NovelToon NovelToon
PEWARIS NAGA BIRU

PEWARIS NAGA BIRU

Status: tamat
Genre:Anime / Balas Dendam / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:6.2k
Nilai: 5
Nama Author: PENALIAR

Di Klan Ryu yang telah runtuh, Ryu Seol hanyalah pemuda tujuh belas tahun dengan meridian qi rusak—sampah yang dihina sepupunya sendiri di depan seluruh keluarga. Setiap hari adalah penghinaan, hingga suatu malam ia menemukan sebuah gua terlarang di balik air terjun.

Di dalamnya menanti Gu, rubah berekor sembilan yang jiwanya terperangkap selama ribuan tahun. Dengan sarkasme tajam dan kekuatan iblis kuno, Gu menawarkan perjanjian: memperbaiki meridian Seol, mengajarkan teknik terlarang Pedang Bayangan, dan membawanya melompat dari nol menjadi pendekar dalam hitungan bulan—dengan satu syarat: suatu hari Seol harus membebaskannya.

Dari buangan klan kecil, Seol melangkah ke Sekte Pedang Surgawi, melewati ujian maut Gua Iblis, dan bertemu Seol Hwa—murid senior dingin yang perlahan mencair, serta Baek Ho—sahabat setia dari Sekte Tulang Besi. Namun kekuatannya yang tumbuh terlalu cepat menarik perhatian musuh lama: Ryu Cheonmyeong, yang kini bergabung dengan Kultus Da

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PENALIAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34: Misi ke Reruntuhan Markas Tua

Seminggu telah berlalu sejak Seol meminum Ramuan Pemulih Nadi. Seminggu yang mengubah segalanya. Tubuhnya yang dulu kurus dan rapuh kini telah berubah—tidak secara dramatis, tetapi setiap gerakannya kini memiliki kekuatan yang tidak dimilikinya sebelumnya. Ia berlari lebih cepat, melompat lebih tinggi, dan qi-nya mengalir tanpa hambatan seperti sungai yang baru saja dibersihkan dari bebatuan yang menyumbat.

Tapi perubahan terbesar bukan pada tubuhnya. Itu pada cara orang lain memandangnya.

Dulu, ia adalah murid luar yang diabaikan, lalu murid dalam yang dianggap merepotkan. Kini, setelah penampilannya di turnamen—setelah mengalahkan Cheonmyeong, setelah bertahan melawan Namgung Hyeok, setelah mengungkap pengkhianatan Kwak Jung—nama Ryu Seol mulai dikenal. Bukan hanya di Sekte Pedang Surgawi, tetapi di seluruh Murim.

Para tetua mulai memanggilnya dengan hormat. Murid-murid senior yang dulu meremehkannya kini menunduk saat berpapasan. Bahkan Baek Yoon, kepala instruktur yang jarang memuji, pernah berkata di depan umum: “Ryu Seol adalah aset berharga bagi sekte ini. Perkembangannya dalam dua setengah tahun melebihi apa yang dicapai kebanyakan murid dalam sepuluh tahun.”

Seol tidak membiarkan pujian itu masuk ke kepalanya. Ia tahu masih banyak yang harus ia pelajari. Dan hari ini, ia akan mendapat kesempatan untuk membuktikan dirinya sekali lagi.

---

Pagi Hari – Ruang Pertemuan Sekte

Ruang pertemuan sekte terletak di jantung kompleks bangunan, sebuah aula besar dengan langit-langit tinggi yang dihiasi lukisan pertempuran para pendekar legendaris. Dinding-dinding marmer putihnya berkilat di bawah cahaya matahari pagi, dan di tengah ruangan, sebuah meja kayu panjang dari kayu jati tua berdiri megah, dikelilingi oleh kursi-kursi ukiran naga.

Seol berdiri di samping Seol Hwa, yang hari ini mengenakan seragam resminya—biru tua dengan sulur emas di kerah dan ujung lengan, rambut hitamnya diikat ke belakang dengan pita putih. Di sisi lain, Baek Ho berdiri dengan dada membusung, bangga bisa berada di ruangan yang biasanya hanya untuk murid elit.

Baek Yoon berdiri di depan meja, gulungan peta terbuka di hadapannya. Wajahnya serius—lebih serius dari biasanya.

“Kalian bertiga dipanggil ke sini karena ada misi penting,” katanya, suaranya bergema di ruangan yang sunyi. “Seperti yang kalian tahu, setelah pengungkapan pengkhianatan Kwak Jung, kami menemukan bahwa ia bukan satu-satunya mata-mata Kultus Darah di sekte ini. Ada jaringan yang lebih besar. Dan pusat dari jaringan itu…” Ia menunjuk ke peta di depannya. “Berada di reruntuhan markas tua sekte kita.”

Seol mengerutkan kening. “Markas tua?”

“Sebelum Sekte Pedang Surgawi pindah ke lokasi sekarang, kami bermarkas di lembah timur, sekitar tiga hari perjalanan dari sini. Tempat itu ditinggalkan seratus tahun lalu setelah bencana besar—sebuah serangan iblis yang menghancurkan hampir seluruh bangunan. Sejak saat itu, tidak ada yang pernah kembali.” Baek Yoon menatap mereka satu per satu. “Tapi beberapa bulan terakhir, kami mendeteksi aktivitas qi yang tidak biasa di sana. Qi gelap. Qi iblis. Tanda-tanda bahwa Kultus Darah mungkin menggunakan reruntuhan itu sebagai markas rahasia.”

Ia menggulung peta itu dan menyerahkannya pada Seol.

“Kalian bertiga akan pergi ke sana. Selidiki. Cari tahu apa yang mereka rencanakan. Dan jika memungkinkan…” Ia berhenti sejenak. “Hancurkan.”

Baek Ho mengangkat tangannya seperti murid di kelas. “Sabeom-nim, berapa banyak dari mereka?”

“Kami tidak tahu. Bisa sedikit, bisa banyak. Itu sebabnya kalian harus berhati-hati. Misi ini adalah penyelidikan, bukan penyerangan. Jika kalian menemukan sesuatu yang terlalu besar untuk ditangani, kalian harus segera kembali dan melapor.”

Ia melirik ke arah Seol. “Dan kau, Seol. Kau yang paling berpengalaman menghadapi Kultus Darah di antara kalian bertiga. Aku ingin kau memimpin misi ini.”

Seol merasakan beban tanggung jawab yang berat di pundaknya. Ia mengangguk. “Aku akan melakukan yang terbaik, Sabeom-nim.”

Baek Yoon mengangguk puas. “Berangkat besok pagi. Persiapkan diri kalian. Dan ingat…” Ia menatap mereka dengan mata yang tajam. “Jangan mati.”

---

Setelah Pertemuan – Di Lorong Sekte

Seol berjalan keluar dari ruang pertemuan dengan langkah mantap. Peta di tangannya ia gulung dan selipkan di ikat pinggang. Pikirannya sudah mulai merencanakan perjalanan, menghitung perbekalan, memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang akan mereka hadapi.

“Seol.”

Ia berhenti. Seol Hwa berdiri di belakangnya, tangannya di belakang punggung, wajahnya datar seperti biasa. Tapi ada sesuatu di matanya—sesuatu yang tidak bisa ia baca.

“Ada yang perlu kau ketahui sebelum kita berangkat,” katanya.

Seol menunggu.

Seol Hwa berjalan mendekat, jarak hanya satu langkah. Dari dekat, Seol bisa mencium aroma bunga sakura yang selalu melekat padanya—aroma yang kontras dengan sikap dingin yang ia tunjukkan pada kebanyakan orang.

“Aku tahu kau menyembunyikan sesuatu,” katanya, suaranya pelan, hanya untuk mereka berdua. “Qi ungu yang kau gunakan di turnamen. Teknik Pedang Bayangan yang tidak diajarkan di sekte mana pun. Dan kemampuanmu yang berkembang terlalu cepat untuk ukuran manusia biasa.”

Seol tidak bergerak. Tidak menjawab.

“Aku tidak akan memaksa kau untuk memberitahuku,” lanjut Seol Hwa. “Tapi selama misi ini, kita akan menghadapi bahaya yang tidak bisa diprediksi. Kultus Darah tidak main-main. Jika kita tidak bekerja sama dengan sempurna, kita bisa mati.”

Ia menatap Seol lurus ke mata. Dan untuk pertama kalinya, Seol melihat sesuatu di matanya yang tidak pernah ia lihat sebelumnya.

Bukan perintah. Bukan tuntutan. Permintaan.

“Jangan sembunyikan apa pun selama misi ini,” katanya. “Jika kau memiliki kekuatan yang bisa menyelamatkan kita, gunakanlah. Jika kau memiliki rahasia yang bisa membantu kita memahami apa yang kita hadapi, bagikanlah. Karena di medan perang, rahasia hanya akan membunuh.”

Seol menarik napas dalam-dalam. Ia merasakan Batu Giwa di sakunya, hangat seperti biasa.

“Aku tidak bisa memberitahumu semuanya,” katanya hati-hati. “Tapi selama misi ini, aku akan melakukan apa pun yang diperlukan untuk melindungi kalian. Termasuk menggunakan kekuatan yang kau lihat di turnamen.”

Seol Hwa menatapnya untuk waktu yang lama. Kemudian ia mengangguk.

“Itu cukup.”

Ia berbalik, melangkah pergi dengan langkah anggun, meninggalkan Seol berdiri di lorong dengan perasaan yang aneh. Bukan beban. Bukan ketakutan. Tapi… kepercayaan.

Ia percaya padaku.

Seol tersenyum kecil, lalu melanjutkan berjalan menuju asramanya untuk mempersiapkan perbekalan.

---

Sore Hari – Persiapan

Baek Ho sudah menunggu di depan asrama dengan ransel besar di punggungnya, penuh dengan perbekalan yang mungkin cukup untuk seminggu. Wajahnya bersemangat seperti anak kecil yang akan pergi berkemah.

“Aku sudah siap!” serunya. “Bekal makanan, air, pakaian cadangan, tali, pisau, obat-obatan, dan ini—” Ia mengangkat sesuatu dari dalam ranselnya. “Pedang baru! Hadiah dari sekte karena prestasiku di turnamen! Aku belum pernah punya pedang sebagus ini!”

Seol melihat pedang itu. Bilahnya lurus, tidak terlalu panjang, cocok untuk ukuran tubuh Baek Ho. Kualitasnya lumayan—tidak sebaik pedang Seol Hwa, tetapi jauh lebih baik dari pedang kayu yang biasa ia gunakan.

“Kau tidak perlu pedang,” kata Seol. “Kekuatan fisikmu sudah cukup.”

“Tapi semua pendekar punya pedang!” Baek Ho mengembalikan pedang itu ke sarungnya dengan bangga. “Aku tidak mau ketinggalan.”

Seol tertawa kecil. Ia masuk ke asramanya, mengambil ranselnya yang sudah ia siapkan sejak pagi—hanya berisi pakaian ganti, perban, dan Batu Giwa yang selalu ia bawa di sakunya. Tidak banyak. Ia sudah terbiasa dengan sedikit.

Ketika ia keluar, Seol Hwa sudah berdiri di halaman asrama, menunggu dengan sabar. Ia tidak membawa ransel—hanya pedangnya yang tersandang di punggung dan sebuah kantong kecil di pinggang. Mungkin berisi ramuan atau benda-benda penting lainnya.

“Kita berangkat saat fajar,” katanya. “Istirahatlah malam ini. Perjalanan ke reruntuhan memakan waktu tiga hari, dan medannya tidak mudah. Kita akan melewati hutan lebat, dua sungai, dan satu pegunungan kecil.”

Baek Ho mengerang. “Pegunungan? Aku benci mendaki.”

“Maka kau akan belajar menyukainya,” kata Seol Hwa datar. “Sekarang, istirahat.”

Ia berbalik dan pergi, meninggalkan Seol dan Baek Ho di halaman asrama.

Baek Ho menatap punggung Seol Hwa yang menjauh, lalu menoleh ke Seol. “Dia selalu sedingin itu?”

“Selalu.”

“Dan kau tidak takut padanya?”

Seol tersenyum. “Aku lebih takut pada apa yang akan kita hadapi di reruntuhan.”

Baek Ho menggigil. “Jangan bercanda seperti itu. Aku jadi tidak bisa tidur.”

Seol menepuk bahunya. “Istirahatlah. Besok kita akan membutuhkan semua energi kita.”

---

Malam Hari – Di Kamar Seol

Seol duduk di tempat tidurnya, Batu Giwa di telapak tangannya. Batu itu hangat—hangat seperti ketika Gu terjaga. Ia bisa merasakan denyut di dalamnya, lambat tapi teratur.

“Gu,” bisiknya. “Kita akan pergi ke reruntuhan markas tua sekte. Ada aktivitas Kultus Darah di sana.”

Tidak ada jawaban. Tapi denyut itu berdetak sekali—lebih kuat dari biasanya.

“Aku akan memimpin misi ini. Seol Hwa dan Baek Ho bersamaku. Aku tidak akan membiarkan mereka terluka.”

Denyut itu berdetak lagi. Setuju.

Seol menyimpan batu itu di sakunya, berbaring di tempat tidur, dan memejamkan mata. Besok, petualangan baru akan dimulai. Ia tidak tahu apa yang akan mereka temukan di reruntuhan itu. Tapi satu hal yang ia tahu: ia tidak akan lari. Ia tidak akan bersembunyi. Ia akan menghadapi apa pun yang datang, dengan kekuatan yang telah ia perjuangkan selama dua setengah tahun.

Ia memejamkan mata, dan tidur datang dengan cepat.

---

Fajar – Keberangkatan

Matahari baru saja menyentuh puncak gunung saat mereka bertiga berdiri di gerbang sekte. Baek Yoon dan beberapa murid senior datang untuk melepas mereka.

“Ingat,” kata Baek Yoon, “selidiki dulu. Jangan bertindak gegabah. Jika kalian menemukan sesuatu yang terlalu besar, segera kembali.”

Kang Jin, yang berdiri di samping Baek Yoon, melangkah maju. Ia menatap Seol dengan ekspresi yang sulit diartikan—bukan permusuhan seperti dulu, tetapi juga bukan persahabatan. Mungkin… rasa hormat.

“Bawa mereka pulang dengan selamat,” katanya pelan, hanya untuk Seol.

Seol mengangguk. Ia menoleh ke Seol Hwa dan Baek Ho. “Siap?”

Baek Ho mengangkat tinjunya ke udara. “Siap!”

Seol Hwa hanya mengangguk kecil. Tapi di matanya, ada sesuatu yang belum pernah Seol lihat sebelumnya. Semangat. Bukan semangat bertarung, tetapi semangat untuk memulai.

Mereka melangkah keluar dari gerbang sekte, meninggalkan bangunan-bangunan megah di belakang mereka, menuju hutan yang lebat, menuju pegunungan yang menjulang, menuju reruntuhan markas tua yang menyimpan rahasia kelam.

Perjalanan tiga hari dimulai.

Dan di dalam sakunya, Batu Giwa berdenyut hangat, menemani setiap langkahnya.

---

1
yos helmi
💪💪💪💪💪😍😍😍
yos helmi
👍👍👍👍👍👍👍👍👍
yos helmi
😍😍😍👍👍👍💪💪💪💪
yos helmi
💪💪💪💪💪💪💪👍👍👍👍👍
yos helmi
😄😄😄😍😍💪💪💪
yos helmi
💪💪💪🤣🤣🤣👍👍
yos helmi
🤣🤣🤣🤣👍👍
yos helmi
👍👍👍👍🤣🤣💪💪
yos helmi
💪💪💪💪💪💪👍
yos helmi
💪💪💪💪👍👍👍
Daryus Effendi
sampah
R.A.N
mana author
Q. Zlatan Ibrahim: halo terimakasih sudah berkunjung
total 1 replies
R.A.N
halo
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!