NovelToon NovelToon
Aku, Kamu,Dan Duniamu Yang Lain

Aku, Kamu,Dan Duniamu Yang Lain

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:375
Nilai: 5
Nama Author: firsty aulia

Sora Kalani menghabiskan hidupnya di antara detak mesin jam, menunggu satu detik di mana Ezrael Vance akan menoleh ke arahnya. Namun bagi Ezra, Sora hanyalah pelabuhan tenang tempatnya bersandar sebelum ia kembali berlayar mengejar Liora—balerina yang menjadi pusat dunianya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon firsty aulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 1:detik yang terlewat

​Di bengkel jamnya yang sempit, Sora Kalani tahu cara memperbaiki segala sesuatu yang macet. Ia bisa menyatukan kembali roda gigi sekecil debu dengan pinsetnya. Namun, ia tidak pernah tahu cara memperbaiki jantungnya sendiri yang selalu berdegup terlalu kencang setiap kali lonceng pintu bengkelnya berdenting.

​Denting.

​"Sora, kamu punya waktu?"

​Itu Ezra. Ezrael Vance. Pria yang napasnya beraroma kayu manis dan partitur musik lama.

​Sora tidak mendongak dari mikroskopnya. "Aku selalu punya waktu untukmu, Ezra. Kamu tahu itu."

​Ezra duduk di kursi kayu di seberang meja kerja Sora. Ia meletakkan sebuah arloji tua dengan kaca yang retak seribu. "Ini milik Liora. Dia akan tampil di Paris minggu depan, dan dia ingin memakai ini. Kamu bisa memperbaikinya sebelum aku berangkat menemuinya besok?"

​Tangan Sora berhenti bergerak. Pinset di jarinya bergetar sedikit. Inilah kutukan Sora: ia menjadi orang pertama yang dimintai tolong agar Ezra bisa terlihat sempurna di depan wanita lain.

​"Kamu akan pergi ke Paris?" tanya Sora, berusaha menjaga suaranya tetap sedatar denting jam dinding di belakangnya.

​"Hanya tiga hari. Aku harus melihatnya menari, Ra. Kamu tahu kan, setiap kali aku memejamkan mata saat memimpin orkestra, yang aku lihat hanya dia?"

​Sora akhirnya mendongak. Ia menatap mata Ezra yang berbinar—binar yang tidak pernah ditujukan untuknya. Di dalam mata itu, Sora hanyalah sebuah pelabuhan, sementara Liora adalah samudra luas yang ingin diarungi Ezra meski ia harus tenggelam.

​"Tentu," ucap Sora dengan senyum profesional yang ia latih selama bertahun-tahun. "Besok pagi jam ini akan selesai. Seperti baru."

​Seperti baru, batin Sora pahit. Padahal aku tahu, sebanyak apa pun aku memperbaiki barang-barang milikmu dan milik 'dia', tidak ada satu detik pun di dunia ini yang akan menjadikanku prioritasmu.

​Ezra tersenyum lebar, menepuk bahu Sora sekilas—sentuhan yang terasa seperti sengatan listrik sekaligus luka—lalu pergi meninggalkan aroma kayu manis yang menyesakkan.

​Sora kembali menatap arloji retak itu. Di balik kacanya yang hancur, ada foto kecil Liora yang terselip di penutup belakang. Sora menutup matanya rapat-rapat.

​"Aku, kamu, dan duniamu yang lain," bisiknya pada keheningan bengkel. "Kapan giliranku menjadi duniamu, Ezra?"

​Jam di dinding berdetak satu kali. Tidak akan pernah.

Ezra masih berdiri di sana, mengamati jemari Sora yang lincah di balik kaca pembesar. Ia selalu kagum dengan ketenangan Sora. Baginya, Sora adalah konstanta—sesuatu yang selalu ada, tidak berubah, dan selalu bisa diandalkan. Namun, Ezra tidak pernah menyadari bahwa ketenangan itu adalah topeng yang dibangun dengan susah payah.

​"Kamu tahu, Ra?" Ezra memecah keheningan, suaranya melunak. "Liora pernah bilang, dia merasa waktu berhenti setiap kali dia menari. Dan arloji ini... ini pemberian ayahnya sebelum beliau meninggal. Dia sangat hancur waktu kacanya retak bulan lalu."

​Sora menelan ludah. Tenggorokannya terasa kering. "Lalu kenapa baru sekarang kamu bawa ke sini, Ezra? Dia sudah di Paris selama dua tahun."

​Ezra menghela napas, ia menyandarkan punggungnya ke kursi kayu yang berderit. "Kami baru saja bicara lagi. Maksudku, bicara yang benar-benar bicara. Dia memintaku datang ke pertunjukan pembukanya di Palais Garnier. Dia bilang, dia ingin aku ada di sana untuk melihatnya kembali menjadi bintang."

​Dan kamu langsung berlari hanya karena satu kalimat darinya, batin Sora.

​Sora meletakkan pinsetnya. Ia menatap Ezra dengan keberanian yang dipaksakan. "Kamu membatalkan konser orkestra amalmu di sini hanya untuk terbang ke Paris selama tiga hari?"

​Ezra terdiam sejenak, tampak sedikit merasa bersalah, namun binar di matanya tidak hilang. "Vanya bisa menanganinya. Ini Liora, Ra. Kamu tahu kan betapa berartinya ini buatku? Aku merasa seperti... seperti mendapatkan kepingan diriku yang hilang."

​Sora memalingkan wajah, kembali menatap tumpukan roda gigi di depannya. Kepingan yang hilang. Jadi selama dua tahun ini, kehadiran Sora di sisi Ezra, menemaninya minum kopi hingga larut malam saat pria itu kesepian, mendengarkan keluh kesahnya tentang musik, dan memasakkan sup saat Ezra sakit—semua itu tidak cukup untuk menjadi kepingan yang utuh?

​"Ra? Kamu marah?" Ezra memiringkan kepalanya, mencoba mencari mata Sora.

​"Tidak, Ezra. Aku hanya sedang berpikir bagian mana yang harus kuganti agar jam ini tidak mati lagi," bohong Sora. "Pulanglah. Kamu harus berkemas, kan? Jam ini akan siap besok pagi pukul tujuh."

​Ezra berdiri, tampak lega. Ia menepuk puncak kepala Sora dengan lembut—kebiasaan yang selalu membuat jantung Sora meledak sekaligus hancur. "Terima kasih, Sora. Kamu memang yang terbaik. Aku tidak tahu harus ke mana kalau tidak ada kamu."

​Pintu bengkel berdenting saat Ezra keluar. Angin malam yang dingin menyusup masuk, membawa pergi aroma kayu manis yang tertinggal.

​Sora terduduk lemas. Ia mengambil koin tua yang tadi diletakkan Hael di meja. Koin itu dingin. Ia menatap pantulan dirinya di kaca lemari jam. Ia melihat seorang wanita yang cantik, cerdas, dan mandiri, namun terlihat sangat kecil di bawah bayang-bayang seorang balerina yang bahkan tidak ada di ruangan itu.

​Ia mengambil arloji Liora lagi. Dengan tangan yang sedikit gemetar, ia membuka penutup belakangnya. Di sana, ia melihat goresan kecil di bagian dalam logam yang mungkin tidak disadari orang lain. Ada inisial yang diukir dengan tangan: E & L.

​Sora tersenyum pahit. Di dunia Ezra, segalanya sudah terukir rapi. Dan nama Sora Kalani tidak pernah ada dalam daftar ukiran itu. Ia hanyalah kuas yang membantu Ezra mewarnai lukisannya, sebelum akhirnya kuas itu diletakkan kembali ke dalam kotak yang gelap.

​Malam itu, Sora tidak pulang. Ia bekerja dalam diam, ditemani detak ribuan jam yang seolah-olah sedang menertawakan penantiannya yang sia-sia.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!