"Zel, kita cuma nikah kontrak! Berhenti kirim kurir obat ke sekolah, aku malu sama guru-guru lain!"
Dazello Zelbarra, CEO dingin itu justru menarik Runa ke pelukannya. "Di catatanku, jam segini lambungmu mulai perih karena kamu lupa sarapan. Aku tidak peduli kamu malu, Runa. Aku hanya peduli kamu tetap hidup untuk melunasi kontrakmu padaku."
Runa Elainzica, guru honorer yang ceroboh dan pelupa, terpaksa menikahi mantan pacarnya, Dazello ‘Azel’ Zelbarra, demi menyelamatkan sekolahnya dari kebangkrutan.
Runa mengira Azel membencinya. Namun, ia tak pernah tahu bahwa di ponsel Azel terdapat aplikasi rahasia berjudul "Runa’s Manual Book". Sebuah catatan obsesif berisi ribuan detail tentang kebiasaan kecil Runa, pantangan makannya, hingga cara melindunginya saat badai datang.
Dunia mereka berbeda, tapi di buku catatan Azel, nama Runa sudah tertulis sebagai milik sahnya... selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Pagi itu, apartemen sudah riuh dengan suara denting sendok dan instruksi-instruksi tajam dari sang CEO. Runa yang sudah merasa bugar seratus persen, hanya bisa menghela napas pasrah saat Azel kembali melakukan "ritual" keberangkatan yang lebih mirip inspeksi mendadak pasukan khusus.
"Obat maag?" tanya Azel sambil memasukkan satu strip obat ke saku kecil tas Runa.
"Udah, Zel. Kan kemarin udah diminum."
"Madu botol kecil yang aku siapkan? Powerbank? Jaket cadangan kalau AC di kelas terlalu dingin?" Azel mengecek daftar di ponselnya—tentu saja, folder Runa’s Manual Book.
"Zel, aku ini mau ngajar, bukan mau ekspedisi ke kutub utara," protes Runa sambil berusaha meraih tasnya.
Azel menahan tas itu tinggi-tinggi. "Di catatanku, hari pertama setelah sakit adalah fase rentan. Kamu itu kayak anak TK yang kalau nggak diawasin bakal lupa makan karena asyik main sama murid-muridmu. Dan satu lagi..." Azel menatap Runa dengan tatapan mengintimidasi. "Jangan dekat-dekat guru olahraga itu. Kalau dia tanya soal jadwal, suruh dia tanya ke Pak Haris. Jangan kasih dia senyum lebih dari dua detik."
Runa tertawa kecil sambil memukul lengan Azel. "Cemburunya dibawa terus ya ke kantor? Kasihan Pak Dimas, dia orang baik tahu."
"Orang baik tidak akan mencuri perhatian istri orang. Ayo berangkat, aku harus memastikan kamu masuk ke gerbang dengan selamat," tutup Azel tak terbantahkan.
Sesampainya di sekolah, kehadiran Runa disambut hangat oleh rekan-rekannya. Namun, ada satu pemandangan baru. Di meja sudut, duduk seorang wanita cantik dengan riasan wajah yang cukup tebal untuk ukuran seorang guru. Dia adalah Siska, guru seni musik baru yang baru masuk dua hari lalu.
"Eh, Bu Runa! Sudah sehat?" sapa Bu Ratna ceria.
"Sudah, Bu Ratna. Terima kasih ya kemarin sudah dibantu jagain kelas," balas Runa tulus.
Tak lama kemudian, Pak Dimas masuk ke ruang guru membawa sebuah kotak kecil. "Bu Runa! Kebetulan sudah masuk. Ini, saya bawakan manisan jahe dari kampung. Katanya bagus buat lambung yang sering sakit."
Runa ragu sejenak. Ia teringat wajah Azel yang posesif tadi pagi. "Eh, makasih banyak Pak Dimas. Tapi saya—"
"Terima saja, Bu Runa. Ini cuma oleh-oleh," potong Pak Dimas ramah.
Tanpa mereka sadari, Siska yang sejak tadi memperhatikan interaksi itu, mencibir pelan. Ia sudah lama naksir Pak Dimas sejak hari pertama orientasi, tapi Pak Dimas seolah hanya punya mata untuk Runa.
Saat jam istirahat di kantin, Siska mulai melancarkan aksinya. Ia duduk di antara sekumpulan guru honorer muda.
"Eh, kalian lihat nggak sih? Bu Runa itu... kok kayaknya kecentilan banget ya sama Pak Dimas?" celetuk Siska sambil mengaduk teh obengnya.
Seorang guru muda mengernyit. "Maksudnya? Bu Runa emang baik sama semua orang, kok."
"Ya tapi beda dong. Masa udah punya suami orang kaya, donatur utama sekolah lagi, tapi masih aja 'tebar pesona' sama Pak Dimas? Kasihan kan Pak Dimas-nya jadi baper. Apa dia nggak puas ya sama suaminya yang kaku itu?" lanjut Siska dengan nada pedas.
"Siska, hati-hati kalau ngomong. Suami Bu Runa itu Pak Azel, dia bisa tahu apa aja yang terjadi di sekolah ini," bisik Bu Ratna yang kebetulan lewat.
Siska justru mendengus sombong. "Ah, paling juga itu cuma pernikahan formalitas. Kalau emang cinta, masa Bu Runa masih nyari perhatian pria lain di sini? Dasar wanita bermuka dua, sok polos padahal haus perhatian."
Sore harinya, saat jam pulang, Azel sudah menunggu di depan gerbang. Tapi kali ini, ia tidak hanya menunggu di mobil. Ia masuk ke lobi sekolah dengan aura yang sangat gelap.
Runa keluar bersama Bu Ratna, dan tak sengaja Siska berjalan di belakang mereka. Siska yang belum pernah melihat Azel secara langsung, terpaku melihat pria tampan dengan setelan jas seharga ratusan juta berdiri di depannya.
"Zel? Kamu masuk lagi?" tanya Runa heran.
Azel tidak menjawab Runa. Matanya justru tertuju pada ponselnya. Rupanya, asisten Azel yang "ditanam" di sekolah ini sudah melaporkan semua desas-desus yang disebarkan Siska di kantin tadi siang.
Azel melangkah mendekat ke arah Siska. "Anda guru seni musik yang baru?"
Siska tersipu, merasa diperhatikan oleh pria sehebat Azel. "I-iya, Pak Azel. Saya Siska..."
"Bagus," potong Azel dingin. "Latih suara Anda baik-baik, Nona Siska. Karena mulai besok, Anda tidak akan menyanyi di sini lagi. Anda terlalu sibuk menggunakan mulut Anda untuk menggosipkan istri saya daripada mengajar murid."
Wajah Siska seketika pucat pasi. "Maksud... maksud Bapak apa?"
"Surat pemecatan Anda sedang diproses oleh yayasan atas permintaan saya sebagai donatur tunggal. Saya tidak menggaji orang untuk menghina berlian saya," desis Azel. Ia kemudian meraih tangan Runa dan membawanya pergi tanpa memedulikan Siska yang mulai menangis di tempat.
Di dalam mobil, Runa terdiam. "Zel... kamu beneran mecat Siska? Zel... kamu terlalu ekstrim," bisik Runa.
"Untukmu, tidak ada kata terlalu, Runa," sahut Azel sambil menggenggam tangan Runa erat. "Aku sudah bilang kan? Aku akan jadi 'manual book' yang menjaga setiap aspek hidupmu. Termasuk membersihkan sampah-sampah yang mencoba mengotori nama baikmu."
Runa menatap suaminya itu. Meskipun cara Azel kasar dan otoriter, ia tahu bahwa di balik itu semua, Azel hanya ingin memastikan bahwa Runa tidak pernah lagi merasa tidak diinginkan atau dihina oleh siapa pun.
"Zel... makasih ya," ucap Runa tulus.
"Jangan cuma bilang makasih. Habiskan bekal buah yang tadi pagi kamu sisakan. Itu hukumannya karena kamu membiarkan guru musik itu mengoceh tentangmu," perintah Azel sambil melajukan mobilnya dengan senyum tipis kemenangan.
Sesampainya di rumah, Runa segera masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri, merasa lelah dengan drama yang terjadi di sekolah. Azel duduk di sofa ruang tengah, melonggarkan dasinya, dan mengeluarkan ponselnya. Di saat tenang seperti inilah, ia membuka folder rahasianya.
Runa’s Manual Book: Proteksi Citra
Hari ini aku terpaksa menyingkirkan satu parasit bernama Siska dari sekolah. Dia hanyalah wanita iri yang mencoba menutupi kekurangannya dengan menggosipkan Runa. Aku harus bertindak cepat; sekolah itu harus bersih dari orang-orang beracun yang bisa merusak mental Runa atau membuatnya merasa minder lagi. Aku tidak akan membiarkan siapa pun menghina hartaku yang paling berharga. Runa mungkin merasa aku terlalu ekstrim, tapi dia harus paham bahwa di duniaku hanya ada satu aturan: siapa pun yang membuatnya sedih atau tidak nyaman, maka orang itu harus hilang dari jangkauannya. Aku akan terus menjadi perisai yang menjaga setiap jengkal nama baiknya, bahkan jika aku harus menjadi antagonis di mata orang lain.
apa susahnya sih, pake alesan dijodohin segala 🤣