Prabu, seorang pria yang dulunya penuh ambisi, kini tenggelam dalam depresi berat yang merenggut gairah hidupnya. Melihat kondisi sang putra yang kian memprihatinkan, ayahnya yang merupakan seorang pilot senior, merasa hanya ada satu orang yang mampu menarik Prabu keluar dari kegelapan: Xena.
Xena bukan sekadar wanita dari masa lalu yang pernah mengejar-ngejar Prabu saat SMA, ia kini adalah seorang dokter spesialis jiwa yang handal. Sang ayah yakin bahwa kombinasi antara keahlian medis dan ketulusan hati Xena adalah kunci kesembuhan Prabu.
Meski dipenuhi penolakan dan sikap dingin yang membeku, Prabu akhirnya menyerah pada desakan orang tuanya. Ia menyetujui pernikahan tersebut dengan satu syarat mutlak di kepalanya: pernikahan ini tak lebih dari sekadar sesi pengobatan.
Xena pun melangkah masuk ke dalam hidup Prabu, bukan lagi sebagai gadis remaja yang naif, melainkan sebagai penyembuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Xena mencengkeram kemudi dengan jari-jari yang memutih.
Ia melajukan mobilnya meninggalkan area pantai, membiarkan debu pasir berterbangan di belakangnya.
Di dalam mobil yang tertutup rapat itu, pertahanannya runtuh total.
Ia menangis sesenggukan, suara isakannya beradu dengan deru mesin mobil yang ia pacu tanpa arah.
"Aku mencintaimu, Pra. Aku sangat mencintaimu," bisiknya di sela tangis yang menyesakkan dada.
"Tapi, hatiku masih sakit. Perih sekali..."
Ia menyentuh pipinya yang masih berdenyut. Bayangan Prabu yang berlari di pantai sambil meneriakkan namanya terus berputar di kepalanya seperti kaset rusak.
Itu adalah impiannya selama sepuluh tahun, namun ironisnya, impian itu terwujud di saat ia sudah tidak memiliki ruang lagi untuk menampung rasa sakit.
Xena merasa seperti gelas yang sudah retak seribu; satu sentuhan cinta dari Prabu justru terasa seperti tekanan yang akan menghancurkannya menjadi serpihan.
Sementara itu, di tepi pantai yang mulai terasa dingin, Prabu masih terduduk diam.
Tubuhnya lemas, bukan karena lari sepuluh putaran tadi, melainkan karena hantaman kata-kata Xena yang menolak cintanya.
Ia meraih ponselnya yang tergeletak di pasir dengan tangan gemetar, lalu mendial nomor Yanuar.
"Yan, jemput aku di pantai tempat biasa," ucap Prabu lirih saat telepon tersambung. Suaranya terdengar hampa, seperti orang yang baru saja kehilangan jiwanya.
"Pra? Kamu kenapa? Di mana mobilmu?" suara Yanuar terdengar panik di seberang sana.
"Xena membawanya. Dia pergi, Yan. Dia benar-benar pergi."
Tak butuh waktu lama bagi Yanuar untuk sampai. Ia menemukan sahabatnya dalam kondisi yang menyedihkan; kemeja tergeletak di pasir, mata sembab, dan wajah yang penuh dengan keputusasaan.
Yanuar tidak banyak bertanya. Ia membantu Prabu berdiri dan menuntunnya masuk ke dalam mobil.
Di dalam perjalanan pulang, keheningan menyelimuti mereka.
Prabu menatap ke luar jendela, namun matanya kosong.
Ia melihat jam di pergelangan tangannya. Pukul dua siang.
Ia harus bersiap. Sore ini, ia dijadwalkan kembali terbang untuk pertama kalinya setelah masa pemulihan.
Tiba-tiba, setetes air mata jatuh membasahi pipi sang Pilot.
Ia yang biasanya terlihat gagah dan angkuh dalam seragamnya, kini tampak begitu rapuh.
"Aku dapat sayapku kembali, Yan," bisik Prabu dengan suara pecah.
"Tapi untuk apa aku terbang tinggi, kalau rumah tempatku mendarat sudah tidak menginginkanku lagi?"
Yanuar hanya bisa menghela napas panjang, mencengkeram kemudi dengan erat.
Ia tidak tega melihat sahabatnya hancur, namun ia juga tahu betapa dalamnya luka yang telah ditorehkan Prabu pada hati Xena.
Sore itu, Prabu akan kembali mengejar langit, namun jiwanya tetap tertinggal di bumi, berserakan di bawah kaki wanita yang baru saja ia sadari adalah seluruh dunianya.
Yanuar melajukan mobilnya membelah jalanan dengan kecepatan stabil.
Di sampingnya, Prabu hanya terdiam membisu, menatap kosong ke arah deretan pohon yang melesat di balik jendela.
Tidak ada percakapan. Hanya ada suara deru mesin dan sesak yang memenuhi rongga dada Prabu.
Air matanya kembali menetes pelat, jatuh tepat di atas seragam pilot yang tadi sempat ia ambil dari kursi belakang.
Sore ini ia akan kembali ke langit, namun hatinya terasa seberat timah yang tenggelam di dasar laut.
Di saat yang bersamaan, mobil yang dikendarai Xena berhenti tepat di depan gerbang kediaman besar keluarga Prabu.
Dengan sisa-sisa tenaga yang ia miliki, Xena turun dari mobil.
Matanya yang sembab tak bisa lagi menyembunyikan kelelahan jiwa yang amat sangat.
Ayah dan Ibu Prabu yang sudah menunggu di teras langsung berdiri tegak.
Wajah mereka penuh binar harapan, menyangka bahwa kembalinya Xena adalah awal dari kebahagiaan baru bagi putra mereka.
Xena berjalan menuju bagasi, lalu dengan susah payah ia menurunkan koper besar milik Prabu.
Suara roda koper yang bergesekan dengan lantai teras terdengar begitu final, seperti bunyi palu hakim di ruang sidang.
"Xena? Kenapa koper Prabu diturunkan di sini, Nak?" tanya Ibu Prabu dengan suara yang mulai bergetar karena firasat buruk.
Xena berdiri tegak, mencoba mengatur napasnya yang terasa sesak.
Ia menatap kedua mertuanya yang selama ini telah menjadi pelindung dan pengganti orang tuanya.
"Ayah, Ibu, tugas Xena telah selesai," ucap Xena lirih. Suaranya pecah di ujung kalimat.
"Prabu sudah dinyatakan layak terbang kembali. Seluruh janji Xena untuk menyembuhkannya sudah Xena tunaikan."
Ayah Prabu melangkah maju, wajahnya yang tegas kini tampak kuyu.
"Lalu kenapa kamu membawa kopernya ke sini, Nak?"
Xena menunduk, air matanya kembali tumpah membasahi pipinya yang masih dihiasi bekas luka.
"Xena izin pamit. Xena sudah mengembalikan Prabu kepada Ayah dan Ibu dalam keadaan sehat. Sekarang, izinkan Xena pergi untuk menyembuhkan diri Xena sendiri."
Mendengar kalimat itu, Ibu Prabu tidak bisa lagi membendung air matanya.
Beliau langsung menghambur ke arah Xena, merengkuh tubuh ramping menantunya itu ke dalam pelukan yang sangat erat.
Ayah Prabu pun ikut mendekat, merangkul Xena dari sisi lain, seolah tidak ingin melepaskan permata yang baru saja akan hilang dari rumah mereka.
"Maafkan kami, Xena. Maafkan keluarga ini yang sudah memberimu beban begitu berat," isak Ibu Prabu di pundak Xena.
Di pelukan kedua orang tua itu, Xena menangis sejadi-jadinya.
Ia merasa hangat, namun ia tahu kehangatan ini tidak lagi bisa menahan kakinya untuk tetap tinggal di rumah yang penuh dengan kenangan menyakitkan bersama Prabu.
"Terima kasih untuk semuanya, Yah, Bu," bisik Xena di tengah isakannya. "Tapi Xena tidak bisa lagi..."
Sore itu, di bawah langit yang mulai berubah jingga, sebuah pengabdian tulus berakhir dengan perpisahan yang menyayat hati, tepat saat sang Pilot bersiap untuk terbang kembali tanpa membawa restu dari hatinya sendiri.
Yanuar menghentikan mobilnya dengan mendadak di depan gerbang.
Ban mobil berdecit, menciptakan suasana tegang yang mencekam.
Belum sempat mesin mati sepenuhnya, Prabu sudah melompat keluar.
Pikirannya kalut, detak jantungnya berpacu liar saat melihat Xena sudah berdiri di samping mobilnya, siap untuk pergi selamanya.
"XENA!" teriak Prabu parau.
Langkah Xena terhenti di pintu mobil. Ia tidak berbalik, namun bahunya tampak menegang.
Prabu berlari mendekat, lalu tanpa memedulikan harga dirinya lagi, ia menjatuhkan lututnya di atas aspal dingin.
Ia terduduk bersimpuh di belakang Xena, mencengkeram ujung gamis istrinya dengan tangan yang gemetar hebat.
"Xena, aku mohon. Sekali ini saja, beri aku satu kesempatan lagi," isak Prabu. Suaranya pecah, tenggelam dalam penyesalan yang amat dalam.
"Aku baru saja mendapatkan sayapku kembali, tapi aku tidak mau terbang jika bukan kamu tujuanku untuk pulang. Aku akan perbaiki semuanya, Xen. Aku janji."
Kedua orang tua Prabu yang masih berdiri di teras hanya bisa terdiam dengan mata berkaca-kaca, menyaksikan putra kebanggaan mereka luruh tak berdaya di bawah kaki wanita yang selama ini ia sia-siakan.
Xena menarik napas panjang, mencoba mengisi rongga dadanya yang terasa begitu sempit.
Ia perlahan membalikkan tubuhnya, menatap Prabu yang bersimpuh di bawahnya.
Pemandangan itu seharusnya membuatnya merasa menang, namun yang ia rasakan hanyalah kekosongan yang hampa.
Xena menggelengkan kepalanya perlahan. Air mata terakhir jatuh melewati bekas lebam di pipinya yang kian memudar.
"Maaf, Pra. Aku sudah tidak punya sisa kesempatan lagi untuk diberikan," ucap Xena dengan nada yang sangat lelah.
"Kesempatan itu sudah habis terbakar bersama sabarku selama sepuluh tahun ini."
"Xen, tolong..."
"Cukup, Pra. Biarkan aku pergi dengan sisa rasa hormat yang masih aku punya untuk diriku sendiri," potong Xena lembut namun tak terbantahkan.
Xena melepaskan cengkeraman tangan Prabu dengan perlahan. Ia tidak lagi menatap ke belakang.
Dengan langkah pasti, Xena masuk ke dalam mobil dan menutup pintunya.
Suara kunci otomatis yang berbunyi klik terdengar seperti vonis akhir bagi pernikahan mereka.
Dari balik kaca mobil yang gelap, Xena melihat bayangan Prabu yang masih bersimpuh di tengah jalan, tertunduk lesu saat mesin mobil mulai menyala.
Xena menginjak pedal gas, melajukan kendaraannya meninggalkan rumah itu, meninggalkan masa lalunya, dan meninggalkan sang Pilot yang baru saja menyadari bahwa langit yang ia kejar tak akan pernah seindah bumi yang baru saja ia lepaskan.
wwkwkwkwk
gemes bgt sama nie orang dech
hahahahaha
ketawa jahat ini🤭
nanti kalau bucin Kutendang dari pesawat🤣