungnya yang terkena tepung, meninggalkan jejak putih di sana. Untuk sesaat, Reihan merasa apartemennya bukan lagi sekadar bangunan beton dan kaca yang dingin.

Siang harinya, saat Reihan sudah pergi ke kantor, Laluna mulai sibuk dengan proyek kecilnya. Ia mengambil foto-foto donatnya yang sudah matang dengan topping glaze cokelat yang berkilau dan taburan kacang yang estetik.

Dengan memanfaatkan cahaya matahari yang masuk lewat jendela besar apartemen, foto-fotonya terlihat seperti hasil fotografer profesional.

Ia baru saja hendak mengunggah foto tersebut ke akun Instagram barunya ketika bel pintu berbunyi.

Laluna mengernyit. Apakah Clarissa datang lagi untuk mengamuk?

Ia mengintip lewat interkom dan jantungnya hampir berhenti berdetak. Bukan Clarissa. Pria yang berdiri di sana adalah Saka Ardiansyah.

Saka adalah cinta monyet Laluna di masa SMA, sekaligus orang yang hampir melamarnya sebelum perusahaan ayahnya hancur. Saka mengenakan kemeja kasual dan tampak jauh lebih dewasa serta sukses daripada terakhir kali mereka bertemu.

Laluna membuka pintu dengan tangan gemetar. "Saka? Bagaimana kau tahu aku di sini?"

Saka menatap Laluna dengan pandangan campur aduk antara rindu dan kecewa.

"Sulit menyembunyikan sesuatu dari orang yang mencarimu ke mana-mana, Luna. Kenapa kau menghilang? Ayahmu bilang kau sudah menikah, tapi tidak ada pesta, tidak ada berita. Aku mencarimu ke seluruh penjuru kota."

"Saka, kau tidak seharusnya di sini," bisik Laluna panik.

Ia teringat kamera CCTV di lorong apartemen yang terhubung langsung ke ponsel Reihan.

"Siapa pria itu, Luna? Apa dia memaksamu? Aku dengar dia adalah Reihan Arta Wiguna. Pria dingin yang hanya peduli pada uang. Apa kau menjual dirimu demi hutang ayahmu?" suara Saka meninggi, penuh emosi.

"Cukup, Saka!" Laluna mencoba menutup pintu, namun Saka menahannya dengan tangan kuat.

"Aku punya uang sekarang, Luna. Aku bisa membayar semua hutang ayahmu. Ikutlah denganku. Jangan biarkan dirimu terjebak dalam pernikahan kontrak ini. Aku tahu ini hanya kontrak!"

Tepat saat itu, lift di belakang Saka berdenting terbuka. Sosok tinggi besar dengan aura yang sangat mengancam keluar dari sana. Reihan berdiri di sana, menatap pemandangan di depan pintu apartemennya dengan mata yang menyala karena amarah yang tertahan.

Reihan tidak berteriak. Ia justru berjalan mendekat dengan langkah yang sangat tenang, namun setiap langkahnya seolah membawa beban ribuan ton.

"Ada tamu yang tidak diundang, sayang?" suara Reihan terdengar sangat rendah dan berbahaya.

Ia meletakkan tangannya di bahu Laluna, menariknya mundur ke dalam pelukannya dengan gerakan yang sangat posesif. Mata elang Reihan tertuju pada tangan Saka yang masih memegang pintu.

"Lepaskan tanganmu dari properti pribadiku, Tuan Ardiansyah," ucap Reihan dengan nada yang sanggup menciutkan nyali siapapun.

"Atau aku akan memastikan tangan itu tidak akan pernah bisa memegang apa pun lagi di kota ini."

Saka tertegun, menatap Reihan dengan amarah yang sama besarnya.

"Kau hanya membelinya dengan uang, Reihan. Kau tidak memiliki hatinya."

Reihan menyeringai tipis, sebuah seringai yang mematikan.

"Hati atau bukan, dia memakai cincinku. Dia tinggal di rumahku. Dan yang paling penting... dia adalah istriku di hadapan hukum. Sekarang, pergi sebelum aku memanggil keamanan untuk menyeretmu seperti sampah."

Saka menatap Laluna terakhir kali dengan tatapan terluka, sebelum akhirnya berbalik dan masuk ke lift. Begitu pintu lift tertutup, Reihan segera melepaskan tangannya dari bahu Laluna.

Ia masuk ke dalam apartemen dan menutup pintu dengan bantingan keras.

"Siapa dia?" tanya Reihan, suaranya kini menggelegar di ruang tengah yang luas.

"Dia... dia hanya teman lama," jawab Laluna dengan suara bergetar.

"Teman lama yang tahu tentang kontrak kita? Teman lama yang ingin menebusmu?" Reihan mendekati Laluna hingga gadis itu terpojok ke dinding.

"Dengarkan aku baik-baik, Laluna. Pernikahan ini mungkin rahasia, tapi pengkhianatanmu tidak akan pernah menjadi rahasia. Jika kau berani membawa masa lalumu ke pintu rumahku lagi, aku tidak akan segan-segan menghancurkan dia dan perusahaan ayahmu sekaligus."

Laluna menatap mata Reihan, mencari sisa-sisa pria yang tadi pagi duduk bersamanya di dapur. Namun pria itu hilang. Yang ada di depannya sekarang adalah sang Ice King yang sesungguhnya.

"Aku tidak mengundangnya, Reihan. Aku bersumpah," bisik Laluna, air mata mulai menggenang di sudut matanya.

Reihan menatap air mata itu, ada kilatan keraguan di matanya sejenak, namun ia segera membuang muka.

"Bersihkan dirimu. Dan buang donat-donat itu. Baunya membuatku muak."

Reihan melangkah pergi menuju kamarnya, meninggalkan Laluna yang luruh ke lantai, menangis dalam diam di tengah aroma manis donat yang kini terasa pahit.

***

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!