NovelToon NovelToon
Dosa Di Balik Jas Putih: Mempelai Terbuang Dan Skandal Malam Terlarang

Dosa Di Balik Jas Putih: Mempelai Terbuang Dan Skandal Malam Terlarang

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Single Mom / Romansa Fantasi
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: EsKobok

Briella hanyalah "sampah" di kediaman megah keluarganya—anak haram yang lahir dari perselingkuhan ibunya. Saat ia nyaris tewas disiksa oleh saudari tirinya, Prilly, sebuah pelarian berdarah membawanya ke pelukan pria asing di sebuah hotel remang-remang. Satu malam panas mengubah segalanya. Pria itu adalah Geovani, dokter bedah jenius berdarah dingin yang ternyata merupakan tunangan Prilly. Kini, Briella kembali bukan sebagai korban, melainkan sebagai wanita yang membawa benih sang dokter. Di bawah bayang-bayang balas dendam, Briella memulai permainan berbahaya: Merebut pria milik musuhnya, meski ia harus mempertaruhkan nyawa di atas meja operasi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kode Etik yang Dilanggar

​Suara bel pintu mansion yang bergema di tengah hari yang tenang membuat Geovani menghentikan aktivitasnya di laboratorium. Ia melirik monitor keamanan dan mendapati sosok pria paruh baya dengan setelan jas formal sedang berdiri di depan gerbang utama. Itu adalah dr. Adrian, kolega senior sekaligus dewan etik rumah sakit tempat Geovani mengabdi sebagai dokter bedah saraf.

​Geovani segera merapikan pakaiannya dan melangkah menuju ruang tamu, memastikan pintu koridor menuju kamar Briella terkunci rapat secara elektronik. Ia menarik napas panjang untuk menormalkan detak jantungnya sebelum membukakan pintu. Aroma kopi dari mesin otomatis di dapur memenuhi udara, mencoba menutupi bau bahan kimia laboratorium yang biasanya menguar.

​"Adrian? Kedatanganmu sama sekali tidak ada dalam jadwalku hari ini," ujar Geovani dengan nada datar yang berusaha menyembunyikan kewaspadaan.

​Adrian melangkah masuk dengan wajah yang terlihat sangat serius, matanya menyapu setiap sudut ruangan mewah tersebut. "Maaf mengganggumu, Geovani. Tapi laporan tentang hilangnya beberapa peralatan medis canggih dari rumah sakit mengarah ke alamat ini."

​"Aku sudah meminta izin untuk riset mandiri, kau tahu itu. Semua peralatan itu digunakan untuk pengembangan saraf artifisial," sahut Geovani sambil mempersilakan tamunya duduk di sofa kulit.

​"Riset mandiri tidak membutuhkan pasokan nutrisi prenatal tingkat tinggi dan alat ultrasonografi portabel generasi terbaru, Geovani," balas Adrian sambil menatap tajam ke arah juniornya itu.

​Suasana di ruang tamu mendadak mendingin, seolah-olah pendingin ruangan baru saja diturunkan suhunya secara ekstrem. Geovani mengepalkan tangannya di bawah meja, menyadari bahwa koleganya ini telah melakukan penyelidikan lebih jauh dari yang ia bayangkan. Ia harus memutar otak agar rahasia tentang Briella tidak terbongkar saat ini juga.

​"Aku sedang melakukan investigasi medis terhadap penyakit degeneratif saraf yang langka. Pasiennya membutuhkan penanganan khusus yang sangat privat," Geovani mencoba memberikan penjelasan yang terdengar logis secara klinis.

​"Pasien? Siapa pasien itu? Kenapa tidak ada rekam medis yang terdaftar di pusat data rumah sakit?" cecar Adrian dengan nada yang mulai meninggi.

​"Ini adalah kasus luar biasa yang melibatkan privasi keluarga tingkat tinggi di Etheria. Aku tidak bisa membagikan identitasnya, bahkan kepada dewan etik sekalipun," ujar Geovani, suaranya terdengar sangat meyakinkan namun penuh dengan kebohongan.

​Tiba-tiba, suara dentuman benda jatuh terdengar dari lantai atas, tepatnya dari arah kamar Briella yang seharusnya kosong. Adrian tersentak dan segera berdiri, menatap ke arah tangga besar yang menuju ke lantai dua. Kecurigaannya semakin memuncak saat ia melihat ekspresi Geovani yang sempat menegang sedetik sebelum kembali datar.

​"Suara apa itu? Apakah pasien misteriusmu sedang berada di atas sekarang?" tanya Adrian sambil mulai melangkah menuju arah tangga.

​"Hanya robot pembersih yang menabrak furnitur. Kau terlalu sensitif, Adrian. Duduklah, aku akan mengambilkan dokumen riset yang kau butuhkan," Geovani menghalangi jalan Adrian dengan tubuh tegapnya.

​"Geovani, jangan menghalangiku. Jika kau menyembunyikan sesuatu yang melanggar kode etik kedokteran, aku tidak akan segan untuk mencabut izin praktikmu," Adrian mencoba mendorong bahu Geovani, namun sang dokter bedah saraf itu tetap bergeming.

​"Aku melakukan ini demi sains, Adrian. Ibumu sendiri meninggal karena kegagalan saraf yang sama dengan yang sedang kuteliti sekarang. Apakah kau ingin aku menghentikannya?" Geovani menggunakan taktik emosional yang kejam untuk melunakkan koleganya.

​Adrian terdiam sejenak, wajahnya menunjukkan keraguan saat masa lalu keluarganya diungkit. Namun, sebagai seorang dokter senior, intuisinya mengatakan bahwa ada sesuatu yang jauh lebih gelap di balik pintu-pintu tertutup mansion ini. Ia menatap pintu koridor lantai atas yang terkunci rapat dengan sensor biometrik.

​"Riset tetap harus mengikuti aturan, Geovani. Aku butuh melihat subjek penelitianmu sekarang juga untuk memastikan tidak ada pelanggaran kemanusiaan," desak Adrian dengan suara yang lebih rendah namun tegas.

​"Subjek itu sedang dalam kondisi tidak stabil setelah pemeriksaan terakhir. Kehadiran orang asing akan merusak parameter emosional yang sedang kupantau," Geovani kembali berbohong, menyadari bahwa ia sedang mempertaruhkan seluruh kariernya demi melindungi Briella.

​"Kau berbohong. Aku bisa mencium bau pengkhianatan di ruangan ini. Siapa yang kau sembunyikan di sana? Apakah ini ada hubungannya dengan Briella Adijaya yang dikabarkan menghilang?" tanya Adrian dengan nada menuduh.

​Geovani merasakan keringat dingin mulai membasahi punggungnya, namun wajahnya tetap seperti patung marmer yang dingin. "Briella Adijaya sudah pergi dari Etheria setelah pembatalan pertunanganku. Jangan mengaitkan urusan asmaraku dengan pekerjaan profesional di rumah sakit ini."

​"Maka biarkan aku memeriksa ruangan di atas. Hanya lima menit, dan aku akan pergi dari sini tanpa membawa masalah ke dewan etik," Adrian bersikeras sambil mencoba melewati Geovani sekali lagi.

​"Cukup, Adrian! Ini adalah properti pribadiku. Kau tidak punya surat perintah untuk melakukan penggeledahan di sini," Geovani membentak dengan suara bariton yang menggelegar, membuat Adrian terkesiap.

​Adrian menatap Geovani dengan pandangan tidak percaya, seolah baru saja melihat sisi lain dari dokter jenius yang selama ini ia kagumi. "Kau sudah berubah, Geovani. Kau bukan lagi dokter yang menjunjung tinggi sumpah Hippokrates. Kau mulai bertindak tidak rasional demi sesuatu yang tidak kuketahui."

​"Aku bertindak demi hasil yang nyata, bukan sekadar teori di atas kertas. Sekarang, silakan tinggalkan rumahku sebelum aku memanggil tim keamanan pribadi," ancam Geovani dengan sorot mata yang sangat berbahaya.

​Adrian menghela napas panjang, ia merapikan jasnya dan menatap Geovani untuk terakhir kalinya sebelum berbalik menuju pintu keluar. "Aku akan pergi sekarang. Tapi ingat, Geovani, rahasia di Etheria tidak pernah terkubur selamanya. Dewan etik akan kembali dengan kewenangan resmi jika kau tidak segera menyerahkan rekam medis itu."

​Setelah pintu utama tertutup dan suara mobil Adrian menjauh, Geovani menyandarkan punggungnya di pintu sambil memejamkan mata. Ia baru saja melakukan pelanggaran kode etik paling berat dalam hidupnya; berbohong kepada sesama rekan medis dan memanipulasi data riset untuk kepentingan pribadinya.

​"Aku benar-benar sudah gila," gumam Geovani sambil memijat pelipisnya yang berdenyut nyeri.

​Ia menyadari bahwa tindakannya melindungi Briella mulai tidak rasional dan merusak semua prinsip yang selama ini ia pegang teguh. Namun, di dalam hatinya, ada dorongan kuat untuk tetap menyimpan "objek penelitiannya" itu di bawah pengawasannya sendiri, apa pun risikonya.

​Geovani segera menaiki tangga menuju kamar Briella dengan langkah terburu-buru. Ia membuka pintu kamar dan mendapati Briella sedang berdiri di dekat lemari yang berantakan, tampak ketakutan setelah menjatuhkan sebuah vas bunga besar dari porselen.

​"Siapa yang datang tadi? Aku mendengar suara teriakanmu," tanya Briella dengan suara gemetar, ia meremas ujung gaun sutranya.

​Geovani tidak menjawab dengan kata-kata, ia justru melangkah maju dan menarik Briella ke dalam pelukannya. Ia membenamkan wajahnya di leher Briella, menghirup aroma tubuh gadis itu yang menenangkan saraf-sarafnya yang tegang setelah baku lidah dengan Adrian.

​"Tidak ada siapa pun yang penting. Hanya gangguan kecil dari masa lalu yang sudah kuselesaikan," bisik Geovani sambil mengeratkan pelukannya.

​"Kau gemetar, Geovani. Apakah dokter sepertimu bisa merasa takut juga?" Briella merasakan jantung Geovani yang berdetak tidak beraturan di balik dadanya.

​Geovani melepaskan pelukannya dan menatap Briella dengan tatapan yang sangat kompleks, antara keinginan untuk menguasai dan keinginan untuk melindungi. "Aku tidak takut pada apa pun, kecuali kehilangan kendali atas apa yang sudah menjadi milikku. Termasuk kau dan rahasia yang kau bawa."

​"Kau baru saja berbohong demi melindungiku, bukan? Aku bisa merasakannya dari caramu menatap pintu tadi," Briella menatap Geovani dengan cerdas, seolah bisa membaca pikiran sang dokter.

​Geovani terdiam, ia menyentuh rahang Briella dengan lembut namun tetap terasa mendominasi. "Jangan pernah berpikir bahwa kebohonganku adalah bentuk cinta. Aku hanya tidak ingin ada orang lain yang merusak penelitianku sebelum waktunya tiba."

​"Tapi kau mempertaruhkan pekerjaanmu. Kenapa kau melakukannya jika aku hanya sekadar objek bagimu?" tanya Briella lagi, ia mulai merasakan ada celah dalam kedinginan pria di depannya.

​"Diamlah, Briella. Kau tidak perlu tahu alasan di balik setiap keputusanku. Yang harus kau lakukan hanyalah tetap berada di sini dan jangan pernah membuat keributan lagi saat ada tamu datang," perintah Geovani sambil berbalik untuk membersihkan pecahan vas bunga di lantai.

​Briella memperhatikan Geovani yang sedang memunguti serpihan porselen dengan tangannya yang biasanya digunakan untuk melakukan operasi bedah yang rumit. Ia menyadari bahwa pria ini telah melanggar batas-batas profesionalnya demi dirinya, sebuah tindakan yang menunjukkan bahwa ia bukan lagi sekadar dokter, melainkan pelindung yang terobsesi.

​Di balik jendela mansion yang tinggi, langit Etheria mulai menggelap, seolah mencerminkan masa depan karir Geovani yang kini berada di ujung tanduk. Sang dokter telah memilih jalannya, jalan gelap yang penuh dengan kebohongan demi mempertahankan tawanannya. Dan Briella, ia mulai menyadari bahwa ia memiliki kekuatan yang lebih besar atas pria ini daripada yang pernah ia bayangkan sebelumnya.

​"Kau akan hancur karena aku, Geovani. Dan aku tidak tahu apakah aku harus merasa senang atau sedih karenanya," batin Briella sambil terus memperhatikan setiap gerak-gerik sang iblis yang kini tampak begitu rapuh dalam perlindungannya.

1
𝐀⃝🥀Weny
secangkir kopi untuk mu thor
𝐀⃝🥀Weny: sama²🤗
total 2 replies
𝐀⃝🥀Weny
kutunggu next episodenya thor
𝐀⃝🥀Weny
waah... kebetulan yang sangat bagus😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!