NovelToon NovelToon
Kesempatan Kedua

Kesempatan Kedua

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Cinta Seiring Waktu / Fantasi
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Jaena19

Tidak pernah terpikirkan oleh Sarah bahwa dirinya akan diberi kesempatan kedua untuk kembali hidup.
Seumur hidup, hanya ia habiskan untuk berfoya-foya dan mengajar cinta Marvin yang tak pernah ia miliki hingga akhir hayatnya. Tak segan Sarah mencelakai wanita yang dicintai Marvin, Kayla. Namun di kehidupan sebelumnya, meskipun Sarah sering membawa kesialan dan membuat hidup Marvin dan Kayla menderita, mereka masih berbaik hati memberi Sarah bantuan ketika gadis itu sedang menghadapi masalah ekonomi karena ayahnya yang bangkrut.
Di kehidupan kali ini, Sarah hanya ingin mencoba membahagiakan dirinya sendiri dan melepas cinta pertama yang begitu membekas bagi dirinya.
Tapi siapa yang sangka kehidupan keduanya ternyata lebih rumit daripada yang Sarah bayangkan. Ia ditimpa bertubi-tubi kenyataan yang membuat logikanya tidak lagi berjalan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jaena19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

22

" Ada yang nyatain perasaan ke gue."

Ucapan Sarah yang tiba-tiba tersebut membuat Tamara dan Kayla sama-sama tersedak.

"Anjir, Sarah. Lo bisa nggak sih kalau ngomong pas kita nggak lagi makan kayak gini," Omel Tamara lalu menembus air mineral miliknya.

"Serius Lo? Siapa yang nyatain perasaan ke Lo?" Kayla kini memusatkan perhatiannya pada Sarah.

"Fabian." Jawab Sarah lalu meletakkan tangannya di atas meja.

Kayla dan Tamara saling memandang, sebuah senyuman terbit di wajah Tamara namun tidak dengan Kayla.

"Tapi bukannya Lo,,,"

"Terus lo terima?" Tanya Tamara menyela pertanyaan Kayla dengan semangat.

"Dia cuma nyatain perasaannya, bukan nembak gue supaya jadi pacarnya."

Tamara mengernyit." Emang dia ngomongnya gimana?"

"Gue suka sama Lo," jawab Sarah dengan jujur.

"Terus?"

"Udah itu aja."

Tamara mengambil makanan yang dia pesan lalu mengunyahnya dengan kasar." Gue pikir lo di tembak, terus Lo jawab apa?"

Sarah menggeleng.

"Lo tolak?" Kali ini Kayla yang bertanya.

Sarah kembali menggeleng." Gue belum jawab apa-apa."

"Perasaanmu Lo ke Fabian sebenarnya gimana? Terus perasaan Lo ke Marvin udah tuntas belum? Jangan sampai lo berhubungan sama cowok lain tapi perusahaan lo dengan masa lalu belum selesai." Tamara memperingati.

Kayla juga seperti ingin menyampaikan sesuatu tapi urung. Ia menepuk pundak Sarah, memberikan saran sedikit semangat karena garis itu terlihat seperti banyak pikiran.

"Iya Tam, gue tau. Makasih ya sarannya," ucap Sarah sambil tersenyum tipis, ia pun mulai menyantap makanannya.

Getaran ponsel di saku rok nya, mengalihkan atensinya. Dia merian ponsel itu dan melihat pesan masuk dari seseorang.

Aldo

Temui gue di sini. Gue punya informasi penting buat Lo

(Mengirim lokasi)

Sarah mengerutkan alisnya. Untuk apa laki-laki itu mengubungi nya lagi?

Informasi penting?

Sarah agak ragu, mungkinkah ini hanya jebakan dari laki-laki itu? Tapi bagaimana kalau dia benar-benar memiliki informasi penting untuknya?

Sarah kembali menaruh ponselnya. Tapi otaknya masih menimang untuk menemui laki-laki itu atau tidak.

....

Sarah melipat kedua tangannya sambil bersandar pada kursi dan menata lurus ke arah laki-laki yang sudah tidak dia lihat itu.

Pada akhirnya Sarah memutuskan untuk datang menemui Aldo.

"Jadi, informasi apa yang mau Lo bicarain?" tanya Sarah tanpa basa-basi.

Aldo meminum kopi yang dia pesan." Nggak usah buru-burulah. Santai aja kita reuni dulu." Jawab laki-laki itu dengan santai dan terlihat sangat menikmati kopi nya.

Saat ini mereka sedang berada di sebuah kafe hotel yang lokasinya cukup jauh dari rumah Sarah. Awalnya Sarah cukup curiga dengan laki-laki itu, mengingat Aldo mengajaknya bertemu di sebuah hotel. Tapi melihat area sekitar yang masih cukup ramai, membuat nya sedikit bernafas lega, ia masih bisa waspada jika laki-laki itu berbuat sesuatu.

Sarah memutar bola matanya dengan malas. " Gue gak punya waktu banyak buat ladenin Lo."

"Oke, sebelum gue kasih tau informasi ini, Lo harus janji buat transfer gue uang 30 juta, gimana?"

"Lo gila?!"

Aldo menyeringai." Kenapa kok kaget gitu? 30 juta bua orang berada kayak Lo pasti gak seberapa."

Sarah mendengus kesal." Yang kayak orang tua gue. 10 juta, gimana?"

"Serius? Lo nawar?" tanya Aldo tidak percaya, Sarah yang dikenal sebagai gadis yang selalu pamer dan sombong sekarang malah bermain tawar-menawar dengannya.

Sarah menghela napas kasar." Lo sebenarnya mau apa sih? Tiba-tiba menghilang, dan sekarang lo tiba-tiba datang dan membawa informasi penting. Lo gak bohongin gue kan?"

Aldo tersenyum sinis, ia mengecek jam di tangannya lalu mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan." Gue nggak bohong. Gue yakin informasi ini penting banget buat Lo. Apalagi informasi ini menyangkut hidup Lo."

Seketika pada Sarah pergilah dan menatap tajam pada Aldo, seakan-akan siap menghajar laki-laki itu kapan saja. Mata yang membara itu malah membuat Aldo tertawa, sepertinya ia sudah membuat gadis itu tersulut emosinya.

"Gimana? Deal 30 juta?"

Sarah mencoba mengatur dadanya yang naik turun karena emosi, ia tidak suka orang seperti Aldo yang sok tahu mengenai hidupnya. Tapi mengingat Aldo yang tiba-tiba muncul seperti ini dan menawarkan informasi penting membuatnya yakin jika laki-laki itu sangat membutuhkan uang.

Sarah menyeringai, ia lalu bangkit dari kursinya, membuat Aldo bingung dengan tindakan gadis itu.

"Gak perlu. Gue nggak butuh informasi dari Lo. Gue bisa cari tau sendiri," ucap Sarah dengan percaya diri, lalu berbalik namun tangan gadis itu langsung di cekal oleh Aldo.

Wajahnya terlihat panik." Lo akan menyesal kalau gak dengar informasi ini," ucapnya sembari melirik ke arah jam tangannya.

"Lepasin gue!"

"Lo akan nyesel, Sar!"

"Lepasin gue atau gue teriak!" Ancam Sarah.

Aldo kembali melirik ke arah jam tangannya, ia pun melepas cekalan pada pergelangan tangan Sarah." Fine, 15 juta? Gak bisa naruh harga dibawah itu lagi," ucap Aldo pasrah.

Sarah menyeringai, ia pun kembali duduk dengan santai. 15 juta sebenarnya harganya masih tinggi bagi seorang yang pernah miskin, meskipun saat ini kekayaannya masih berlimpah.

"Oke, informasi apa yang mau Lo sampaikan?"

Aldo mengusap keringat dingin di pelipisnya. Sarah semakin yakin jika laki-laki itu dalam keadaan terdesak dan membutuhkan uang.

"Tapi Lo harus janji dulu bakal transfer uang itu setelah gue kasih tahu informasinya." Ujar Aldo memastikan dan Sarah menanggapinya dengan anggukan.

Laki-laki itu lalu kembali melihat jam di tangannya. Sarah jadi penasaran, kenapa laki-laki itu selalu melihat jam tangannya? Apakah dia memiliki janji dengan seseorang?

"Mereka udah ada di sini,"ujar Aldo sambil menyeringai." Sar, lihat ke arah kiri Lo."

Sarah sebenarnya perasaannya dengan tingkah Aldo, meski begitu ya tetap menurut saja. Sarapan memutar kepalanya ke arah kiri dan sedetik kemudian dia melihat sosok yang sangat amat ia kenal. Mata Sarah membulat sempurna, wajahnya nampak terkejut, kedua tangannya terkepal begitu melihat sosok itu.

Sarah segera mengikuti orang itu yang sekarang tengah masuk ke lift. Sarah menunggu dan melihat angka yang muncul pada panel lift untuk melihat dilantai mana lift itu berhenti. Setelah me,ihat angka delapan muncul, Sarah segera masuk ke lift yang berada di sebelah untuk menuju lantai delapan.

Selama di dalam lift, keringat dingin tidak berhenti mengucur di tubuhnya. Bisa Sarah rasakan kini tubuhnya bergetar, ia seakan takut dengan kenyataan yang akan ia hadapi selanjutnya.

"Semoga aja gue salah lihat. Semoga bukan, semoga bukan." Ucap Sarah berulang kali.

Setelah pintu lift terbuka, jantung Sarah semakin berdetak tidak karuan. Ia lalu melihat ke arah pintu yang berjejer disana. Entah kamar yang mana yang dimasuki oleh orang tadi. Dengan sisa keberaniannya, ia nekat mengetuk setiap pintu di sana. Setiap pintu terbuka jantungnya semakin terasa akan keluar. Hingga ia sampai di pintu nomor 809.

Sarah menghela napasnya lalu mulai mengetuk pintu tersebut.

"Siapa?" Teriak seseorang dari dalam.

Mendengar suara itu, suara yang sangat amat Sarah kenali. Segera dia berlari dan bersembunyi di belakang pilar yang tak jauh dari sana.

Pintu pun terbuka namun tidak menampakkan siapa-siapa.

"Siapa sayang?" Ujar seseorang dari dalam yang ikut keluar untuk mengecek siapa yang datang.

"Gak tau, kayaknya orang iseng. Nanti aku coba telepon pihak hotel. Ayok masuk sayang."ujarnya lalu kembali menutup pintu itu.

Dibalik pilar, Sarah sudah terduduk pasrah dengan air mata yang sudah berlinang. Ia menutup mulutnya rapat-rapat takut Isak tangisnya terdengar. Tubuhnya bergetar hebat. Rasanya separuh jiwanya hilang entah kemana.

Sungguh Sarah tidak percaya.

Orang itu,,,orang yang dia ikuti adalah ayahnya sendiri.

Bersama seorang wanita yang tidak dia kenal.

1
Queen AL
baru satu bab, bab berikut2nya jangan pake gue lo thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!