Selama tiga tahun, Kinara mengabdikan seluruh hidupnya hanya untuk mengejar cinta Arlan—seorang CEO dingin yang tak pernah menganggapnya ada. Bagi Arlan, Kinara hanyalah gangguan yang tidak berarti dan bayangan yang membosankan.
Hingga suatu hari, sebuah rahasia menyakitkan membuat Kinara sadar bahwa cintanya telah mati. 'Cukup, Arlan. Mulai hari ini, aku berhenti mengejarmu. Anggap saja kita tidak pernah saling mengenal.'
Kinara pergi, menghilang tanpa jejak. Namun, saat Kinara muncul kembali sebagai wanita sukses yang mandiri dan tak lagi meliriknya, Arlan justru mulai kehilangan akal. Arlan yang dulu dingin, kini justru berlutut memohon maaf di bawah hujan.
'Kenapa kau tidak menatapku lagi, Kinara? Aku mohon... kembali mengejarku.'
Sayangnya, bagi Kinara, pintu itu sudah tertutup rapat. Penyesalan Arlan hanyalah angin lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon GABRIELA POSENTIA NAHAK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15 : Rahasia Di Balik Senyuman
Ketegangan di kantor kecil itu terasa begitu nyata, seolah oksigen di dalam ruangan itu baru saja disedot habis.
Arlan masih berdiri mematung di tengah ruangan, menatap tangannya yang baru saja ditolak oleh Kinara dengan tatapan kosong.
Matanya yang tadinya bersinar ceria karena ingin memberikan kejutan, kini meredup seketika, digantikan oleh gumpalan kabut kecemasan yang sangat mendalam.
"Kinara... kenapa? Apa aku datang di waktu yang salah? Atau kau sedang tidak ingin diganggu?" suara Arlan bergetar pelan, ada nada ketakutan yang terselip di sana—ketakutan yang hanya bisa dimengerti oleh seseorang yang merasa dunianya akan runtuh.
Kinara segera tersadar dari keterpakuannya.
Ia tidak boleh menunjukkan kecurigaannya sekarang sebelum memiliki bukti yang kuat dan valid.
Ia mencoba mengatur napasnya yang memburu, meremas jari-jarinya yang gemetar di bawah meja, dan memaksakan sebuah senyuman kecil—meski senyuman itu terasa lebih seperti topeng yang retak.
"Maaf, Arlan. Aku... aku hanya terkejut. Tadi aku sedang fokus menulis adegan yang sangat emosional untuk bab terbaruku, jadi suasana hatiku sedikit terbawa," bohong Kinara sambil dengan cepat menyelipkan ponselnya ke dalam saku daster yang ia lapisi blazer kerja.
Arlan tampak tidak sepenuhnya percaya.
Insting bisnisnya yang tajam menangkap ada sesuatu yang disembunyikan istrinya.
Namun, ia memilih untuk mengembuskan napas lega yang sangat panjang, seolah baru saja lolos dari maut.
Ia melangkah maju lagi, kali ini lebih perlahan, lalu menarik Kinara ke dalam pelukannya. Ia menyandarkan dagunya di bahu Kinara, memeluk wanita itu dengan sangat erat—seolah pelukan itu adalah satu-satunya hal yang menahannya agar tidak jatuh hancur.
"Jangan menakutiku seperti itu lagi, Sayang. Aku pikir kau marah lagi padaku karena aku datang tiba-tiba," gumam Arlan dengan nada manja yang kini terdengar sangat kontras dengan tuduhan yang baru saja Kinara baca.
"Ayo kita makan siang. Aku sudah memesan restoran favoritmu. Aku tidak mau kau telat makan hanya karena sibuk menulis."
Selama makan siang di restoran mewah yang sudah dipesan secara pribadi oleh Arlan, pria itu tidak berhenti bicara.
Ia menceritakan bagaimana ia memarahi manajer pemasarannya yang tidak becus, hingga rencananya untuk mengajak Kinara berlibur ke Swiss bulan depan agar Kinara bisa mendapatkan inspirasi tulisan yang lebih segar.
Arlan bertingkah seolah ia adalah suami paling sempurna di dunia.
Namun, Kinara hanya merespons dengan anggukan singkat dan senyum hambar.
Pikirannya tidak berada di restoran itu. Pikirannya tertuju pada satu kata yang menghantui: Andromeda.
Setelah Arlan kembali ke kantornya, Kinara tidak kembali ke meja tulisnya.
Ia justru menghubungi salah satu teman lama ayahnya, Pak Heru, yang dulu pernah menjabat sebagai manajer keuangan di perusahaan sang ayah.
"Halo, Om Heru... ini Kinara. Maaf mengganggu waktunya. Saya ingin bertanya sesuatu yang sangat penting tentang Proyek Andromeda lima tahun lalu. Apa Om ingat siapa investor atau perusahaan yang melakukan akuisisi paksa saat saham Ayah anjlok?" tanya Kinara dengan suara berbisik, bersembunyi di sudut kantornya yang sepi.
Di ujung telepon, terdengar helaan napas panjang yang sarat akan beban masa lalu.
"Kinara, itu cerita lama yang sangat menyakitkan. Tapi jika kau bertanya soal siapa yang bergerak di balik layar saat itu... ada sebuah perusahaan cangkang bernama 'A-Legacy Group'. Banyak orang di pasar modal tahu bahwa itu adalah tangan kanan dari Arlan Group untuk melakukan pengambilalihan aset secara agresif. Ayahmu tidak kalah karena bodoh, Kinara. Beliau kalah karena dijebak."
Jantung Kinara berdegup kencang hingga telinganya berdenging. 'A-Legacy'.
Arlan Group.
Semuanya mulai masuk akal sekarang.
Pernikahan mereka yang mendadak, tawaran bantuan Arlan saat ia sedang di titik terendah... semuanya adalah rencana matang.
Malam harinya di mansion, suasana terasa begitu menyesakkan bagi Kinara. Arlan benar-benar kembali ke mode "bayi gede" yang haus akan perhatian.
Ia mengikuti Kinara ke mana pun, bahkan saat Kinara mencoba menenangkan diri di perpustakaan pribadi untuk mencari dokumen-dokumen lama di antara tumpukan arsip keluarganya.
"Kinara, kenapa kau membaca buku-buku hukum yang membosankan itu? Matamu nanti sakit," rengek Arlan sambil merebut buku dari tangan Kinara dan menggantinya dengan tangannya sendiri untuk digenggam erat.
"Ayo kita menonton film saja di ruang teater. Aku mau manja-manja padamu. Punggungku pegal sekali seharian bekerja."
Arlan kemudian menjatuhkan dirinya di pangkuan Kinara yang sedang duduk di sofa perpustakaan.
Ia menatap wanita itu dengan mata yang sengaja dibuat sayu, mencari kasih sayang.
"Pijat kepalaku, Kinara. Aku merasa sedikit pening."
Kinara mengelus rambut Arlan dengan gerakan yang sangat ragu, seolah tangannya sedang menyentuh bara api.
"Arlan... boleh aku bertanya sesuatu tentang masa lalu bisnismu?"
Arlan memejamkan matanya, menikmati belaian tangan Kinara yang sangat ia dambakan.
"Tanya apa saja, Sayang. Bahkan jika kau minta rahasia dagang terbesarku, akan kuberikan semuanya untukmu."
"Apa kau mengenal Proyek Andromeda?"
Seketika, tubuh Arlan di pangkuan Kinara menegang kaku.
Gerakan tangan Kinara di rambutnya berhenti seketika.
Arlan tidak langsung membuka matanya, namun Kinara bisa merasakan napas pria itu menjadi pendek dan tidak beraturan.
Keheningan yang mencekam menyelimuti ruangan perpustakaan itu selama beberapa detik yang terasa seperti selamanya.
Arlan perlahan membuka matanya, namun tidak ada lagi binar manja atau tatapan menggemaskan di sana. Hanya ada sorot mata yang gelap, tajam, dan penuh dengan rahasia yang terkunci rapat.
"Dari mana kau mendengar nama itu, Kinara?" suara Arlan berubah total—menjadi dingin, datar, dan berwibawa.
Suara yang biasanya ia gunakan saat menghancurkan lawan bisnisnya di meja perundingan.
"Hanya... tidak sengaja mendengar orang-orang di agensi membicarakannya. Katanya itu adalah proyek hebat yang pernah Arlan Group kerjakan,"
Kinara mencoba tetap tenang meskipun ia merasa ingin berteriak.
Arlan bangkit dari pangkuan Kinara. Ia berdiri dan berjalan menuju jendela besar, membelakangi Kinara, menatap kegelapan malam di luar sana.
"Itu hanya masa lalu, Kinara. Bisnis adalah medan perang. Ayahmu adalah orang baik, tapi di dunia ini, orang baik sering kali menjadi korban dari mereka yang lebih kuat. Aku hanya melakukan apa yang harus dilakukan oleh seorang pengusaha untuk menang."
"Jadi benar? Kau yang merencanakan kebangkrutan ayahku? Kau yang membuatnya serangan jantung karena kehilangan segalanya dalam semalam?!" suara Kinara akhirnya pecah, ia berdiri dengan tubuh bergetar hebat.
Arlan berbalik.
Wajahnya kembali melunak, namun kali ini penuh dengan keputusasaan.
Ia mencoba mendekati Kinara, tangannya terulur ingin meraih bahu wanita itu.
"Aku melakukannya sebelum aku mencintaimu, Kinara! Saat itu kau hanya seorang gadis yang aku lihat dari jauh di acara perjamuan bisnis. Aku tidak tahu bahwa tindakanku akan menghancurkan hidupmu sejauh ini! Aku mencoba menebusnya dengan menikahimu, memberikanmu segalanya yang kau butuhkan!"
"Menebusnya? Kau menikahiku bukan karena cinta, tapi karena rasa bersalah?!" air mata Kinara kini benar-benar tumpah, membasahi pipinya yang pucat.
"Semua sikap manjamu, semua kemurahan hatimu... itu semua hanya cara agar kau tidak merasa seperti monster, kan?"
"TIDAK! Awalnya mungkin aku merasa bersalah, tapi sekarang aku benar-benar mencintaimu sampai gila!" Arlan berteriak frustrasi.
"Aku manja padamu karena aku takut! Aku takut jika kau tahu kebenaran ini, kau akan menatapku dengan kebencian dan meninggalkanku sendirian lagi!"
Arlan tiba-tiba menjatuhkan dirinya di lantai.
Sang penguasa Arlan Group itu berlutut di bawah kaki Kinara, memeluk kaki wanita itu dengan sangat erat, tidak membiarkannya mundur sedikit pun.
"Jangan pergi! Aku mohon! Kau boleh membenciku, kau boleh memukulku, kau boleh mengambil seluruh hartaku sebagai ganti rugi! Tapi jangan tinggalkan aku, Kinara! Aku tidak bisa hidup tanpa oksigen darimu!"
Malam itu, rahasia terbesar yang terkubur rapi akhirnya meledak.
Arlan yang biasanya berkuasa kini kembali menjadi pria yang hancur, menangis tersedu-sedu di bawah kaki wanita yang hatinya baru saja ia patahkan untuk kedua kalinya.
Kinara berdiri mematung, menatap pria yang ia cintai namun juga ia benci secara bersamaan.