NovelToon NovelToon
Cewek Badung Vs Cowok Kaku

Cewek Badung Vs Cowok Kaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Diam-Diam Cinta / Komedi
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: exozi

CEWEK BADUNG VS COWOK KAKU

AYUNDA
Cantik, manis, dan bergaya kece abis... tapi kelakuannya liar!
Mulutnya tajam, berani, dan paling benci diatur-atur.
"Badung? Yeah, that's me."
Dia cewek yang hidup sesuka hati, nggak peduli omongan orang, dan siap melabrak siapa saja yang berani cari gara-gara.

GIOVANI
Ganteng, kaya, dan selalu tampil sempurna... tapi kaku setengah mati!
Hidupnya penuh aturan, rapi, dan terjadwal kayak robot.
"Terlalu diatur, terlalu sulit dimengerti."
Dia tipe cowok yang alergi sama kekacauan, apalagi sama cewek rusuh kayak Ayunda.

Dua kepribadian. Satu konflik yang tak terhindarkan.

Lo badung, gue kaku.
Kita emang mustahil.
Satu mau bebas, satu mau aturan.
Satu bawa kekacauan, satu bawa masalah.

Tapi entah kenapa... dua kutub yang saling tolak ini, selalu saja ketemu di titik yang sama.

Apakah si Badung bisa meluluhkan si Kaku?
Atau malah si Kaku yang bakal ikut rusuh karena si Badung?

A hate-love romance that you can't miss! ❤️🔥

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon exozi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

RAHASIA BESAR TERUNGKAP

Hari itu, suasana di rumah Gio terasa berbeda. Tidak seperti rumah Ayunda yang hangat dan ramai, rumah keluarga Giovanni terlihat sangat megah, sangat rapi, tapi terasa dingin dan kaku. Dinding-dindingnya berwarna putih bersih, perabotannya mewah dan mahal, tapi tidak ada banyak hiasan atau foto keluarga yang menghiasi ruangan.

Ayunda duduk dengan sangat sopan di sofa mewah itu. Di hadapannya ada kedua orang tua Gio. Papa Giovanni yang terlihat sangat tegas, berwibawa, dan wajahnya serius tanpa ekspresi. Dan Mama Giovanni yang cantik, elegan, tapi tatapannya tajam dan penuh penilaian.

Gio duduk di sebelah Ayunda, tangannya tidak lepas dari genggaman tangan pacarnya itu, memberikan kekuatan dan rasa aman.

"Jadi... ini yang namanya Ayunda ya?" suara Mama Giovanni memecahkan keheningan yang mencekam itu. Nada suaranya dingin, datar, dan terdengar angkuh. "Kamu yang bikin anak saya berubah jadi... begini? Berubah jadi orang yang seenaknya, sering pulang malam, dan tidak menuruti omongan orang tua?"

Ayunda menelan ludah. Jantungnya berdegup kencang, tapi dia ingat pesan Gio. Dia harus kuat, dia harus sopan, dan dia harus membuktikan kalau cintanya tulus.

"Iya Tante, saya Ayunda," jawab Ayunda dengan suara tegas tapi tetap sopan. Dia menundukkan kepalanya sedikit memberi hormat. "Saya mengerti kalau Tante dan Om kaget atau kecewa dengan perubahan Gio. Tapi saya mohon dengarkan saya baik-baik..."

Ayunda mengangkat wajahnya, menatap mata Mama Gio dengan berani.

"Saya tidak pernah mempengaruhi Gio dengan hal buruk. Justru saya rasa, perubahan yang terjadi pada Gio itu adalah hal yang baik. Dia jadi lebih bisa tertawa, dia jadi lebih peka, dan dia jadi lebih mengerti apa arti kebahagiaan yang sebenarnya. Saya sayang sama Gio Tan, dan saya tidak pernah berniat buruk sedikitpun."

"Halah... cewek seumur kamu, latar belakang kamu yang biasa saja, mana mungkin ngerti apa yang baik buat keluarga kami!" potong Mama Gio cepat, suaranya meninggi sedikit. "Kami ini keluarga terpandang, Ayunda. Hidup kami teratur, kami punya standar. Gio itu ditakdirkan untuk memimpin perusahaan besar, bukan untuk main-main sama cewek yang gaya bajunya kayak gini, yang mulutnya kasar, dan yang tidak punya kelas!"

Kata-kata itu menusuk hati Ayunda sangat dalam. Tapi dia bertahan. Dia tidak menangis, dia tidak marah. Dia tahu ini hanya permulaan.

Tiba-tiba Papa Giovanni mengangkat tangannya memberi isyarat agar istrinya diam.

"Cukup Ma..." kata Papa Gio pelan, lalu matanya beralih menatap Ayunda lekat-lekat. Tatapan itu aneh. Bukan tatapan marah, tapi tatapan yang... seolah sedang mengingat-ingat sesuatu. Tatapan yang tajam meneliti setiap detail wajah Ayunda.

"Kamu... nama lengkap kamu siapa nak?" tanya Papa Gio tiba-tiba.

"Ayunda Pramita, Om." jawab Ayunda singkat.

"Ayah kamu siapa? Dan siapa nama Ibu kamu?" pertanyaan berikutnya keluar dengan nada yang terdengar sangat serius dan mendesak.

Ayunda sedikit bingung, tapi dia menjawab jujur.

"Ayah saya bernama Budi Santoso, Om. Dan Ibu saya bernama Sri Wahyuni."

Begitu nama kedua orang tua Ayunda disebutkan, suasana di ruangan itu berubah total.

Wajah Mama Gio yang tadi galak, seketika berubah pucat pasi. Matanya terbelalak kaget, tangannya langsung menutup mulutnya menahan teriakan. Papa Gio pun langsung berdiri dari kursinya dengan gerakan cepat, napasnya memburu-buru, dan dia menatap Ayunda dengan mata yang berkaca-kaca.

Gio dan Ayunda sama-sama terlihat bingung dan syok melihat reaksi aneh itu.

"Pa... Ma... kalian kenapa? Kenapa jadi gitu?" tanya Gio panik.

Mama Gio langsung menangis terisak-isak, dia menutup wajahnya dengan kedua tangan.

"Ya Allah... benar-benar... ini benar-benar dia..." gumam Mama Gio pelan di antara isak tangisnya.

Papa Gio lalu berjalan mendekat ke arah Ayunda. Dia berjongkok di depan cewek itu, matanya menatap wajah Ayunda dengan penuh haru dan rasa sedih yang mendalam.

"Nak... Ayunda..." panggil Papa Gio dengan suara parau dan bergetar hebat. "Kamu... kamu tau gak siapa orang tua kandung kamu sebenarnya?"

Pertanyaan itu membuat Ayunda tertegun.

"Maksud Om? Budi Santoso dan Sri Wahyuni itu orang tua kandung saya lah. Mereka yang besarin gue, yang rawat gue dari kecil," jawab Ayunda bingung.

"Bukan..." Papa Gio menggeleng pelan, air mata akhirnya jatuh dari sudut matanya. "Mereka itu orang tua asuh kamu, Nak. Mereka itu saudara jauh kami yang dengan tulus mau merawat kamu waktu kamu masih bayi."

BRUK!!

Seolah ada petir yang menyambar di kepala Ayunda. Dunianya seakan berhenti berputar.

"A-apa yang Om omongin ini? Gak ngerti..." Ayunda gemetar, tangannya dingin.

"Dengerin aku baik-baik Nak..." Papa Gio memegang kedua bahu Ayunda erat-erat. "Kamu itu... kamu itu keponakan kami. Kamu itu anak dari adik perempuan saya yang sudah meninggal dunia waktu kecelakaan pesawat bertahun-tahun yang lalu."

Suasana hening total. Hening yang mencekam, hening yang mematikan.

"Maksudnya... jadi gue dan Gio itu..." Ayunda menatap Gio yang juga mematung dengan wajah pucat dan syok setengah mati.

"Kalian itu sepupu... kalian itu bersaudara sepihak..." bisik Mama Gio pelan. "Ya Allah... maafin kami... maafin kami karena selama ini menyembunyikan kebenaran ini..."

Ayunda merasa kepalanya pusing sekali. Rasanya mau pingsan. Semua kenangan, semua momen indah, semua cinta yang mereka bangun selama ini... hancur dalam sekejap mata karena satu kenyataan pahit.

Mereka saling mencinta. Mereka sudah berjanji mau bersama selamanya. Tapi ternyata... mereka punya hubungan darah. Mereka keluarga.

"Gak mungkin... ini gak mungkin..." suara Ayunda pecah, air matanya akhirnya meluncur deras. "Terus selama ini kita... kita pacaran padahal kita sepupu? Gila ya Tuhan... kenapa kejam banget sih sama gue?!"

Ayunda langsung berdiri, mendorong tangan Papa Gio pergi. Dia menatap Gio yang masih berdiri mematung dengan tatapan hancur. Mata Gio berkaca-kaca, wajahnya pucat, dan dia terlihat sangat syok.

"Gio... bener gak apa yang mereka omongin? Kita... kita keluarga?" tanya Ayunda dengan suara bergetar, berharap ada penolakan dari mulut Gio.

Tapi Gio hanya diam. Dia tidak bisa berkata apa-apa. Dia terlalu syok, dia terlalu hancur. Kebenaran itu terlalu berat untuk diterima akal sehat.

"Kenapa... kenapa baru bilang sekarang?!" teriak Ayunda dengan emosi meledak-ledak. Air matanya mengalir deras membasahi pipi. "Kenapa kalian biarin kita jatuh cinta?! Kenapa kalian biarin kita ngerasa bahagia?! Terus sekarang gimana?! Hubungan kita ini apa?! Dosa?! Atau apa?!"

Ayunda tidak kuat lagi mendengar penjelasan. Dadanya sesak sekali, rasanya mau meledak.

"Gue gak mau denger apa-apa lagi! Gue mau pulang! Gue mau lari dari sini!"

Tanpa menunggu Gio atau siapapun, Ayunda langsung berbalik dan berlari sekencang-kencangnya keluar dari ruang tamu itu, keluar dari rumah mewah itu, dan pergi meninggalkan semua orang yang terdiam dengan rasa bersalah yang luar biasa.

Gio ingin mengejar. Dia ingin memeluk Ayunda, dia ingin bilang kalau semua ini salah, dia ingin memperbaiki segalanya. Tapi kakinya berat sekali. Badannya lemas. Pikirannya kacau balau.

Cinta yang mereka bangun dengan indah, tiba-tiba berubah menjadi cobaan yang paling menyakitkan dan paling mustahil untuk diatasi.

Rahasia besar akhirnya terungkap. Dan kenyataan itu... lebih pahit dari apapun.

1
Alex
meleleh abanng🥳
Alex
love sekebon gio🥰🥰
shabiru Al
ok mampir nih... moga aja seru gak ngebosenin
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!