Flora, putri sulung keluarga Amor, kehilangan ibunya saat usianya baru 17 tahun—sebuah luka yang tak pernah benar-benar sembuh. Kepergiannya ke luar negeri untuk kuliah menjadi pelarian, hingga tanpa ia sadari, hidupnya berubah.
Di sana, ia bertemu seorang pria yang membuatnya bisa melupakan kesedihan nya.
Namun kedua nya hanyalah hubungan Tampa status.lebih tepat nya keduanya hanya teman tidur saja.mereka tidak tahu identitas masing masing.
hubungan mereka berakhir dengan damai.
Flora kembali ke tanah air, bersiap mengambil alih perusahaan peninggalan ibunya. Tapi hidup tak pernah sesederhana rencana. Ayahnya telah menikah lagi, dan dunia yang ia tinggalkan kini terasa asing.
Di sisi lain, pria yang pernah mengisi malam-malamnya—Evan—terpaksa menerima perjodohan demi kepentingan politik keluarga.
Keduanya melangkah ke masa depan masing-masing… tanpa tahu bahwa takdir belum selesai mempermainkan mereka.
Karena ketika rahasia mulai terungkap, dan masa lalu kembali .
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sayong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kamu tidak pantas
Di tengah suasana yang masih tegang, Cindy yang duduk di depan papan catur akhirnya menghela napas panjang.
“Aduh… kalah lagi,” keluhnya. “Ini sudah dua kali.”
Flora tersenyum tipis, melirik ke arah Garvin.
“Kamu memang hebat,” ucapnya santai.
Kalimat itu terdengar biasa.Tapi tidak bagi Evan.Tatapan pria itu langsung berubah tajam.
“Heh,” suaranya dingin. “Dia hebat apanya?”
Semua langsung terdiam.
Evan menatap Garvin dengan tatapan menantang.
“Setiap kali dia main denganku, dia selalu kalah.”
Hening sejenak.
Garvin jelas kesal, tapi rahangnya hanya mengeras. Karena itu memang benar.
Agnes yang duduk di samping Evan langsung tersenyum, mencoba mengambil kesempatan.
“Tentu saja,” ucapnya manis. “Evan memang selalu unggul dalam hal seperti ini.”
Flora hanya melirik sekilas, lalu kembali santai.
Dia menepuk ringan tangan Garvin.
“Tidak apa-apa,” katanya lembut. “Dalam permainan, selalu ada yang menang dan kalah.”
Kalimat itu terdengar seperti penenang.Tapi di telinga Evan itu terdengar seperti pembelaan.Dan itu membuat emosinya semakin naik.
“Jadi sekarang kamu membelanya?” suara Evan menegang.
Flora tidak menjawab.
Sikapnya yang tenang justru semakin memancing amarah Evan.
“Kalau begitu…” Evan berdiri sedikit, menatap Garvin tajam. “Main denganku.”
Garvin mengangkat alis.“Tidak tertarik,” jawabnya santai. “Aku hanya mau bermain dengan Flora.”
Sambil berkata begitu, dia dengan sengaja menyandarkan tubuhnya ke bahu Flora bersikap sangat dekat.
Dan itu seperti menuangkan bensin ke api.
Wajah Evan langsung mengeras.
“Pengecut.”
Satu kata Cukup untuk membuat suasana langsung meledak.
Mata Garvin menyipit.Jelas tersinggung.
Namun alih-alih langsung terpancing, dia justru tersenyum miring. Lalu kembali bersikap genit.Dia menoleh ke Flora.
“Sayang,” ucapnya manja, “sepupuku bilang aku pengecut.”
Flora mengerti.Dia tahu Garvin sedang membantunya membalas Evan.Dan untuk pertama kalinya malam itu Flora benar-benar ikut bermain.
Dia tersenyum tipis.“Aku bantu kamu,” balasnya santai.
Kalimat itu membuat tangan Evan mengepal kuat.
Garvin tersenyum puas.“Baiklah, aku dengar kata-katamu.”
Akhirnya dia duduk berhadapan dengan Evan.
Papan catur disiapkan.Permainan dimulai.
Flora berdiri di samping Garvin.
Agnes tidak mau kalah. Dia langsung duduk di samping Evan.
“Evan pasti menang,” ucapnya penuh keyakinan.
Namun tidak ada yang benar-benar fokus pada permainan.Karena yang sedang berlangsung bukan sekadar catur.Tapi perang harga diri.
Langkah demi langkah di papan catur terasa berat.Sunyi,Tegang dan Penuh tekanan.
Beberapa menit kemudian, Flora tiba-tiba berdiri.
“Aku ambil minum,” katanya santai.
Dia berjalan ke arah bar, lalu kembali dengan dua gelas.
Satu disodorkan ke Garvin.
“Minuman soda,” ucapnya ringan.
Garvin tersenyum, matanya berbinar.“Kamu memang paling tahu seleraku.”
Kalimat itu menusuk Evan tanpa ampun.
Flora…bahkan tahu minuman kesukaan Garvin.
Flora tersenyum puas.Lalu tanpa ragu,
dia mengangkat gelas itu…dan menyuapkannya langsung ke bibir Garvin.
Gerakan kecil.Tapi dampaknya besar.
Sangat besar.Tangan Evan yang sedang memegang bidak catur langsung berhenti di udara.
Matanya menggelap.Aura dingin menyelimuti seluruh tubuhnya Evan benar-benar hampir kehilangan kendali di depan semua orang.
Permainan terus berjalan.Bidak demi bidak berpindah.Garvin mulai terdesak.Keringat tipis muncul di pelipisnya, meski dia berusaha tetap terlihat santai.
Evan menyandarkan tubuhnya, sudut bibirnya terangkat tipis.“Kemampuanmu masih sama,” ucapnya dingin. “Selalu kalah.”
Nada suaranya penuh ejekan.
Garvin mendecak pelan, lalu tersenyum seolah tidak peduli.“Ah, anggap saja aku kalah,” katanya santai. “Setidaknya untuk malam ini… aku sedang bersama wanita yang kucintai.”
Kalimat itu jelas disengaja.Dan tepat sasaran.
Tatapan Evan langsung berubah tajam.
Tangannya bergerak lebih cepat.Lebih agresif.
Dia mulai menekan permainan tanpa ampun.
Suasana semakin panas.
Flora yang berdiri di samping hanya memperhatikan.Lalu dia menepuk pelan bahu Garvin.“Cukup,” ucapnya tenang. “Biar aku lanjutkan.”
Semua langsung menoleh.Garvin mengangkat alis, tapi kemudian tersenyum dan mundur tanpa protes.
Agnes justru tertawa kecil.“Sejak kapan kamu bisa main catur?” sindirnya. “Garvin saja kalah, apalagi kamu.”
Namun Flora tidak peduli.Sedikit pun.Dia duduk di kursi itu.Menghadapi Evan.
Langsung.Tanpa ragu.
Evan menatapnya dalam.Tatapan yang sulit diartikan antara marah, penasaran… dan sesuatu yang lain.
Permainan dimulai kembali.Langkah pertama.
Langkah kedua.Langkah ketiga—
Dan…sesuatu terasa berbeda.Flora tidak bermain sembarangan.Gerakannya tenang.
Terukur.Tepat.Setiap bidak yang dia gerakkan seolah sudah dipikirkan jauh ke depan.
Evan mulai menyipitkan mata.Dia menatap papan.Lalu menatap Flora.Kembali ke papan.
Kembali ke Flora.Untuk pertama kalinya malam itu dia benar-benar fokus.Bukan karena marah.Tapi karena… tertantang.
Permainan berjalan sengit.Seimbang.
Tidak ada yang benar-benar unggul.Suasana di sekitar mereka berubah hening.Semua orang memperhatikan.Beberapa langkah lagi
dan hasilnya mulai terlihat.
Evan sedikit mengernyit.
Flora tersenyum tipis.Senyum yang… berbahaya.Satu langkah.Dua langkah.
Dan—“Checkmate.”Suara Flora pelan.
Tapi cukup untuk membuat semuanya membeku.
Hening.Beberapa detik tidak ada yang bicara.
Evan menatap papan catur.Tidak bergerak.Dia…kalah.Perlahan, tatapannya naik ke arah Flora.Penuh pertanyaan.Dalam hatinya hanya ada satu kalimat apa lagi yang tidak dia ketahui tentang wanita ini?
Flora hanya tersenyum tipis.Seolah kemenangan itu sudah dia pastikan sejak awal.
Garvin langsung berdiri dengan semangat.
“Bagus!” serunya. “Itu baru wanita yang kupilih!”
Sementara itu Agnes benar-benar tidak percaya.“Tidak mungkin…” gumamnya kesal. “Itu cuma beda beberapa langkah saja. Kalau dilanjutkan, Evan pasti menang.”
Nada suaranya penuh pembelaan.Namun tidak ada yang menanggapi.
Karena semua tahu hasilnya sudah jelas.
Flora menang.Tanpa banyak kata, Flora berdiri.
Dia merapikan bajunya dengan santai.“Aku pulang,” ucapnya singkat.
" Aku akan mengantar mu." Garvin bangkit dan berjalan kesi flora.
" Tidak perlu.apa kamu lupa aku kesini pakai motor ku."
" Oh aku lupa.baiklah aku akan mengantar mu kedepan."
Diluar Garvin berkata" Hati hati.kabari aku jika sudah sampai."
Flora mengerti dan mengangguk.
Evan menenggak minuman demi minuman.
Satu gelas.Dua gelas.Tiga—hingga kepalanya mulai terasa berat.
Pandangan sedikit berkunang, tapi emosinya justru semakin tidak stabil.Tanpa berkata apa-apa, dia bangkit dari duduknya, bersiap pergi.
Namun...
“Evan…”Agnes segera menahan lengannya.
“Aku ikut kamu pulang” ucapnya lembut.
Evan melirik sekilas, tatapannya dingin.
“Apa keluarga Amor tidak sanggup beli mobil?” sindirnya tajam.
Agnes tersenyum tipis, tetap menjaga sikap anggunnya.“Akan sangat merepotkan kalau harus menunggu sopir,” balasnya halus.
Evan terdiam sejenak.Dia berpikir.Agnes adalah tunangannya sekarang.Jika sampai ada paparazi yang melihat hal buruk, perusahaan yang baru saja stabil bisa kembali terkena dampaknya.
Dengan wajah datar, akhirnya Evan masuk ke dalam mobil.Agnes mengikuti.Di dalam mobil, suasana hening.Evan menyandarkan kepala, memejamkan mata karena Pusing.
Namun bayangan Flora justru semakin jelas di kepalanya.Tawa Flora.Dan… kedekatannya dengan Garvin Tanpa sadar, rahangnya mengeras.
Di sampingnya, Agnes diam-diam memperhatikan.Tatapan wanita itu berubah.
Dia teringat sesuatu gambar Evan dan Flora di dalam mobil sebelumnya.Kedekatan mereka.Keintiman yang tidak pernah dia dapatkan.
Rasa cemburu mulai menggerogoti.Jika Flora bisa…kenapa dia tidak? Dia sekarang tunangan Evan.Dia berhak.
Perlahan tangan Agnes bergerak.Dari perut bawah Evan…naik perlahan ke dada pria itu.
Sentuhannya lembut.Sengaja.Menggoda.
Evan yang setengah sadar langsung merasakan sesuatu yang tidak biasa.
Alisnya mengernyit.Matanya terbuka.
Dan tatapan mereka bertemu.Evan menatap nya dingin.
“Berhenti.”Suara Evan rendah, tapi tegas.
Agnes terdiam.Namun tidak menarik tangannya.
“Berhenti,” ulang Evan, kali ini lebih dingin.
Lalu Agnes berhenti." Kenapa aku tidak bisa tapi Flora bisa.apa kurang nya aku."
" Kamu tidak pantas."Ulang Evan.
“Hentikan mobil nya ."
Mobil langsung melambat.Sopir menghentikan kendaraan di pinggir jalan.
Agnes terkejut.“Apa yang kamu lakukan? Ini di tengah jalan—”
“Keluar.”
Agnes membeku.“Aku tidak bisa turun di sini, Evan. Tidak ada taksi—”
Namun Evan sudah lebih dulu keluar dari mobil.Dia membuka pintu di sisi Agnes.
Tatapannya tajam.“Keluar.”
Tidak ada pilihan.Tidak ada kelembutan.
Hanya tekanan.Agnes menggenggam tasnya, masih ragu.Namun melihat ekspresi Evan dia tahu pria itu tidak bercanda.
Perlahan, dia turun.Begitu kakinya menyentuh jalan pintu langsung ditutup.
Evan kembali masuk.“Jalan.”
Mobil melaju.Meninggalkan Agnes sendirian di pinggir jalan dengan marah.