Embun baru saja tamat Sekolah dari Desa, Sehingga dia terpaksa ikut dengan Bu Wina, Warga tetangganya karena dia memang butuh pekerjaan dalam menyambut hidup.
Embun tinggal seorang diri, setelah ibunya meninggal dunia, sejak saat itu dia menghadapi getirnya hidup didunia ini.
Sementara Rido Prasetio adalah Pewaris Talzus Group, dia terus dipaksa nikah oleh sang Ibu, Karena menurut sang Ibu, Usia Rido Sudah sangat Jauh berumur.
Karena merasa kesal dengan ibunya, Rido mengajak teman temannya untuk datang ke Bar, sehingga mereka mabuk dan mengalami kecelakaan beruntun.
Penasaran dengan ceritanya, ayo terus ikuti ceritanya disini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeprism4n Laia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16. Rencana Licik Giancarlo
Embun melepas pelukannya sambil dia menatap bu wina dengan penuh haru, dia menatap bu wina yang sedang mengeluarkan air mata beningnya, dengan senyuman tepaksa embun melemparnya untuk menyenangkan bu wina.
“ibu tenang saja! Embun kan anak yang kuat! Jadi ibu tidak usah kuatir. Hehehe” ucap embun yang mengusap air matanya dengan tangan kananya.
Kedua orang itu kembali memeluk, mereka saling menguatkan antara satu dengan yang lain, karena hanya merekalah keluarga satu satunya yang merea miliki di kota ini.
Dari arah pintu seorang pria sedang mengamati mereka dengan seksama, sambil dia memegang beberpa berkas yang kemudian dia langsung meninggalkan tempat itu.
“heemm, ternyata gadis itu punya kelemahan juga! Sepertinya rencanaku akan mulus dengan aman” gumam lelaki paruh baya itu dengan mengenadahkan kepalanya ke atas langit. Giancarlo menganggukkan kepalanya dengan tersenyum licik terukir dibibirnya, ketika dia mendengarkan penjelasan dari sang asistennya.
“Cepat siapkan beberapa dokumen pernjanjian pra nikah, saya mau anak itu cepat menikah dengan putra saya, karena hanya dia yang bisa menyelamatkan masalah perusahaan Rido” titah Giancarlo dengan serius kepada sang asisten.
“Baik Tuan!” jawab sang asisten yang langsung meninggalkan tempat itu.
Tiba tiba Handphone Giancarlo bordering “Driingg ,driing”. Giancarlo langsung meraih HP itu dari dalam saku celananya, kemudian dia menekan tombol yang berwarna hijau “Hallo bund” jawabnya dengan cepat.
Tiaras menjelaskan kondisi yang terjadi, sehingga dia masih belum berbicara dengan serius kepada embun solai, sementara sang suami hanya bisa mengangguk dengan senyuman manis terlintas di sudut bibirnya.
Setelah menjelaskan semuanya, Tiaras langsung memutuskan sambungan telepon tersebut, kemudian dia meremas jari jarinya dengan dipenuhi dengan rasa kekhawatiran.
“Apakah rencana ini bisa berjalan dengan baik! Karena nak embun tidak mungkin mau menikah dengan gampang, pastilah dia menikah dengan seseorang yang istimewa di dalam hatinya, Huffft, bagaimana ini?” ucap tiaras lirih dengan dipenuhi gundah gulana.
“Nyonya! Silahkan di minum tehnya dulu, nanti keburu dingin” suara bu Farel tiba tiba menyadarkan Tiaras yang sedang mengalami monolog yang sangat berlebihan, sampai sampai dia tidak menyadari kalau seseorang sudah sampai disampingnya sambil membawa nampan.
“ehh terimakasih bi!” ucap Tiaras sambil dia tersenyum canggung menatap bu Farel yang masih berdiri disampingnya.
“Baik nyonya! Kalau tidak ada lagi, saya permisi kebelakang” ucap Bu Farel dengan sopan, sambil dia memundurkan tubuhnya kebelakang.
Namun sebelum bu Farel pergi dari tempat itu, tiba tiba Tiaras memanggilnya “eh, bi! Tunggu dulu”.
Mendengar namanya dipanggil sontak saja bu Farel langsung menoleh kebelakang, kemudian dia langsung menghampiri sang tuan rumah.
“iya Nonya, ada apa” Tanya bu Farel dengan penuh rasa penasaran.
“bi! Apakah sudah ada kabar tentang kabar bu Wina? Lalu apakah nak embun sudah pulang dari rumah sakit” ucap Tiaras dengan tergesa gesa, sambil mata terus melirik kearah pintu masuk.
Bu Farel menggelengkan kepalanya dengan pelan, kemudian dia berkata menjawab pertanyaan dari sang Nyonya “untuk kabar bu Wina masih belum ada nyonya, karena satpam yang mengantarkannya ke rumah sakit masih belum pulang! Dan kalau embun, saya rasa dia juga masih belum pulang nyonya, karena dia pasti bersama dengan para satpam itu, yang membawa bu wina kerumah sakit”.
Tiaras hanya bisa menganggukkan kepalanya, sambil dia mengangkat tangannya keatas langit sambil berkata “iya makasih bi! Silahkan lanjutkan pekerjaanmu” silahkannya dengan sambil meraih gelas tehnya yang berada di atas meja kecil di depannya.
Otak Tiaras masih saja berputar bagaikan orbit bumi, yang sedang mengelilingi Bumi yang penuh dengan daya tipu muslihat belaka.
Sementara di dalam rumah sakit, Giancarlo menyuruh Berys untuk memanggil embun di kamar bu Wina di lantai satu, karena teman teman taulah, kalau rakyat jelata yang sakit pastilah ruangan rawatnya berada di tempat yang biasa -biasa saja, berbeda dengan kalau para Suhu di Negara Konoha, pastilah mereka di tempatkan di tempat yang bernuansa gaya eropa dan bull AC tentunya.
Mendengar perintah dari sang tuan besar, berys langsung OTW memanggil embun untuk datang keruangan rawat inap Rido Prasetio.