Daripada penasaran, yuk mampir ><
[Update Tergantung Mood]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BiMO33, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10: Kasur King Size
Emrys melangkah keluar dari mobil dengan gerakan yang efisien, menggendong Gaby seolah berat tubuh gadis itu tidak berarti apa-apa baginya. Gaby tidak melawan, ia justru semakin menyembunyikan wajahnya di dada bidang Emrys, menghindari tatapan para penjaga keamanan penthouse yang menunduk hormat saat mereka lewat.
Keheningan di lift terasa sangat berat. Begitu pintu terbuka di lantai teratas, Emrys tidak membawa Gaby menuju lorong kamarnya sendiri, melainkan langsung masuk ke dalam master bedroom milik sang Managing Director.
Kamar itu luas, dingin, dan sangat maskulin. Emrys meletakkan Gaby di atas kasur king size yang dilapisi sprei sutra abu-abu gelap. Gaby terdiam kaku, tangannya masih sedikit gemetar saat ia menatap sekeliling ruangan yang terasa sangat mengintimidasi.
"Ini kamarmu, Kak-" kalimat Gaby terputus.
"Mulai sekarang kau tidur di kamar ini," potong Emrys pendek. Suaranya tidak keras, tapi mengandung otoritas yang tidak bisa dibantah. Tanpa penjelasan lebih lanjut, ia melepaskan jam tangannya, meletakkannya di nakas, lalu melangkah masuk ke dalam kamar mandi besar di sudut ruangan.
Cklek. Pintu tertutup.
Suara air yang mengalir dari shower mulai terdengar, memecah kesunyian kamar yang temaram. Gaby masih terduduk di tepi ranjang, menatap pintu kamar mandi dengan napas yang tertahan.
Baru sekarang kesadaran itu menghantamnya dengan keras. Emrys tidak sedang memberikan pilihan. Kejadian malam ini, pelariannya ke pesta Melvin telah memicu sesuatu yang jauh lebih posesif di dalam diri pria itu. Emrys tidak hanya ingin melindunginya, ia ingin memantaunya setiap detik, setiap tarikan napasnya, di bawah satu atap dan satu ruangan yang sama.
Gaby melihat bayangannya di cermin besar di depan tempat tidur. Mengenakan gaun perak yang berantakan, riasan yang luntur karena air mata, dan kini terkurung di wilayah paling pribadi milik pria paling berkuasa yang ia kenal.
"Dia benar-benar menyeramkan..." bisik Gaby pelan. Rasa takutnya kini bukan lagi karena amarah Emrys, melainkan karena ia menyadari bahwa mulai malam ini, kebebasannya benar-benar telah berakhir.
Gaby masih terpaku saat suara air di kamar mandi mendadak berhenti. Keheningan kembali menyelimuti kamar, membuat detak jantung Gaby terdengar sangat keras di telinganya sendiri.
Emrys keluar dari kamar mandi dengan handuk putih yang melilit pinggangnya, membiarkan tetesan air dari rambutnya jatuh membasahi dadanya yang bidang. Tanpa menatap Gaby yang masih mematung di tepi ranjang, ia hanya memberikan instruksi singkat dengan nada sedingin es.
"Bersihkan tubuhmu, Gaby," titahnya datar, lalu melangkah lebar menuju walk-in closet tanpa menunggu jawaban.
Beberapa menit berlalu, Gaby masih saja bergeming di atas kasur king size itu, tenggelam dalam pikirannya yang kalut dan rasa takut yang belum juga reda. Ketika pintu walk-in closet kembali terbuka, Emrys muncul dengan piyama sutra berwarna gelap yang tampak sangat elegan namun mengintimidasi. Langkahnya terhenti saat melihat sepupunya itu masih dalam posisi yang sama, lengkap dengan gaun perak yang kini tampak kusut.
"Kau belum juga membersihkan tubuhmu?" tanya Emrys, suaranya memberat, menandakan kesabarannya mulai menipis.
Gaby mendongak dengan tatapan nanar, bibirnya bergetar saat menyahut pelan, "M-maksudmu... aku harus mandi sekarang?"
Tanpa membuang waktu untuk berdebat lagi, Emrys melangkah mendekat. Dalam satu gerakan yang tak terduga, ia meraih tubuh mungil Gaby dan membawanya kembali ke arah kamar mandi. Gaby sempat tersentak, mencoba menarik diri karena rasa takut yang semakin nyata, namun cengkeraman Emrys pada lengannya begitu mantap dan tak tergoyahkan. Ia seolah tidak memedulikan tatapan memohon dari gadis itu.
"Bersihkan dirimu. Sekarang," tegas Emrys begitu mereka sampai di depan pintu kamar mandi yang terbuka lebar.
Pria itu melepaskan Gaby dan segera berbalik keluar, meninggalkan Gaby yang akhirnya hanya bisa pasrah di bawah guyuran air hangat. Aroma sabun maskulin milik Emrys memenuhi ruangan, mengingatkan Gaby bahwa ia benar-benar berada di wilayah kekuasaan pria itu.
Beberapa saat kemudian, Gaby keluar dengan langkah ragu. Tubuhnya yang mungil tampak tenggelam di balik bathrobe putih milik Emrys yang jauh kebesaran di tubuhnya. Rambutnya basah, dan wajahnya kini tampak polos tanpa riasan, membuatnya terlihat jauh lebih muda dan rapuh.
Emrys sedang berdiri membelakanginya, menatap ke arah jendela besar yang menampilkan gemerlap lampu London. Ia sama sekali tidak menoleh saat mendengar suara pintu terbuka, namun otoritasnya masih terasa memenuhi seisi kamar.
"Masuk ke walk-in closet dan pakai piyamaku untuk sementara waktu," titahnya tanpa mengalihkan pandangan. Suaranya tidak lagi meledak-ledak seperti di dalam mobil, namun ketegasan di dalamnya menandakan bahwa setiap kata yang keluar dari mulutnya adalah perintah yang absolut.
Gaby melangkah masuk ke dalam walk-in closet yang luas. Aroma cedarwood dan kemewahan yang maskulin menyergap indranya. Dengan tangan yang masih sedikit gemetar, ia menelusuri deretan pakaian yang tertata sangat simetris. Secara acak, jemarinya menarik sebuah piyama sutra berwarna hitam pekat milik Emrys.
Ia mencoba mengenakan celananya, namun kain mahal itu tenggelam jauh melampaui kakinya, membuatnya hampir tersandung. Akhirnya, Gaby memutuskan hanya mengenakan atasan piyama yang panjangnya mencapai paha, dipadukan dengan celana pendek santai milik Emrys yang ia ikat sekencang mungkin di pinggang mungilnya. Atasan itu begitu besar di tubuhnya, membuat bahu Gaby seolah tenggelam dalam dekapan kain sutra dingin.
Saat Gaby melangkah keluar kembali ke area utama kamar, ia menemukan Emrys sudah beralih dari jendela. Pria itu kini duduk bersandar di sofa kulit di sudut ruangan dengan pencahayaan temaram. Sebuah laptop menyala di pangkuannya, jemarinya bergerak lincah di atas papan ketik, seolah-olah drama pelarian dan ketegangan di mobil tadi tidak pernah terjadi.
Tanpa mengalihkan pandangan sedikit pun dari layar, Emrys mengeluarkan perintah mutlaknya.
"Tidur sekarang. Di kasur," ucapnya dengan nada dingin yang tidak menyisakan ruang untuk negosiasi.
Gaby terpaku di tempatnya berdiri. Ia menatap ranjang king size milik pria itu. Tidak ada kata-kata protes yang berani keluar, bahkan sekadar pertanyaan tentang di mana Emrys akan tidur pun tidak sanggup ia ucapkan. Rasa kecewa karena impian debutnya yang hancur malam ini kini sepenuhnya terkubur oleh rasa takut yang luar biasa.
Setiap gerak-gerik Emrys malam ini... Mulai dari kemunculannya yang tiba-tiba di panggung Melvin hingga keputusannya mengurung Gaby di kamar ini, menegaskan satu hal. Emrys Kaito tidak akan pernah melepaskan kendalinya lagi.
Dengan langkah gontai dan kepala tertunduk, Gaby merayap naik ke atas tempat tidur. Ia menyelimuti tubuhnya hingga sebatas dada, meringkuk kecil di salah satu sisi ranjang, berusaha mengecilkan eksistensinya seolah ingin menghilang di balik bantal-bantal besar itu. Matanya tetap terjaga, menatap punggung Emrys yang masih sibuk dengan pekerjaannya, sementara jantungnya berdetak kencang dalam keheningan malam London yang mencekam.