Dara Kirana terpaksa meninggalkan gemerlap kota untuk menetap di kaki Gunung Marapi yang selalu diselimuti kabut misterius, namun kepindahannya justru menyeretnya ke tengah pusaran rahasia kuno yang mematikan. Saat nyawanya terancam oleh insiden tak wajar di tengah hutan hujan yang lebat, sesosok pemuda dingin dan tertutup bernama Indra Bagaskara muncul menyelamatkannya dengan kekuatan yang melampaui logika manusia. Di tengah aroma tanah basah dan desas-desus tentang legenda manusia harimau yang mulai menjadi nyata, Dara menyadari bahwa ketertarikannya pada Indra bukan sekadar romansa biasa, melainkan awal dari kebangkitan darah "Pawang" dalam dirinya yang ditakdirkan untuk menjinakkan sang penguasa rimba sebelum sisi binatangnya mengambil alih kesadaran manusianya selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32: Hujan Pertama dan Tarian Para Betina
Langit di atas Lembah Marapi seolah mengerti bahwa malam ini sejarah akan ditulis dengan darah. Menjelang pukul sembilan malam, awan kelabu yang seharian menggantung rendah akhirnya pecah.
Bukan gerimis ringan yang turun, melainkan badai hujan yang luar biasa lebat. Tirai air raksasa menghantam atap-atap seng rumah warga dengan suara gemuruh yang memekakkan telinga. Petir menyambar liar di kejauhan, membelah langit malam dengan kilatan cahaya putih yang sekejap menerangi siluet pepohonan pinus yang meranggas.
Di beranda belakang rumah Kakek Danu, badai itu disambut bukan dengan keluhan, melainkan dengan kelegaan taktis.
"Alam berpihak pada kita," gumam Bumi Arka, menadahkan tangannya ke luar batas atap beranda, membiarkan butiran hujan yang dingin menghantam telapak tangannya. Alpha muda itu telah mengganti seragam sekolahnya dengan kaus hitam ketat berlengan panjang dan celana kargo gelap yang memungkinkan pergerakan maksimal. "Hujan badai ini akan mencuci bersih aroma kita dari udara. Suara petir dan rintik air akan menenggelamkan suara langkah kaki kita. Lintah-lintah pucat itu akan buta dan tuli malam ini."
Di belakang Bumi, ruang tengah rumah panggung itu telah berubah menjadi ruang persiapan perang (armory) dadakan.
Kakek Danu mengeluarkan sebuah peti kayu panjang dari bawah tempat tidurnya. Peti itu berisi senjata-senjata pusaka peninggalan era perang kolonial yang telah lama disembunyikan. Meskipun Cindaku dan Ajag lebih suka bertarung menggunakan cakar dan taring mereka, Kakek Danu bersikeras membekali mereka dengan senjata cadangan.
"Bawa ini," Kakek Danu melemparkan sepasang kerambit—pisau genggam melengkung khas Minangkabau—berwarna perak kehitaman kepada Maya. "Bilahnya ditempa dengan campuran baja dan getah pinus beracun. Tidak akan membunuh mayat hidup tingkat tinggi, tapi cukup untuk memperlambat regenerasi daging mereka."
Maya menangkap kedua kerambit itu dengan ketangkasan sempurna. Ia memutarnya di sela-sela jarinya, menguji keseimbangan bilahnya, lalu tersenyum puas. "Senjata yang cantik. Cocok untuk menggorok leher para penembak jitu di atap."
Gendis, yang kini mengenakan pakaian serba hitam ketat pinjaman dari lemari Kakek Danu, sedang mengikat rambut bob-nya kuat-kuat. Ia melirik Maya. "Jangan terlalu banyak pamer gaya, Kucing Betina. Tugas kita menyisir atap tanpa suara. Kalau kau ketahuan, aku tidak akan repot-repot menyelamatkan ekormu."
"Fokus saja pada pijakanmu, Anjing Kecil," balas Maya sinis, namun tanpa hawa membunuh. "Aku ragu serigala bisa memanjat dinding beton dalam keadaan basah."
Di sudut lain, Raka, Tio, dan Adi sedang mematangkan formasi pendobrak mereka. Ketiganya bertukar isyarat tangan untuk taktik serangan frontal. Rivalitas rasial telah menguap sepenuhnya dari mata mereka, digantikan oleh fokus prajurit yang bersiap mati.
Dara berdiri di dekat perapian, mengamati pasukan kecilnya. Ia mengenakan jaket denim tebalnya, rambutnya dikepang satu ke belakang agar tidak menghalangi pandangan. Jantungnya berdetak kencang, namun Napas Akar-nya yang mengalir pasif terus menyuplai ketenangan ke dalam otaknya.
Sebuah bayangan tinggi menutupi cahaya perapian di hadapan Dara.
Indra Bagaskara berdiri menjulang. Pemuda itu mengenakan sweter turtleneck hitam lengan panjang, kontras dengan kulit rahangnya yang tegas dan mata hazel-emasnya yang tajam. Uap panas tidak lagi mengepul tak terkendali dari tubuhnya. Indra telah kembali pada wujud sempurnanya sebagai Sang Pangeran Es klan Cindaku—tenang, dominan, dan sangat mematikan.
Indra menatap Dara lurus ke dalam matanya. Di tengah hiruk-pikuk persiapan di ruangan itu, Indra menciptakan sebuah gelembung privasi yang hanya berisi mereka berdua.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Indra mengulurkan tangan kanannya, meraih tangan kiri Dara dengan sangat lembut. Pemuda itu memasangkan sebuah benda ke pergelangan tangan gadis itu.
Dara menunduk. Itu adalah sebuah gelang akar yang terbuat dari jalinan kayu hitam yang sangat keras, dengan sebuah batu obsidian kecil di tengahnya.
"Ini akar kayu ulin dari pusat makam leluhurku," bisik Indra, suaranya mengalun berat mengalahkan suara hujan di luar. "Ia menyerap dan menyimpan sedikit esensi panas Cindaku. Jika dalam kekacauan nanti Willem atau Anneliese berhasil memisahkan kita, dan kau kehabisan energi untuk menggunakan cahaya birumu... pecahkan batu obsidian ini. Hawa panas yang meledak dari dalamnya akan menciptakan tabir asap yang memberimu waktu lima detik untuk berlari ke arahku."
Dara menyentuh batu obsidian itu. Terasa hangat di kulitnya, seolah ada detak jantung kecil yang bergetar di dalamnya. Ia mendongak, menatap mata Indra yang memancarkan rasa protektif yang begitu pekat hingga membuat napas Dara tertahan.
"Aku akan selalu berada di dekatmu, Indra," bisik Dara. "Kita akan keluar dari sana bersama-sama."
Indra menundukkan wajahnya, membiarkan keningnya bersentuhan pelan dengan kening Dara. Sebuah kontak fisik yang sarat akan doa dan keputusasaan. "Kutukan darah ini membuatku tidak takut pada kematian, Dara. Tapi malam ini... untuk pertama kalinya seumur hidupku... aku ngeri membayangkan besok matahari terbit dan kau tidak ada di sisiku."
Dara memejamkan mata, membiarkan rasa hangat dari tubuh Indra menyusup ke pori-porinya.
Namun, momen rapuh itu terinterupsi secara halus.
Bumi melangkah mendekati mereka. Alpha muda itu berdehem pelan, tidak bermaksud merusak suasana, melainkan untuk mengingatkan mereka pada waktu yang terus berjalan.
Indra menegakkan tubuhnya, menoleh menatap Bumi dengan tatapan yang tak bisa dibaca, lalu melangkah mundur memberikan ruang bagi sang Serigala.
Bumi berdiri di hadapan Dara. Ia merogoh saku celana kargonya, lalu mengeluarkan sesuatu. Sebuah taring serigala yang sudah menguning karena usia, diikat dengan tali kulit yang kuat.
"Ini taring milik kakekku. Taring dari Alpha generasi sebelumnya," ujar Bumi. Tangannya yang kapalan dan hangat mengalungkan tali kulit itu ke leher Dara, menyelipkannya ke balik kerah kemeja gadis itu agar aman.
"Taring ini memiliki resonansi ultrasonik pasif," jelas Bumi, menatap mata Dara dengan senyum tipis yang luar biasa tulus. "Seluruh anggota kawananku—termasuk aku, Tio, Adi, dan Gendis—telah dilatih untuk mendengar resonansi ini dari jarak satu kilometer. Jika kau dalam bahaya dan tidak bisa berteriak, genggam taring ini erat-erat. Genggamanmu akan mengubah frekuensinya, dan di mana pun kami berada di medan perang itu, kami akan meninggalkan semuanya dan berlari melindungimu."
Dara merasakan matanya memanas. Dua pemuda dari ras yang ditakdirkan saling membunuh ini baru saja memberikan jimat pelindung terkuat dari klan mereka masing-masing kepadanya. Mereka meletakkan nyawa mereka sepenuhnya ke dalam telapak tangan seorang gadis fana.
Dara mengambil napas panjang, menekan emosinya, dan membiarkan wibawa Ratu Penengahnya mengambil alih. Ia menatap berkeliling, memastikan setiap pasang mata di ruangan itu tertuju padanya.
"Kita semua tahu apa yang menanti kita di bawah tanah sekolah itu," suara Dara terdengar bulat dan jernih, memotong suara guruh di luar jendela. "Seratus lima puluh Marsose Darah. Pasukan elit yang tidak memiliki rasa sakit. Mereka lebih kuat, lebih cepat, dan lebih banyak dari kita."
Dara melangkah ke tengah ruangan. "Tapi mereka adalah mayat yang digerakkan oleh sihir kuno. Mereka tidak bertarung untuk apa pun selain rasa lapar. Sementara kita... kita bertarung untuk rumah kita. Kita bertarung untuk keluarga yang ada di belakang kita."
Dara menunjuk Kakek Danu dan Santi yang masih tertidur. "Jika kita gagal malam ini, orang-orang ini akan mati sebelum fajar. Desa ini akan menjadi kuburan massal. Jadi, aku meminta kalian menyingkirkan sisa-sisa ego, sisa-sisa ketakutan, dan sisa-sisa kebencian rasial kalian. Malam ini, kalian bukan Cindaku. Kalian bukan Ajag."
Mata Dara berkilat dengan determinasi baja. "Malam ini, kalian adalah algojoku. Dan kita akan mengirim lintah-lintah itu kembali ke neraka."
Raka, Tio, Adi, Gendis, Maya, Indra, dan Bumi serempak menundukkan kepala mereka dalam-dalam, sebuah penghormatan militer absolut yang belum pernah diberikan kepada Pawang mana pun sepanjang sejarah Lembah Marapi.
Hujan badai menyamarkan pergerakan mereka secara sempurna.
Tujuh sosok bayangan berlari menembus lebatnya hutan pinus yang gelap gulita. Tidak ada senter atau alat penerangan yang dinyalakan. Mereka murni mengandalkan penglihatan malam (night vision) milik para shifter dan panduan radar dari Napas Akar Dara.
Pakaian mereka basah kuyup, sepatu bot mereka tenggelam dalam lumpur yang licin, namun tidak ada satu pun langkah yang melambat.
Hanya butuh waktu lima belas menit bagi mereka untuk tiba di perimeter batas tembok belakang SMA Nusantara. Dari titik ini, sekolah itu tidak lagi terlihat seperti tempat menimba ilmu. Tanpa penerangan lampu dari PLN yang rupanya telah diputus sengaja oleh Anneliese, bangunan kolonial tua itu tampak seperti sebuah kastil angker yang menelan kegelapan.
Namun, di sayap barat tempat proyek renovasi berada, terdapat pendaran cahaya merah redup yang memancar dari balik tenda terpal raksasa. Cahaya itu bukan berasal dari lampu genset, melainkan dari pendaran mata seratus lima puluh Marsose yang telah bangkit dan berkumpul di atas tanah.
Dara mengangkat kepalan tangannya tinggi-tinggi. Pasukan kecil itu berhenti seketika, berjongkok di balik rimbunnya semak basah.
"Maya, Gendis," bisik Dara, suaranya nyaris tertelan oleh suara gemuruh hujan. "Kalian lihat atap perpustakaan utama yang mengarah langsung ke area pagar seng proyek?"
Maya menyipitkan mata emasnya menembus tirai hujan. "Ada empat bayangan diam di sana. Penembak jitu. Mereka memegang senapan laras panjang yang dirancang untuk menembakkan pasak perak, bukan peluru timah."
"Jika kita mendobrak pagar seng sekarang, empat penembak itu akan menghujani kita dengan perak murni dari atas sebelum kita mencapai jarak dekat," analisis Bumi cepat. "Mereka harus mati sebelum Tio, Adi, dan Raka membongkar gerbang."
Dara mengangguk. Ia menatap Gendis dan Maya. "Buka jalannya untuk kami, Para Betina."
Maya mencabut kedua kerambit perak dari balik sabuknya. Ia menoleh pada Gendis, memberikan seringai predator yang mematikan. "Ayo kita berburu, Anjing Kecil."
Gendis tidak membalas dengan kata-kata. Serigala betina itu hanya melesat maju menembus rintik hujan, bergerak dengan kecepatan dan keheningan yang membuat hantu pun akan iri. Maya menyusul sedetik kemudian.
Dua gadis beda klan itu tidak melompati tembok sekolah secara langsung. Mereka menggunakan dahan pohon beringin raksasa di sudut halaman sebagai pijakan lompat. Dengan satu tarikan napas, Maya dan Gendis melayang di udara, mendarat di atas genteng atap perpustakaan utama tanpa menghasilkan bunyi decit sedikit pun.
Hujan badai menutupi aroma dan suara mereka dengan sempurna.
Di atas atap yang licin itu, empat penembak jitu Marsose sedang berbaring tengkurap. Mereka mengenakan jas hujan hitam dari era kolonial, mata merah mereka mengawasi area halaman sekolah melalui lensa bidik (scope) kuno. Mereka tidak mengharapkan serangan datang dari arah belakang atap.
Maya dan Gendis berpisah arah. Taktik mereka terbentuk tanpa perlu diskusi—ini adalah sinergi murni dari dua pembunuh bayaran alami.
Maya merayap mendekati penembak jitu pertama di sisi kiri. Hawa panas Cindaku-nya ditahan sekuat tenaga agar tidak memicu kelembapan udara menjadi uap yang mencolok. Tepat saat ia berada kurang dari satu meter di belakang targetnya, Maya menerkam.
Tangan kiri Maya membungkam mulut mayat hidup itu, menekan kepalanya ke genteng basah, sementara tangan kanannya mengayunkan kerambit perak, menggorok leher pucat sang vampir dalam satu tarikan mulus. Bilah perak beracun itu langsung membusukkan jaringan leher sang Marsose. Kepala terputus, tubuhnya hancur menjadi abu hitam yang langsung tersapu derasnya hujan. Satu tewas.
Di sisi kanan, Gendis bertindak jauh lebih buas. Ia tidak memanjangkan cakarnya, melainkan memanjangkan taring serigalanya. Ia merayap di bawah cerobong asap palsu, lalu melompat langsung ke atas punggung penembak jitu kedua. Gendis menancapkan taringnya ke pangkal leher belakang mayat hidup itu, menggigit tulang belakangnya hingga berbunyi KRAK! lalu memuntahkan daging mati itu ke samping. Dua tewas.
Namun, eksekusi Gendis menimbulkan sedikit cipratan darah yang berdesis. Suara itu, sekecil apa pun, berhasil menembus tirai hujan dan tertangkap oleh pendengaran dua penembak jitu yang tersisa di bagian depan atap.
Dua Marsose itu serempak menoleh ke belakang. Mata merah mereka membelalak melihat rekan-rekan mereka telah menjadi abu. Mereka langsung memutar senapan laras panjang mereka ke arah Maya dan Gendis.
KLIK. Suara pelatuk ditarik.
"Menghindar!" teriak Gendis.
BZZZZING! Dua buah pasak perak melesat membelah rintik hujan dengan kecepatan peluru.
Maya merendahkan tubuhnya hingga nyaris menempel rata dengan genteng. Pasak perak pertama melesat hanya satu milimeter di atas kepalanya, memotong beberapa helai rambut hitamnya.
Di sisi lain, Gendis berguling ke kiri dengan lincah, membiarkan pasak perak kedua menghantam cerobong beton di belakangnya hingga hancur berantakan.
Menyadari tembakan mereka meleset, kedua Marsose itu panik menarik tuas senapan untuk mengisi ulang amunisi. Namun, mereka lupa bahwa mereka berhadapan dengan kecepatan Cindaku dan Ajag jarak dekat.
Maya menolakkan kakinya ke depan. Pemudi bangsawan itu meluncur di atas genteng yang basah layaknya papan seluncur. Saat tubuhnya meluncur mendekati Marsose ketiga, Maya menendang kaki senapan itu ke atas, mengubah arah moncongnya, lalu bangkit dan menancapkan kedua kerambitnya langsung ke dada mayat hidup tersebut. Tiga tewas.
Marsose keempat yang berhasil mengisi ulang amunisi langsung mengarahkan moncong senapannya tepat ke dada Maya dari jarak dua meter. Maya yang posisi tubuhnya masih terkunci setelah mengeksekusi target sebelumnya, tidak memiliki waktu untuk menghindar.
DOR!
Pasak perak melesat keluar dari laras senapan.
Namun, pasak itu tidak pernah menyentuh dada Maya.
Gendis, dengan loyalitas kawanan yang kini tidak lagi membedakan ras, melesat dan menabrak pinggang Maya dari samping. Keduanya terjatuh bergulingan di atas genteng, membiarkan pasak perak itu lewat di atas mereka.
Sebelum Marsose keempat itu sempat bereaksi lagi, Gendis menendang paha Maya sebagai tumpuan tolakannya, melenting kembali ke udara, dan mendaratkan kedua tumitnya tepat di wajah mayat hidup tersebut dengan kekuatan penuh. Tengkorak Marsose itu remuk, hancur menjadi abu hitam yang berhamburan. Empat tewas.
Atap itu kembali bersih. Hanya tersisa rintik hujan dan deru napas dua gadis pembunuh tersebut.
Maya terbaring di atas genteng basah, menatap Gendis yang berdiri di atas sisa abu hitam. Gadis Cindaku itu mengusap air hujan dari wajahnya, lalu tertawa pelan. "Kau lumayan juga, Anjing Kecil."
Gendis mendengus, mengulurkan tangannya untuk membantu Maya berdiri. "Jangan biasakan aku menyelamatkan nyawamu, Kucing Bangsawan."
Keduanya berjalan ke tepi atap bagian depan. Mereka memandang ke bawah, ke arah luar tembok sekolah tempat pasukan Dara menunggu.
Maya mengangkat satu tangannya ke atas, menembakkan seberkas uap panas yang sangat tipis dan cepat—sebuah suar sinyal yang hanya bisa ditangkap oleh sensor suhu tubuh Cindaku di bawah sana.
Jalur atas bersih.
Di balik semak belukar Hutan Pinus, Indra menangkap sinyal uap panas dari kakaknya itu. Mata hazel pemuda itu berkilat tajam. Ia menoleh pada Dara, memberikan anggukan tegas.
Dara menarik napas dalam-dalam, dadanya dipenuhi oleh ledakan adrenalin. Waktunya telah tiba.
"Raka. Tio. Adi," Dara memberikan perintah eksekusi pertamanya. "Bongkar gerbang neraka itu."
Raka dan si kembar menyeringai buas. Ketiganya melesat keluar dari persembunyian, menerjang hujan badai, berlari dengan kecepatan penuh langsung menuju pagar seng raksasa yang menutupi sayap barat sekolah.
Tidak ada lagi sembunyi-sembunyi. Malam pertempuran berdarah di SMA Nusantara Lereng Marapi secara resmi telah dimulai, dan pintunya dibuka dengan hantaman pertama.