NovelToon NovelToon
My Possession Hot Daddy

My Possession Hot Daddy

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Diam-Diam Cinta
Popularitas:8.1k
Nilai: 5
Nama Author: Senja_Puan

Sepuluh tahun Aluna (20) hidup dalam "sangkar emas" milik Bramantyo (35), wali tunggal sekaligus sahabat mendiang ayahnya. Bagi Aluna, Bram adalah pelindung yang ia panggil "Daddy". Namun bagi Bram, Aluna adalah obsesi yang ia rawat hingga matang.
Saat Aluna mulai menuntut kebebasan, kasih sayang Bram berubah menjadi dominasi yang gelap. Tatapan melindunginya berganti menjadi kilat posesif yang membakar. Di antara rasa hormat dan hasrat terlarang, Aluna harus memilih: tetap menjadi putri kecil yang penurut dalam kuasa Bram, atau melarikan diri dari jerat pria yang takkan pernah melepaskannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja_Puan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

2. Di balik kasih sayang Daddy

Keesokan harinya, cahaya matahari pagi menyusup lembut melalui jendela-jendela besar di ruang makan kediaman Bramantyo, memantul di atas peralatan makan perak dan porselen mahal.

Suasananya tenang, hanya diiringi suara denting sendok dan gemericik air mancur dari taman belakang.

Aluna baru saja selesai bersiap untuk jadwal kuliah paginya. Ia tampil segar dengan rok pendek lipit berwarna pastel dan blus tanpa lengan yang menonjolkan kulit bahunya yang halus.

Alih-alih langsung duduk di kursinya untuk sarapan, Aluna justru melangkah riang menghampiri Bram yang sedang duduk di kepala meja.

Pria itu tampak sangat berwibawa dengan kemeja kerja berwarna biru gelap, fokus menatap tablet di tangannya yang berisi laporan bursa saham.

"Daddy, lihat... sepertinya dasiku miring sedikit," rengek Aluna manja.

Sebenarnya, dasi yang melingkar di kerah blusnya terpasang dengan sempurna. Itu hanyalah alasan klasik yang selalu Aluna gunakan untuk mendapatkan perhatian pria itu sebelum mereka berpisah untuk aktivitas masing-masing.

Bram meletakkan tabletnya. Matanya yang tajam dan dingin seketika mencair saat menatap gadis di depannya.

Ia menarik kursi makannya sedikit ke belakang, lalu dengan satu gerakan posesif, ia menarik pinggang Aluna agar gadis itu berdiri tepat di antara kedua kakinya yang terbuka.

Jarak mereka begitu dekat hingga Aluna bisa merasakan embusan napas Bram yang beraroma kopi dan mint.

"Sini, Sayang. Biar Daddy rapikan," bisik Bram. Suaranya rendah dan serak, menciptakan getaran yang aneh di dada Aluna.

Tangan besar Bram yang kokoh bergerak perlahan merapikan kerah blus Aluna. Namun, jemarinya tidak segera menjauh.

Ia justru membiarkan ibu jarinya mengusap tengkuk Aluna dengan gerakan memutar yang lambat, hampir seperti sebuah belaian.

Aluna tidak merasa aneh; baginya, ini adalah bentuk kasih sayang yang telah ia terima selama sepuluh tahun terakhir.

Ia justru semakin menyandarkan tubuhnya pada dada bidang Bram, mencari kehangatan di sana.

"Terima kasih, Daddy. Oh iya, hari ini aku pulang agak telat ya? Ada kerja kelompok di perpustakaan untuk tugas manajemen," ucap Aluna sambil mendongak, memberikan senyum termanisnya yang selalu berhasil meluluhkan hati pria manapun.

Sentuhan tangan Bram di leher Aluna mendadak berhenti. Matanya yang semula hangat berubah menjadi sedikit lebih gelap, sebuah kilat protektif muncul di sana meskipun bibirnya masih menyunggingkan senyum tipis yang menenangkan.

"Kerja kelompok? Sampai jam berapa?" tanya Bram datar.

"Mungkin jam tujuh malam? Sarah ikut kok. Ayolah Daddy, ini kan kerja kelompok."

Bram terdiam sejenak, matanya menatap bibir Aluna yang merona alami. Ia mengambil sepotong stroberi segar dari piringnya dan menyuapkannya langsung ke mulut Aluna.

"Jam enam sore, Aluna. Mobil akan menjemputmu jam enam tepat di lobi gedung fakultas. Tidak ada tawar-menawar untuk hari ini."

Aluna sedikit mengerucutkan bibirnya, tanda protes kecil.

"Tapi Daddy, jam enam itu terlalu cepat. Kami baru mulai diskusi jam empat sore. Beri aku waktu sampai jam tujuh, ya?"

Bram tidak menjawab dengan kata-kata. Ia justru meraih tengkuk Aluna, menariknya sedikit lebih dekat, dan mendaratkan kecupan singkat namun sangat dalam di keningnya.

Kecupan itu terasa lama, seolah-olah Bram sedang menanamkan segel kepemilikan di sana.

"Enam sore, Aluna. Atau aku sendiri yang akan masuk ke perpustakaanmu, membubarkan diskusimu, dan menyeretmu pulang di depan semua temanmu. Pilih mana, Sayang?"

Aluna terkekeh, menganggap itu hanya gertakan protektif sang wali yang memang selalu "sedikit" berlebihan.

"Iya, iya. Jam enam tepat. Daddy posesif sekali hari ini! Aku pergi dulu ya!" Aluna mencium pipi Bram dengan gemas sebelum menyambar tasnya dan berlari kecil menuju mobil jemputan yang sudah menunggu di depan.

Bram menatap punggung Aluna hingga gadis itu menghilang di balik pintu besar. Begitu pintu tertutup, senyum di wajahnya menghilang sepenuhnya.

Ekspresinya berubah menjadi sangat dingin dan tanpa emosi. Ia meraih ponselnya yang tergeletak di meja dan mengirimkan sebuah pesan singkat kepada kepala keamanannya:

"Ikuti dia secara tertutup. Kirimkan laporan foto setiap tiga puluh menit. Pastikan tidak ada laki-laki yang duduk dalam radius satu meter darinya selama di perpustakaan. Jika ada yang mencoba menyentuhnya, kau tahu apa yang harus dilakukan."

Suasana kampus yang ramai biasanya menjadi pelarian bagi Aluna dari atmosfer rumah yang kadang terasa terlalu sepi. Ia merasa beruntung memiliki wali sehebat Bram yang memanjakannya dengan segala fasilitas mewah, mulai dari biaya kuliah hingga pakaian-pakaian bermerek.

Baginya, Bram adalah pahlawan yang menyelamatkannya dari kegelapan masa lalu.

Namun, Sarah, sahabat karibnya sejak semester pertama, mulai menyadari sesuatu yang janggal siang itu saat mereka sedang duduk di kafetaria terbuka.

"Luna, coba lihat pria berjaket hoodie abu-abu di meja pojok sana," bisik Sarah sambil menyeruput jusnya, matanya melirik waspada.

"Dia mengikutimu sejak kita keluar dari ruang kuliah tadi. Bahkan saat kau ke toilet, dia berdiri tidak jauh dari pintu."

Aluna menoleh sekilas lalu tertawa renyah, memperlihatkan deretan giginya yang rapi.

"Itu Anwar, Sarah. Dia sopir baru yang ditunjuk Daddy. Katanya dia hanya ingin memastikan aku aman dan tidak kesulitan membawa tumpukan buku referensi yang berat. Daddy memang sedikit berlebihan, kau tahu sendiri kan bagaimana dia sejak dulu?"

"Sedikit berlebihan? Luna, dia tidak melihatmu seperti seorang sopir melihat majikannya. Dia melihatmu seperti seekor anjing penjaga melihat berlian yang mau dirampas orang! Tadi kulihat Rio, anak hukum yang tampan itu, baru mau melangkah ke arahmu, tapi pria itu langsung menatap Rio dengan tatapan ingin membunuh. Rio langsung putar balik!" Sarah menggelengkan kepala, merasa ngeri.

Aluna hanya menganggap itu sebagai bentuk rasa sayang Bram yang mendalam.

"Mungkin Daddy hanya takut kejadian penculikan waktu aku SMA terulang lagi. Dia sangat trauma soal keselamatanku, Rah."

Aluna kembali asyik mengobrol, tidak menyadari bahwa setiap kali ia tertawa lepas atau tidak sengaja menyentuh lengan teman pria saat berdiskusi, sebuah foto tertangkap secara diam-diam oleh kamera ponsel Anwar.

Di tempat lain, di layar monitor raksasa di ruang kantornya, Bram sedang mengepalkan tangan hingga buku jarinya memutih, menatap foto-foto kiriman Anwar dengan amarah yang merayap di dadanya.

Waktu berjalan begitu cepat ketika mereka asyik berdiskusi. Aluna tersentak saat melihat jam tangannya yang bertahtakan berlian—pemberian ulang tahun dari Bram.

Pukul 18.15.

Jantung Aluna seolah berhenti berdetak sesaat. Ia sudah terlambat lima belas menit dari batas waktu yang ditetapkan Bram. Dengan panik, ia membereskan buku-bukunya tanpa mempedulikan teriakan Sarah yang bingung.

"Maaf, Sarah! Aku harus pergi sekarang juga! Aku benar-benar lupa waktu!"

Aluna berlari sekencang mungkin menuju area parkiran. Mobil Bentley hitam sudah terparkir di sana dengan mesin yang menyala. Anwar berdiri di samping pintu dengan wajah yang sangat pucat, seolah-olah ia baru saja melihat hantu.

"Maaf, Pak Anwar! Tadi diskusinya sangat seru sampai aku tidak melihat jam," ucap Aluna terengah-engah saat memasuki mobil.

Anwar tidak menjawab. Ia hanya membukakan pintu dengan tangan yang sedikit gemetar dan segera melajukan mobil membelah kemacetan Jakarta.

"Tuan Besar sudah menunggu di rumah, Nona. Beliau... sangat tidak suka menunggu."

Sepanjang jalan, Aluna merasa gelisah yang luar biasa. Perasaan manjanya yang biasanya mendominasi kini mulai tergerus oleh rasa takut yang asing. Ia mencoba mengirim pesan singkat kepada Bram:

"Daddy, maafkan aku telat sedikit. Macet sekali di jalan. Jangan marah ya? <3".

Namun, pesan itu hanya menunjukkan centang biru tanpa balasan.

Begitu mobil memasuki gerbang kediaman, suasana terasa sangat sunyi. Tidak ada pelayan yang menyambutnya di aula seperti biasanya. Hanya ada cahaya lampu remang-remang yang mengarah ke ruang makan utama.

Di sana, Bram duduk sendirian di kepala meja kayu jati yang panjang. Di depannya tidak ada makanan, hanya ada sebuah jam pasir kuno yang seluruh pasirnya sudah habis terkumpul di bagian bawah.

Pria itu duduk tegak, tangannya terlipat di atas meja, menatap lurus ke depan dengan mata elang yang mematikan.

"Daddy... maafkan aku. Tadi diskusi di perpustakaan sangat padat dan ponselku aku simpan di tas jadi tidak terdengar alarmnya,"

ucap Aluna dengan suara pelan, mencoba mendekati Bram dan hendak memeluk leher pria itu dari belakang seperti ritual permohonan maafnya yang biasa.

Namun, sebelum lengan Aluna sempat menyentuh bahunya, Bram menangkap pergelangan tangan Aluna dengan satu tangan.

Cengkeramannya sangat kuat—tidak sampai mematahkan tulang, namun cukup untuk membuat Aluna tidak bisa bergerak. Bram menarik Aluna dengan sentakan halus hingga gadis itu terpaksa berdiri tepat di hadapannya.

"Lima belas menit, Aluna," suara Bram rendah, hampir menyerupai geraman predator yang terluka.

"Lima belas menit kau membiarkanku berada dalam kegelapan, membayangkan hal-hal buruk yang dilakukan pria-pria di kampusmu padamu. Kau tahu betapa aku benci jika milikku berada di luar kendaliku?"

Aluna menelan ludah, ia bisa melihat urat di leher Bram menegang.

"Daddy... kau menyakitiku. Aku janji tidak akan mengulanginya lagi. Jangan marah, ya? Aku kan sudah pulang," Aluna mencoba merayu, menggunakan nada manja dan suaranya yang lembut, sambil mengusap lengan kekar Bram dengan tangan yang bebas.

Bram menatap bibir Aluna yang sedang merayu itu. Amarahnya tidak padam, namun justru berubah menjadi gairah gelap yang menyesakkan.

Ia menarik pinggang Aluna hingga tubuh mereka bersentuhan tanpa celah.

"Kau pikir kata 'maaf' cukup untuk membayar kecemasan yang kau berikan padaku, Sayang?"

Bram mengangkat dagu Aluna dengan jari telunjuknya, memaksa gadis itu menatap matanya yang kini dipenuhi obsesi.

"Hukumanmu adalah... mulai besok, kau tidak akan pergi ke kampus sendirian. Anwar akan berdiri tepat di depan pintu kelasmu. Dan setiap jam, kau harus mengirimkan foto keberadaanmu padaku."

"Tapi Daddy, itu terlalu berlebihan! Teman-temanku akan menganggapku aneh—"

"Jangan membantah, Aluna," potong Bram sambil mengelus pipi Aluna dengan sangat lembut, sebuah kontras yang sangat menakutkan dari ancamannya barusan.

"Ini semua demi kebaikanmu. Karena kau terlalu berharga untuk dibiarkan bebas tanpa pengawasan mutlak dariku. Sekarang, naik ke kamarmu. Mandilah, dan tunggu aku. Aku akan menyusul untuk memberikan 'kecupan malam' yang tertunda karena keterlambatanmu."

Aluna menaiki tangga menuju kamarnya dengan perasaan campur aduk. Ia masih merasa sangat dicintai oleh pelindungnya, namun untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasa rumah mewah ini mulai terasa seperti sangkar yang pintu-pintunya mulai tertutup satu per satu.

Ia tidak tahu bahwa di ruang makan, Bram baru saja meremukkan gelas kristalnya hingga hancur berkeping-keping, marah pada dirinya sendiri karena hampir saja kehilangan kendali untuk tidak menerkam Aluna tepat di meja makan tadi.

1
Lfa🩵🪽
yey akhirnya up lagi 😍😍
ollyooliver🍌🥒🍆
aluna terlalu lemah, dia mudah menujukkan rasa cemburu.
Lfa🩵🪽: semangat update nya Thor 🫶❤️‍🔥
total 2 replies
Hilag
semangatt kak 👍Bram Luna lope
Senja_Puan: siap kak💪
total 1 replies
ollyooliver🍌🥒🍆
mengungkapkan cinta dengan gairah? itu bukan cinta..nafsu iya🙃
Yasa: terlalu terobsesi juga Bram nya. Ngeri sih, kalau ada yang kaya gini di dunia asli.

tapi perbedaan usia 15 tahun, masih oke-oke aja.
total 1 replies
ollyooliver🍌🥒🍆
tiga hari sdh berlalu dan bram bekerja diruang kerjanya bahkan menginzinkan aluna menemaninya..kok baru ketahuan bau parfum clara..mereka flu parah kh🙃 kalau anting" wajar gk keliatan. lalu emng masuk akal clara datang kerumah bram tanpa bram ketahui?🙂
Senja_Puan: 2. Untuk yang Clara, sudah dijelaskan ya Kak. Clara ini cukup 'cerdas' dan 'ngeyel' ya, jadi dia tetap datang walau dilarang. Dan Anwar tetap memperbolehkannya masuk karena tahu dia putri rekannya Bram.
total 4 replies
Anom
team second lead a.k Rio😍
Senja_Puan: wah keren kak, sudah siap memilih akmj
total 1 replies
Anom
waduh disadap
Anom
👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!