NovelToon NovelToon
Sembilan Gulungan Naga Legendaris

Sembilan Gulungan Naga Legendaris

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Epik Petualangan
Popularitas:10k
Nilai: 5
Nama Author: Nugraha

Tiga ribu tahun yang lalu, sembilan kultivator legendaris menciptakan teknik kultivasi tertinggi: Orkestrasi Sembilan Naga. Teknik ini konon bisa membawa pengguna melampaui batas Ranah Pendakian Abadi yang tidak pernah bisa dicapai oleh kultivator manapun, karena "Tribulasi Langit" selalu menghancurkan mereka yang berani mencoba.

Namun menyadari bahayanya, para pendiri memecah teknik ini menjadi sembilan gulungan dan menyebarkannya kepada sembilan klan yang mereka dirikan. Setiap gulungan merepresentasikan satu aspek naga: Petir, Api, Air, Tanah, Angin, Cahaya, Bayangan, Ruang, dan Kekacauan.

Selama ribuan tahun, sembilan klan ini menjadi kekuatan dominan di dunia kultivasi. Namun mereka tidak pernah berani menyatukan gulungan kembali, karena legenda mengatakan: "Siapa yang menyatukan Sembilan Naga, akan menjadi Penguasa Langit atau menghancurkan dunia."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26 : Pertemuan di Dermaga Tiga

Malam turun dengan cepat di Kota Qingshui.

Lin Feng berdiri di depan jendela kamarnya, menatap kota yang perlahan diselimuti cahaya lentera-lentera spiritual. Dari ketinggian itu, Danau Giok tampak berkilau memantulkan sinar bulan, sementara di kejauhan, siluet dermaga-dermaga tua menjulur ke dalam air seperti bayangan gelap yang sunyi.

Dermaga Tiga.

Ke sanalah ia harus pergi.

Ini bodoh, bisik suara di kepalanya. Kau tidak tahu siapa pria itu. Tidak tahu apa tujuannya. Ini bisa jadi sebuah jebakan.

Namun suara lain bergema di pikirannya.

Tapi bagaimana jika bukan? Bagaimana jika ini satu-satunya kesempatanmu untuk mengetahui siapa yang membunuh keluargamu?

Lin Feng menghembuskan napas panjang. Keputusan itu sebenarnya sudah ia buat sejak siang tadi.

Ia akan pergi.

Namun ia akan bersiap menghadapi kemungkinan terburuk. Ia mengenakan jubah gelap, bukan jubah yang diberikan Kuil Cahaya Suci, Jubah itu dilengkapi tudung yang bisa menutupi sebagian wajahnya, cukup untuk membuatnya tidak mudah dikenali di malam hari.

Setelah itu, ia memeriksa perlengkapannya satu per satu.

Sebuah pisau kecil tersembunyi di balik lengan bajunya.

Dan yang terpenting, qi di dalam tubuhnya harus siap .

Jika ini benar-benar jebakan, pikir Lin Feng sambil menyelipkan pisau ke lengan kanannya, mereka akan menyesal.

Dengan satu tarikan napas dalam, ia melangkah keluar dari kamar. Langkah Lin Feng ringan dan hampir tanpa suara, dibantu oleh teknik Langkah Bayangan Angin yang ia aktifkan secara halus. Ia tidak ingin menarik perhatian siapa pun, terutama Yue Lian.

Ia hampir mencapai pintu depan ketika sebuah suara terdengar dari belakangnya.

“Mau ke mana?”

Tubuh Lin Feng seketika menegang.

Ia berbalik perlahan dan melihat Zhou Ming bersandar di dinding koridor, kedua lengannya terlipat. Wajah pria itu sebagian tertelan bayangan membuat ekspresinya sulit dibaca.

“Jalan jalan malam,” jawab Lin Feng hati-hati.

“Ke Dermaga Tiga?” Zhou Ming melangkah keluar dari bayangan. “Yue Lian sudah menceritakan semuanya. Tentang pria misterius itu. Tentang informasi yang ia janjikan.”

Lin Feng terdiam.

“Aku tidak akan menghentikanmu,” lanjut Zhou Ming. “Kau berhak mencari kebenaran tentang keluargamu. Tapi aku juga tidak akan membiarkanmu pergi sendirian ke tempat yang jelas-jelas berbahaya.”

“Dia bilang harus sendirian—”

“Aku tidak akan masuk,” potong Zhou Ming tegas. “Tapi aku akan berada di sekitar area. Untuk berjaga-jaga kalau terjadi masalah.”

Lin Feng menatapnya cukup lama.

“Terima kasih,” ucapnya akhirnya.

Zhou Ming mengangguk singkat. “Ayo. Jangan buang buang waktu.”

Dermaga Tiga berada di sisi timur kota, terpisah dari dermaga utama yang biasanya ramai.

Tempat itu sudah tua dan nyaris tak digunakan. Kayu-kayu dermaga terlihat lapuk, beberapa papan patah dan dibiarkan begitu saja. Tidak ada perahu yang berlabuh. Gudang-gudang di sekitarnya pun kosong dan ditinggalkan, hanya menyisakan bayangan gelap yang memanjang di bawah cahaya bulan.

Tempat yang sempurna untuk sebuah penyergapan.

Lin Feng berhenti di ujung jalan menuju dermaga, menyebarkan indra spiritualnya sejauh yang ia mampu.

“Ada tiga jejak qi di gudang paling besar,” bisik Zhou Ming yang berdiri di sampingnya. “Dua di Ranah Pembentukan Fondasi Lapisan Pertama dan Kedua tapi untuk satunya lagi aku tidak bisa mendeteksi Ranahnya.”

“Tiga orang,” gumam Lin Feng.

“Aku akan menunggu di atap gudang sebelah,” kata Zhou Ming sambil menunjuk bangunan di sisi kiri. “Beri sinyal jika kau butuh bantuan.”

“Bagaimana caranya?”

Zhou Ming menyerahkan sebuah benda berbentuk bulat, sebuah benda yang biasa digunakan untuk sinyal bagi para kultivator. “Aliri dengan qi. Aku akan sampai dalam sepuluh napas.”

Lin Feng menyimpannya ke dalam kantong kecil di pinggangnya “Semoga ini tidak perlu digunakan.”

“Iya semoga saja,” balas Zhou Ming sambil menepuk bahunya sekali, lalu menghilang ke dalam bayangan dan bergerak menuju posisinya.

Lin Feng menarik napas dalam dalam, lalu melangkah menuju gudang.

Gudang Tua di Dermaga Tiga ternyata jauh lebih besar dari yang terlihat dari luar.

Pintu kayunya setengah terbuka, berderit pelan saat tertiup angin malam. Bagian dalamnya gelap, hanya diterangi satu lentera yang tergantung di tengah ruangan, menciptakan lingkaran cahaya redup yang terasa asing dan menekan.

Lin Feng berhenti di ambang pintu, membiarkan matanya menyesuaikan diri dengan kegelapan.

“Masuk,” terdengar suara dari dalam, suara yang sama seperti pria di kedai teh. “Sendirian, seperti yang kuminta?”

“Ya,” jawab Lin Feng sambil melangkah masuk, tetapi ia tetap waspada. Tangan kanannya siap mengalirkan qi kapan saja.

Begitu ia memasuki lingkaran cahaya, tiga sosok terlihat jelas.

Di tengah berdiri pria tua yang ia temui di kedai. Jubah lusuh dan topi lebarnya masih sama, namun kini wajahnya terlihat lebih jelas, keriput yang dalam, mata tajam namun sarat kelelahan. Seolah ia telah hidup terlalu lama dan menyaksikan terlalu banyak hal.

Di kiri dan kanannya berdiri dua kultivator muda, seorang pria dan seorang wanita, wajah mereka tersembunyi di balik topeng sederhana.

“Aku sempat ragu kau tidak benar-benar akan datang.” kata pria tua itu dengan nada suaranya terdengar lega.

“Kau menyebut keluargaku,” kata Lin Feng tanpa basa-basi. “Aku ingin tahu maksudmu.”

“Langsung ke inti persoalannya. Aku menyukainya.” Pria tua itu tersenyum tipis. “Namaku Shen Yuan. Dan aku pernah mengenal keluargamu dulu.”

Jantung Lin Feng berdetak keras. “Kau… mengenal keluarga ku, Apakah Ayahku?”

“Bukan ayahmu,” koreksi Shen Yuan. “Melainkan kakekmu. Lin Tian.”

Dunia seakan berputar sesaat.

Lin Tian. Pendiri Akademi Pedang Awan Biru yang menghilang seribu seratus tahun lalu. Lin Feng memang sudah lama mencurigai adanya hubungan, tetapi mendengarnya secara langsung tetap terasa mengguncang hatinya.

“Kakekku?” Lin Feng berusaha menjaga suaranya tetap stabil. “Lin Tian hidup lebih dari seribu tahun lalu. Itu tidak masuk akal.”

“Tidak secara langsung,” jawab Shen Yuan tenang. “Namun kau adalah keturunan langsungnya. Darah Lin Tian mengalir di nadimu. Itulah sebabnya kau mampu menggunakan Gulungan Naga Kekacauan.”

Keheningan pun terjadi.

Lin Feng tahu saat itu, pria ini benar-benar tahu segalanya.

“Aku tidak tahu apa yang kau maksud,” ujar Lin Feng berhati-hati.

“Jangan berpura-pura pada seseorang yang sudah mengetahui kebenaran,” Shen Yuan menggeleng kepalanya pelan. “Aku merasakan Qi-mu saat kita bertemu di kedai. Sembilan elemen dalam keharmonisan sempurna. Hanya pemegang Gulungan Naga Kekacauan yang mampu melakukannya.”

Lin Feng akhirnya tidak lagi menyangkal.

“Siapa kau sebenarnya?”

Shen Yuan terdiam sejenak, seolah menimbang seberapa jauh ia boleh berbicara.

“Aku adalah murid terakhir Lin Tian,” katanya akhirnya. “Sebelum menghilang, ia menitipkan sesuatu padaku. Sebuah misi dan sebuah tanggung jawab.”

“Misi apa?”

“Menemukan ahli waris sejatinya. Dan membimbingnya saat waktunya tiba.” Tatapan Shen Yuan menancap tajam ke arah Lin Feng. “Dan setelah seribu seratus tahun menunggu… akhirnya aku menemukanmu.”

“Seribu seratus tahun?” Lin Feng menatapnya tidak percaya. “Tidak mungkin seseorang hidup selama itu... Karena dunia ini telah terkekang oleh formasi.”

“Kau tahu tentang formasi itu,” potong Shen Yuan. “Bagus. Itu berarti kau sudah melihat visi yang ditinggalkan Lin Tian di dalam gulungan.”

Lin Feng tidak menjawab. Diamnya sudah cukup menjadi jawaban.

“Untuk menjawab pertanyaanmu, aku tidak hidup selama itu secara normal." lanjut Shen Yuan, "Aku menggunakan Formasi Tidur Abadi, formasi yang menempatkan kultivator dalam kondisi stagnasi, memperlambat waktu hingga nyaris berhenti. Setiap seratus tahun, aku terbangun untuk memeriksa apakah ahli waris telah muncul. Seandainya belum muncul maka aku kembali tertidur.”

“Dan kau baru bangun sekarang?”

“Dua bulan lalu,” jawab Shen Yuan. “Saat aku merasakan fluktuasi Qi sembilan elemen di wilayah ini. Saat itu aku tahu… ahli waris akhirnya muncul.”

Lin Feng mencerna semua informasi itu dengan cepat. Jika semua ini benar, maka Shen Yuan adalah penghubung langsung ke Lin Tian, ke rahasia gulungan, dan kebenaran tentang keluarganya.

Dan mungkin juga awal dari takdir yang jauh lebih besar daripada yang pernah ia bayangkan.

1
Green Boy
lanjut lagi thor
Green Boy
semangat thor💪💪💪
Green Boy
semangat thor💪💪💪💪
🌸 Maya Debar 🌸
Tak tunggu selalu upnya Thor 💗💗💗💕💕💞💞💝💖💖💖💋💋💖💝💝💞💞💕💗💗💗🤩🤩💗💕💞💝💝💖💋💋💋💖💋💋💋💋💋💋💖💖💖💝💝💞💕💗🤩
🌸 Maya Debar 🌸
Tak tunggu selalu upnya Thor 💗💗💗💕💕💞💞💝💖💖💖💋💋💖💝💝💞💞💕💗💗💗🤩🤩💗💕💞💝💝💖💋💋💋💖💋💋💋💋💋💋💖💖💖💝💝💞💕💗🤩
Arinto Ario Triharyanto
Yoi, MC terlalu naif, kyknya kalahan ini mah kalo tarung, apalagi sama cewek, Cemen 😄
rozali rozali
lanjut thor.
💪💪💪💪
Muh Nasrun
Thor, kenapa harus mencuri pil hanya utk meningkatkan kultivasinya, ini ga benar, kalaupun bisa tambah kuat tapi dgn cara yg tdk benar.
Arinto Ario Triharyanto
kebanyakan mikir lu Feng 🤣
Celestial Quill: masih belum pede dengan kekuatannya.😄
total 1 replies
Muh Nasrun
Tingkatan ke 3 tetapi bisa bertarung dgn level 8, apa2an ini, terlalu sekali, lebih baij tdk perlu ada level thor, tdk berguna level,kalau di cerita silat yg lainnya itu spt semut ketemu gajah, terlalu jauh rananya.
Celestial Quill: saya luruskan sedikit ya, Zhao Ming yang Lapisan Ketiga kenapa bisa bertarung dengan lapisan keenam atau Kedelapan bukan karena Lapisannya, melainkan karena teknik tempur nya kuat, tetapi ia tidak bisa bertarung dengan lama melawan lapisan yang lebih tinggi, karen Qi yang di milikinya terbatas berbeda dengan Lapisan yang lebih tinggi.🙏
total 1 replies
Arinto Ario Triharyanto
bagus, lanjutkan
Celestial Quill: Siap🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!