Albus adalah puncak evolusi manusia—seorang jenius yang mampu membedah hukum alam tanpa bantuan doa.
Di dunia yang dikuasai oleh dogma agama, keengganannya untuk bersujud kepada para dewa membuatnya dicap sebagai **"Iblis Tanpa Langit."** Lima puluh tahun lalu, ia dikhianati dan diburu oleh aliansi kerajaan suci, hingga akhirnya tewas dalam kepungan ribuan ksatria dan pendeta.
Namun, maut hanyalah jeda bagi inteleknya.
Albus terbangun kembali 50 tahun kemudian di tubuh ilwa Eldersheath putra dari keluarga bangsawan agung yang dikenal memiliki sirkuit mana yang cacat. Dunia kini telah berubah menjadi teokrasi yang kaku, di mana sains dianggap sihir terlarang. Dengan ingatan yang menyimpan ribuan formula magis kuno dan dendam yang dingin, Albus mulai memperbaiki tubuh barunya dari dalam bayang-bayang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ilwa nuryansyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
chapter 7
Tiga hari yang diberikan oleh Robert Eldersheath terasa seperti tiga tarikan napas pendek yang berlalu sebelum hukuman mati dilaksanakan.
Atmosfer di kediaman mewah itu tidak lagi memancarkan kehangatan seorang bangsawan, melainkan kedinginan sebuah benteng yang siap mengusir bagian yang dianggap cacat.
Malam itu adalah malam terakhir Elara di kamarnya yang megah.
Di luar, angin berhembus kencang, menggoyangkan dahan-dahan pohon ek tua yang bayangannya menari-nari di dinding kamar seperti monster yang mengintai.
Di dalam, cahaya lilin yang temaram menerangi sosok Elara yang duduk di pinggir tempat tidur, baru saja selesai menyusui Ilwa untuk terakhir kalinya.
Elara menatap wajah mungil Ilwa dengan pandangan yang hancur.
Jemarinya yang gemetar membelai pipi bayi itu, merasakan kelembutan kulit yang mungkin tidak akan pernah ia sentuh lagi dalam waktu yang sangat lama—atau selamanya.
"Ilwa sayang..." bisik Elara, suaranya parau dan pecah oleh tangis yang ia tahan selama tiga hari ini. "Maafkan Ibu. Maafkan Ibu yang lemah ini."
Ilwa, yang jiwanya adalah sang Albus, menajamkan indranya.
Ia merasakan getaran emosi yang sangat tidak stabil dari wanita di hadapannya. Ada sesuatu yang salah.
Seharusnya mereka sedang berkemas untuk pergi ke Veldora, wilayah terpencil yang dijanjikan Robert.
Namun, aura di sekitar Elara tidak menunjukkan persiapan perjalanan bersama, melainkan aura perpisahan yang permanen.
"Tempat itu... Veldora... itu bukan tempat untuk bayi yang sedang sakit sepertimu," tangis Elara akhirnya pecah, tetesan air matanya jatuh mengenai kening Ilwa.
"Ayah benar. Membawamu ke tanah pembuangan yang penuh monster dan debu hanya akan membunuhmu lebih cepat. Ibu tidak sanggup melihatmu menderita di sana."
Mata Ilwa melebar "tunggu... apa yang kau katakan, wanita bodoh?!" teriaknya dalam batin.
"Kau akan meninggalkanku di sini? Di sarang serigala ini?!"
"Ibu sudah memohon pada Patriak," lanjut Elara sambil terisak.
"Beliau setuju. Kau boleh tinggal di sini, di bawah pengawasan para pelayan dan perlindungan nama Eldersheath. Setidaknya di sini kau punya atap yang kokoh dan tabib yang siap sedia. Ibu harus pergi sendiri... sepuluh tahun, Ilwa. Sepuluh tahun Ibu akan berjuang agar kita bisa diakui kembali sebagai keluarga inti."
Kemarahan yang murni meledak di dalam dada Ilwa.
Kristal mana yang baru terbentuk di ulu hatinya berdenyut kencang, bereaksi terhadap emosi jiwanya yang meluap-luap.
"KAU GILA?!" Albus mengamuk di dalam raga bayinya.
"Kau meninggalkanku di sini bersama Elisa yang ingin membuangku dan Robert yang menganggapku sampah? Veldora adalah satu-satunya kesempatanku untuk bebas dari pengawasan mereka! Di sana aku bisa melatih sihirku tanpa ada yang tahu! Jika kau meninggalkanku di sini, aku hanyalah seekor anak ayam di dalam kandang musang!"
"OEEEEKKKK! OEEKKKK! ABUUUUUKKK!" Ilwa berteriak sekencang-kencangnya.
Tubuhnya meronta-ronta di dalam ayunan, tangannya yang mungil mencoba mencengkeram jubah ibunya.
Wajahnya memerah karena emosi yang luar biasa.
Ia mengumpat, ia memaki dalam bahasa kuno yang tak dimengerti siapa pun, namun yang terdengar oleh telinga Elara hanyalah tangisan bayi yang menyayat hati.
"Oh, anakku... jangan menangis. Ibu mohon jangan menangis seperti itu, kau menghancurkan hati Ibu," Elara memeluk Ilwa erat-erat, tidak menyadari bahwa putranya sedang mencoba memberitahunya betapa bodoh keputusannya itu.
Bagi Elara, tangisan itu adalah tanda bahwa bayinya merindukannya.
Namun bagi Ilwa, itu adalah raungan frustrasi seorang jenderal yang dikhianati oleh strateginya sendiri.
Ia butuh keluar dari ibu kota.
Ia butuh kekacauan di Veldora untuk menutupi kebangkitannya. Meninggalkannya di kediaman utama Eldersheath sama saja dengan membiarkannya mati perlahan di bawah tumit Elisa.
Setelah beberapa saat, Elara melepaskan pelukannya.
Dengan tangan yang masih gemetar, ia melepas sebuah kalung perak yang selalu melingkar di lehernya.
Kalung itu memiliki liontin berbentuk kristal murni yang menyimpan sisa-sisa mana pelindung.
"Ini..." Elara meletakkan kalung itu di samping bantal Ilwa. "Jika kau rindu pada Ibu... jika kau merasa sendirian... peganglah kalung ini. Ibu akan selalu mencintaimu, Ilwa. Selalu."
Elara memberikan satu ciuman terakhir yang lama di kening putranya.
Ia kemudian berdiri, membalikkan badan dengan paksa agar tidak berubah pikiran. Isak tangisnya masih terdengar saat ia melangkah menuju pintu.
"KEMBALI SINI! WANITA BODOH, JANGAN PERGI SENDIRIAN!" Ilwa terus meronta, kristal mananya berputar liar hingga ia merasa dadanya sesak.
Namun fisiknya yang lemah mengkhianatinya. Rasa lelah akibat Aura-Lock mulai menyerang kesadarannya.
*Srekk...*
Pintu kamar tertutup perlahan. Suara langkah kaki Elara menjauh, hilang ditelan kesunyian koridor yang dingin.
Ilwa terengah-engah di dalam ayunannya. Ia menatap kalung perak yang ditinggalkan ibunya dengan pandangan yang tajam dan dingin.
Air mata bayi yang keluar secara otomatis dari matanya tidak mencerminkan kesedihan, melainkan kemarahan yang membeku.
"Sepuluh tahun..."Ilwa membatin, menenangkan detak jantungnya yang tidak beraturan.
"Kau meninggalkanku di sini sebagai sandera keluarga ini. Baiklah, Elara. Jika itu pilihanmu, maka aku akan menunjukkan padamu apa yang terjadi jika kau membiarkan seekor monster tumbuh di dalam rumahmu sendiri."
Malam itu, di bawah cahaya bulan yang pucat, Ilwa tidak lagi mencoba memanggil ibunya. Ia memejamkan mata, memaksakan mananya untuk mengalir melalui rasa sakit yang luar biasa.
Jika ia ditinggalkan sendirian di sarang serigala, maka ia tidak punya pilihan lain selain menjadi serigala yang paling dominan di antara mereka semua.
------
Fajar besok akan membawa Elara menuju pengasingannya, dan fajar yang sama akan menandai dimulainya tahun-tahun gelap bagi siapa pun di kediaman Eldersheath yang berani meremehkan bayi yang mereka anggap cacat itu.
Persaingan berdarah untuk bertahan hidup telah dimulai secara resmi.
Fajar menyingsing di ufuk timur Kerajaan Dorn dengan warna abu-abu yang suram, seolah-olah langit sendiri enggan menyaksikan perpisahan yang akan terjadi di kediaman Duke Eldersheath.
Kabut tipis menyelimuti pelataran depan yang luas, memberikan kesan mistis pada pilar-pilar marmer yang menjulang tinggi.
Keheningan pagi itu hanya dipecah oleh suara tapak kuda yang gelisah dan derit kayu dari sebuah kereta kuda sederhana yang terparkir tepat di depan gerbang utama.
Kereta itu tidak memiliki kemewahan yang biasanya menyertai anggota keluarga Eldersheath.
Tidak ada hiasan emas yang berlebihan, hanya kayu ek gelap yang kokoh, berisi peti-peti kayu yang menampung seluruh sisa kehidupan Elara di rumah ini.
Kereta itu tampak kecil dan terasing di bawah bayang-bayang kemegahan kastil yang kini terasa seperti penjara baginya.
Elara berdiri di anak tangga terakhir, mengenakan jubah perjalanan berwarna cokelat tua yang menutupi gaun sederhananya.
Wajahnya pucat, dengan lingkaran hitam di bawah mata yang menunjukkan bahwa ia tidak tidur barang sedetik pun semalam. Matanya berkali-kali melirik ke arah jendela lantai atas—kamar di mana Ilwa berada—dengan tatapan yang dipenuhi kerinduan dan kepedihan yang tak terkatakan.
Di hadapannya, berdiri seorang pelayan senior bernama Martha, wanita paruh baya yang telah melayani keluarga itu selama puluhan tahun.
Martha adalah satu-satunya orang yang Elara percayai untuk menjaga harta paling berharganya.
"Martha," suara Elara terdengar serak, hampir pecah saat ia menggenggam tangan pelayan tua itu.
"Aku menitipkan jantung hatiku padamu. Tolong... jangan biarkan dia merasa kedinginan. Pastikan tabib selalu memeriksanya setiap minggu. Meskipun ibuku atau Patriak mengabaikannya, aku mohon padamu, jangan pernah biarkan dia merasa sendirian."
Martha menundukkan kepalanya dalam-dalam, matanya sendiri mulai berkaca-kaca.
"Hamba berjanji dengan nyawa hamba, Nyonya Elara. Tuan muda Ilwa akan mendapatkan perhatian terbaik yang bisa hamba berikan. Hamba akan menjadi mata dan telinga bagi Anda di sini."
Elara mengangguk lemah, meski hatinya terasa seperti diremas. Ia kemudian mengalihkan pandangannya kepada barisan pelayan lain yang berdiri membisu. Tidak ada Robert, tidak ada Elisa.
Bagi kedua penguasa Eldersheath itu, keberangkatan Elara bukanlah sebuah perpisahan keluarga, melainkan sekadar pembuangan aset yang gagal. Ketidakhadiran mereka adalah simbol penghinaan terakhir yang harus Elara telan.
"Sampaikan salamku pada mereka... jika mereka mau mendengarnya," ucap Elara pahit kepada kepala pelayan. "Katakan bahwa aku akan menjalankan tugas ini. Aku akan menghidupkan Veldora, dan aku akan kembali untuk menjemput putraku."
Dengan langkah yang berat, seolah-olah setiap langkah menjauh dari rumah itu menarik rantai yang terikat pada jiwanya, Elara berjalan menuju kereta kuda.
Kusir kereta membukakan pintu untuknya. Sebelum masuk, Elara berhenti sejenak, menghirup udara dingin pagi itu dalam-dalam, mencoba merekam aroma rumahnya untuk ia bawa ke tanah pembuangan.
"Ilwa... tumbuhlah dengan kuat, Nak," batinnya dalam doa yang paling sunyi.
"Ibu pergi agar kau punya tempat di dunia ini. Tunggulah Ibu."
Pintu kereta ditutup dengan dentuman yang menggema di seluruh pelataran.
Kusir mencambuk kuda, dan roda kereta mulai berputar di atas jalanan berbatu.
Suara gemeretak kereta itu perlahan menjauh, meninggalkan gerbang Eldersheath yang besar dan angkuh.
Di lantai atas, di balik jendela kamar yang gelap, Ilwa—sang Albus yang tak terlihat—menatap bayangan kereta ibunya yang perlahan menghilang di balik kabut. Ia tidak menangis lagi. Matanya kini dingin dan setajam mata pisau.
Di dalam dadanya, kristal mana yang baru lahir itu berputar lebih stabil dari sebelumnya, seolah merespons tekad baru yang tumbuh dalam dirinya.
"Kau sudah pergi, Elara," pikir Ilwa saat kesunyian kembali menyelimuti kamarnya.
"Sekarang, tidak ada lagi yang menghalangiku. Sepuluh tahun di sarang serigala ini? Bagiku, ini bukan penjara. Ini adalah laboratorium tempat aku akan menempa kembali kekuatanku tanpa gangguan kasih sayangmu yang melemahkan."
Ilwa memejamkan matanya, membiarkan energi alam masuk ke dalam tubuhnya melalui teknik yang lebih agresif.
Di bawah pengawasan Martha dan di tengah pengabaian Robert serta Elisa, sang legenda yang terbuang itu mulai menenun jaring kekuatannya dalam kegelapan.
Perjalanan Elara menuju Veldora baru saja dimulai, namun transformasi Ilwa menjadi monster yang akan meruntuhkan tatanan bangsawan ini telah berjalan jauh lebih cepat dari yang bisa dibayangkan oleh siapa pun.
Bersambung...