NovelToon NovelToon
Cegilnya Mas Ajudan

Cegilnya Mas Ajudan

Status: sedang berlangsung
Genre:Percintaan Konglomerat / Menikahi tentara / Duniahiburan
Popularitas:9.8k
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira Ramadhani

Sebagai putri anggota DPR sekaligus model papan atas, Aurora Widjaja punya segalanya. Namun, hatinya justru jatuh pada Langit Ardiansyah, ajudan sang ayah yang kaku, dingin, dan sangat terikat protokol.
Bagi Langit, Aurora adalah tanggung jawab yang harus dijaga. Bagi keluarga Widjaja, hubungan dengan ajudan adalah skandal yang harus dihindari. Namun bagi Aurora, aturan dan kasta hanyalah rintangan yang siap ia tabrak.
Saat dunia melarangnya mendekat, Aurora justru memilih maju. Karena bagi seorang Aurora, mencintai Langit bukan lagi soal status, tapi soal hati yang sudah jatuh sedalam-dalamnya—to the bone.
“Mas Langit nggak usah repot-repot jaga jarak. Mau sejauh apa pun Mas lari, tujuannya tetep cuma satu: Jadi imam aku.”

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 29

Sore itu, kediaman Widjaja terasa seperti medan perang yang baru saja mendingin, namun masih menyisakan bara. Anggara baru saja melangkah masuk ke ruang tengah dengan wajah merah padam, dasinya sudah longgar, dan nafasnya memburu. Di belakangnya, Langit berjalan dengan sikap sempurna—tegap, tenang, namun matanya menunjukkan kelelahan yang luar biasa setelah seharian menjadi sasaran peluru kata-kata sang mertua.

Aurora, yang sudah santai dengan baju rumahannya—sebuah dress pendek berbahan kaus yang nyaman—sedang asyik mengupas buah jeruk di sofa. Melihat ayahnya yang tampak seperti ketel uap siap meledak, ia malah terkekeh.

"Papa tarik napas dulu deh. Awas kena hipertensi terus struk. Mencong-mencong nanti mulutnya sebelum gendong cucu," celetuk Aurora tanpa dosa, sambil menyodorkan sepotong jeruk ke arah Anggara.

"AURORA!!" bentak Anggara, suaranya menggelegar hingga vas bunga di atas meja seolah bergetar. "Bisa tidak kamu punya sopan santun sedikit? Papa ini baru pulang kerja, pusing, capek, ditambah kelakuan suamimu yang—"

"Bercanda, Pa! Hidup itu butuh santai dikit. Jangan tegang terus, ya kan, Mas?" Aurora mengedipkan sebelah matanya pada Langit.

Langit hanya bisa berdehem pelan, menundukkan kepala. "Izin, Pak. Saya akan ke paviliun untuk membersihkan diri dan kembali bertugas nanti malam."

"Nggak ada paviliun-paviliunan!" potong Aurora cepat. Ia berdiri dan menarik lengan Langit. "Mas Langit mau pijetin aku dulu di atas. Pegel tahu seharian pemotretan. Papa istirahat aja, ganti baju sana, bau keringat!"

Anggara hanya bisa melongo, menatap punggung putri keduanya yang dengan seenaknya menyeret sang ajudan menaiki tangga. Di ruang makan, Haura yang sedang mengerjakan PR hanya bisa menggeleng. "Papa jangan dilawan, Pa. Kak Aurora itu levelnya sudah expert kalau bikin orang darah tinggi."

Malam Hari: Pukul 23:00 WIB

Rumah sudah sunyi. Haura sudah masuk ke kamarnya, dan Anggara baru saja hendak mematikan lampu di ruang kerjanya yang berada tepat di bawah kamar Aurora. Pak Bambang dan Bintang sedang berjaga di teras samping, menikmati kopi malam sambil sesekali mengobrol rendah.

Namun, keheningan malam itu tiba-tiba pecah oleh sebuah suara yang sangat... spesifik.

Kriet... Kriet... Brak!

Suara tempat tidur yang beradu dengan dinding terdengar cukup keras. Diikuti oleh suara tawa kecil Aurora yang kemudian berubah menjadi desahan yang tidak bisa dibilang pelan.

"Mas... pelan-pelan... ahh, kamu kenceng banget!" Suara Aurora terdengar jelas melalui celah udara dan lantai kayu yang tidak terlalu kedap.

Di teras samping, Pak Bambang yang sedang menyeruput kopi langsung tersedak hebat. "Uhuk! Uhuk! Aduh..."

Bintang melongo, matanya menatap ke arah jendela kamar Aurora di lantai atas. "Pak... itu... itu Bang Langit lagi latihan bela diri atau gimana?"

"Latihan bela diri bapakmu!" bisik Pak Bambang sambil menutup telinganya. "Itu suara pengantin baru yang lagi 'perang'! Aduh, Non Aurora ini kalau teriak nggak kira-kira."

Di dalam ruang kerja, Anggara Widjaja terpaku. Pena di tangannya terjatuh. Wajahnya yang tadi sudah mulai tenang kini kembali memerah, tapi kali ini bukan karena marah, melainkan rasa malu yang luar biasa. Ia bisa mendengar suara menantunya yang biasanya kaku dan bicara irit itu, kini mengeluarkan suara rendah yang serak.

"Diam, Aurora... nanti Papa dengar," suara Langit terdengar berat dan terengah-engah.

"Biarin aja! Ahhh... Mas, lagi..." balas Aurora lebih keras.

Anggara menutup wajahnya dengan kedua tangan. "Anak itu... benar-benar tidak punya urat malu!" gumamnya frustrasi. Ia segera menyambar jasnya dan berjalan keluar ruang kerja dengan langkah terburu-buru, hendak menuju kamarnya sendiri agar tidak mendengar lebih jauh.

Namun, saat ia melewati koridor dekat kamar Haura, pintu kamar anak bungsunya itu terbuka sedikit. Haura keluar dengan headphone yang tergantung di lehernya, wajahnya tampak bingung sekaligus polos.

"Pa... Kak Aurora lagi dipukulin Mas Langit ya? Kok suaranya kayak kesakitan tapi ketawa?" tanya Haura polos.

Anggara merasa dunianya runtuh saat itu juga. "Haura! Masuk kamar! Pakai headphone-mu sekarang dan setel musik paling kencang! Jangan tanya apa-apa lagi!"

"Tapi Pa—"

"MASUK!"

Di dalam kamar, suasana jauh lebih panas dan intens. Langit benar-benar kehilangan kontrol dirinya. Kelelahan karena diomeli Anggara seharian seolah menguap, digantikan oleh gairah yang meledak-ledak. Ia menciumi seluruh wajah Aurora, sementara tangannya mencengkeram pinggang ramping istrinya itu dengan posesif.

"Kamu... benar-benar mau bikin aku dipecat malam ini ya?" bisik Langit di telinga Aurora, napasnya terasa panas dan memburu.

Aurora melingkarkan kakinya di pinggang Langit, menarik suaminya itu lebih dalam. Tubuh mereka berkeringat, bersatu dalam ritme yang semakin liar di bawah remang lampu tidur. "Biarin aja dipecat... nanti aku yang gaji kamu pakai cinta. Mas... lebih dalem lagi..."

Langit tidak lagi peduli pada etika atau keberadaan mertuanya di bawah sana. Ia hanya ingin menuntaskan dahaganya pada wanita yang telah resmi menjadi miliknya ini. Setiap gerakan Langit terasa begitu bertenaga, seolah ia sedang memberikan seluruh jiwanya pada Aurora.

Suara derit tempat tidur dan desahan napas mereka memenuhi ruangan, menciptakan melodi gairah yang hanya dimengerti oleh dua orang yang sedang mabuk asmara. Langit mengecup bibir Aurora dengan kasar namun penuh cinta, mengunci setiap rintihan yang keluar agar tidak semakin membuat geger seisi rumah, meski ia tahu usahanya sia-sia karena Aurora adalah tipe yang tidak bisa diam.

Suasana sarapan pagi itu benar-benar canggung. Anggara duduk dengan mata yang sedikit sembab karena kurang tidur, Pak Bambang dan Bintang yang berdiri di sudut ruangan hanya bisa menunduk sambil menahan senyum jahil mereka. Haura duduk diam sambil terus memakai headphone-nya, takut kena semprot ayahnya lagi.

Aurora turun dengan wajah yang sangat segar, kulitnya glowing, dan ia tampak sangat bersemangat. Di belakangnya, Langit berjalan dengan wajah yang—untuk pertama kalinya—tampak sedikit kikuk.

"Pagi Papa sayang! Pagi Mas Langit, sarapannya yang banyak ya, tenaga kamu pasti habis kan semalam?" celetuk Aurora sambil duduk di kursi makan.

Anggara langsung tersedak rotinya. Ia menatap Langit dengan pandangan yang sangat tajam, namun Langit hanya bisa menatap piringnya dengan sangat khusyuk, seolah nasi goreng di depannya adalah peta strategi perang yang paling rumit.

"Langit," suara Anggara berat.

"Siap, Pak," jawab Langit otomatis, langsung tegak.

"Nanti siang... cari tukang mebel. Ganti tempat tidur di kamar Aurora dengan yang kualitas paling bagus dan tidak berisik. Mengerti?!"

Seisi ruangan terdiam. Bintang hampir saja menyemburkan tawanya, sementara Haura akhirnya mengerti kenapa ayahnya marah-marah.

Aurora malah tertawa riang. "Wah, makasih ya Pa! Emang udah agak goyang sih tempat tidurnya gara-gara Mas Langit terlalu semangat. Papa emang perhatian banget deh sama kenyamanan cucu masa depan!"

Anggara hanya bisa mengurut dadanya, menyadari bahwa memiliki menantu seorang ajudan kaku itu sulit, tapi memiliki putri seperti Aurora itu jauh lebih menguji nyali. Ia segera berdiri dan berjalan keluar rumah tanpa sepatah kata pun, meninggalkan Aurora yang asyik menggoda suaminya yang kini wajahnya merah padam seperti kepiting rebus.

***

Wkwk 🤣🤣

1
Rita Rita
sabar ya Ra,,, cinta seorang bapak itu beda, bapak mu mungkin belajar dari kasus si Sahroni dan teman temannya dulu sebagai anggota DPR 🤭🤣
Istrinya _byeonwooseok💃: heh🤣 nanti ditempeleng Anggara loh kak😄
total 1 replies
Lulukdicka Dicka
🤣🤣🤣
aurora gitu dechhhh
Lulukdicka Dicka
🤣🤣🤣🤣🤣
penyelamatttt
apiii
kapan jinaknya ini bapak"🤣
Rita Rita
🤭🤣🤣 Aurora bikin mas ajudan hidup terasa mati tapi mati paling nikmat, AQ aja berasa Jak jek Jak jantung baca aksi nekad Aurora 🤣😍😍
Istrinya _byeonwooseok💃: tungguin gebrakan Aurora selanjutnya ya kak🤣🙏
total 1 replies
Yosi Indah
alur dan penulisannya bagus, lanjut kak 😍
Istrinya _byeonwooseok💃: hehe maaciw😍
total 1 replies
apiii
si cegil makin cegil🤣
Fitri Yama
Mereka ngapain Thor??main kuda2 an kah???
Istrinya _byeonwooseok💃: belom sampe itu padahal 🤣
total 1 replies
Rita Rita
kasihan dengan dua anak manusia yg sama Dimata tuhan tapi sangat berbeda Dimata manusia yg punya pangkat dan jabatan. cinta terhalang kasta dan restu,,
apiii
lebih ganas ternyata dari singa nasution🥲
Istrinya _byeonwooseok💃: no no jangan disamain ya. yang ini diam-diam menghanyutkan 🤭🙏
total 1 replies
apiii
semangat ya cegil dan mas langit💪
apiii
demi apapun kagetttt🤣
Istrinya _byeonwooseok💃: jangan kaget ya sama cegil🤭
total 1 replies
apiii
akhirnya ya
apiii
semangat cegilll🤣
apiii
berhasil gasihh si cegil ini🤣
SuryaDharma S
bagus sich ceritanya...
apiii
kerja bagus kejar terus cegill
English Lesson
😍
English Lesson
bagus👍🏻
falea sezi
lanjut donk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!