Nazwa Adzira Putri, atau sering di panggil Zira, adalah seorang wanita yang dulunya berselimut cahaya. Dengan nama pena Nana, dia menginspirasi banyak orang dengan kata-katanya yang bijak dan agamanya yang kuat. Namun, kebenaran pahit tentang ayahnya - seorang yang mengkhianati ibunya dengan perselingkuhan, merobek tirai kesucian itu. Luka itu membawanya ke jurang kegelapan, meninggalkan hijab dan agamanya, dan masuk ke dunia malam yang gelap. Tapi, di tengah-tengah badai itu, ada secercah harapan. Nathan Fernandez, anak kyai yang sholeh dan dingin, menjadi sosok yang menarik perhatiannya. Mata teduh dan menenangkan itu menjadi tempat pelariannya, dan tanpa disadari, cinta mulai tumbuh, membawa harapan baru di tengah-tengah kegelapan. Penasaran dengan kelanjutan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12 Akad
Pukul 1 siang, Zita dan Aliya tiba di rumah Zira. Mereka langsung menuju kamar, tempat Zira sudah selesai dirias dengan pakaian pengantin Muslim lengkap dengan cadar.
Zita memulai obrolan, "Zir, jadi benar kau mau menikah?" Zira menjawab santai, "Aku kan sudah bilang, aku memang serius menikah. Dan aku akan menikah dengan Pak Nathan, kulkas dua pintu. Gimana ya nanti kehidupan aku?"
Sementara Zira berbincang dengan Zita, Aliya hanya memperhatikan penampilan Zira sembari meneteskan air mata. Ia teringat sosok Zira dulu, yang biasa dipanggil Nana
si gadis anggun, sholehah, dengan tutur kata lembut. "Kenapa kamu melihatku seperti itu?" tanya Zira sambil memandang Aliya.
"Enggak apa-apa, Zir. Aku cuma merasa ada hikmah dari pernikahan ini. Aku seperti melihat sosok Nana yang dulu sempat hilang, sekarang mulai kembali," jawab Aliya lirih. Zita menimpali, "Ya, aku juga setuju dengan Aliya. Jujur saja, aku kangen sama Nana yang anggun, sholehah, dan sopan. Semoga dengan pernikahan ini, Nana kita yang dulu bisa kembali lagi." Mendengar itu, Zira terdiam tanpa sepatah kata pun. Untuk mencairkan suasana yang sempat menjadi canggung, Zita berkata, "Eh, kamu masih punya utang cerita sama aku dan Aliya. Ingat, Zira."
"Iya," jawab Zira singkat. "Nanti setelah akad nikah selesai, aku akan ceritakan semuanya tanpa ada yang kusembunyikan." Sementara itu, di lantai bawah, prosesi akad nikah tengah bersiap dimulai.
Sang penghulu bertanya kepada mempelai pria, "Mas Nathan, apakah sudah siap?" "InshaAllah siap, Pak," jawab Nathan mantap. "Baiklah, silakan Pak Alex membacakan akadnya," lanjut penghulu.
Pak Alex langsung melafalkan akad dengan penuh khidmat, “Ankahtuka wazawwajtuka makhtubataka binti Nazhwa Adzira Putri alal mahri seperangkat alat salat dan emas 20 gram secara tunai.”
Artinya: "Saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan putriku Nazhwa Adzira Putri dengan mahar berupa seperangkat alat salat dan emas 20 gram yang dibayar tunai."
Nathan pun menjawab tegas, "Qobiltu nikahaha wa tazwijaha alal mahril madzkuur wa radhitu bihi, wallahu waliyu taufiq.”
Artinya: "Saya terima nikah dan kawinnya dengan mahar yang telah disebutkan, dan saya rela dengan hal tersebut. Semoga Allah selalu memberikan anugerah."
Kemudian penghulu bertanya kepada para saksi, "Bagaimana saksi? Sah?" Para saksi serempak mengiyakan dengan penuh semangat, "Sah!" Suasana haru menyelimuti ruangan.
Umi Aisyah dan Mama Sarah tak kuasa menahan tangis bahagia atas kelancaran acara ini. Mama Sarah lalu berkomentar kepada Umi Aisyah sambil tersenyum bahagia, "Jeng, ternyata doa kita terkabul dan kita bisa menjadi besan dengan cara yang tak terduga." "Iya, jeng. Sungguh berkah luar biasa," balas Umi Aisyah sambil menyeka air matanya. Penghulu lalu memanggil mempelai wanita untuk hadir ke pelaminan. Mama Sarah segera menuju ke lantai atas untuk menjemput Zira.
Ketika Mama Sarah akhirnya sampai di lantai atas, ia perlahan mengetuk pintu kamar sambil memberi salam, "Assalamualaikum." Suaranya lembut namun jelas terdengar. Dari dalam kamar, terdengar jawaban yang beriringan, "Waalaikumsalam, Mah," kata Zira dengan nada tenang, disusul oleh suara ceria Aliya Zita yang berkata, "Waalaikumsalam, Tante." Sambil tersenyum hangat, Mama Sarah masuk ke ruangan.
Namun, langkahnya terhenti begitu matanya menangkap penampilan Zira. Gadis itu tampak begitu berbeda. Kini ia mengenakan cadar yang memancarkan aura keteduhan. Tanpa disadari, air mata mulai mengalir perlahan di pipi Mama Sarah. Ada rasa haru dan kebahagiaan yang sulit ia gambarkan. Di hadapannya, Mama Sarah seolah melihat kembali bayangan sosok Nana putrinya yang dulu bercadar seperti hidup kembali melalui Zira.
Melihat ekspresi ibunya, Zira menjadi bingung. "Ada apa, Mah? Kenapa Mama melihat Zira seperti itu?" tanyanya dengan nada penuh penasaran.
Mama Sarah menarik napas panjang untuk menenangkan gejolak emosinya sebelum ia berkata, "Mama sangat bahagia, Zira. Penampilanmu ini membuat hati Mama penuh dengan rasa syukur. Rasanya pernikahan yang mendadak ini memiliki hikmah besar. Semoga Gus Nathan menjadi panutan yang bisa membimbingmu di jalan yang diridhai Allah."
Suaranya mengandung doa dan harapan tulus. Kemudian, dengan cepat, Mama Sarah meraih perhatian mereka semua. "Yuk ke bawah, suamimu sudah menunggumu, Zira," katanya dengan lembut tapi pasti. Ia menggandeng lengan Zira sembari mengajak Aliya untuk ikut bersamanya menuju ke lantai bawah.
Ketiganya berjalan perlahan turun tangga untuk menuju tempat pernikahan berlangsung. Sesampainya di bawah, suasana terasa syahdu. Semua mata tertuju pada pengantin wanita yang tampak begitu anggun mengenakan baju pernikahan sederhana namun memikat. Namun di antara kerumunan orang itu, Nathan tampak berdiri mematung di tempatnya. Matanya tidak bisa berpaling dari sosok istrinya yang begitu memesona dalam balutan cadar.
Melihat hal itu, penghulu yang bertugas pun tersenyum kecil dan melontarkan candaan untuk mencairkan suasana. "Mas Nathan, ayo segera kita mulai pembacaan doa untuk nak nazhwa ,nanti malam puas puasin lihatin kecantikan istrimu." Suara ringan penghulu membuat suasana menjadi lebih santai.
Nathan tersadar dari lamunannya setelah mendengar perkataan itu. Wajahnya langsung bersemu merah karena sedikit malu namun tetap tersenyum lega. Dengan langkah mantap, Zira berjalan mendekati Nathan yang sudah menunggunya di depan. Tanpa banyak bicara, Nathan mengambil cincin kawin mereka dan dengan penuh hati-hati memasangkannya pada jari manis Zira. Hal serupa dilakukan oleh Zira kepada Nathan. Momen itu terasa penuh haru, para tamu undangan turut menyaksikan dengan wajah bahagia.
Setelah selesai prosesi pemasangan cincin pernikahan, Zira meraih tangan Nathan dan dengan penuh rasa hormat mencium tangan suaminya sebagai lambang kerendahan hati dan bakti seorang istri pada pasangannya. Nathan pun membalas dengan meletakkan tangannya di atas ubun-ubun Zira untuk memberikan doa keberkahan.
Nathan mulai membacakan doa pernikahan dengan penuh penghayatan: “Allahumma inni as'aluka min khoirihaa wa khoirimaa jabaltahaa 'alaih. Wa a'udzubika min syarrihaa wa syarrimaa jabaltaha 'alaih.”
Artinya: "Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu kebaikan dirinya dan kebaikan dari apa yang Engkau ciptakan di dirinya. Dan aku berlindung kepada-Mu dari keburukannya dan keburukan dari apa yang Engkau ciptakan di dirinya."
Doa itu terasa begitu menggetarkan hati semua orang yang mendengarnya. Zira pun tidak bisa menahan lirihnya hati saat mendengarkan ucapan Nathan, hingga ia turut mengamini doa tersebut dengan sungguh-sungguh dalam keheningan batinnya. Di detik itu pula, suasana penuh kebahagiaan memenuhi ruangan, merangkai momen tak terlupakan dari awal perjalanan hidup baru mereka bersama.
Aliya dan Zita merasa terharu menyaksikan pernikahan Zira dan Nathan. Mereka tidak menyangka sahabatnya yang dulu dikenal tantrum, labil, dan mudah berubah mood kini telah menikah. Dengan penuh senyum, Aliya dan Zita menuju pelaminan untuk memberikan ucapan selamat kepada pasangan pengantin.
Mereka berkata, semoga pernikahan Zira dan Nathan harmonis serta langgeng hingga akhir hayat. Zita menambahkan doa agar mereka segera dikaruniai momongan. Mendengar harapan dari dua orang sahabatnya, Zira hanya bisa mengucapkan amin dengan tulus.
Sementara itu, Putri, adeknya Nathan, tiba-tiba menyusul ke acara pernikahan di Jakarta. Ia diantar oleh seorang santri dari pesantren. Begitu melihat abang tercintanya sudah menikah, Putri langsung melontarkan protes kecil. Ia kecewa karena tidak diberi kabar sebelumnya. Nathan yang mendengar celotehan adiknya tak bisa berbuat banyak, hanya tersenyum ringan.
Saat Umi Aisyah menyadari kedatangan Putri, ia bertanya dengan sedikit kekhawatiran, siapa yang menemani Putri ke Jakarta. Putri menjawab dengan kesal bahwa ia datang bersama Mbak Ayu, sambil menyindir Umi dan Abi yang datang ke Jakarta tanpa mengajaknya.
Saat pandangannya tertuju pada Zira, calon kakak iparnya, Putri tertegun. Ia memuji kecantikan Zira sambil mengungkapkan bahwa wajah Zira mengingatkannya pada Nana Hafizah, idolanya yang dulu begitu ia kagumi namun kini seakan menghilang tanpa jejak. Putri bahkan menyebut dirinya sebagai fans berat Nana hingga saat ini meski tidak ada kabar dari sang idola.
Namun setelah sadar dirinya terlalu larut dalam curhat, Putri kembali ke topik utama dan dengan ceria memuji Zira sembari menyatakan bahwa bang Nathan benar-benar tak salah memilih istri. Mendengar pujian tulus dari Putri tersebut, Zira berterima kasih, dan hati Nathan mengiyakan pendapat sang adik bahwa Zira memang mirip dengan Nana Hafizah, idolanya suatu waktu dulu meski ia sendiri belum pernah sepenuhnya melihat wajah Nana secara langsung.